Another World

Another World
Episode 19 {POV Vino}


__ADS_3

"Andai ini mimpi, kuharap aku segera bangun dari mimpi buruk yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa"


 ***


Hay, namaku Alvino Pradipta. Sebagian orang pasti mengenalku dalam cerita ini. Ingat terakhir kali aku muncul dalam keadaan digantung antara hidup dan mati? Dan sekarang, aku akan mengambil alih posisi Kania sebagai narator.


"Vin, kamu udah sehat kan?" tanya Yuna sahabat Kania.


"Udah mendingan sih Yun," balasku.


Bagaimana aku kenal dengan Yuna padahal sebelumnya aku tak pernah bertemu dengannya? Tepatnya, setelah Revan merubuhkan rumahku, aku langsung datang ke apartemen milik Kania untuk bertemu Yuna.


"Lo buat gue khawatir tau gak," kesal Yuna.


"Haha...mau gimana lagi, aku harus kasi tau kamu soal Kania," balasku dengan santai.


"Iya sih, tapi gak gitu juga kali caranya. Malam-malam datang ke apartemen orang dalam keadaan terseok-seok dan berlumuran darah gitu. Gue kira lo zombie tau gak," cemberut Yuna lagi.


"Habis, aku gak tau harus kemana lagi. Yang aku kenal cuma Kania dan katanya dia tinggal bareng sahabatnya makanya aku ke apartemen kalian"


"Iya emang, sekarang gue penasaran gimana keadaan Kania. Semoga dia baik-baik aja," cemas Yuna.


"Aku juga. Setelah keluar dari rumah sakit, kita pikirkan gimana caranya agar aku bisa pulang ke Skandinavia"


"Oke, tapi gue harus ikut"


"Gak bisa Yun, ini terlalu berbahaya. Kalo kamu celaka gimana?"


"Biarin, pokoknya gue harus ketemu sama Kania. Gue gak pengen Kania koma lagi," sedih Yuna.


"Yaudah deh kalo kamu maunya gitu"


Drrrtt....drrrtt.....


"Halo," ucap Yuna pada sebuah telepon genggam.


"Gawat..gawat, gawat, gawat!" panik Yuna.


"Apanya yang gawat?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Sepupunya Kania...., Radith.... cowok.... gue.....dia mau datang..... kesini. Dia mau kesini, ke Belanda mau ketemu Kania. Bisa-bisa gue mati di tangan Radith nih," panik Kania dengan terbata-bata.


"Kamu tenang dulu Yun"


"Gimana bisa tenang, ini keadaan genting dan gawat darurat," teriak Yuna lagi.


"Sabar, ini di rumah sakit. Kamu gak boleh teriak-teriak"


"Ohhh...iya maaf, habisnya gue panik banget"


"Menurutku, kita bilang kejadian yang menimpa Kania pada sepupunya itu"


"Gak bisa, kalo dia tau soal Kania bisa-bisa dia panik dan gak percaya. Kita gak boleh kasi tau Radith"


"Mau sampai kapan kamu merahasiakan ini dari si Radith itu. Kalo dia nanya soal Kania, kamu mau jawab apa?"


"Hmmm....iya juga ya. Yaudah deh, gue bakal kasi tau Radith. Tapi, lo harus bantuin gue ngomong ke Radith," tegas Yuna.


"Iya, aku bakal bantuin kamu"


Sesuai jadwal, Radith benar-benar datang ke Belanda.


"Jangan bercanda deh Na, masa iya Kania sekarang berada di negeri antah berantah," balas Radith tak percaya.


"Siapa yang bercanda sih. Kamu gak percaya sama aku ya?" cemberut Yuna.


"Bukannya gak percaya, tapi ini gak masuk akal banget Na"


"Tapi ini bener adanya loh"


"Sudah, kalian jangan berdebat gini. Mas Radith, emang bener bahwa Kania sekarang dibawa oleh adik saya ke rumah kami yang bernama Skandinavia. Saya juga tak tau tujuan sebenarnya apa, dan kita harus bergegas kesana sebelum Kania dilukai. Dan satu lagi, saya memang berasal dari kalung yang ditemukan Kania," paparku dengan detail.


"Enak aja panggil gue mas, panggil Radith aja. Kalo bener, terus kita kudu ngapain sekarang? Apa kalungnya ada di sini? Siapa tau ada petunjuk di kalung itu"


"Gak ada, mungkin dipakai sama Kania," jawabku.


"Iya iya, pasti dipake sama dia. Kelihatan banget kalo Kania suka sama kalung itu," tambah Yuna lagi.


"Hahhh....awalnya gue kesini mau liburan ketemu Kania dan Yuna. Malah sekarang harus menghadapi masalah yang gak tau jalan keluarnya," seru Radith sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


"Maaf ya Dith, secepatnya aku bakal nyari jalan keluarnya dan semoga Kania baik-baik aja di sana"


"Tenang aja, gue bakal bantuin lo juga"


"Serius kamu mau ikutan juga?" tanya Yuna pada Radith.


"Iya dong, gak mungkin aku berdiam diri sementara Kania gak tau keadaannya gimana. Dan lagi, gak mungkin aku biarin kamu sendirian sama si Vino ini," jelas Radith.


"Bisa aja dong Dith ngomongnya, keliatannya kaya aku orang jahatnya di sini"


"Lah, emang iya kan. Lo tuh penyebab semua hal ini terjadi," kesal Radith.


"Yang, gak boleh gitu. Vino bukan orang jahat, dia juga udah berusaha menyelamatkan Kania dari adiknya yang bernama Revan itu"


"Udahlah, gue mau keluar menenangkan diri," seru Radith pergi.


"Gak usah dipikirin Vin, lo istirahat aja dulu," ucap Yuna.


"Ohh...iya," balasku singkat sebelum merebahkan diri di ranjang pasien.


Sebenarnya, aku tak mau berdiam diri dan tiduran di rumah sakit begini. Aku ingin langsung pergi dan memikirkan cara supaya bisa kembali ke Skandinavia. Mau bagaimana lagi, nampaknya sekarang aku harus memulihkan diri terlebih dahulu.


"Kania, kamu gak boleh mati di sini," teriak Revan.


"Revan, Kania," teriakku kaget.


"Kak Alvi, kakak harus kesini sekarang. Keadaannya gawat banget. Kakak harus datang menolong Kania dan juga yang lain," seru Revan.


"Apanya yang gawat Van? Dan lagi, kenapa Kania bisa pingsan dan luka-luka gitu?"


"Gak ada waktu untuk menjelaskan, sekarang kakak udah tau kan dimana aku berada. Aku akan kirimkan koordinat lokasi ku ke kakak. Dua hari, jika lewat dari dua hari, kakak tak akan bisa menemukan Kania. Pulihkan dirimu secepatnya," jelas Revan singkat.


Patss!


"Revan memberikan aku informasi lewat mimpi, apa Revan sekarang berada di pihakku?" pikirku masih tak percaya.


"Tapi Kania sedang berada dalam kondisi darurat, dan kata Revan lagi gak cuma Kania yang gawat tapi juga yang lain. Apa maksud Revan sebenarnya? Apa yang telah terjadi di Skandinavia?" gumamku bertanya-tanya.


Sepertinya Vino akan pergi ke Skandinavia

__ADS_1


__ADS_2