
"Haruskah aku menyelesaikan potongan puzzle yang tersusun acak ini? Atau berdiam diri menerima kehidupan damai tanpa masalah berarti?"
***
"Gimana, enak kan suasana di sini," kata Revan sambil menghampiriku yang sedang bersantai.
"I..iya Van," balasku merasa bersalah.
"Udah, jangan dipikirin terus. Aku gak rugi juga kok," ucapnya lembut sambil mengusap kepalaku.
"Ehh..iya," ucapku dengan gugup.
"Ahh..maaf, aku gak bermaksud apa-apa kok," tambah Revan yang refleks melepaskan tangannya dari kepalaku.
"Iya gak apa kok," balasku sedikit canggung.
"Oh iya, aku baru ingat. Nanti malam ada pembukaan festival cahaya, kamu mau ikut kesana?.
"Festival cahaya?" tanyaku dengan bingungnya.
"Iya, festival lampu warna-warni gitu sih, sering dibilang festival cahaya, biasa diadakan setahun sekali".
"Wahh...mau mau," kataku dengan penuh semangat.
"Iya, ajak Bu Mega sekalian".
"Oke siap".
Aku bergegas pulang dari toko roti Revan untuk menemui Bu Mega dan mengajaknya ke festival cahaya. Kata Bu Mega, festival cahaya diadakan sebagai bentuk rasa syukur kita pada Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan kita kehidupan yang baik seperti cahaya yang terang benderang.
"Pembukaannya jam berapa ya, kok udah pada rame aja?" tanyaku sembari melihat keadaan sekitar.
"Masih setengah jam lagi, biasanya emang udah rame karena gak mau ketinggalan pembukaannya," balas Bu Mega santai.
"Antusias banget semua masyarakatnya," kataku dengan takjub.
"Pasti lah, acara setahun sekali kalo gak antusias mah kelewatan banget," ucap Revan singkat.
"Yaudah, mending kita duduk sama yang lain di sana," tunjuk Bu Mega pada kerumunan warga yang tengah duduk santai di pelataran sebuah toko.
"Oke," balasku singkat.
Dengan adanya festival cahaya, seluruh kota jadi terang benderang dihiasi banyak lampu bewarna yang beraneka bentuk. Ada juga lampion berisi harapan-harapan yang sengaja di terbangkan agar harapan tersebut dapat terbang dengan bebas.
__ADS_1
"Wahh...ini keren banget," ucapku dengan sangat takjub sambil melihat banyak lampion yang beterbangan.
"Kamu nulis harapan apa?" tanya Revan.
"Rahasia, hahaha," kataku lagi sembari tertawa.
"Udah mulai rahasia-rahasaian segala, awas aja nanti aku gak bakal ajak kamu ke tempat keren lainnya," ancam Revan.
"Aku bakal laporin kamu ke Bu Mega," balasku balik menekan Revan.
"Oke, jangan laporin sama Bu Mega. Aku cuma bercanda," pasrah Revan.
"Kalian di sini ternyata, gak mau icip-icip makanan?" tanya Bu Mega menghampiri kami setelah berbincang dengan ibu-ibu lainnya.
"Gratis apa Bu?" tanyaku.
"Kalo icip-icip dikit gratis, kalo banyak ya bayar atuh, rugi nanti pedagangnya," kata Bu Mega lagi.
"Haha iya ya, yuk langsung makan," kataku semangat mendahului Revan dan Bu Mega.
Benar kata Bu Mega, semua sampel makanan diberi gratis untuk masyarakat juga pengunjung. Aku juga membeli beberapa makanan untuk dibawa pulang ke rumah.
"Kan, kamu kalo mau keliling pergi sama Revan, ibu ada urusan sama emak-emak yang lain," celetuk Bu Mega sambil mengunyah bakso bakar.
"Oke Bu, nanti kalo Bu Meg lama, Revan anterin Kania pulang ke rumah," kata Revan yang membuka suara.
"Iya, jagain Kania," tambah Bu Mega.
"Siap," kata Revan menaikkan tangannya seperti hormat pada saat upacara bendera.
"Wowww...keren banget sih festival cahayanya, ada atraksi dance water yang di sinari banyak cahaya lampu," kataku dengan takjubnya.
"Baguslah kalo kamu senang, aku emang sengaja ngajakin kamu kesini supaya gak ingat masalah tadi siang di toko".
"Kamu bilang gini, aku malah keinget lagi sama hal itu," ucapku dengan mulut manyun.
"Hehe, maaf deh. Mau ikut naik perahu gak?.
"Ngapain naik perahu?" tanyaku lagi.
"Lebih seru kalo liat dance water sambil naik perahu, sensasinya lebih beda gitu".
"Iya ya, pasti seru dan indah banget apalagi banyak lampion yang berterbangan, berasa kaya tokoh utama dalam drama, hehehe," tambahku lagi disertai dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Mana ada yang mau jadiin kamu tokoh utama dalam drama, tokoh pendamping juga kamu gak akan bisa, hahaha," kata Revan dengan tawa yang sangat keras.
"Kamu jahat banget sih Van, ketawanya sampe keras banget gitu, kan aku jadi malu karena diliatin orang-orang," ucapku dengan malunya.
"Mereka juga gak liatin kamu kok, kamunya aja yang kegeeran," ledek Revan lagi.
"Sumpah ya, kamu kok ngeselin banget sih Van," kesalku sambil mencubit lengan Revan.
Sekali lagi, aku merasa begitu bahagia bisa menyaksikan festival cahaya yang hanya diadakan setahun sekali ini. Aku melihat begitu banyak cahaya warna-warni yang menyilaukan mata, namun enak untuk dipandang.
"Aku iri sama kamu Van".
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?".
"Karena kota ini adalah tempat terbaik untuk tinggal, tempatnya masih sangat asri dan aman, masyarakatnya juga ramah dan masih memiliki sifat kekeluargaan".
"Emangnya di tempat kamu tinggal tempat dan masyarakatnya gak mengenakkan banget ya?".
"Enggak juga sih, cuma ya masyarakatnya indivualistik semua terus kejahatan juga sering terjadi, kadang aku bosen dengerin berita kejahatan mulu".
"Kalo gitu, kenapa kamu gak tinggal di sini aja?".
"Enggak ah, aku masih ada keluarga yang pasti khawatir sama aku".
"Kalo kamu emang merasa gak enak hidup di tempat kamu yang biasanya, kamu bisa tinggal, aku dan Bu Mega juga keluarga kamu kan".
"Iya sih emang, tapi seburuk apapun tempat yang aku tinggali, tetap aku cinta banget sama Jakarta dan Indonesia yang telah membuat aku merasakan semua emosi termasuk kasih sayang juga kesedihan".
"Aku hargai keputusan kamu," kata Revan lagi sambil tersenyum tipis.
Entah aku salah lihat atau apa, tapi senyuman Revan terlihat begitu menyedihkan dan juga tampak sedikit menyeramkan.
"Yuk ah pulang, kalo kelamaan kamu bisa-bisa tidur di sini," tambah Revan lagi.
"Haha, iya nih bisa aja aku tidur di sini," kataku disertai dengan tawa.
Rasanya, aku kangen sekali dengan keluargaku. Berharap bisa berkumpul dengan mereka kembali. Sebelum itu, hanya satu harapku yang pasti, jangan sampai aku merasa nyaman berada di sini. Namun, aku sudah mulai terbiasa di sini. Ditambah dengan kehadiran Revan dan Bu Mega, aku semakin tak ingin pergi.
Jikalau aku bisa pergi, kemanakah kaki ini harus melangkah? Pintu masuk ke kota Petra ini belum kutemukan, bagaimana aku bisa menemukan jalan keluarnya? Mengapa harus kota Petra dan taman tulip tempat yang kusinggahi? Seperti teka-teki, haruskah aku mulai memecahkan setiap kepingan misteri yang belum tersusun rapi?
Kira-kira, kenapa Kania harus terjebak di kota Petra?
Dukung terus novel ini dengan cara like dan komen ya, agar novel ini terbit sampai selesai 😉
__ADS_1