
"Waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai tenggelam dan terbunuh dalam kencangnya arus waktu"
***
"Ini yang namanya hutan Apollo?" tanya Radith melihat sekeliling.
"Iya, jurang yang dimaksud oleh raja Pierre pasti ada di ujung sana" tunjukku pada sebuah pohon besar yang berdiri gagah di ujung jurang.
Dengan cepat, kami langsung bergegas menuju hutan Apollo. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai karena kami tengah diburu oleh waktu.
"Serius, jurangnya curam kaya gini. Dimana bunga lotusnya berada?" tanya Radith melihat curamnya jurang.
"Di sana, tampaknya kita harus masuk lebih dalam," seruku menunjuk beberapa tangkai bunga yang tampak seperti bunga Lotus Berthelotii yang langka itu.
"Siapa yang mau masuk ke dalam jurang sana? Kalo gue sih bukannya gak mau, tapi gue takut banget sama ketinggian," ucap Radith lagi yang tampak begitu ketakutan.
"Yasudah, biar aku saja yang masuk ke dalam jurang itu. Kalian berdua tunggu di sini sembari membantuku untuk turun ataupun naik nanti," jelasku dengan singkat pada Revan dan Radith.
"Iya, hati-hati kak," ingat Revan.
Dengan perlahan dan hati-hati, aku turun memasuki jurang.
Srakk!
"Lo gak papa Vin?" tanya Radith yang tampak khawatir melihat kakiku yang tergelincir.
"Gak papa kok Dith," balasku singkat.
Setelah sampai, aku langsung bergegas mencari bunga Lotus Berthelotii itu. Terlihat di kejauhan ada beberapa tangkai bunga yang sangat mencolok.
"Nah, ini dia bunga Lotus Berthelotii nya," seruku dengan girang.
"Tapi hanya ada enam sampai tujuh tangkai bunga. Jika membawa empat tangkai apakah akan cukup?" pikirku melihat sedikitnya bunga Lotus Berthelotii yang tumbuh.
"Sudahlah, raja Pierre tak menyebutkan berapa jumlah bunga yang disuruh bawa. Jika diambil semua, maka tak ada lagi yang namanya bunga Lotus Berthelotii. Sebaiknya aku tinggalkan tiga tangkai bunga lagi agar tumbuh lebih banyak," gumamku.
"Revan, Radith, aku sudah menemukan bunga lotusnya, bantu aku naik sekarang," ucapku sembari memasukkan bunga Lotus ke dalam kantung penyimpanan barang.
__ADS_1
Dibantu dengan Revan dan Radith, aku berhasil naik dari jurang dengan selamat. Tinggal dua jam lagi, semoga Kania masih bisa diselamatkan tepat waktu.
"Argghhh...kenapa jalanan yang di sini di tutup?" ucap Radith dengan kesal.
"Sepertinya ada pembangunan di sini, padahal ini adalah jalan paling cepat menuju istana," tambah Revan dengan lesu.
"Kita putar arah, dan cari jalan lain," ajakku memutar kuda yang tengah kunaiki.
Jalan yang dimaksud memanglah jalan alternatif paling cepat menuju istana. Tapi siapa sangka bahwa di sana terdapat pembangunan hingga tak bisa dilewati oleh seekor kuda.
"Kendalikan kudanya lebih cepat lagi, kita sudah kehabisan waktu," seru Revan memacu kudanya dengan kecepatan penuh.
"Hanya tinggal 30 menit lagi. Semoga Kania masih bisa bertahan," tambah Radith tampak panik.
Akhirnya sampai juga kami di istana Skandinavia. Waktu yang tersisa hanyalah 20 menit lagi.
"Raja Pierre, kami telah mendapatkan bunga Lotus Berthelotii," ucapku sembari menyerahkan bunga tersebut.
"Baguslah masih ada sisa waktu. Sisanya, serahkan pada saya. Saya akan berusaha dengan sekuat tenaga menyelamatkan Kania, kalian harus banyak berdoa," jelas raja Pierre memasuki kamar tempat Kania berada.
"Tenang Yang, kita tunggu sebentar lagi," ucap Radith menenangkan Yuna.
"Iya, semoga Kania masih bisa selamat," harap Yuna.
Cklek
"Gimana Kania yang mulia?" tanya Yuna tak sabaran.
"Dengan bantuan bunga Lotus Berthelotii dan sihir yang saya pelajari dulu, racun yang ada di dalam tubuh Kania telah lenyap total. Sebentar lagi, Kania akan segera siuman," jelas raja Pierre yang tampak lelah.
"Alhamdulillah, gue kira waktunya gak cukup," spontan Kania dengan lega.
"Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu. Kalian juga lelah kan? Sebaiknya kalian juga beristirahat," saran raja Pierre.
"Iya, yang mulia sebaiknya juga beristirahat. Setelah bertarung dengan Alexander Louis, kini harus menyembuhkan Kania pasti yang mulia sangat lelah," ucapku lagi.
"Iya, rasanya tulang saja mau copot semua. Setelah makan malam nanti, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada kalian," ucapnya membuat kami sangat penasaran.
__ADS_1
"Raja Carey Mulligan juga harus mengetahui hal ini. Ares, beritahukan pernyataan saya ini pada raja Carey," pinta raja Pierre sebelum melangkah pergi.
"Baik yang mulia," balas Ares sopan.
Rasanya lega telah mengatasi masalah yang ada di Skandinavia terutama Alexander Louis. Dan kabarnya juga, pasukan Manuela telah berhasil dikalahkan bersamaan dengan kematian Alexander Louis ditambah dengan bantuan prajurit Mestre.
"Raja Pierre ingin menyampaikan apa ya saat makan malam nanti," gumam Yuna dengan heran.
"Gak tau, kita lihat aja nanti Yang," balas Radith.
"Sepertinya hal ini cukup serius sampai raja Pierre meminta raja Carey untuk ikut bergabung," tambah Ares tampak bingung.
"Iya, aku juga penasaran apa yang ingin disampaikan oleh raja Pierre pada kita semua," timpal Revan menyetujui.
"Ntahlah, kita lihat saja nanti," ucapku dengan santai.
Ya, raja Pierre cukup membuat kami semua merasa penasaran.
"Ada hal penting apa yang ingin raja Pierre sampaikan?" tanya raja Carey Mulligan yang tampak bingung.
"Saya mengumpulkan kalian semua termasuk raja Carey Mulligan ingin membicarakan satu hal penting tentang Kania," jelas raja Pierre.
"Kania? Ada hal bahaya yang terjadi pada Kania?" tanya raja Carey lagi.
"Iya, apakah yang mulia Carey ingat dengan putri Camilla yang hilang begitu saja tanpa jejak?" tanya raja Pierre memastikan.
"Tentu saja saya ingat. Tidak mungkin saya melupakan anak saya sendiri," balas raja Carey.
"Ya, dan raja Carey tau apa fakta yang sebenarnya?" tanya raja Pierre yang membuat kami sangat penasaran.
"Apa? Cepat kasi tau saya, jangan berbelit-belit!" tegas raja Carey tak sabar.
"Kania adalah putri Camilla," jawab raja Pierre dengan singkat.
Sebentar lagi tamat. Terima kasih buat semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini. Terima kasih juga pada pembaca yang memasukkan novel ini sebagai salah satu novel favorit.
Jika ada 😅😅. Jika berkenan, klik favorit ya guys 😘
__ADS_1