
"Sebatas kata dapat meluluhkan hati sekeras baja"
***
"Membunuh kami bertiga? Jangan harap!" tegas Ares berdiri di depanku dan Revan.
"Alrescha Xavier, kau sangat setia pada Skandinavia. Dan aku benci itu, kau akan mendapatkan kehormatan dengan menjadi yang pertama yang akan terbunuh oleh tanganku," terang Alexander Louis.
"Coba aja jika berhasil. Aku tak pernah takut akan apapun dan pada siapapun. Kau hanyalah seekor kecoa yang merusak manisnya sebuah kue," jelas Ares dengan berani.
"Tak salah jika raja Carey Mulligan menjadikanmu sebagai orang kepercayaannya. Mari kita mulai bertanding satu lawan satu. Kita lihat, lebih hebat omonganmu atau tanganmu dalam memainkan pedang," tantang Alexander Louis dengan sombongnya.
"Oke, akan kubungkam kau dengan keahlianku berpedang," balas Ares lagi.
Terlihat Ares sangat cakap dalam kehilangan berpedangnya. Alexander Louis juga sangat ahli sehingga membuat Ares cukup kewalahan.
"Raja Pierre, sebaiknya Anda diobati terlebih dahulu," ucapku kahwatir pada raja Pierre yang dipenuhi luka sayatan pedang.
"Tak apa, lebih baik kalian pikirkan cara untuk membunuh Alexandrer Louis. Karena Alrescha tidak mungkin bertahan lebih lama lagi," seru raja Pierre mengingatkan kami.
"Kak, aku akan membantu Ares," ucap Revan spontan.
"Oke, aku akan menjaga raja Pierre. Lakukan apa yang mau kamu lakukan, gunakan tanduk naga beracun ini," ucapku menyetujui Revan sambil menyerahkan tanduk naga beracun tersebut.
"Iya kak, aku pasti akan menyelamatkan Skandinavia," balas Revan berlalu menghampiri Ares dan Alexander Louis.
"Raja Pierre, saya akan mengobati anda dengan tanaman seadanya," ucapku berlalu mencari tanaman untuk mengobati raja Pierre.
"Kau telah kalah, sekarang saatnya aku menghabisimu," seru Alexander Louis pada Ares yang tergeletak di tanah.
"Alexander Louis, sekarang aku akan melawanmu," seru Revan dengan berani.
"Baiklah, aku ingin melihat sejauh apa keahlian berpedang yang ku ajarkan padamu," jawab Alexander Louis setuju.
Seperti halnya Ares, Revan dengan mudah dikalahkan oleh Alexander Louis. Setelah melawan raja Pierre dan Ares, Alexander Louis tidak tampak kelelahan sedikit pun.
__ADS_1
"Yang mulia, apa anda merasa lebih baikan?" tanyaku pada raja Pierre setelah mengobatinya dengan beberapa tanaman liar.
"Ya, saya sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih karena telah mengobati saya," balas raja Pierre dengan sungkan.
"Seharusnya saya dan dan Skandinavia yang harus berterimakasih pada yang mulia Pierre karena telah berkorban demi kami," ucapku lagi.
"Tak apa, setelah ini Skandinavia dan Mestre akan bekerja sama. Jadi, sudah sepatutnya saya ikut membantu, terutama ini berkaitan dengan Alexander Louis," jelas raja Pierre lagi.
Trang..Trang..
Terlihat bahwa Revan berjuang keras demi melawan Alexander Louis. Tak hanya sampai disitu saja, Ares pun ikut membantu Revan melawan Alexander Louis.
"Revan!" teriakku seketika melihat Revan jatuh terbanting ke tanah.
"Sungguh membosankan melawan anak kecil. Aku akan membiarkan kalian sekarat sampai mati secara perlahan sedangkan aku akan pergi menuju istana demi membasmi keluarga kerajaan," ucap Alexander Louis yang tegahh membuka portal waktu.
Dengan sigap, aku langsung mendorong Alexander Louis hingga ia jatuh ke tanah agar tak bisa memasuki portal waktu menuju istana Skandinavia.
"Tadi adiknya, sekarang kakaknya? Mau mati juga kau Alvi?" tanya Alexander Louis tak senang.
"Wow....kau berhasil memberi goresan di wajahku dan rasanya sedikit sakit," seru Alexander Louis dengan santai.
"Ya, akan kuberi sedikit demi sedikit goresan sampai kau mati dengan sendirinya," balasku dengan yakin.
"Berani sekali, coba rasakan ini," ucapnya sambil menggerakkan tangannya untuk mendorongku.
"Uhuukk...uhukk...Curang sekali," ucapku lirih sembari memegangi perut.
"Hei, kita sudah sepakat agar tidak menggunakan sihir, kenapa kau pakai pada anak kecil hah," ucap raja Pierre dengan kesal.
"Sudah cukup lama aku bermain-main dengan kalian, para manusia sampah," seru Alexander Louis lagi sambil berjalan menuju arahku.
"Tunggu, sebelum membunuh kak Alvi, lebih baik bunuh aku saja. Toh, aku sudah sangat sekarat," ucap Revan menghentikan langkah kaki Alexander Louis.
"Dengan senang hati, Revanza Adinata," balasnya dengan senyuman yang terasa menyeramkan.
__ADS_1
"Sebelum itu, biarkan aku memelukmu sebagai ucapan terima kasih karena selama ini telah menjadi ayah bagiku," pinta Revan.
"Hah...baiklah," balasnya singkat.
Jleb!
"Apa?" kaget Alexander Louis.
"Aku tak akan semudah itu mati, Ayah," ucap Revan dengan senyum puas.
"Kurang ajar, jadi kalian tau bagaimana cara mengalahkan manusia abadi?" tanya Alexander Louis yang tampak tak percaya.
"Tentu saja kami tau. Jika tidak, kami terlalu bodoh untuk menyerahkan daging ke kandang singa," jelas Revan lagi.
"Louis, kau lihat sekarang? Seorang manusia biasa mengalahkan seorang manusia abadi," ucap raja Pierre menghampiri Alexander Louis.
"Ya, aku tak menyangka jika kalian punya cara untuk mengalahkanku. Tampaknya, rencana yang telah ku susun sedemikian rupa ternyata sia-sia saja," ucap Alexander Louis lagi sebelum ambruk.
"Sebaiknya kau menyesal atas apa yang telah kau perbuat karena bagaimana pun juga seluruh keluargamu pasti sedih melihat kau begini," nasihat raja Pierre lagi.
"Untuk apa aku menyesal atas apa yang kuperbuat? Keluargaku juga tak akan pernah kembali lagi," balas Alexander Louis yang tampak kesakitan.
"Setidaknya, kau bisa mati dengan tenang tanpa ada dendam yang melekat. Jika kau hidup lagi di kehidupan selanjutnya, aku harap kau menjadi orang yang lebih baik lagi dan berbelas kasih pada orang lain"
"Meskipun Ayah telah memanfaatkan ku, tapi aku masih berhutang terima kasih karena telah merawatku sejak aku keluar dari rumah. Jangan jadi seperti aku yang membuat keluargaku sedih karena telah berubah menjadi orang yang tak berperasaan," timpal Revan menyetujui perkataan raja Pierre.
"Kenapa? Hanya beberapa kata saja rasa dendam ku telah hilang begitu mudahnya. Mungkin benar bahwa seluruh keluargaku merasa sedih karena aku telah menjadi orang lain sejak terakhir kali aku melihat mereka," jelas Alexander Louis merasa bersalah.
"Akhirnya kau bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada dendam yang menyelimuti," tambah raja Pierre.
"Maaf atas semua yang saya lakukan dan sampaikan maaf saya pada Kania karena sebenarnya di dalam tubuhnya ada racun menjalar yang sedikit demi sedikit menggerogoti nyawanya," ucap Alexander Louis lagi sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
"Yang benar saja, obat penawarnya apa? Jangan mati sebum memberitahu obat penawarnya," teriak Revan histeris.
"Sudah Van, Alexander Louis sudah tiada, kita akan mencari obat penawar untuk Kania," ucapku menenangkan Revan.
__ADS_1
Klik favorit ya guys 😁