
"Takdir tak dapat dipilih atau dipungkiri, karena suratan takdir telah tertulis rapi dalam buku takdir"
"Serius kamu kalo Kania udah siuman?" tanyaku ragu pada Revan.
"Iya kak, kenapa gak percayaan gitu sih," balas Revan sedikit kesal.
"Bukannya gak percaya, tapi kata Yuna dia akan memberitahu kakak jika Kania sudah bangun"
"Mungkin Yuna lupa. Tau sendiri kan kalo udah berhubungan sama Kania, Yuna bisa lupa segalanya"
"Iya bener juga sih Van"
"Yuna, Kania udah bangun?" tanyaku memastikan pada Yuna saat sampai di pintu kamar Kania.
"Udah, sorry ya gue lupa ngasi tau sama lo. Hehehe," balas Yuna dengan cengengesan.
"Iya gak papa, aku dan Revan akan masuk jenguk Kania," ucapku lagi.
"Iya, masuk aja," balas Yuna santai.
Kriett
"Kania, kita ganggu?" tanya Revan setelah memasuki kamar Kania.
"Enggak kok Van, aku senang kalian ada di sini," balas Kania yang terlihat masih pucat.
"Maaf ya," ucap Revan merasa bersalah.
"Untuk apa?" tanya Kania dengan bingung.
"Kamu gak tau kalo Alexander Louis meracuni kamu?" tanya Revan lagi.
__ADS_1
"Ohh...itu, aku udah tau dari Yuna kok," santai Kania.
"Kenapa kamu masih bisa santai?"
"Terus aku harus ngapain? Alexander Louis udah meninggal kan? Sudah seharusnya aku bersantai karena semua masalah yang menimpaku selama ini telah berakhir, dan sebentar lagi aku akan pulang ke rumah," jelas Kania.
"Kamu gak marah? Bagaimana pun juga aku ikut andil sampe kamu keracunan gini walaupun aku gak tau sih kapan ayah Louis meracuni kamu"
"Aku gak marah kok. Lagian kamu kan udah menebus semua kesalahan kamu dimulai dari menyelamatkan aku dari Alexander Louis, mengatasi semua pasukan Manuela yang datang memburu kita, sampe mencari tanduk naga beracun bahkan ikut dalam mencari obat penawar untukku. Semua itu lebih dari cukup untuk membalas semua kesalahanmu. Gak ada lagi hal yang membuat aku benci sama kamu Van," jelas Kania.
"Huh..terima kasih banyak ya Kania. Kupikir kamu bakal benci sama aku"
"Gak lah, mana mungkin aku benci sama orang yang telah melindungi dan menyelamatkan hidupku"
"Iya, makasih sekali lagi. Kalo gitu aku keluar dulu, kamu cepat sembuh ya," ucap Revan sebelum melangkahkan kaki menuju pintu.
"Kak, untuk masalah putri Camilla itu, kakak aja yang kasi tau Kania," bisik Revan padaku sebelum keluar dari kamar Kania.
"Vin, kamu kenapa diam aja dari tadi?"
"Aku senang kamu bisa pulang dengan selamat"
"Harusnya aku yang lebih senang karena kamu berhasil selamat dari racun Alexander Louis. Jika tak ada yang mulia Pierre, mungkin kita semua pada bingung dan gak tau harus berbuat apa kerena racun itu merupakan racun yang para tabib tak pernah mengetahuinya," jelasku dengan detail.
"Iya, aku sudah berhutang banyak pada kamu dan yang lain terutama raja Pierre. Vin, temani aku untuk mengucapkan terima kasih pada raja Pierre," pinta Kania.
"Jangan sekarang, kamu belum sembuh total. Setelah kamu benar-benar sembuh, aku akan temani kamu bertemu dengan raja Pierre"
"Tapi kan, aku maunya bilang terima kasih sekarang," ucap Kania cemberut.
"Gak, harus sembuh dulu baru boleh bilang terima kasih pada raja Pierre. Lagian, raja Pierre juga sedang kurang sehat akibat bertarung dengan Alexander Louis dan membantu mengeluarkan racun yang ada di tubuh kamu," jelasku singkat.
"Iya deh, tapi aku semakin merasa bersalah dengan raja Pierre," sedih Kania.
__ADS_1
"Raja Pierre orangnya sangat baik, kamu jangan merasa bersalah gitu," balasku sembari mengelus rambut Kania.
"Iya," balas Kania singkat.
"Oh iya, sebelum aku lupa, aku ingin menyampaikan satu hal penting sama kamu"
"Hal penting apa?"
"Janji ya, jangan kaget, marah atau kesal saat tau hal ini," ucapku memperingatkan.
"Emangnya hal apa sampe aku harus janji segala?" seru Kania tak setuju.
"Pokoknya kamu harus janji!" tegasku.
"Iya deh iya," balasnya dengan malas.
"Kamu tau kan soal putri Camilla?" tanyaku membuka topik pembicaraan.
"Iya, emangnya kenapa?" balasnya dengan bertanya.
"Kamu tau semua cerita putri Camilla dan kamu juga tau bahwa semua mengatakan kalau kamu mirip dengan putri Camilla. Dan faktanya adalah kamu memang putri Camilla," jelasku singkat agar tak membuat Kania syok.
"Hahaha....kamu mau bercanda Vin? Gak lucu tau gak, aku udah sering banget dengar mirip seperti putri Camilla lah atau memang putri Camilla," ucap Kania tak percaya.
"Aku gak bercanda. Kamu memanglah putri Camilla. Saat putri Camilla hilang di dalam portal waktu, tubuh dan jiwanya terpisah sehingga jiwanya masuk kedalam tubuh kamu. Sejak awal, kamu memanglah reinkarnasi dari putri Camilla sendiri, tapi karena ada sebuah pergerakan dalam portal, maka putri Camilla merubah sejarah kehidupan kamu di masa depan. Jiwa kamu juga telah tiada karena tergusur oleh jiwa putri Camilla yang asli," jelasku seperti yang diucapkan oleh raja Pierre.
"Kamu ngomong apa sih Vin? Bercandanya gak lucu tau gak," ucap Kania tak percaya.
"Siapa yang bercanda? Aku tak pernah bercanda akan hal penting seperti ini. Ini semua memanglah benar, jika kamu tak percaya kamu boleh tanya pada teman-teman yang lain atau raja Pierre. Karena raja Pierre lah yang memberitahu hal ini saat ia menangani kamu saat terkena racun kemarin," seruku lagi.
"Gimana bisa aku adalah putri Camilla? Jika memang benar, kenapa aku tak ingat sama sekali tentang Skandinavia?"
"Karena jiwa putri Camilla bagaikan jiwa yang masih putih bersih bagaikan bayi yang baru lahir ke dunia. Mungkin benar kamu adalah putri Camilla, tapi yang aku tau kamu tetaplah Kania karena putri Camilla hanyalah bagian dari diri kamu sendiri. Kamu dan putri Camilla sangat berbeda, jangan pernah merasa terbebani akan hal itu," ucapku menenangkan Kania yang tampak terkejut mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Iya, bagaimanapun juga ini adalah sebuah takdir yang tak dapat kupilih atau dipungkiri," ucap Kania dengan wajah sendu.
"Mau Kania ataupun putri Camilla, aku akan selalu menjadi pelindung bagi kamu," ujarku menenangkan Kania dan tanpa sadar langsung memeluknya.