Another World

Another World
Episode 22


__ADS_3

"Setiap orang pasti memiliki masa lalu, dan jangan sesekali mencoba menggali masa lalu orang lain karena ia berhak bungkam atas masa lalunya"


 ***


"Huuhhh...untung aja kita gak ketauan sama mereka tadi," ucap Radith lega.


"Iya, mana cengkraman tangannya kuat banget lagi," kesal Yuna sembari memegangi pergelangan tangannya.


"Alhamdulillah kita selamat, yang lainnya gak ada yang luka kan?" tanyaku pada yang lain.


"Gak ada yang luka kok kak. Kania kamu gimana?" tanya Revan.


"Ohh...aku gak apa kok. Cuma lecet dikit sih karena jatoh tadi," balas Kania.


"Ughhh...kesel deh gue. Masa iya gue sama Kania yang kena kalian enggak. Gak adil ini namanya," kesal Yuna lagi.


"Ya jangan dong Yang, kalo kita kenapa-kenapa siapa yang bakal jagain kalian berdua?" Balas Radith.


"Iya sih bener juga," tambah Yuna lagi.


"Udah, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Gak ada yang perlu diobatin kan? Cuma sekedar lecet doang?" tanyaku memastikan.


"Iya, gak ada kok Vin. Kita lanjut aja sekarang, sebelum mereka menemukan kita di sini," ucap Kania yakin.


"Oh iya, kira-kira ke istana kerajaan itu berapa lama?" tanya Radith.


"Gak terlalu lama sih, satu atau dua jam udah sampe kesana kalo gak ada kekacauan kaya gini. Sekarang, gak tau deh bisa sampe di sana kapan. Mungkin aja besok pagi," balas Radith yang tampak ragu.


"Lama juga ya, sebaiknya kita menemukan kendaraan deh," tambah Yuna.


"Iya, untuk sekarang kita jalan aja dulu. Aku yakin, nanti kita bisa menemukan sebuah kereta kuda," jawabku membenarkan perkataan Yuna.


Di tengah keheningan malam, kami berjalan menyusuri setiap inchi jalanan setapak dengan sangat hati-hati dan waspada kalau-kalau ada pasukan Manuela yang mengikuti kami.


"Haduhh...capek, istirahat dulu yuk," ajak Yuna.


"Iya, aku juga lemes banget sekarang," timpal Kania lagi.

__ADS_1


"Oke, kayanya kita istirahat sebentar di gubuk tua yang ujung jalan itu deh," saranku.


"Masih bisa jalan dikit lagi kan? Ayolah langsung kesana aja," ajak Radith pada Yuna dan Kania.


 


"Serem juga ya ternyata," ucap Yuna tiba-tiba saat sedang beristirahat di gubuk tua.


"Enggak ah, biasa aja ini mah," balas Revan santai.


"Yee... Bagi lo dan Vino yang hidup di sini mah emang biasa aja. Kita, orang modern berhadapan sama situasi kaya gini ya ngeri," ucap Yuna lagi.


"Mending kita ke rumah lo pada, ngapain juga kita istirahat di gubuk tua reot begini," seru Radith secara spontan.


"Huussshh....kamu gak boleh ngomong gitu Dith. Biarpun reot, masih mending kita punya tempat untuk berteduh," ucap Kania memperingatkan Radith.


"Ya sorry, gue kan gak pernah berada di situasi kaya gini," balas Radith lagi dengan acuh tak acuh.


"Kita berdua gak tinggal bareng," balas Revan yang membuka suara.


"Lohh...kok bisa?" tanya Yuna yang tampaknya begitu penasaran.


"Kenapa bisa kalian tinggalnya di beda tempat. Orangtua kalian dimana?" tanya Kania yang tampaknya mulai tertarik.


"Orangtua kami tinggal di kampung di balik bukit sana, kadang aku juga pulang ke rumah. Kalo Revan sejak berumur 15 tahun, dia telah tinggal di kastil Serilya tersebut sampai sekarang ini," jelasku.


"Tepatnya, sampai aku tau kalo Ayah Louis itu hanya memanfaatkan ku saja," timpal Revan.


"Serius, gue gak paham sama sekali," kesal Radith.


"Gak perlu dipahami Dith, kan kamu gak tau gimana pokok permasalahannya," ucapku lagi.


"Yah, apapun itu. Aku berharap kalo kalian bisa terus akur seperti sekarang ini dan bisa berkumpul lagi sama orangtua kalian," harap Kania.


"Gak mungkin bisa Kan," ucap Revan dengan wajah sendu.


"Iya, karena orangtua kami sudah meninggal dunia," tambahku lagi.

__ADS_1


"Astaghfirullah, maaf aku gak tau soal itu," timpal Kania yang tampak merasa bersalah.


"Gak papa, lagian kenapa kita jadi sedih gini sih? Udah pada cukup belum istirahatnya? Kalo belum, kita lanjut nanti," ucapku lagi.


"Udahlah, berangkat aja langsung," spontan Radith.


Ditemani semilir angin malam yang menusuk setiap lapisan kulit. Kami masih saja terus berjalan menyusuri jalanan sepi dan berliku.


"Kan, lo masih kuat gak? Gue gendong aja mau?" saran Radith.


"Enggak ah Dith, aku masih bisa jalan kok," jawab Kania.


"Ingat, Lo gak boleh maksain diri," ucap Radith lagi memperingatkan.


"Iya, kamu ribut banget dari tadi," balas Kania yang tampak sedikit kesal.


"Ehh...liat, di sana ada kereta kuda tuh," tunjuk Yuna.


"Yaudah, ambil aja yuk," semangat Radith.


"Ehh...jangan, kalo diambil nanti kita jadi pencuri loh," ingat Kania.


"Mau gimana lagi, kita kan butuh," tambah Yuna.


"Ribet banget sih kalian, aku ada beberapa koin emas yang diambil dari kastil, kita taruh beberapa koin emas ini dibawah pintu pemilik rumah. Anggap aja kita telah membeli kereta kudanya," seru Revan santai.


"Lahh...kenapa lo gak ngomong dari tadi," kesal Radith.


"Yaudah, ini udah aku masukkan beberapa koin emas di celah pintu pemilik rumah. Ambil kereta kudanya!" perintah Revan.


"Yeayyyy...akhirnya gak pegel lagi nih kaki," girang Yuna.


"Naik, kita berangkat sekarang," tegas Revan lagi.


"Kamu duduk di belakang aja Van, biar kakak yang jadi supirnya," tawarku pada Revan.


"Yang bener kak? Aku aja deh sebagai ungkapan rasa bersalah sama kalian," balas Revan sedikit canggung.

__ADS_1


"Enggak, istirahat aja sama yang lain. Jangan bantah!" tegasku pada Revan.


Setidaknya, kami telah memilikinya kendaraan untuk mempercepat langkah menuju istana kerajaan. Dan sebagai tempat berlindung dan beristirahat dikala lelah datang melanda. Semoga perjalanan kami tak terhambat oleh apapun dan di ridhai oleh sang pencipta.


__ADS_2