
"Masalah tak pernah selesai begitu saja. Setelah satu masalah selesai, masalah baru akan segera datang"
***
"Sebaiknya kita bergegas kembali ke istana dan melihat keadaan Kania," ucap Ares yang berjalan tertatih.
"Iya, semoga Kania gak kenapa-kenapa," balasku khawatir.
"Tunggu, siapa itu Kania?" heran raja Pierre.
"Dia teman kami yang dijadikan Alexander Louis sebagai alat untuk membangkitkan pasukan Manuela," jelasku secara singkat.
"Jika benar begitu, cepat kembali ke istana," saran raja Pierre lagi.
Tak tau apa yang dipikirkan oleh Alexander Louis, ia dengan sengaja memberikan racun pada Kania demi memuluskan rencananya.
"Kania, dimana Kania?" panik Revan.
"Tenang dulu Van, kita harus buat laporan untuk yang mulia Carey Mulligan," ucapku memenangkan Revan.
"Ares, apakah semuanya berjalan lancar?" tanya raja Carey Mulligan.
"Sangat lancar yang mulia, saya dan yang lain berhasil mengalahkan Alexander Louis. Tak hanya itu saja, raja Pierre dari kerajaan Mestre juga ikut membantu dan ingin menjalin kerja sama dengan Skandinavia," terang Ares.
"Baguslah jika Alexander Louis sudah dibereskan, dan kerja sama dengan Mestre harus segera mencapai kesepakatan," ujar raja Carey Mulligan lagi.
"Iya yang mulia, raja Pierre tengah berada di ruang tamu istana dan dipenuhi luka-luka. Sebaiknya diobati terlebih dahulu," saran Ares.
"Tak hanya raja Pierre, tapi kalian juga mendapat luka yang cukup serius. Ikut saya dan tabib istana akan segera tiba," terang raja Carey Mulligan.
"Tak perlu yang mulia, biarkan Ares dan kak Alvi saja yang diobati. Saya tak apa-apa," seru Revan.
"Tidak bisa, luka kamu juga lumayan parah sebaiknya diobati segera," tambah raja Carey Mulligan lagi.
Semua mendapatkan luka yang lumayan berat terutama raja Pierre yang bertarung mati-matian dengan Alexander Louis.
"Sudah selesai, sebaiknya jangan terlalu banyak beraktivitas," saran tabib kerajaan.
"Kak, aku mau nyari Kania. Kakak ikut gak?" tanya Revan.
__ADS_1
"Iya, kakak ikut kamu," jawabku menyetujui.
"Revan, Vino akhirnya kalian sampe juga," seru Yuna tampak lega.
"Kenapa Yun?" tanyaku memastikan.
"Kania dia pingsan dan mukanya pucat banget," tambah Yuna lagi.
"Apa? Berarti racunnya telah bekerja," seru Revan khawatir.
"Racun apa?" tanya Radith bingung.
"Nanti aja aku jelasin, sekarang aku akan panggil tabib kerajaan. Yuna, temani aku memanggil tabib itu, dan yang lain temani Kania," ucapku.
"Iya," balas mereka serempak.
"Alvi, ada apa ini ramai sekali?" tanya raja Carey Mulligan melihat kami yang tampak panik.
"Ini yang mulia, Kania pingsan," jawabku pada raja Carey Mulligan.
"Pingsan? Cepat panggil tabib istana," seru raja Carey Mulligan lagi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yuna dengan sangat panik.
"Di dalam tubuhnya ada sebuah racun, meskipun tidak berbahaya tapi racun itu menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit. Dan saya tidak tau jenis racun apa ini, sepertinya racun ini adalah racun yang tak pernah diatasi oleh tabib manapun di Skandinavia ini," jelas tabib itu lagi.
"Terus kita harus berbuat apa? Masa iya kita cuma berdiam diri melihat Kania dalam keadaan begini," ucap Radith khawatir.
"Kenapa Kania bisa kena racun sih? Siapa yang buat dia jadi begini?" tanya Yuna yang tampak panik.
"Alexander Louis," balas Revan singkat.
"Dia lagi dia lagi. Kenapa semua ini harus berhubungan dengan dia sih!" kesal Yuna.
"Iya, memang semua ini karena dia. Tapi kami tak sempat mendapatkan informasi apapun soal obat penawarnya," ucap Revan merasa bersalah.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Yuna lagi.
"Tenang saja Yun, obat penawarnya akan kami cari segera. Tidak ada penyakit yang tidak memiliki obat," terangku menenangkan Yuna.
__ADS_1
Sebenarnya aku tak tau pasti dimana obat penawar racun Kania berada. Racunnya saja aku tak tau, dimana mendapatkan obat penawarnya? Yang pasti, aku berkata demikian demi memenangkan Yuna yang tampak khawatir dan takut.
"Kenapa semua tampak panik?" tanya raja Pierre dengan bingung.
"Mengenai racun yang dibilang Alexander Louis kemarin, tabib bilang bahwa racun itu belum pernah ada tabib yang mengetahuinya apalagi obat penawarnya," jelasku dengan singkat pada raja Pierre.
"Biar saya lihat. Sebaiknya yang mulia Carey dan yang lain diluar saja dulu," ucap raja Pierre lagi.
"Baiklah," balasku singkat.
Tak tau apa yang akan dilakukan oleh raja Pierre. Tapi semoga saja raja Pierre tau obat penawarnya ada dimana.
"Sepertinya Alexander Louis menebar racun yang dipelajari dari mantra-mantra terlarang," ucap raja Pierre keluar dari kamar Kania.
"Obat penawarnya apa?" tanya Revan.
"Saya tau, tapi kalian harus mencari bunga Lotus Berthelotii yang sangat langka itu, kabarnya ada beberapa tangkai bunga Lotus yang tumbuh di sekitar jurang di hutan Apollo," jelas raja Pierre.
"Hutan Apollo? Kita berangkat kesana sekarang!" seru Revan semangat.
"Kira-kira berapa lama Kania akan bertahan sampai kami dapat membawa bunga Lotus itu yang mulia?" tanyaku memastikan.
"Waktunya tak banyak lagi, hanya 5 jam dari sekarang. Karena racun itu telah lama bersarang di dalam tubuh Kania," jelas raja Pierre lagi.
"Ayo kita bergegas berangkat sekarang," tambah Ares yang kini membuka suara.
"Sebaiknya tinggal di sini saja, biar Revan dan Alvi yang pergi mencari bunga Lotus itu," terang raja Pierre lagi.
"Biar gue yang ikut bersama Revan dan Vino," seru Radith.
"Ya, kita berangkat sekarang," ucap Revan.
"Kalian hati-hati," balas Yuna dengan khawatir.
"Iya," balas kami serempak.
Setelah berpetualang mencari tanduk naga api dan mengalahkan Alexander Louis, kini kami berpetualang lagi demi mencari bunga Lotus Berthelotii di hutan Apollo demi menyelamatkan Kania yang waktu hidupnya tinggal lima jam lagi.
Support dengan klik favorit 😉
__ADS_1