
*"Kesal itu wajar, namun dia adalah ketidakwajaran yang berhasil melewati batas kekesalanku"
"Kania, kita mau kemana?".
"Gak tau, aku juga belum kepikiran sih," ucapku sambil tertawa kecil.
"Jadi kita mau ngapain sekarang?".
"Oh iya, kita jalan-jalan naik sepeda yuk".
"Sepeda? Apa itu?" bingung Vino.
"Sejenis alat transportasi kaya kuda gitu, tapi ini buatan manusia dan gerakinnya harus dikayuh," jelasku.
"Aku pengen coba yang namanya sepeda itu".
"Aku ada sih di rumah, ayo kita ambil dulu".
"Aku mau coba dong," seru Vino dengan semangat.
"Nanti kamu jatoh Vin," cemasku.
"Enggak, aku penasaran banget pengen nyoba gimana naik sepeda ini".
"Yaudah, intinya kamu harus jaga keseimbangan supaya gak jatoh, terus kamu kayuh deh, tapi pelan-pelan aja. Kalo mau lebih kencang lagi, kamu kayuh lebih cepat, dan kalo mau berhenti kamu tinggal tarik remnya," jelasku panjang lebar.
"Oke, aku pasti bisa," yakin Vino yang tengah mencoba naik sepeda.
"Aduh," ringis Vino yang jatuh dari sepedanya.
"Tuh kan jatoh, kamu harus seimbangin badan kamu Vin".
"Iya iya, ini aku coba lagi".
Namanya juga belajar, apalagi hal baru yang belum pernah dilihat atau dilakukan, wajar saja jika hal itu begitu sulit untuk dilakukan. Begitu juga dengan Vino yang tengah berusaha untuk bisa menaiki sepeda, tapi aku salut sama dia karena tak pernah menyerah meski telah jatuh berulang kali.
"Udah udah, kalo nungguin kamu bisa naik sepeda bisa-bisa kita gak jadi jalan-jalan".
"Dikit lagi aku bisa kok".
"Enggak, untuk kali ini aku yang bakal boncengin kamu".
"Hah...yaudah deh," lesu Vino.
"Wahh...seru ternyata naik sepeda ini apalagi sambil lihat pemandangan".
"Kamu mah seru, aku capek ngayuh sepedanya," kesalku.
"Yaudah, aku aja yang ngeboncengin kamu," saran Vino.
"Gak, bisa-bisa kita berdua celaka".
__ADS_1
"Hmmm".
"Oh iya, aku baru ingat. Kamu mau ke taman bermain gak?"
"Taman bermain?," tanya Vino lagi yang tampak bingung.
"Males aku jelasin ke kamu, nanti aja deh kamu liat sendiri gimana taman bermain itu".
"Oke lah," balas Vino singkat.
Sinar mentari pagi mulai menampakkan kehangatan yang menusuk diri. Tampaknya, pagi hari akan segera berlalu pergi.
"Wahh...rame banget di sini, banyak benda aneh yang belum pernah aku lihat," takjub Vino.
"Ya, taman bermain adalah tempat paling favorit bagi semua orang, mulai dari anak kecil sampe orang dewasa," jelasku.
"Aku mau naik itu," tunjuk Vino pada sebuah bianglala.
"Pilihan bagus, aku juga mau ajakin kamu naik bianglala".
"Seperti roda gerobak raksasa," celoteh Vino lagi.
"Bisa dibilang gitu sih, tapi ini bukan roda tapi bianglala".
Taman bermain emang tempat paling asyik untuk berlibur atau hanya sekedar mengistirahatkan diri dari berbagai macam kesibukan.
"Tinggi banget, semuanya tampak kecil dari atas sini. Aku seperti sedang terbang," girang Vino.
"Iya Nia, bagus banget aku suka".
"Baguslah kalo kamu suka, aku bakal ngajakin kamu naik semua wahana permainan yang ada di sini, mulai dari rollercoaster, rumah hantu, flying fox, dan masih banyak lagi," ocehku pada Vino.
"Hahh...kamu ngomong apa sih Ni, aku gak ngerti," bingung Vino.
"Dari tadi aku ngoceh dan kamu gak dengarkan sama sekali, dan kamu bilang aku ngomongin apa? Sumpah ya, kamu ngeselin banget tau gak," kesalku pada Vino sambil menarik-narik rambutnya.
"Aku capek banget Ni," keluh Vino.
"Capek apaan?" tanyaku heran.
"Capek main terus dan kakiku juga udah pegal. Cuacanya juga panas banget, aku jadi haus".
"Cuaca kaya gini enaknya makan es krim".
"Es krim? Aku mau itu, kedengarannya enak".
"Enak banget malahan, yuk kita pergi ke kedai es krim," ajakku pada Vino dan langsung menarik tangannya.
Saat berada di sini, tepatnya negeri kincir angin Belanda, tak ada yang namanya mager alias malas gerak. Setiap hari dengan penuh semangat aku bepergian dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
Berbanding terbalik saat berada di Jakarta, aku malah menjadi manusia termalas di dunia. Bagaimana tidak, untuk pergi ke warung Bok Ngah yang letaknya tak jauh dari rumahku saja aku menaiki sepeda motor untuk pergi kesana. Terkadang aku tak habis pikir dengan diriku sendiri.
"Kamu mau es krim yang mana Vin?" tanyaku pada Vino yang masih melototi buku menu.
__ADS_1
"Aku mau yang ini," tunjuknya pada sebuah es krim yang berukuran jumbo lengkap dengan topping yang begitu menggugah selera ditambah dengan berbagai aneka buah segar yang menambah tingkat kelezatannya.
"Pinter ya pilih es krim yang paling enak dan paling mahal," ucapku pada Vino dengan kesal.
"Hehehehe....abis kelihatannya enak," jawabnya dengan polos disertai dengan tawa.
Alvino Pradipta, cowok misterius yang katanya berasal dari sebuah liontin kalung yang kutemukan di pantai. Tak hanya sampai disitu, tenyata dia berasal dari negeri antah berantah yang bernama Skandinavia. Meskipun berumur ratusan tahun, dia adalah orang yang sangat lugu, sampai-sampai keluguannya itu membuatku sangat kesal sampai ingin memukulnya.
"Dingiiiiiinnnn....tapi rasanya enak," girang Vino yang tengah menyuap sesendok es krim ke mulutnya.
"Kalo enak, cepat habiskan dan setelah ini kita pulang".
"Kamu gak mau?" tanyanya lagi sambil menyodorkan sesendok es krim padaku.
"Enggak, liat kamu makan aja aku udah merasakan kelezatan es krim itu," tolak ku.
"Udah nih, untuk kamu," katanya lagi sembari menyuapiku dengan es krim.
"Ehhmmm...emang beda ya kalo yang mahalan, rasanya jauh lebih enak," gumamku.
"Kania, aku boleh jadi supirnya ya".
"Udah berapa kali aku bilang, kamu belum bisa naik sepeda!" ucapku dengan tegas.
"Aku pasti bisa, bolehin aku yang jadi pengayuh nya ya. Yayayayayaya...," rengek Vino.
"Yaudah deh, tapi kamu harus pelan-pelan," ingatku pada Vino.
"Ahssyiiap," semangat Vino.
"Vino, pelan-pelan aja, jangan ngebut kaya gini".
"Gak apa, ini seru banget tau Ni," senang Vino.
"Seru sih seru tapi harus hati-hati juga. Gimana kalo kita nanti ja....."
Gedebruk!
"Tuh kan, belum selesai aku ngomong, kita udah jatuh duluan," jengkelku pada Vino.
"Hahaha, maaf Ni, aku senang banget tadi sampe lupa untuk hati-hati," balasnya dengan santai.
"Masih bisa kamu ketawa, kamu harus ganti rugi karena sudah buat aku luka-luka kaya gini".
"Pake apa? Aku kan gak punya uang," jawabnya dengan enteng.
"Tau gak punya uang, kenapa gak dengarin saran aku sih," kesalku lagi sembari memukuli Vino.
"Hahaha maaf Kania, aku gak sengaja," tawanya.
"Ternyata kamu di sini, lama tidak bertemu ya, Kakak!" ucap orang misterius itu.
Kira-kira siapa ya orang misterius itu?
__ADS_1