
"Setiap orang pernah merasakan kehilangan. Tak apa jika bersedih, namun jangan berlarut dalam kesedihan cobalah untuk ikhlas menerima"
"Alhamdulillah, akhirnya lo bangun juga Kan. Gue kira lo udah lewat," canda Radith memasuki kamar Kania.
"Lewat lewat, kamu aja yang duluan Dith," balas Kania.
"Oh iya, kapan ni kita pulang? Gue datang ke Belanda buat liburan loh, malah terlibat dalam masalah yang ribet kaya gini. Bikin males aja," kesal Radith.
"Iya, aku juga pengen cepat-cepat pulang," ucap Kania lagi.
"Tunggu kamu sembuh dulu baru boleh pulang," seruku mengingatkan.
"Iya, bawel banget sih kamu Vin, itu mulu yang diomongin," cemberut Kania.
"Kan emang bener kamu harus sembuh dulu baru bisa pulang ke Belanda," terangku lagi.
"Iya, kalo gitu kalian keluar deh dari sini. Aku mau istirahat biar cepat sembuh dan bisa pulang," seru Kania menyuruh kami keluar dari kamarnya.
Aku tak begitu yakin bahwa Kania akan diizinkan pulang oleh raja Carey Mulligan. Terlebih lagi, raja Carey masih belum mengikhlaskan putri Camila. Jika Kania disuruh menetap di istana, aku sendiri yang akan mengantarkannya pulang ke Belanda.
"Alvi, gimana keadaan Kania?" tanya Ares menghampiri.
"Kania sudah jauh lebih baik. Sekarang dia sedang istirahat," balasku.
"Baguslah kalo dia sudah sehat. Oh iya, sebelum kesini saya bertemu dengan yang mulia Pierre dan menyuruh saya untuk menyampaikan pesan agar kamu datang menemuinya di halaman depan," terang Ares.
"Oke, aku akan segera kesana," balasku singkat dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Yang mulia, maaf mengganggu. Ada keperluan apa sehingga yang mulia datang memanggil saya?" tanyaku pada raja Pierre yang tengah duduk di pondok peristirahatan.
"Iya, bagaimana dengan Kania?" balas raja Pierre.
"Dia baik-baik saja dan sedang beristirahat memulihkan diri, karena dia ingin sekali pulang ke tempatnya berasal," paparku singkat.
"Itu yang saya khawatirkan. Saya belum berbicara apapun pada raja Carey, tampaknya dia sangat terpukul mengetahui fakta bahwa putrinya telah tiada. Kemungkinan besar, Kania akan dianggap sebagai anak dari raja Carey sendiri sehingga Kania tak bisa pulang ke rumah dan kembali ke keluarganya," jelas raja Pierre yang tampak khawatir.
"Saya juga mengkhawatirkan hal yang sama mengingat yang mulia Carey Mulligan sangat mencintai putri Camilla," balasku menyetujui pernyataan raja Pierre.
"Itu memang benar," ucap seseorang menyetujui pernyataanku dan raja Pierre.
"Yang mulia Carey," ucapku dengan sangat terkejut melihat raja Carey berjalan menghampiri.
"Maafkan saya karena telah lancang berkata demikian," ucapku lagi sebelum raja Carey bersuara.
"Saya kemari hanya ingin memastikan siapa yang dengan beraninya membicarakan saya dari belakang," ujar raja Carey.
"Maaf yang mulia, saya hanya khawatir dengan keadaan yang mulia sekarang mengingat bahwa putri Camilla telah tiada dan bersemayam dalam tubuh Kania," jelas raja Pierre lagi.
"Ya, memang benar bahwa saya akan mengangkat Kania sebagai anak saya dan menjadikannya sebagai penerus saya di kemudian hari," ucap raja Carey dengan tenang.
"Yang mulia tidak bisa bersikap demikian. Kania memiliki keluarga sendiri yang telah menunggunya. Memang putri Camilla adalah Kania, tapi itu hanyalah jiwanya semata dan lagi Kania memang reinkarnasi dari putri Camilla sendiri. Yang pasti, Kania bukanlah putri Camilla dan yang mulia Carey tak berhak untuk menahannya tinggal di istana," jelasku panjang lebar tak setuju akan pernyataan raja Carey.
"Saya tak menyangka bahwa reaksi kamu akan seperti ini. Tampaknya, kamu sangat menyayangi Kania ya, Alvi?" balas raja Carey.
"Maaf yang mulia, saya tak bermaksud untuk membantah. Tapi saya harap, yang mulia mempertimbangkan apa yang saya katakan tadi," pintaku.
"Awalnya saya memang ragu, tapi sekarang saya merasa sangat yakin akan keputusan saya setelah melihat reaksi kamu tadi. Memang saya masih belum ikhlas dan berpikir untuk menjadikan Kania sebagai Putri saya. Setelah merenung, saya putuskan agar tidak melakukan hal itu dan mencoba mengikhlaskan Camilla. Seperti yang kamu bilang tadi, keluarga Kania pasti merasa sedih seperti saya kehilangan Camilla," jelas raja Carey.
__ADS_1
"Setelah melihat reaksi saya tadi, keraguan yang mulia langsung hilang. Saya tak mengerti apa yang mulia maksud," balasku bingung.
"Iya, saya telah yakin bahwa dimanapun Kania berada dia akan terhindar dari bahaya karena ada kamu yang akan menjaganya. Saya tau betul bahwa kamu sangat setia pada Camilla anak saya. Dan saya harap agar kamu dapat menjaga Kania seperti Camilla," jelas raja Carey lagi.
"Bagaimana bisa saya menjaga Kania sedangkan dimensi antara Skandinavia dan Belanda sangat berbeda?" tanyaku lagi dengan bingung.
"Menetaplah di negeri yang bernama Belanda itu," sahut raja Pierre membuka suara.
"Maksudnya saya harus tinggal di Belanda? Bagaimana dengan Skandinavia?" seruku tak percaya.
"Untuk masalah itu, kamu dapat bebas membuka portal waktu antara Skandinavia dan Belanda yang artinya kamu menjaga Kania dan tetap menjadi prajurit khusus yang akan dipanggil sewaktu-waktu Skandinavia membutuhkan seorang yang hebat bernama Alvino Pradipta," terang raja Carey.
"Tapi saya tak yakin untuk menjamin keselamatan Kania," balasku ragu.
"Saya tak membutuhkan keraguan yang seperti itu. Yang saya ingin dengar adalah kamu sanggup atau tidak atas perintah yang saya berikan. Jika tidak, biarkan Kania tinggal di sini," tegas raja Carey lagi.
"Ya, saya akan berusaha semaksimal mungkin demi melindungi Kania juga Skandinavia," jawabku dengan yakin.
"Baguslah jika kamu setuju," bala raja Carey lega.
"Besok, jika keadaan Kania sudah jauh lebih baik dia bisa pulang ke Belanda bersama dengan Yuna dan Radith," seru raja Pierre.
"Baik yang mulia, akan saya sampaikan pada mereka," balasku dengan sopan.
"Tak hanya mereka bertiga,kamu juga ikut mereka pulang ke Belanda," tambah raja Carey lagi.
"Dan saya yang akan membantu kalian untuk membuka portal waktu," timpal raja Pierre setuju dengan raja Carey.
"Baik yang mulia," balasku sopan sebelum meninggalkan kedua raja yang berwibawa itu.
__ADS_1