
"Petualangan baru segera menghampiri dan bahaya selalu mengitari"
Suara kicauan burung terdengar memenuhi gendang telinga dan sinar mentari pagi membawa kehangatan pada diri. Berharap tak akan ada badai yang menghampiri melainkan pelangi yang indah yang terpatri.
"Kalo dilihat-lihat lagi, Kania ini mirip sekali dengan putri Camilla," ucap Alrescha Xavier dengan tiba-tiba.
"Kenapa semuanya bilang kalo saya mirip sekali dengan putri Camilla?" jawab Kania dengan pertanyaan.
"Iya mirip, cuma sedikit berbeda. Kadang terlihat seperti putri Camilla dan kadang juga terlihat seperti Kania," jelasnya.
"Maksudnya kadang mirip kadang enggak?" balas Kania lagi yang tampak bingung.
"Iya, saya juga gak tau kenapa bisa begitu," ucap Alrescha Xavier dengan santai.
"Maksudnya, kamu memang terlihat seperti putri Camilla, cuma kalian itu berbeda. Dan kadang ada kalanya kalo kamu terlihat seperti diri kamu sendiri tanpa ada wajah atau sifat dari putri Camilla tersebut," jelasku pada Kania yang terlihat bingung.
"Ohh...iya, aku jadi penasaran gimana wajahnya putri Camilla itu. Dan kelihatannya, semua pada sayang banget sama putri Camilla," ucap Kania.
"Kamu mau lihat? Sini aku tunjukin fotonya putri Camilla," ujarku antusias.
"Alvino Pradipta, jaga sikap. Di sini, anda bukanlah seorang pengawal pribadi Putri lagi yang dengan seenaknya mengajak orang asing melihat foto keluarga kerajaan atau bahkan keliling istana," seru Alrescha Xavier memperingatkan.
"Maaf telah berlaku lancang," balasku.
"Tuan Alrescha, raja Carey Mulligan telah tiba," ucap salah seorang pelayan dengan sedikit tergesa-gesa.
"Oh, baiklah. Saya akan menemui beliau," balas Alrescha.
"Sebaiknya makan di sini terlebih dahulu. Saya akan menceritakan semua hal yang kalian beritahukan kemarin," ujarnya lagi dan berlalu pergi.
"Akhirnya, tiba juga tuh raja. Dari kemaren capek banget gue nungguin dia yang gak pulang-pulang dari dinasnya itu, kenapa gak dikasi ke orang lain aja sih. Kenapa harus turun lapangan langsung," cetus Radith.
"Yang, kamu ngomongnya ngasal banget. Ingat, kita lagi ada di dalam istana, kalo yang lain dengar kamu bisa-bisa dipenggal loh," ucap Yuna menakuti Radith.
__ADS_1
"Hahh...emang iya bakal dipenggal? Aku masih sayang kepala dan nyawa Yang," sedih Radith.
"Makanya jangan asal ngomong Dith, masih mending dipenggal. Kalo misalnya kamu dijadikan makanan macan gimana? Kamu bakal hilang tanpa jejak lo," tambah Kania menakut-nakuti Radith.
"Ehh...jangan dong, masa iya gue yang ganteng gini jadi santapan macan yang lapar," kesal Radith.
"Makanya itu, jaga omongan kamu Dith," balas Kania memperingatkan.
"Iya, sebaiknya kita santai aja sembari menunggu Alrescha berbincang dengan raja Carey Mulligan," timpal Revan.
Semula langit yang menampilkan kehangatan tiada tara hilang seketika ditelan oleh gelapnya awan hitam dan aura-aura mencekam yang sangat menusuk.
"Lihat, kenapa langitnya jadi gelap dan mencekam gini?" tanya Kania penasaran.
"Ntahlah, sepertinya keadaan semakin gawat," jawabku.
"Sepertinya waktu kita gak terlalu banyak, semoga aja Alrescha memberi kabar baik," harap Revan.
"Alvi, kalian dipanggil menghadap raja," seru Alrescha berjalan menghampiri.
"Yang mulia, mereka sudah ada di sini," ucap Alrescha sopan.
"Baik, tinggalkan kami," ucap sang raja.
"Saya permisi," hormat Alrescha sebelum berlalu pergi.
"Saya sudah mendengar semua dari Alrescha, kamu yakin mau ke sumur api di kerajaan Mestre?" tanya baginda raja padaku.
"Iya yang mulia, saya sangat yakin. Karena Skandinavia harus segera diselamatkan dari pasukan Manuela maupun Alexander Louis.
"Untuk pasukan Manuela, saya akan menurunkan pasukan elit pelindung Skandinavia, dan untuk orang yang bernama Alexander Louis itu, dia adalah seorang pengkhianat yang sudah sepatutnya menghilang dari jagat raya ini," jelas raja Carey Mulligan.
"Iya, yang mulia harus segera menurunkan perintah untuk hal itu. Dan untuk ke sumur api biar saya dan Revan yang pergi," ucapku lagi.
"Gimana bisa? Aku dan yang lain juga akan ikut," sela Kania secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Camilla, ternyata kamu masih hidup. Senang sekali melihat kamu bisa ada di sini," seru raja Carey Mulligan dengan gembira.
"Maaf yang mulia, saya bukan Camilla," balas Kania sopan.
"Iya yang mulia, dia bukanlah putri Camilla melainkan Kania. Seperti yang diketahui bahwa putri Camilla menghilang tanpa jejak dalam lubang hitam itu," jelasku pada raja Carey.
"Hahh...iya ya, meskipun terlihat mirip tapi Kania ini bukanlah Camilla. Mungkin saya yang terlalu kangen dengan Camilla," balas raja Carey yang tampaknya sedikit kecewa.
"Balik lagi soal Alexander Louis, saya dan Revan yang akan berangkat kesana jika yang mulia memberikan izin," ucapku mengalihkan pembicaraan tentang Putri Camilla.
"Jika hanya kalian berdua yang pergi, ini terlalu berbahaya. Saya akan membiarkan Alrescha Xavier untuk pergi bersama kalian," ucap raja Carey.
"Tapi yang mulia, saya juga ingin ikut bersama Vino dan yang lain," seru Kania lagi.
"Sebaiknya jangan, karena ini misi berbahaya. Biarkan saja mereka bertiga yang pergi agar meminimalisir bahaya yang datang pada mereka juga Skandinavia," seru raja Carey lagi.
"Tapi...yang mulia..." bantah Kania.
"Cukup! Kenapa kamu ngotot banget? Kamu pengen diri kamu berada dalam bahaya lagi? Pengen aku tambah merasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan? Karena bagaimana pun juga aku termasuk pelaku atas apa yang terjadi di sini," ucap Revan dengan tegas.
"Aku gak bermaksud kaya gitu Van," balas Kania sedih.
"Udah Kan, kita serahkan aja sama Vino dan Revan juga Alrescha. Karena kita tak bisa berbuat apa-apa jika pergi bersama mereka.
Yang ada, kita hanya membuat mereka susah dan repot," seru Yuna menenangkan Kania.
"Kania tenang saja, aku dan yang lain akan mengalahkan Alexander Louis dan memulangkan kalian ke tempat yang seharusnya," tambahku membenarkan perkataan Yuna.
"Kania kan? Tenang saja, karena Vino adalah prajurit terbaik yang kami punya. Alrescha juga orang kepercayaan saya. Dan Revan, meskipun saya tak mengetahui siapa sebenarnya dia, tapi saya yakin dia akan berusaha keras untuk menebus kesalahannya itu," ujar raja Carey menyetujui perkataanku.
"Oke, kalian semua harus hati-hati," balas Kania yang tampaknya sudah sedikit tenang.
"Besok, kalian boleh pergi memasuki kerajaan Mestre dan menuju sumur api. Sedangkan Kania, Yuna dan Radith mereka akan tinggal di istana sampai keadaan kembali kondusif," ujar raja Carey lagi.
"Baik yang mulia," balas kami serempak.
__ADS_1