Another World

Another World
Episode 26


__ADS_3

"Perjalanan sesulit apapun akan ditempuh demi keselamatan seluruh rakyat Skandinavia"



Sesuai jadwal, kami akan berangkat menuju Mestre dan sumur api.


"Kalian boleh pergi sekarang. Untuk masalah pasukan Manuela, mereka ditangani oleh pasukan elit. Harapan seluruh rakyat Skandinavia ada di pundak kalian," ucap raja Carey.


"Baik yang mulia, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan tanduk beracun demi mengalahkan Alexander Louis," seruku semangat.


"Berangkatlah sekarang, jika kalian menghadapi masalah yang tak dapat diatasi beri peringatan pada kerajaan lewat tombol yang ada pada Alrescha untuk membunyikan lonceng istana," ucap raja Carey memperingatkan.


"Baik, sebisa mungkin kami tak akan menyusahkan yang mulia ataupun pihak istana," seru Alrescha yang membuka suara.


"Kami pergi dulu," ujarku pada Kania dan yang lain.


"Vin, kamu hati-hati ya. Jangan sampai kenapa-kenapa," ucap Kania yang tampak khawatir.


"Iya, aku akan baik-baik saja demi kamu juga Skandinavia," balasku lagi.


"Awas aja kalo kamu sampe mati atau luka-luka, aku gak akan maafin kamu karena kamu harus balikin aku ke Belanda," tambah Kania lagi.


"Iya iya, aku akan baik-baik aja kok, kamu harus doain kita bertiga agar selamat dan berhasil menyelesaikan misi ini," balasku.


"Iya, aku pasti doain kalian kok," balas Kania lagi.


"Cieee...kaya melepas suami pergi perang aja nih," seru Yuna dengan spontan.


"Hahh...apa sih Na. Kan emang bener mereka harus hati-hati," balas Kania yang tampak sedikit malu.


"Bener sih bener. Cuma kenapa yang disuruh hati-hati cuma Vino aja, Revan dan Alrescha gak diucapin kaya gitu," seru Yuna yang tampaknya senang melihat ekspresi Kania.


"Siapa bilang cuma buat Vino, aku kan udah doain buat Revan dan kak Alrescha juga," balas Kania dengan kesal.


"Kak Alrescha? Enak aja lo manggil dia kakak," ketus Radith tiba-tiba.

__ADS_1


"Gak papa dong. Lagian aku pengen punya kakak. Dan kalo dilihat-lihat lagi, kak Alrescha umurnya gak tua-tua amat, masih cocok dipanggil kakak sih," balas Kania pada Radith.


"Serah lo aja deh," balas Radith sembari menghela napas.


"Jangan salah Kan, dia ini umurnya hampir 1000 tahun loh," seru Revan.


"Serius 1000 tahun? Kalo di Belanda mah hampir 30 tahunan, ya gak Na?" tanya Kania meminta persetujuan Yuna.


"Iya, kalo Alrescha ada di Belanda. Yakin deh, pasti bakal laris banget," tambah Yuna sembari memerhatikan Alrescha dari atas sampai bawah.


"Laris apaan? Emang dia daging apa?" ketus Revan tak setuju pada pernyataan Yuna.


"Haha...sudahlah gak usah dibahas. Kalo ngobrol terus, kapan kita berangkatnya?" tanya Alrescha yang akhirnya membuka suara.


"Yaudah, kita berangkat sekarang," balasku pada Alrescha.


"Kak Alrescha, Revan, kalian juga hati-hati ya. Harapan negeri ini ada pada kalian. Apapun yang terjadi, kalian harus kembali dengan selamat dan mengalahkan Alexander Louis," seru Kania lagi.


"Iya, serahkan saja pada kami," balas Alrescha dengan lembut.


"Apaan sih, dingin banget kaya kulkas tuh orang," kesal Yuna melihat Revan.


Perjalanan baru juga mendatangkan ancaman baru yang akan menghalangi langkah mulia kami demi kepentingan bangsa dan negara.


"Sebenarnya lebih gampang naik kereta, kenapa kita malah jalan kaki?" tanya Revan dengan malas.


"Lebih gampang jalan kaki Van, kita bisa membaur dengan rakyat sekitar tanpa tau kalo kita adalah orang dari Skandinavia. Dan lagi, kita bisa melewati jalan-jalan sempit sebagai tempat untuk berkamuflase," jelasku pada Revan.


"Lagian Mestre juga gak terlalu jauh dari Skandinavia. Jadi gak membutuhkan waktu yang lama, tapi kalo sumur api banyak halangan menuju kesana," tambahku lagi.


"Sebelumnya, Anda pernah ke perbukitan Ghanem?" tanya Alrescha.


"Belum sih, cuma katanya di sana banyak bebatuan terjal sebelum menuju perbukitan. Dari yang aku baca, sumur api juga letaknya sangat tersembunyi di dalam gua bawah tanah," ujarku lagi.


"Semoga sumur api itu cepat kita temukan," ucap Alrescha lagi.

__ADS_1


"Iya," balasku singkat.


"Kakak tau dari mana soal tanduk naga beracun dan sumur api? Aku aja gak tau kalo ada cara untuk membunuh manusia abadi," ucap Revan.


"Kakak taunya sewaktu nemenin putri Camilla saat berada di perpustakaan kerjaan. Karena iseng, jadi bacain buku dan gak sengaja nemuin tentang manusia abadi dan sumur api naga itu," jelasku pada Revan.


"Ohh...aku kira kakak baca di suatu tempat ntah dimana gitu, taunya buku di perpustakaan kerajaan," seru Revan lagi.


"Saya juga tak menyangka bahwa buku seperti itu ada di perpustakaan kerajaan. Memang benar kata pepatah bahwa membaca membuka jendela dunia," timpal Alrescha.


"Ya gitu deh, karena bosen nungguin putri Camilla belajar makanya aku ikut baca buku yang ada di sana," balasku lagi.


"Yang masih jadi pertanyaan, putri Camilla sebenarnya ada dimana? Bukannya terakhir kali bersama dengan anda ya Alvi?" tanya Alrescha yang tampaknya penasaran.


"Bahasanya terlalu formal, panggil Alvi saja karena kita bukan sedang dalam misi resmi kerajaan," ucapku pada Alrescha.


"Oh iya, kalo begitu panggil saya Ares," ucapnya sopan.


"Iya. Aku juga tak tau putri Camilla ada di mana, karena pada saat itu putri jatuh ke jurang dan aku tak bisa mencegah hal itu terjadi. Setelah itu, ada lubang hitam dibawah putri Camilla. Dan seketika itu juga, putri Camilla hilang ntah kemana masuk dalam lubang itu," jelasku pada Ares.


"Misterius sekali hilangnya, sampai saat ini pun ratu Mariyana masih tak percaya bahwa putri Camilla telah hilang," ucap Ares lagi sembari menyusuri jalanan yang ramai lancar.


"Kemungkinan besar putri Camilla masuk ke portal waktu. Kita gak tau sekarang putri Camilla berada di belahan bumi yang mana," jelas Revan lagi.


"Apapun itu, aku harap putri Camilla baik-baik saja. Dan yang terpenting adalah kita secepatnya menemukan sumur api naga tersebut," seruku lagi.


"Berhenti di sana," teriak seseorang yang tak dikenal.


"Anda tidak memiliki hak untuk mengatakan itu," balas Ares pada orang tersebut.


"Kalian dari Skandinavia dan kamu adalah Alrescha Xavier kan? Sudah sepatutnya kalian ditangkap karena telah memasuki wilayah kekuasaan kerajaan Mestre," serunya lagi dengan tegas sambil mengacungkan tombak.


"Cih, telah menyamar pun tetap dikenali orang. Tampaknya, saatnya menunjukkan siapa Alrescha Xavier yang sebenarnya," ucap Ares lagi dengan percaya diri.


Belum apa-apa, kami telah dihadang oleh pasukan raja Mestre. Apa boleh buat, apapun halangan yang ada dihadapan, harus disingkirkan sesegera mungkin.

__ADS_1


__ADS_2