Another World

Another World
Episode 5


__ADS_3

"Seketika, kaki merasa lemas dan sikap percaya diri itu hilang begitu saja"


 ***


"Serius ini gak ada apa-apa di sini," kataku seakan tak percaya.


"Huhuhu....gimana ini, masa iya aku gak bisa pulang ke rumah. Sebenarnya tempat apa ini?, aneh bagaikan sangkar yang dikunci rapat tanpa ada celah untuk keluar," kataku lagi sembari meneteskan air mata.


Aku tak tau lagi, tempat mana yang harus kudatangi? Dimana sebenarnya pintu masuk dan keluar dari kota Petra ini. Kenapa tempat ini begitu misterius, sampai membuatku pusing tujuh keliling.


"Assalamualaikum," ucapku dengan lesu.


"Wa'alaikumussalam, kenapa mukanya lemas gitu?" tanya Bu Mega.


"Iya Bu, gak ada petunjuk apapun di taman tulip," balasku pelan.


"Udah jangan sedih, mungkin jalan keluarnya gak ada di sana," ucap Bu Mega yang mencoba menghiburku.


"Entahlah Bu, Kania udah putus asa, memang dimana lagi tempat yang harus Kania datangi?".


"Kota Petra ini luas loh Kan, mungkin di suatu tempat ada jalan agar kamu bisa pulang ke rumah".


"Ya tapi dimana Bu?, Kania udah capek kayak gini terus, berjalan tanpa arah dan tujuan seperti orang bodoh yang kehilangan arah," balasku dengan kesal sambil membanting pintu kamar.


Ya Allah, kenapa Kania bisa sampai disini dan mengalami hal aneh begini? Apakah ini hukuman atas kesalahan yang telah Kania perbuatan selama ini? Kenapa Engkau memberi cobaan yang bahkan tak ada jalan keluarnya?


"Kania, mau sampai kapan kamu bengong di depan kandang ayam begitu".


"Ntahlah Bu, Kania rasanya pengen jadi ayam aja biar bisa bebas tanpa ada beban pikiran".


"Ngomong apa sih kamu, setiap orang pasti memiliki masalah dan beban hidupnya masing-masing. Allah gak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambanya. Ibu yakin, cepat atau lambat kamu bakal keluar dari sini".


"Kania tau itu Bu, tapi masalah ini begitu rumit dan aneh, Kania seperti terkurung di sini".


"Udahlah, sebaiknya kamu pergi jalan-jalan ke taman kota, di sana ada banyak wahana permainan seru".


"Gak ah Bu, Kania gak pengen".


"Telat, Revan udah datang tuh jemput kamu," tunjuk Bu Mega pada Revan yang telah berdiri di pintu gerbang.

__ADS_1


Dengan langkah yang amat sangat berat, aku akhirnya pergi ke taman kota bersama Revan.


"Tumben lesu, biasanya senang kalo diajakin jalan-jalan," kata Revan yang akhirnya membuka suara.


"Gimana mau senang, kayaknya aku bakal terjebak di sini selamanya".


"Gak ada petunjuk apapun di taman tulip?".


"Enggak ada sama sekali," gelengku.


"Udah ah, yuk main rollercoaster aja, biar sedihnya hilang".


"Gak deh, aku mau keliling aja, walaupun kecil, aku akan mencari petunjuk agar bisa pulang ke rumah".


"Yaudah kalo kamu maunya gitu. Aku gak mau bantu, enakan main-main di sini sampe puas".


"Oke, inikan emang masalah aku, kamu juga gak perlu bantuin," kataku dan berlalu pergi.


Mendadak, Revan bersikap dingin padaku. Biasanya, dia selalu menghibur dan menyemangatiku. Tapi sekarang, dia seakan sudah tak peduli lagi.


"Ngapain sih kamu keliling-keliling kaya orang bodoh," ketus Revan dengan nada tinggi.


"Kalo emang gak ada, yaudah gak usah dicari lagi. Kenapa bandel benget sih, terima kenyataan kalo misalnya kamu gak bisa keluar dari sini!".


"Ngomongnya kok gitu sih, kemana Revan yang selama ini selalu memberi semangat sama aku apapun yang terjadi. Kenapa kamu mendadak berubah kaya gini?".


"Apanya yang berubah, kamu tuh ngeyel banget orangnya, udah tau gak ada jalan keluar ngapain sibuk nyariin hal yang mustahil".


Sejak hari itu, aku dan Revan tak pernah bertemu lagi. Bahkan Revan tak tampak berkunjung ke rumah Bu Mega sekedar untuk saling sapa.


"Kania, Revan kemana kok gak pernah datang kesini?".


"Gak tau Bu, mungkin dia sibuk di toko".


"Sibuk apanya, ini udah dua minggu sejak kalian pergi ke taman kota. Apa kalian berantem?".


"Gak kok Bu, Revan emang sibuk ngurusin toko, dan dia lagi belajar buat kue baru supaya tokonya tambah rame, makanya gak pernah datang kesini,".


"Gak mungkin ah, Revan gak gitu orangnya. Ibu gak percaya, yuk kita ke Skandinavia's bakery, ibu mau liat Revan langsung"

__ADS_1


"Ehh..jangan Bu, sekarang tuh lagi rame-ramenya, percuma ibu kesana karena Revan pasti sibuk banget," kilahku.


"Yaudah, sorean aja kita kesana," balas Bu Mega dengan santai.


Gawat! Gimana kalo Bu Mega tau aku dan Revan berantem, dia pasti marah banget. Apalagi tadi aku udah bohong sama Bu Mega, marahnya bisa berkali-kali lipat. Semoga aja Revan bisa bohong sedikit agar Bu Mega gak marah dan menyelamatkan telinga kami dari kebudekan.


"Revan!" spontan Bu Mega sambil menggebrak meja.


"Kenapa ya Bu, tumben kesini," kata Revan dengan tenang.


"Kamu kemana aja selama dua minggu ini, kasian Kania murung terus karena gak tau harus kemana dan ngapain karena gak ada temen".


"Harus sama saya? Gak bisa pergi sendirian gitu?".


"Sebenarnya ibu bisa aja temenin Kania, cuma inikan tangung jawab kamu yang udah janji bakal bantuin Kania cari jalan pulang, kenapa sekarang malah nyantai disini," kesal Bu Mega.


"Saya gak sedang santai Bu, lagian saya dan Kania lagi berantem untuk apa saya bantuin dia mencari hal semu".


"Berantem? Kok bisa? Masalahnya apa?".


"Kania bersikeras mencari jalan untuk pulang, sedangkan saya udah capek mencari hal yang gak nyata bahkan mungkin tidak ada. Ya sesimpel itu sih penyebabnya," ucap Revan dengan entengnya.


"Kamu buat aku kecewa tau gak?".


"Kecewa? Buat apa?" tanya Revan.


"Aku selama ini udah percaya sama kamu, dan mengganggap kamu orang paling baik yang akan selalu mendukung apapun keputusanku. Tapi ternyata, kamu menganggap aku seperti orang bodoh yang tidak tau mana dunia fiksi dan dunia nyata. Dan ya, aku memang berkhayal terlalu tinggi berharap bisa keluar dari sini. Mungkin kamu benar, satu hal yang paling aku yakini itu hanyalah khayalan yang bahkan tak pernah nyata," kataku tanpa sadar meneteskan air mata dan langsung berlari pergi.


"Kania, jangan lari!" teriak Bu Mega dari kejauhan.


Dengan hati yang tak karuan, aku berlari menyusuri jalanan kota yang terlihat lengang. Hatiku berkata bahwa aku akan terjebak di sini selamanya, tapi pikiranku menolak keras akan hal itu. Aku terpaku dan terbenam dalam pikiranku sendiri, sampai kulihat ada sebuah truk besar datang ke arahku.


Braakkk...


"Apa itu?, kenapa pandanganku menjadi sangat kabur. Darah siapa yang berserakan di sini? Hahh...ternyata ini darahku sendiri. Apa aku akan mati dengan cara begini?" batinku sebelum akhirnya tak kulihat lagi toko buku di perempatan jalan.


Akankah Kania mati begitu saja di tempat aneh dan misterius yang bernama kota Petra ini?


Tinggalkan jejaknya ya guys, karena satu dukungan dari kalian sangat berarti bagi author. Terima kasih ☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2