Another World

Another World
Episode 29


__ADS_3

"Hidup adalah kebebasan yang memiliki banyak warna. Jika dikekang dan terkurung, hidup bagaikan dunia dengan satu warna yaitu hitam suram"



Seluruh tenaga telah dikerahkan demi melawan pasukan Mestre. Tapi tetap saja jumlah mereka jauh lebih banyak daripada kami. Alhasil, kami berhasil tertangkap dan dibawa menuju kastil kerajaan Mestre.


"Argghhh...enak aja kalian mengurung kami di penjara bawah tanah," teriak Revan dengan sangat kesal.


"Kalian bertiga telah memasuki wilayah Mestre. Sudah seharusnya kalian ditangkap karena telah melanggar peraturan. Dan lagi, Skandinavia bukanlah sekutu dari Mestre," jelas penjaga.


"Tentu saja kami tau hal itu. Tapi, kami datang kesini bukan untuk bermain-main tapi kami datang karena suatu misi penting," jelas Revan dengan emosi menggebu-gebu.


"Apapun itu, kalian seharusnya datang meminta izin pada raja Pierre," ucap penjaga itu lagi dengan kesal.


"Diam di sini, sebentar lagi raja Pierre akan datang dari kunjungan kenegaraan, dan meminta kalian untuk menemuinya," jelas penjaga yang lain.


Ya, di sinilah kami terkurung di penjara bawah tanah tempat dimana tawanan berada.


"Kenapa kalian berdua tenang aja sih!" ucap Revan dengan kesal.


"Mau gimana, kita udah berada di sini. Untuk apa ribut-ribut gak jelas," balas Ares.


"Memang, tapi kenapa pada pasrah aja? Kemana omongan yang keren tadi Res?" kesal Revan lagi.


"Yah sekeren apapun, kalah mah kalah aja. Memang kenyataan bahwa kita kalah telak dengan mereka. Tapi bukan berarti kita pecundang karena secara garis besar, kemampuan bela diri kita bertiga jauh diatas para prajurit tadi. Mereka hanya mengandalkan jumlah saja," jelas Ares dengan rinci.


"Kita memang bukan pecundang, tapi mereka tuh yang kaya lebah pada bergerombol padahal gak bisa apa-apa," ketus Revan lagi dengan kekesalan yang memuncak.


"Dari tadi kamu ngomong terus, gak capek apa?" tanyaku pada Revan.


"Kak, yang aku omongin ini bener loh," balas Revan.

__ADS_1


"Aku tau, cuma kita bisa berbuat apa? Penjagaan di sini sangat ketat," tegasku pada Revan.


"Hahh...iya deh. Sekarang aku tau gimana rasanya Kania di dalam penjara, rasanya gak enak banget. Sekarang aku nyesal," ucap Revan lesu.


"Tuh kan, sekarang nyesal sama Kania. Nanti minta maaf sama dia setelah kita kembali ke istana," seruku pada Revan.


"Aku udah minta maaf sama Kania kak, tapi aku gak yakin kalo aku bisa pulang bareng kalian," balas Revan lagi.


"Kenapa?" tanya Ares menyela sebelum aku bertanya.


"Karena aku udah banyak salah sama Kania dan juga Skandinavia. Aku yang terlalu bodoh terlalu mempercayai Alexander Louis," sedih Revan.


"Yang salah bukan kau tapi Alexander Louis karena kau tak tau apa-apa atas rencana yang akan dilakukannya," ucap Ares lagi.


"Aku tak tau apa-apa soal Alexander Louis karena aku percaya bahwa dia sayang padaku seperti anaknya sendiri. Tapi kenyataannya tak seperti itu, mungkin aku saja yang mengganggapbya sebagai ayah," seru Revan sedih.


"Udah, gak usah merasa bersalah gitu. Aku adalah keluarga kamu Van. Apapun yang telah kamu perbuatan padaku dan juga ayah, ibu kami tak pernah benci sama kamu," ucapku memenangkan Revan.


"Makasih kak, seharusnya aku tak pernah pergi meninggalkan rumah agar aku tak pernah bertemu dengan Alexander Louis"


"Bukan kita, tapi aku yang akan menghabisi Alexander Louis," ucap Revan dengan wajah licik.


"Oke, sudah diputuskan bahwa Revan yang akan membunuh orang itu dan kita berdua yang membantu Revan," terang Ares.


Sangat tidak menyenangkan berada dalam kurungan dan terkekang seperti ini.


"Kalian diminta menemui raja Pierre sekarang," ucap penjaga yang memasukkan kami ke sel tadi.


"Untuk apa?" tanya Revan dengan geram.


"Banyak tanya. Pergi sekarang, raja Pierre telah menunggu," tegasnya lagi.

__ADS_1


Dengan langkah malas, kami digiring menuju tempat raja Pierre berada. Ntah apa yang akan kami dapatkan dari raja Pierre ini. Mungkin sebuah hukuman yang akan menanti.


"Yang mulia, mereka telah tiba," ucap seseorang yang tampak seperti penasihat.


"Jadi kalian yang yang datang seenaknya ke wilayah kerajaan Mestre," ucap raja Pierre yang tampak tak senang.


"Mohon maaf yang mulia, kami datang kesini karena hal mendesak," balasku dengan sopan.


"Hal mendesak? Apa yang kalian perlukan dari kerjaan Mestre ini? Kalian tahu kan bahwa Mestre dan Skandinavia tak pernah bersekutu," balas raja Pierre lagi.


"Iya, kami tau. Maaf telah lancang datang kesini tanpa meminta izin yang mulia. Tapi kami di sini membutuhkan sesuatu untuk menyelamatkan Skandinavia," balasku dengan ramah.


"Skandinavia diambang kehancuran? Sangat bagus jika hal itu terjadi," ucap raja Pierre dengan sinis.


"Jaga perkataan anda yang mulia. Anda tidak bisa mengklaim Skandinavia seperti itu," ucap Ares yang tampak kesal.


"Lancang sekali berbicara seperti itu, Anda siapa?" tanya raja Pierre.


"Ahh..iyaa, saya Alrescha Xavier," ucap Ares dengan singkat.


"Alrescha Xavier? Orang kepercayaan raja Carey Mulligan?" ucap penasihat itu yang tampak terkejut.


"Suatu kehormatan bisa bertemu Anda Alrescha Xavier. Ada apa sampai raja Skandinavia mengirim orang kepercayaannya datang kesini?" tanya raja Pierre pada Ares.


"Saya tak bisa memberi tahu secara detail. Yang pasti, pasukan Manuela telah bangkit kembali oleh orang yang tak bertanggung jawab," jelas Ares dengan singkat.


"Bagaimana bisa pasukan Manuela dibangkitkan kembali?" tanya raja Pierre tak percaya.


"Ada seorang manusia abadi bernama Alexander Louis yang telah membangkitkan mereka bahkan ingin membangkitkan jenderal Banderas juga tapi jenderal Banderas tak berhasil di bangkitkan olehnya," jelas Ares lagi dengan detail.


"Alexander Louis? Manusia abadi? Bertempat tinggal dimana orang yang bernama Alexander Louis itu?" tanya raja Pierre yang tampak penasaran.

__ADS_1


"Alexander Louis tinggal di kastil Serilya," ucap Revan tiba-tiba.


"Tampaknya, sudah seharusnya kerajaan Mestre dan Skandinavia bersatu," ucap raja Pierre yang mengagetkan kami.


__ADS_2