Another World

Another World
Episode 2


__ADS_3

"Sejauh apapun kali ini melangkah, tujuan masih saja belum terarah"



Β 


"Kan, ke danau yuk," ucap Revan yang sedikit mengagetkanku.


"Ngapain?" tanyaku bingung.


"Di sana ada banyak kura-kura, kamu pasti senang deh," tambahnya dengan antusias.


"Gak ah, aku takut di gigit," balasku dengan ragu.


"Gak akan," katanya lagi dengan sangat yakin.


Kota Petra, lumayan indah dan menyenangkan. Jangan sampai aku terbuai dan tinggal di sini untuk waktu yang lama. Sebisa mungkin, aku harus mengendalikan diri agar tak terbuai akan keindahan kota Petra, terutama taman tulip yang di sana.


"Wahh... danaunya bersih banget ya," ucapku dengan takjub kepada Revan.


"Iya, aku juga sering kesini kalo lagi bosan," tandasnya singkat.


"Di sini juga banyak bunga dan tumbuhan liar, tapi cantik semua," kataku dengan gembira.


"Kamu suka banget sama bunga ya?".


"Iya, aku suka banget sama bunga".


"Kesana yuk, kita liat kura-kura," tunjuknya pada sisi lain danau.


Senang, kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku hari ini. Ditambah dengan lembutnya angin yang menyapa membuat perasaan semakin damai dan tentram.


"Huhh...mana kura-kuranya, kamu bohong ya Van?" tanyaku mengintimidasi Revan.


"Gak, tunggu aja bentaran lagi," balasnya dengan santai.


"Serius, mereka naik ke darat tuh," tunjukku dengan sangat gembira layaknya anak kecil yang mendapatkan permen.


"Ini, coba kamu kasi dia makan," ucap Revan yang menyodorkan sebuah pisang.


"Lohhh..dari mana kamu dapat pisang Van?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Itu disana ada pohon pisang yang tumbuh liar. Kadang ada juga penduduk yang ngambil buah nya," jelas Revan.


"Ohh...gitu, eh liat dia makan dengan lahap," seruku dengan senangnya.


Lagi lagi, langit menampakkan warna jingga yang begitu mempesona. Hadirnya bagaikan alarm alami yang menandakan malam akan segera datang.


"Kania, yuk makan malam," seru Bu Mega yang begitu bersemangat.


"Iya Bu," balasku dengan canggung.


"Revan mana?, Kenapa gak di ajak makan bareng?".


"Revan udah pulang Bu, katanya ada beberapa hal yang harus dikerjakan makanya gak bisa mampir".


"Kerjaan apa, dia tinggal sendiri juga," celetuk Bu Mega dengan nada yang sedikit kesal.


"Revan tinggal sendiri Bu? Orang tua nya mana?".


"Iya, dia tinggal sendiri di sini. Orang tuanya ada di Surabaya. Dia merantau dan punya toko roti di jalan mawar".


"Revan punya toko roti? Yang bener Bu?" tanyaku seakan tak percaya.


"Iya, paling nanti kamu di ajakin dia ke toko rotinya sekalian keliling kota Petra. Oh iya, kalian tadi kemana aja?".


"Danau kura-kura tempat paling asyik untuk relaksasi diri".


"Iya Bu, tempatnya tenang".


Mentari pagi mulai menampakkan sinar dan kehangatannya. Menjangkau setiap sudut kota, menjelajahi setiap jengkal kehidupan yang ada.


"Jadi, kita hari ini mau pergi kemana?" tanyaku dengan penuh semangat.


"Jalan-jalan mulu, kamu bantuin tuh Bu Mega nyuci pakaian," seru Revan memerintah.


"Enak aja, aku udah bantuin Bu Mega dari nyuci sampe jemur loh. Kerjaan aku udah selesai makanya aku mau jalan-jalan," balasku membenarkan diri.


"Bagus kalo gitu, ternyata kamu sadar diri juga ya," celetuk Revan yang membuatku sedikit kesal.


"Iya dong, masa iya udah numpang tapi gak mau bantuin yang punya rumah. Itu mah gak tau di untung namanya," jelasku.


"Tuh pinter," tambahnya lagi.

__ADS_1


"Oh iya, katanya kamu punya toko roti, ajak aku kesana ya," kataku memohon.


"Ngapain kamu di sana, merusak pemandangan aja," ketus Revan.


"Aku bisa bantuin kamu kok, aku pengen liat toko roti punya kamu dan mencicipi gimana rotinya," jelasku lagi dengan mantap.


"Yaudah, jangan ngerusuh di sana," balas Revan sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.


Saat pertama kali menginjakkan kaki di toko roti Skandinavia's bakery hal pertama yang tergambarkan ialah menakjubkan. Tempatnya luas serta memiliki desain yang cukup unik seperti zaman kerajaan. Di setiap sudut toko terdapat berbagai hiasan yang ramah lingkungan. Tak hanya itu, toko ini juga dikelilingi banyak pohon rindang yang menambah kesejukan serta ketenangan.


"Kan, kamu bantuin catat pesanan setiap pengunjung ya," kata Revan memerintah.


"Oke, serahkan saja padaku," balasku dengan pedenya.


"Sepertinya hari ini banyak pengunjung, kamu jangan sampe buat masalah," tekan Revan dengan tegas.


"Aku gak bakal buat masalah kok, kamu tenang aja Van," tambahku lagi dengan sangat yakin.


Dengan sangat percaya diri aku berjalan menuju setiap meja pelanggan dan mencatat setiap pesanan. Benar saja, di hari pertama aku mengunjungi toko roti milik Revan, aku malah kelimpungan menghadapi banyak pesanan yang datang. Tak sampai disitu, aku malah membuat masalah yang lumayan merepotkan.


"Maaf sekali lagi pak, saya gak sengaja menjatuhkan kue ulang tahun anak bapak," kataku ketakutan.


"Sengaja atau tidak, kue anak saya gak akan kembali seperti semula. Kamu ini bagaimana, kerja seperti ini saja pun tidak becus. Kamu tau pelanggan hari cukup banyak dan kami sekeluarga telah menunggu lama untuk kue ulang tahun yang telah kamu hancurkan ini," ucap bapak bertumbuh gempal dan berkumis tebal itu.


" Saya minta maaf pak, kami akan segera menggantinya," tambahku lagi dengan tingkat ketakutan yang lebih tinggi.


"Maaf, ini ada apa ya?" tanya Revan yang tengah menghampiri meja bernomor 20 itu.


"Saya mau anda bertanggung jawab atas pegawai yang ceroboh ini," tegas bapak itu.


Setelah 15 menit berbincang, akhirnya Revan berhasil meredakan amarah sang bapak.


"Maaf ya Van, gara-gara aku semuanya jadi kacau," ujarku dengan sedih.


"Gak apa, wajar sih kalo bapak itu marah. Karena hari ini rame, jadi semuanya pada capek dan gampang emosi. Masalahnya juga udah selesai, sebaiknya kamu istirahat saja sambil makan roti," kata Revan dengan begitu santai.


"Mana bisa aku makan selagi di sini masih rame," kataku menolak.


"Gak apa, istirahat aja makan dan minum. Kalo kamu lanjutin, bisa-bisa kejadian tadi terulang lagi," tegas Revan.


Akhirnya, aku menuruti kata Revan. Menikmati secangkir kopi panas dengan sebuah roti coklat yang meleleh saat di kunyah, ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus sungguh kenikmatan yang tiada duanya.

__ADS_1


*Pengen deh tinggal di tempat yang banyak pepohonannya gitu 😁😁*


Jangan lupa beri dukungannya ya, agar author lebih semangat lagi menulisnya. Terima kasih ☺️


__ADS_2