
"Terkadang, lari adalah jalan terbaik untuk menghindari suatu masalah"
"Jadi intinya gitu deh kak. Aku mau gabung sama kakak karena Ayah Louis cuma memanfaatkan aku doang agar dia bisa membangkitkan pasukan Manuela dan jenderal Banderas," jelas Revan.
"Bukannya itu pasukan terlarang yang telah menghancurkan Skandinavia beribu-ribu tahun yang lalu," balasku tak percaya.
"Iya, dia membutuhkan darah Kania untuk menghidupkan kembali pasukan Manuela dan jantung Kania untuk menghidupkan jenderal Banderas," terang Revan.
"Untuk apa mereka dibangkitkan kembali?" tanyaku heran.
"Balas dendam tentunya. Ayah Louis ingin balas dendam atas kematian seluruh keluarganya karena dituduh sebagai pengkhianat yang ikut dalam aksi pemberontakan menggulingkan kekuasaan raja pada tahun itu"
"Berarti Louis itu telah mempelajari sihir terlarang"
"Iya, bisa dibilang gitu. Dan aku cukup bodoh untuk dimanfaatkan begitu saja. Aku tak tau sejak kapan dia telah merencanakan hal ini dan mulai memanfaatkanku. Mungkin sejak awal, dia memang tak pernah menyayangiku sebagai seorang anak," ucap Revan sedih.
"Aku memang gak tau gimana sifat orang yang bernama Louis itu. Tapi aku harus berterimakasih padanya karena dia telah merawatmu sampe sekarang ini. Meskipun ia telah menghilangkan Revan yang selama ini aku kenal"
"Maaf karena aku telah berlaku jahat padamu dan Kania"
"Tak apa, seberapa besar kesalahanmu padaku tetap saja aku tak bisa marah karena kamu adalah adikku satu-satunya," ucapku.
"Jadi bisa dibilang Kania begitu karena dia telah kehabisan banyak darah, dan pasukan Manuela berkeliaran untuk menangkap kalian berdua?" tanyaku lagi.
"Iya, mereka akan menangkap kami atas perintah Ayah Louis. Atau mungkin dia tak pantas lagi disebut sebagai Ayah," sedih Revan.
"Sudahlah, jangan sedih kaya gitu. Sekarang kita pikirkan bagaimana caranya mengalahkan pasukan Manuela dan juga Louis," seruku menenangkan Revan.
"Gimana caranya? Kakak tau kan kalo Skandinavia bukan wilayah bangsa penyihir. Kita hanya bisa menguasai sihir-sihir yang mudah dan gampang. Louis itu belajar sihir dan mantara terlarang, gimana caranya kita mengalahkan dia sedangkan kita hanya berdua. Kalaupun kita bangsa penyihir, tetap saja tak akan sanggup mengalahkan pasukan Manuela yang sebanyak itu," papar Revan panjang lebar.
__ADS_1
"Iya, kamu memang benar. Satu-satunya cara adalah memberitahukan hal ini pada Baginda raja agar diturunkannya pasukan elit pelindung Skandinavia"
"Jika keadaan kacau balau begini, pihak kerajaan pasti sudah mengetahuinya. Untuk apa lagi kita datang dan memberitahu soal ini?"
"Mungkin pihak istana sudah tau, tapi aku yakin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa pasukan Manuela bangkit dengan Louis pelakunya. Hanya cara ini yang bisa kita lakukan untuk mengalahkannya. Karena hal sebesar ini tak akan sanggup kita tangani meskipun berdua," jelasku pada Revan.
"Ya, kakak benar. Kita akan berangkat menuju istana saat tengah malam agar tak ada yang tau ataupun curiga," saran Revan.
Tidak adil memang, untuk apa aku dan Revan menjadi tokoh penting jika kami tak mampu untuk mengalahkan Louis.
"Kania, kamu masih bisa jalan?" tanyaku pada Kania.
"Iya, aku masih bisa kok Vin," balasnya pelan.
"Kalo gak bisa, kamu bisa aku gendong kok," saranku pada Kania.
"Enak aja, kalau pun Kania gak bisa jalan dia harus di gendong sama gue. Lo jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya," larang Radith padaku.
"Gak perlu," gerutu Radith.
"Udah, kalian jangan berdebat. Daripada ribut, mending gue aja deh yang gendong Kania nanti," ucap Yuna yang akhirnya membuka suara.
"Lahh...kamu siapa ya? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Revan heran sambil menunjuk Yuna.
"Apa! Gue Yuna, temennya Kania. Masi iya lo gak ngeliat gue dari tadi. Gue di sini aja loh sama kalian, gak pergi kemana-mana," balas Yuna dengan kesal.
"Aku gak ngeliat kamu dari tadi. Mungkin karena terbawa suasana kali ya," balas Revan dengan santai.
"Kurang gede apa gue? Sampe lo gak bisa ngeliat kalo gue ada di sini. Ngeselin banget dah lo jadi orang, beda banget sama Vino yang sifatnya baik," kesal Yuna lagi sambil mengguncang tubuh Revan.
"Seketika aku merasakan kematian yang datang menghampiri," gumam Revan lemas.
__ADS_1
"Dari tadi ngobrol mulu, kapan kita berangkatnya ini? tanya Kania yang akhirnya buka suara.
"Yaudah kita berangkat sekarang. Semoga kita menemukan kereta kuda agar mempercepat langkah menuju istana supaya Kania juga bisa beristirahat di sana," seruku.
Kami pun langsung bergerak dengan cepat agar menghindari pasukan Manuela yang sewaktu-waktu bisa menangkap kami kapan saja.
"Di sana, itu dia orang yang disuruh tuan Louis tangkap," tunjuk salah seorang pasukan Manuela pada kami.
"Kejar dan tangkap mereka," tambah salah seorang lagi.
"Cepat, kita harus kabur dan bersembunyi," seru Revan.
"Berhenti kalian di sana," teriak seseorang.
"Ayo cepat-cepat, di daerah sana terdapat banyak pohon dan rerumputan. Mungkin kita bisa bersembunyi di sana," tunjukku pada daerah yang cukup curam namun dikelilingi banyak rumput liar.
"Aduuhhhh...," ringis Kania.
"Kania, sini aku bantu kamu," kataku yang tengah membantu Kania berdiri.
"Iya," balas Kania singkat yang tampak tertatih.
"Tertangkap kamu manusia jelek," ucap seorang pasukan Manuela menarik tangan Yuna.
"Siapa yang lo bilang jelek hah? Ngaca dong dasar mayat hidup," kesal Yuna yang tengah berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Pergi lo dasar monster. Jangan ganggu Yuna," teriak Radith yang tampak menyiram segenggam pasir pada matanya.
"Argggghhh...," teriak seorang pasukan Manuela tersebut.
Tentu saja hal tersebut tak kami sia-siakan begitu saja. Kami langsung bergegas bersembunyi diantara rerumputan dan gelapnya malam. Semoga saja kami semua masih dapat melihat matahari esok hari.
__ADS_1