
"Jika butuh, jangan pernah menyakiti. Jangan pula menempatkan ego di posisi tertinggi"
Benar saja, di sinilah sumur api naga itu berada. Memang tempatnya sangat tersembunyi sehingga tak ada siapapun yang mau mengunjungi melihat tempatnya yang curam dan berbahaya ditambah lagi ada naga penunggunya di sana.
"Pas banget naganya tidur, kita bisa ambil tanduknya tanpa membangunkan naga itu," seru Revan lagi.
"Percuma, gimana pun juga naga itu pasti bangun saat tanduknya kita tebas dan ambil," balasku pada Revan.
"Terus gimana caranya kita ngambil tanduk itu?" tanya Revan lagi.
"Sebisa mungkin kita tebas tanduknya meskipun menyakitkan bagi si naga. Jika tak bisa dihindari, kita harus melawan naga itu. Karena bagaimana pun juga, Skandinavia menunggu kita.
"Iya, sebisa mungkin kita hindari pertempuran dengan naga itu. Jangan sampai kita melukainya melebihi mengambil apa yang dibutuhkan," jelas Ares.
Tentu saja kami tak boleh melukai naga penjaga sumur api ini karena tujuan kami hanyalah mengambil tanduk beracun yang digunakan untuk membunuh Alexander Louis. Dengan sangat hati-hati kami mendekati naga tersebut.
"Hyatt...," teriak Revan yang tengah mengangkat pedangnya,
Belum sempat Revan menebas tanduk sang naga, naga itu telah bangun dari tidurnya. Langsung saja si naga menyerang Revan hingga terjatuh ke tanah yang dipenuhi bebatuan kecil.
"Urkhh...., Kenapa naganya bangun sih," kesal Revan.
"Tetap berjaga, jika tidak kita akan kehilangan nyawa," balasku waspada.
"Langsung saja serang," tegas Ares berlari mendekati naga itu dengan mengayunkan pedang.
Crashhh... Dengan cepat, Ares berhasil menggores badan sang naga. Tentu saja hal ini membuat sang naga marah karena tak hanya memasuki wilayah kekuasaannya, tapi juga melukainya.
"Ares, mundur!" teriakku memerintah Ares.
Belum sempat Ares melangkahkan kakinya untuk segera menjauh dari sang naga, naga itu mengibaskan ekornya lagi dan alhasil Ares jatuh terperosok di tanah bebatuan.
"Kita gak bisa gegabah seperti ini, sebaiknya kita memikirkan sebuah rencana," seruku membantu Ares.
"Rencana apa? Sejak awal kita tak pernah memiliki rencana apapaun kak," balas Revan yang berusaha bangkit.
__ADS_1
"Agar mudah, kita harus memukul titik lemahnya. Jika tidak kita yang akan kehilangan nyawa," seruku lagi.
"Kakak tau dimana titik lemahnya?" tanya Revan memastikan.
"Aku juga tak tau," balasku sembari mengangkat bahu.
"Kita harus memikirkan dengan cepat. Pikirkan dimana biasanya titik lemah itu berada. Biar aku yang menyerang matanya," seru Revan lagi.
"Jangan, kita akan melukainya. Meskipun membutuhkan sesuatu darinya, kita tak boleh egois," ucapku memperingatkan.
"Terus gimana? Kita dari tadi ngobrol terus nanti dia akan menyerang," tambah Ares lagi.
"Titik kelemahan manusia biasanya berada di tengkuk leher. Coba serang di titik itu. Ares kamu bisa kan menyerangnya? Karena cuma kamu yang gesit dan perhitungannya akurat agar meminimalisir hal-hal yang tidak di inginkan," jelasku lagi.
"Titik kelemahan manusia? Ini naga kak, gimana bisa berpengaruh?" tanya Revan tak percaya.
"Ya dicoba saja siapa tau akan berhasil," balasku lagi.
"Oke," ucap Ares singkat dan langsung mendekati sang naga.
"Wahh...hebat, ternyata berhasil," girang Revan.
Benar, naga itu langsung melemah seketika dan tampak seperti kehilangan kesadaran. Tanpa pikir panjang aku langsung melayangkan pedang yang ada di tanganku untuk menebas tanduknya.
Tuukk...
Tanduk itu jatuh dan menggelinding ke tanah dengan hati-hati aku mengambilnya dengan sehelai kain.
"Akhirnya dapet juga tuh tanduk naga tanpa melukai sang naga dengan lebih banyak," celetuk Revan.
"Ya, kita pergi sekarang sebelum naganya bangun lagi," ajakku.
"Maaf ya ga, kita ambil tanduk punyamu demi keselamatan Skandinavia dan juga rumahmu. Dengan ini, kamu akan dikenang sampai kapanpun," ucap Revan dengan sedih.
"Udah, yuk kita bergegas menuju kastil Serilya," bujukku pada Revan.
"Tapi kak, kasian banget naganya pingsan gak berdaya gitu"
__ADS_1
"Hahaha"
"Kenapa ketawa? Kakak gak kasian liat naganya kaya gitu?" tanya Revan memastikan.
"Udah pastilah kakak kasian dan sedih banget liat naga nya pingsan. Yang kakak ketawain itu kamu"
"Apa? Emang aku lucu sampe harus diketawain kaya gitu?" tanya Revan dengan kesal.
"Enggak, kakak lucu liat kamu karena udah lama kakak gak pernah liat kamu kasihan sama makhluk hidup lainnya"
"Iya deh, aku memang biasanya berbuat jahat. Jangankan kakak, aku juga heran sama diri aku sendiri"
"Kakak senang liat kamu udah mulai berubah. Waktu kecil, kamu sering banget nempel-nempel ke kakak. Udah gede malah musuhin kakaknya. Adek durhaka kamu ini," ucapku lagi.
"Ya maaf kak," balas Revan merasa bersalah.
"Hemm...hemm... nostalgianya jangan sekarang, keburu dimakan naga baru tau rasa kalian," celetuk Ares tiba-tiba.
"Mana ada naga yang makan manusia," balas Revan ketus.
"Hahaha...udah yuk balik ke Skandinavia," ajakku lagi.
Akhirnya kami berhasil mendapatkan tanduk naga beracun tersebut. Saatnya kembali ke Skandinavia dan menghancurkan Alexander Louis.
"Di sana, tangkap mereka!" seru seseorang.
Sepertinya mereka adalah pasukan penjaga Mestre yang notabenya adalah musuh bebuyutan Skandinavia. Aku tak tau pasti alasan mengapa Mestre dan Skandinavia berseteru. Yang aku tau adalah Skandinavia ingin sekali berdamai dengan Mestre, namun ditolak mentah-mentah oleh raja Mestre.
"Kalian telah kalah, dan sekarang membawa teman yang lebih banyak? Akan kubuat kalian tak bisa berjalan lagi," ucap Ares dengan wajah seram.
"Coba saja, kalian hanya bertiga. Sedangkan kami banyak, kalian yang akan mati di sini," tegas prajurit itu.
"Banyak omong," kesal Ares dan langsung menyerbu prajurit itu.
Trang.. Trang...
Suara pedang yang berseteru terdengar begitu menggema. Aku, Revan dan Ares berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan pasukan pelindung Mestre. Di atas kertas, kami sudah kalah karena bagaimanapun hebatnya bela diri yang kami punya, tetap saja kami hanya bertiga. Meski begitu, tekad kami tak akan pernah kalah demi Skandinavia.
__ADS_1