Another World

Another World
Episode 31


__ADS_3

"Dendam tak akan pernah habis meskipun telah terbalaskan, karena dendam tak akan membuat hati lega"


 ***


"Alexander Louis," ucap raja Pierre dengan sangat terkejut.


"Sudah lama sekali ya, Pierre Coffin," balas Alexander Louis dengan tatapan licik.


"Sekian lama tak bertemu, kau semakin gila saja," ucap raja Pierre lagi dengan santai.


"Kau juga masih sama selalu saja bermain dengan anak kecil," balas Alexander Louis lagi sembari memperhatikan kami bertiga.


"Siapa yang anak kecil. Dasar orang tua!" celetuk Revan dengan spontan.


"Lihat siapa yang di sini. Berani sekali anak kecil seperti kamu melawan saya," ucap Alexander Louis menatap tajam Revan.


"Simpan tatapan tajam itu, di sini akulah yang akan menjadi lawanmu," seru raja Pierre.


"Saya tak punya waktu meladeni seorang raja seperti Anda. Nikmati saja keadaan yang kacau balau ini, karena setelah ini semua terjadi hal baru akan segera hadir di bawah kekuasaan ku," terang Alexander


Louis.


"Jangan harap, kau tak akan bisa menjatuhkan kekuasaan raja Carey Mulligan," tegas Ares.


"Lihat siapa yang berbicara. Saya tau Anda adalah orang kepercayaan raja, Alrescha Xavier kan? Untuk apa datang sejauh ini demi menemui saya?" balas Alexander Louis dengan santai.


"Untuk menghabisi kau tentunya," terang Ares dan langsung mengarahkan pedangnya pada Alexander Louis.


"Masih terlalu dini untuk menghabisi saya," ucap Alexander Louis dengan santainya sembari menghindari serangan Ares.

__ADS_1


"Kalau berani, kita tanding satu lawan satu murni tanpa menggunakan ilmu sihir apapun," tantang raja Pierre.


"Baiklah jika Anda memaksa," balas Alexander Louis.


"Kalian bertiga, jangan ikut campur dalam pertempuran kami berdua. Jika ada kesempatan, tancapkan tanduk naga beracun itu pada jantungnya," ucap raja Pierre berbisik pada kami.


"Ngobrol apa? Memberi wasiat saat mati nanti?" seru Alexander Louis lagi.


"Iya, wasiat yang sangat bermanfaat," balas raja Pierre dengan santai.


Raja Pierre dan Alexander Louis mulai bertarung satu sama lain. Suara pedang yang berseteru juga ikut meramaikan di tengah suasana kastil yang terlihat suram.


"Gimana ini, mereka berdua sangat kuat. Tak akan ada yang kalah jika salah satunya mati, lebih tepatnya raja Pierre yang mati," ucap Revan tiba-tiba.


"Ya, kita harus memperhatikan dengan seksama. Seperti kata raja Pierre tadi, kita harus memanfaatkan situasi untuk membunuh Alexander Louis saat dia lengah," terang Ares.


"Hahh...hahh..., Meskipun sudah tua, kau masih saja jago dalam ilmu bela diri dan berpedang," seru Alexander Louis yang tampak kelelahan.


"Hahaha..., Apa kau bercanda? Aku adalah manusia abadi. Siapa yang dapat membunuh ku? Tak seorang pun termasuk kau Pierre Coffin," balas Alexander Louis dengan sombongnya.


"Siapa yang tau, dunia ini tak hanya berisi kau seorang. Suatu saat nanti, akan ada yang datang dan memusnahkan kau dengan tangannya sendiri," santai raja Pierre.


"Hahaha, mana mungkin. Bukan aku yang akan mati, tapi kau yang akan mati di tanganku Pierre," balas Alexander Louis sembari menusukkan pedangnya pada raja Pierre.


"Uhuukk..., Kau menyerang ku di saat kita tengah berbicara? Licik sekali," ucap raja Pierre memuntahkan darah.


"Raja Pierre!" teriakku dan Revan dengan spontan.


"Kalian diam di sana!" perintah raja Pierre.

__ADS_1


"Harus menggunakan berbagai macam cara untuk menang. Wajar jika aku melakukan hal licik seperti itu," balas Alexander Louis lagi.


Dengan tubuh yang berlumuran darah, raja Pierre masih saja bertarung dengan Alexander Louis. Sedangkan Alexander Louis tampak baik-baik saja meski luka goresan terdapat di tubuhnya, tapi ia tak pernah mengeluh sakit seakan tak pernah mendapatkan luka itu.


"Membosankan, seorang manusia biasa sepertimu tak akan pernah menang dariku," ucap Alexander Louis sembari melangkah pergi meninggalkan raja Pierre yang terduduk di tanah.


"Kau salah, jangan pernah meremehkan kekuatan manusia biasa," seru raja Pierre.


"Aku akan membiarkanmu hidup jika kau mau membantuku menyelesaikan rencana yang telah kubuat," tawar Alexander Louis.


"Untuk apa aku harus bersekutu dengan orang seperti kau. Sampai matipun, aku tak akan pernah mau bergabung denganmu seperti halnya dulu"


"Padahal dulu kita berteman baik, kenapa kau selalu menentang apa yang menjadi keputusanku dan menghalangi setiap tindakanku?"


"Kau bertanya kenapa? Karena kau itu salah. Kali ini juga, kenapa kau harus melukai orang yang tak bersalah? Sampai detik ini pun, kau masih tidak mempunyai hati nurani? Itu yang disebut dengan manusia? Percuma kau menyandang gelar manusia abadi tanpa pernah berlaku baik pada orang lain termasuk anak kau sendiri, Revanza Adinata. Dia hanyalah seorang anak manusia yang tak bersalah, untuk apa kau libatkan dia sampai sejauh ini?" ucap raja Pierre mencoba menyadarkan Alexander Louis.


"Tak punya hati nurani? Kau pikir orang-orang yang telah membumihanguskan keluargaku punya hati nurani? Tanpa tau alasan yang sebenarnya, mereka menuduh keluargaku sebagai pengkhianat dan aku kehilangan semua anggota keluarga. Apa ini adil?"


"Memang itu tak adil. Tapi itu adalah kejadian masa lalu yang tak dapat kau ubah lagi. Sebaliknya, kau bisa membuat kebahagian baru dengan menghilangkan dendam yang sudah menghantui selama ini," nasihat raja Pierre.


"Omong kosong. Kau hanya tau berbicara tanpa pernah merasakannya. Akan kubunuh semua anggota kerjaan dimulai dari raja Carey Mulligan. Dan kau Pierre, sejak awal aku tak pernah menargetkanmu. Tapi, kau sudah terlibat sejauh ini, sebaiknya kau juga mati saja," jelas Alexander Louis mengangkat pedangnya.


"Alexander Louis, turunkan pedangmu!" perintah Revan.


"Sekarang bocah memerintahku? Jangan bercanda kau Revan," balas Alexander Louis yang tampak geram.


"Seperti yang dibilang tadi, raja Pierre bukanlah yang ditargetkan. Bukankah lebih baik jika aku yang dimusnahkan? Aku akan manjadi batu penghalang yang akan menggagalkan rencana yang telah disusun sedemikian rupa itu," jelas Revan.


"Benar, tak ada gunanya aku membunuh Pierre. Sebaiknya aku bunuh kalian bertiga yang ada di sini," terang Alexander Louis dengan tatapan tajam sembari melangkah menuju tempat kami berdiri.

__ADS_1


Klik favorit ya 😁 Terima kasih


__ADS_2