
"Meskipun mengejutkan, kebenaran tetaplah sebuah kebenaran yang harus diterima"
"Ya, saya tau jika Kania mirip dengan Camilla," balas raja Carey dengan cuek.
"Benar, karena Kania adalah putri Camilla," ucap raja Pierre lagi.
"Maksud Anda apa? Saya tak mengerti yang Anda maksud," balas raja Carey.
"Yang mulia, sebaiknya beritahukan saja apa yang ingin Anda sampaikan. Jangan berbelit-belit," jelas Ares menimpali.
"Saya akan memberi tahu hal sebenarnya. Seperti yang kita ketahui bawa Kania mirip dengan putri Camilla. Hal itu memang benar adanya karena Kania memanglah putri Camilla. Saat Alvino melarikan diri dari kejaran pasukan pemberontak, putri Camilla hilang di dalam sebuah portal waktu yang memungkinkan dia sedang berada di tempat yang tidak kita ketahui. Tapi nyatanya, jiwa putri Camilla masuk ke dalam tubuh Kania dan lahir dengan tubuh baru. Awalnya, Kania memanglah reinkarnasi dari putri Camilla, tapi karena memasuki portal waktu tersebut, putri Camilla merubah sejarah hidup Kania hingga jiwa putri Camilla sendiri yang memasuki tubuh Kania, dan jiwa asli Kania sepertinya telah tiada karena tergeser akan jiwa putri Camilla yang sebenarnya. Namun ingatan dari putri Camilla sendiri tak terbawa pada saat ia menetap dalam tubuh Kania," jelas raja Pierre dengan detail yang membuat kami terkejut.
"Apa! Jadi Kania adalah putri Camilla sendiri?" ucap Radith dengan sangat terkejut.
"Iya," balas raja Pierre dengan singkat.
"Tunggu, bagaimana Anda mengetahui hal ini?" balas raja Carey tampak tak percaya.
"Saya tau lebih dari apa yang raja Carey ketahui," balas raja Pierre menghiraukan pertanyaan raja Carey.
"Jadi intinya, putri Camilla telah tiada dan bertransformasi dalam tubuhnya Kania?" tambah Yuna yang membuka suara.
"Iya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa putri Camilla sudah tiada, tetapi masih hidup dalam tubuh Kania dengan orang yang baru dan berbeda," jelas raja Pierre lagi.
"Yang mulia Carey Mulligan, saya harap yang mulia bisa ikhlas dengan kenyataan bahwa putri Camilla sudah tiada," ucapku pada raja Carey.
__ADS_1
"Saya masih tidak percaya akan hal ini. Saya ingin menenangkan diri terlebih dahulu, kalian beristirahatlah segera karena hari sudah larut," terang raja Carey sebelum berlalu pergi.
"Yang mulia Pierre, maaf jika saya lancang. Tapi apakah benar bahwa jiwa putri Camilla bersemayam di tubuh Kania? Dan Kania di masa depan adalah reinkarnasi dari putri Camilla sendiri?" tanya Ares ragu pada pernyataan raja Pierre.
"Saya mengatakan hal yang sebenarnya. Tampaknya ada pergerakan dalam portal waktu yang menyebabkan hal ini terjadi dan merubah sejarah dari putri Camilla sendiri dan juga Kania," jelas raja Pierre lagi.
"Kejadian yang sangat langka dan membingungkan," ucap Revan malas.
"Apakah hal ini harus kita sampaikan pada Kania?" tanya Yuna.
"Sebaiknya dia mengetahui hal ini. Tunggu sampai dia sembuh kalian boleh memberitahukan hal ini padanya," saran raja Pierre.
"Tapi sepertinya yang mulia Carey masih belum bisa menerima kenyataan bahwa putri Camilla telah tiada," ujarku.
"Tenang saja Alvi, saya akan membicarakan hal ini pada yang mulia Carey," balas raja Pierre.
Seperti yang raja Pierre bilang, kejadian ini sangat tak masuk akal dan membingungkan. Firasat ku memang mengatakan bahwa Kania adalah putri Camilla namun aku tak menyangka bahwa itu benar.
"Kak, jadi gimana?" tanya Revan yang menbuyarkan lamunanku.
"Gimana apanya?" balasku balik bertanya.
"Gimana sama Kania nanti kalo tau dia memanglah putri Camilla yang sebenarnya walaupun hanya jiwanya aja sih yang putri Camilla. Tapi kakak tau sendiri kan kalo Kania itu males bengat dimirip-miripin sama putri Camilla," jelas Revan lagi.
"Iya memang, tapi mau gimana lagi? Memang kenyataan bahwa kania adalah putri Camilla. Tapi gak berpengaruh banyak sih karena kan jiwa putri Camilla gak punya memori masa lalunya jadi gak berpengaruh pada kehidupan Kania dia masa depan," balasku pada Revan.
"Iya juga sih kak," ucap Revan dengan singkat.
__ADS_1
"Udah ah, kakak mau tidur dulu. Capek banget soalnya," seruku lagi sambil memijat pundak.
Hal yang kutakutkan bukanlah Kania melainkan raja Carey Mulligan yang tampak tak percaya akan kenyataan ini. Tanggapan apa yang akan diberikannya nanti saat menghadapi Kania? Yang terlintas di kepalaku adalah raja Carey Mulligan yang tak ikhlas akan kepergian anaknya sehingga tak mengizinkan Kania pulang agar menetap di istana.
"Jika hal itu terjadi, maka Kania dan keluarganya akan merasa sedih. Termasuk Radith dan Yuna yang tidak tau harus berbuat apa jika Kania tinggal di istana. Aku juga akan merasakan kesedihan yang sama jika melihat Kania melakukan hal yang tak di inginkannya. Karena aku tak mau kehilangan untuk yamg kedua kalinya, pertama putri Camilla dan sekarang Kania? Jangan sampai hal ini menjadi nyata karena kebahagiaan Kania adalah yang paling utama dan orang lain tak berhak untuk memaksanya termasuk raja Carey Mulligan," pikirku sebelum terlelap.
Sinar mentari pagi menampakkan sinarnya lagi. Menghapus jejak-jejak tetasan embun pagi yang jatuh ke bumi. Suara kicauan burung juga menemani hangatkan pagi hari yang cerah dan mempesona ini.
"Vin, nagapain lo berdiri di luar gitu. Gak mau liat Kania? Gue mau ke sana ini," ajak Yuna menghampiriku yang tengah berdiri di halaman depan istana.
"Gak ah Yun, kamu aja yang lihat Kania. Kalo dia udah siuman jangan lupa kasi tau aku," balasku memperingatkan Yuna.
"Ohh...oke," balasnya singkat sebelum berlalu pergi.
"Skandinavia memang indah, namun lebih indah negeri dimana Kania lahir dan tumbuh berkembang. Seindah apapun Skandinavia ini, tetap saja tak nyaman bagi Kania yang bukan warga Skandinavia," gumamku menatap langit pagi.
"Kak Alvi, gak mau jenguk Kania?" tanya Revan yang sudah berdiri di hadapanku.
"Gak, kamu aja yang pergi. Kakak mau lihat Kania setelah dia siuman," jawabku.
"Lahh..kan Kania emang udah siuman," ucap Revan dengan santai.
"Serius kamu Van? Ini kan baru 15 menit setalah Yuna ajak kakak untuk jenguk Kania," ujarku tak percaya.
"Iya, Kania emang udah siuman. Masih gak mau jenguk nih?" tanya Revan lagi.
"Iya, aku ikut," jawabku spontan dan langsung mengikuti langkah kaki Revan.
__ADS_1