
**Assalamualaikum Wr. Wb.
Apa kabar semua? Di sini ada episode extra dari Revan dengan seorang gadis yang menjadi temannya di masa kecil dulu. Seperti apa kisah singkatnya? Langsung dibaca aja ya 😉**
###
Teruntuk Revanza Adinata,
Bersamaan surat ini, ku kirimkan segumpal tanah dari kampung halaman lengkap dengan kerikil bebatuan, dedaunan, bahkan ranting dari pepohonan yang memenuhi Skandinavia. Kakak pasti kangen kan dengan suasana Skandinavia? Oleh karena itu, aku berinisiatif untuk mengirimi surat sekaligus mengirimi harumnya suasana kampung halaman. Kapan kak Nata pulang ke Skandinavia? Ohh..iya kakak ingat aku? Aku Aruna, kita sering main bareng loh waktu kecil dulu bareng kak Alvi juga. Kalian berada di dunia modern kan? Rencananya, aku akan datang kesana untuk menemui kalian berdua terutama kak Nata. Salam rindu dariku, Aruna.
"Kak Alvi, tau gak siapa Aruna?" tanyaku pada kak Alvi setelah membaca surat dari Skandinavia.
"Aruna? Ahh..iya, kakak ingat Aruna yang dulu sering main bareng kita. Yang anaknya cerewet dan agak gemuk itu kan? Sekarang sih kakak gak tau dia dimana. Katanya, dia belajar di luar negeri," jawab kak Alvi.
"Ohh...anak yang gemuk itu. Tau gak kak, masa iya dia jadi tambah aneh. Lihat, dia ngasi segumpal tanah dari Skandinavia fungsinya buat apa coba?"
"Haha...caranya unik juga ya. Tapi kan kamu memang belum kembali ke Skandinavia karena menjalankan tugas yang ada di sini."
"Iya, aku duluan ya kak. Capek, mau istirahat," ucapku sambil meregangkan badan dan berlalu meninggalkan kak Alvi.
"Haha...ada aja nih anak. Aruna ya, dulu dia sering banget nempel-nempel ke aku," gumamku sembari menghirup dedaunan dari Skandinavia.
"Ternyata benar, di sini ada aroma Skandinavia. Ampuh juga cara si Aruna ini, sama anehnya kaya dulu."
Hari baru akan membawa cerita yang baru.
"Vin, kamu belum sarapan kan? Ini aku bawain roti panggang kesukaan kamu," seru Kania antusias sembari menyerahkan kotak bekal berisi roti panggang.
"Ohh..iya, ini makanan yang paling aku suka. Makasih ya Kan," balas kak Alvi dengan girang.
"Ahemm... pagi-pagi udah pacaran aja. Mending aku pergi aja deh, nikmatin waktu kalian berdua," ucapku berlalu meninggalkan kak Alvi dan Kania.
"Udah lama juga ya gak balik ke Skandinavia, kangen juga," seruku berjalan menyusuri taman kota.
"Kak Nata," teriak seseorang.
"Nata? Manggil aku kah," pikirku dan langsung melihat sekeliling.
"Hayooo... Kak Nata lagi ngapain?" tanya perempuan bertubuh mungil itu dengan muncul secara tiba-tiba dari balik semak-semak.
"Hah? Siapa?" tanyaku heran sambil memperhatikan perempuan itu.
"Ini aku kak, Aruna," balasnya lagi.
"Aruna yang ngiriminin aku surat? Teman masa kecil aku dan kak Alvi?" tanyaku lagi seakan tak percaya.
"Iya kak. Aruna yang sering main bareng kakak dan kak Alvi. Hehe...gimana, Kakak kaget kan liat aku di sini?"
"Iya kaget, kaget banget sampe jantungku secara mau copot."
"Haha...kakak lebay deh, bagian mananya yang buat jantung kakak mau copot?"
"Bagian kamu muncul dari semak-semak dengan suara cempreng kamu itu, ditambah kamu tuh cebol banget. Bahkan keluar dari semak-semak itu, hampir gak keliatan."
"Ihhh...enak aja bilangin aku cebol. Kakak aja tuh yang ketinggian, makannya tiang listrik ya?"
"Dianya yang cebol, malah nyalahin orang lain karena ketinggian. Pake dibilang makan tiang listrik segala lagi, gak sekalian aja kamu bilang aku saudara jauhnya jerapah?"
"Iya, kak Nata adiknya jerapah. Hahaha," girang Aruna.
__ADS_1
"Terus ngapain kamu datang kesini?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
"Kan aku udah bilang lewat surat kalo aku bakal datang."
"Ngomong-ngomong soal surat, kenapa kamu kirimin tanah, daun, ranting segala? Gak sekalian aja dikirimin cahaya matahari Skandinavia, angin, bintang, senja juga kalo bisa."
"Rencananya sih gitu kak. Tapi kalo aku ambilin itu semua untuk kakak, terus yang lain gak kebagian dong. Akunya egois karena mementingkan diri sendiri. Dan bumi, akan jadi gelap gulita dan hampa."
"Hah...makin gede bukan makin pintar malah jadi tambah aneh."
"Enak aja aneh, gini-gini aku lulusan terbaik dari Meraldy Collage," bangga Aruna.
"Iyain aja deh biar cepat."
"Oh iya kak, kak Alvi ada dimana? Aku pengen ketemu."
"Lagi pacaran. Sebaiknya jangan diganggu."
"Sama kak Kania ya? Yang merupakan reinkarnasi atau perwujudan dari putri Camilla?"
"Kamu kok bisa tau soal itu?"
"Jelas dong, berita soal Skandinavia, putri Camilla bahkan kak Kania itu menjadi perbincangan hangat di Meraldy Collage bahkan di negara Meraldy itu sendiri."
"Serius berita itu sampe kesana?" tanyaku tak percaya.
"Iya kak, berita soal kakak juga ada loh."
"Oke, gak usah di ceritakan soal itu."
"Yap. Kak, bawa aku jalan-jalan dong, pengen ngerasain gimana kehidupan manusia modern."
"Terserah kakak. Asal sama kakak, kemana pun kakak pergi aku bakal ikut," girang Aruna dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Di sinilah aku, membawa Aruna jalan-jalan berkeliling di negeri kincir angin Belanda. Aruna sama seperti anak kecil yang rewel dan bawel bahkan anak kecil pun tak separah dirinya.
"Kak, ajak aku naik kincir raksasa itu," tunjuk Aruna pada sebuah bianglala.
"Namanya bianglala. Kamu beneran mau naik?" tanyaku memastikan.
"Iya aku pengen naik itu. Ayo kak," seru Aruna dengan girang sambil menarik tanganku.
"Tunggu, kamu yakin? Kalo aku gak salah ingat, bukannya kamu itu takut ketinggian?"
"Itumah dulu kak. Sekarang aku udah gak takut ketinggian lagi."
Dengan berbekal rasa percaya terhadap Aruna, aku pun menuruti keinginannya naik bianglala.
"Wooww...udah gak sabar mau sampe diatas puncak sana."
"Awas aja kalo kamu ketakutan nanti."
"Gak mungkin, nanti kakak yang takut. Awas aja kalo sampe kakak ketakutan dan merengek minta pulang."
"Terserah, palingan kamu yang merengek minta balik ke Skandinavia."
"Deg..degan banget aku kak, sebentar lagi mau sampe di puncak. Gak sabar banget," antuasias Aruna dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Clang!
__ADS_1
"Diberitahukan kepada pengunjung bianglala diharapakan tenang dan jangan panik. Saat ini, bianglala sedang mengalami sedikit gangguan teknis, diharapkan para pengunjung jangan membuat pergerakan yang membahayakan. Kami akan segera memperbaiki kerusakan ini agar pengunjung dapat menikmati wahana ini kembali," teriak seorang petugas dengan pengeras suara.
"Aru, kamu tenang ya. Sebentar lagi bianglalanya akan berjalan seperti semula."
"Kak, aku takut," ucap Aruna dengan wajah pucat.
"Jangan takut oke, gak akan ada hal buruk yang terjadi."
"Hikss...tapi ini tinggi banget kak. Gimana kalo bianglalanya gak mau jalan lagi? Gimana kalo bianglalanya lepas dari porosnya seperti di film-film. Aku gak mau hal itu terjadi kak," panik Aruna.
Untuk sesaat, ini pertama kalinya aku melihat Aruna sangat ketakutan. Sejak dulu, Aruna terkenal dengan anak yang ceria dan tak kenal akan rasa takut. Tapi kali ini, aku melihat sisi lain dari Aruna.
"Hal seperti itu gak mungkin terjadi, kita akan selamat," hiburku pada Aruna yang terlihat sangat ketakutan.
"Tapi...tapi...,"
"Tenang, ada aku di sini. Hal buruk gak mungkin terjadi karena aku akan selalu melindungi kamu," ucapku lagi sembari memeluk Aruna.
Tampaknya, Aruna sudah merasa tenang dan baikan. Tak terdengar lagi suara tangisan ataupun ocehan tak masuk akal darinya.
"Kakak hangat," gumam Aruna.
"Hah...apa?"
"Iya, pelukan kakak hangat. Ini salah satu alasan kenapa aku selalu ngikutin kakak kemana pun. Ingat, dulu kakak pernah meluk aku kaya gini juga saat kita terkunci di dalam lemari. Hangatnya masih sama, bahkan terasa lebih hangat dari yang dulu."
"Kamu ngomong apa sih, aneh banget. Atau jangan-jangan kamu sakit?"
"Iya, aku sakit karena kakak. Lihat, mukaku pasti merah banget kaya kepiting rebus."
"Iya bener, sebaiknya kita ke rumah sakit setelah pulang dari sini."
"Gak perlu, penyebab aku sakit karena kakak. Dan obat penawarnya juga harus kakak. Aku cuma mau bilang kalo aku suka sama kakak."
"Apa? Jangan bercanda deh."
"Kapan aku bercanda kak? Kakak sadar gak sih kalo selama ini aku tuh suka sama kakak!" tegas Aruna dengan wajah yang memerah entah karena malu atau marah.
Mendengar pernyataan dari Aruna, ada detak yang terasa sedikit berbeda. Inikah rasa yang sering orang-orang bilang? Rasa suka? Atau malah cinta? Yang jelas aku hanya ingin menjaga dan melindunginya.
"Oke, jangan ngomong lagi. Awalnya, aku memang tak menyadarinya. Tapi sekarang, aku sudah bisa memahami apa yang kamu maksud. Aku gak tau apa sebenarnya arti suka, sayang ataupun cinta. Tapi yang aku tau sekarang, aku hanya ingin melindungi senyum itu. Karena air mata tak cocok ada di wajah manis seperti ini."
"Hikss...aku terharu dengar perkataan dari kakak karena kata-kata itu sudah lebih dari cukup untukku. Satu hal lagi, aku akan membuat kakak jatuh cinta sampe kakak gak bisa melepaskanku dari genggaman kakak," seru Aruna dengan air mata bahagianya dan langsung memelukku.
"Oke, kakak tunggu," seruku membalas pelukan Aruna.
Ya, aku tak tau gimana rasa suka itu tumbuh menjadi sayang dan lama-kelamaan tumbuh menjadi cinta. Karena cinta dan kasih sayang itu telah hilang ditelan oleh kebencian yang ada pada diriku. Mungkin, Aruna adalah pelangi yang memberikan warna dalam hidupku dan mejadikan hari-hariku terasa lebih hidup dan nyata.
**###
Note:
Author ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini, meskipun aku gak yakin sih ini novel atau bukan 😁😁
Rencananya, author akan membuat cerita baru lagi. Sudah ada beberapa ide, cuma belum di eksekusi. Author ingin memberi kesempatan pada para pembaca yang ingin merequest atau memberikan pendapat untuk cerita yang baru nanti. Misalnya bad girl dengan ice price atau apapun itu dan sertakan juga mau genre yang seperti apa, contohnya genre romance, fantasi atau yang lainnya.
Jika ada yang memberikan pendapat seperti itu, author sangat berterima kasih. Jika tidak ada, maka author akan tetap melanjutkan cerita yang menjadi ide sekarang ini sesuai dengan kehendak author sendiri.
Itu saja yang ingin di sampaikan. Terimakasih semuanya 💕💕
__ADS_1
Assalamualaikum wr.wb.**