Another World

Another World
Episode 10


__ADS_3

"Malam ini adalah malam yang begitu panjang. Seakan waktu berhenti berputar dan pagi tak mau datang menghampiri"



"Tenang Kania, ini pasti cuma mimpi. Tinggal pejamkan mata dan cowok itu bakal hilang".


Malam yang sepi membuatku mudah terlelap dalam mimpi.


"Apa, cowok itu masih ada di balkon. Aku udah tidur selama setengah jam dan dia masih ada disitu, apa ini bukan mimpi ya?".


"Hey...kamu ngapain disitu?" ucapku dengan pelan.


"Putri Camilla, aku sedang menjagamu di sini," balasnya dengan enteng.


"Dengar ya Dito..."


"Alvino," selanya.


"Oke siapapun itu, kamu harus tau kalo aku ini bukan Camilla dan sebaiknya kamu pergi deh dari sini sebelum ketauan sama penghuni apartemen yang lain terutama Yuna," jelasku.


"Aku tak bisa pergi sebelum membawa putri Camilla kembali".


"Camilla...Camilla terus. Namaku Kania, panggil aku Kania. Kalo kamu panggil aku Camilla lagi, aku akan bawa kamu kembali ke pantai," ancamku.


"Iya Cam..eh..K..Ka...Nia..," balasnya terbata-bata.


"Aku mau tanya satu hal sama kamu, harus jawab jujur. Apa benar kamu berasal dari dalam kalung batu ini?" tanyaku sambil menunjukkan kalung tersebut.


"Iya," jawabnya singkat.


"Gimana bisa?" tanyaku lagi.


"Apanya?" balasnya balik bertanya.


"Gimana bisa kamu berada di dalam kalung batu itu. Ceritakan ke aku sekarang, aku penasaran banget nih," ucapku dengan antusias.


"Awalnya aku itu...".


"Tunggu dulu, sebelum aku lupa kamu tadi bicara bahasa alien. Sekarang kok bisa bahasa manusia?".


"Yang kamu dengar itu bahasa Skandinavia dan kenapa aku bisa bahasa manusia karena aku menyerap dan mengaplikasikan apa yang aku dengar darimu tadi".

__ADS_1


"Skandinavia? Kayaknya aku pernah dengar deh," gumamku.


"Kamu ngomong apa, gak kedengaran".


"Gak, bukan apa-apa. Lanjutin cerita kamu tadi".


"Ya, jadi awalnya tuh aku seorang pengawal pribadi dari putri Camilla. Suatu ketika, terjadi pemberontakan di kerajaan sehingga putri Camilla disuruh pergi oleh Baginda raja untuk mengungsi. Aku dan pengawal lainnya ikut menemani putri ke kota Sextans, belum sampai di sana kami terkejar oleh pasukan pemberontak. Putri Camilla berhasil meloloskan diri, namun sayang dia terjatuh ke jurang. Aku berusaha menolongnya tapi gagal, aku melihat sendiri putri Camilla jatuh, tiba-tiba muncul lubang aneh bewarna hitam dan putri Camilla pun hilang entah kemana," jelas laki-laki bernama Alvino itu.


"Lubang hitam? Apa mungkin itu portal waktu?".


"Portal waktu?" tanya Alvino dengan bingung.


"Aku gak tau pasti sih, tapi aku lihat di film-film portal waktu kaya gitu. Jadi sekarang kamu gak tau putri Camilla itu berada dimana?".


"Saat pertama kali melihat Kania, aku langsung tau kalo kamu itu putri Camilla. Lama-kelamaan aku sadar bahwa tidak mungkin putri Camilla seorang yang kasar dan aneh kaya kamu".


"Apa kamu bilang, aku kasar? Enak aja, aku yang udah ngambil kamu dari pantai tau," cemberutku.


"Hmm".


"Terus gimana ceritanya kamu sampai terjebak di dalam kalung itu. Cepat ceritakan ke aku sekarang juga. Kalo gak, aku gak bakal bisa tidur nih, aku udah kepo banget tau gak. Ayo cerita," paksaku pada Alvino.


"Kalo gak mau cerita yaudah, gak usah ngejelek-jelekin atau ngebandingin aku sama putri Camilla mu itu. Udah ah, aku mau tidur aja," kesalku berjalan menuju kasur.


"Hahaha...kamu lucu benget sih kalo cemberut gitu," tawa Alvino.


"Hahh...apa sih, berhenti tertawa," tegasku.


"Hahahaha," tawanya lagi.


"Sumpah, aku kesal banget sama yang namanya Alvino Pradipta si cowok misterius ini. Muka bodohnya buat aku tambah kesal saja, ingin ku tonjok tuh mukanya.


"Kubilang berhenti tertawa, nanti tetangga pada dengar, bodoh!" kesalku menarik baju anehnya itu.


"Haha iya maaf," katanya dengan santai disertai dengan senyuman.


"Apa, ternyata dia bisa tersenyum juga. Dari tadi dia tak menampakkan ekspresi apapun, dan sekarang dia benar-benar tersenyum," bantinku seakan tak percaya.


Awalnya, aku sangat kesal melihat wajah bodoh dan datarnya itu, apalagi saat dia melontarkan kata-kata tentang putri Camilla. Setelah melihatnya tersenyum sedikit saja, rasa kesalku mendadak langsung hilang. Ini sungguh tidak adil.


"Udah ah, aku mau mau tidur. Sebaiknya kamu pergi dari sini," perintahku.

__ADS_1


"Aku harus pergi kemana?".


"Terserah. Oh iya apa kamu bisa sihir?".


"Iya iya, aku bisa kok".


"Terus kenapa dari tadi sihirnya gak digunakan? Dasar orang tua bego," kesalku dengan emosi memuncak.


"Ya maaf, aku lupa. Lagian, sihirku cuma bisa dipake sekali karena udah lama gak digunakan saat disegel di kalung itu".


"Sihir kamu yang bisa dipake sekali itu, buat rumah kek apa kek, masa gitu aja kamu gak tau sih!".


"Aku harus pilih apa ya, pulang ke Skandinavia, mencari putri Camilla atau tinggal di sini ya. Aku bingung nih Kania".


"Kamu juga gak bisa pulang ke Skandinavia, buat rumah aja sana. Sebaiknya kamu ganti baju butut kamu itu deh".


"Kenapa? Ini bagus kok".


"Bagi kamu bagus, tapi bagi manusia yang hidup di zaman modern ini enggak. Sebentar, kayanya aku ada bawa baju papa aku deh," kataku sambil membongkar isi lemari.


"Tadaa....untung aku bawa satu baju papa".


"Kamu bawa baju bapak kamu? Kamu mencuri ya?".


"Mana ada anak yang nyuri baju bapaknya sendiri. Aku sengaja bawa baju ini agar mengurangi sedikit kerinduan aku sama papa".


"Hoo..kamu unik juga ya".


"Jangan mulai buat aku kesal deh. Kamu harusnya berterima kasih atas apa yang sudah aku lakuin ke kamu".


"Oh jadi aku harus bertema kasih juga karena kamu udah mukul dan marahin aku?" ucap Alvino dengan polosnya.


"Itu kan gak sengaja, lagian kamu tuh mencurigakan tau gak," kilahku.


"Iya, terima kasih ya Kania," ucapnya lagi sambil tersenyum.


Menurut kalian, apakah putri Camilla itu ada hubungan khusus dengan Kania?


Setelah datang, jangan langsung pergi begitu saja. Senja bahkan pergi meninggalkan jejak keindahannya.


Intinya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😅😉

__ADS_1


__ADS_2