
"Masa lalu tak pantas untuk dikenang, namun masa lalu pantas untuk dijadikan acuan kehidupan di masa depan"
***
Ternyata, tuan Alexander Louis merupakan orang yang baik. Dia bahkan tak pernah mempermasalahkan perbuatan yang telah kulakukan padanya. Tak seperti Revan, tuan Louis selalu bersikap ramah terhadapku sehingga aku merasa bukan seperti tahanan di sini.
"Kania, bisa temani saya ngobrol di taman?" ucap tuan Louis.
"Ohh...iya, bisa Pak...ehh... Tuan maksudnya," balasku canggung.
"Tak apa jika kamu ingin memanggil saya Bapak," balasnya ramah.
"Iya Pak," ucapku lagi sembari mengikuti langkah kakinya.
"Bapak mau ngobrol soal apa ya?"
"Tak ada, hanya membahas hal-hal biasa"
"Ohh..iya, Bapak udah tinggal lama di sini?" tanyaku membuka topik pembicaraan.
"Cukup lama, sekitar 2000 tahun," balasnya santai.
"Hahh.. Bapak gak bercanda kan? 2000 tahun itu waktu yang cukup lama. Apa Bapak gak bosan tinggal di sini sendiri?"
"Saya tak sendiri, ada Revan dan para pengurus kastil"
"Apa Bapak gak punya keluarga? Istri mungkin? Atau Bapak jomblo abadi?"
"Hahaha jomblo abadi? Saya memiliki istri, namun sayang dia telah meninggal dunia"
"Maaf jika perkataan saya menyinggung Bapak"
"Tak apa, itu sudah lama sekali. Bagaimana dengan kamu Kania?"
"Saya mah belum punya suami Pak lagian saya masih mahasiswa"
__ADS_1
"Bukan itu maksud saya, apakah kamu tinggal dengan keluarga kamu?"
"Awalnya sih iya Pak, cuma karena saya kuliah di luar negeri jadi saya harus mandiri dan tinggal jauh dari orang tua"
"Baguslah, pasti senang sekali ya jika berkumpul bersama keluarga tercinta"
"Iya dong Pak, apa Bapak gak punya saudara sama sekali?"
"Punya, satu adik perempuan. Namun dia telah meninggal bersama orang tua saya dan anggota keluarga yang lain akibat kebakaran yang dilakukan pasukan istana karena kami dituduh sebagai komplotan pemberontak yang menggulingkan kekuasaan raja"
"Serius Pak? Tapi keluarga Bapak gak melakukan itu kan?"
"Ntahlah, saat itu saya masih sangat kecil untuk mengetahui hal-hal semacam itu namun saya yakin keluarga saya tak melakukan hal yang merugikan kerajaan"
"Saat rumah kami dibakar, saya tak tau harus berbuat apa. Adik saya juga, dia terlihat sangat ketakutan saat kebakaran itu terjadi. Saya hanya bisa memeluknya erat dan membawanya keluar dari rumah itu. Sampai akhirnya, dia meninggal karena menghirup asap yang terlalu banyak. Hanya saya saja yang selamat setelah ditolong oleh warga," jelas pak Louis secara rinci.
"Ya ampun, maafkan saya lagi Pak karena saya telah mengingatkan Bapak pada kejadian yang begitu menyakitkan itu"
"Sudahlah, memang itu kenyataannya. Masa lalu yang pahit memang ingin dilupakan namun tanpanya tak ada masa depan yang seperti sekarang ini. Karena masa lalu bagaikan tolak ukur bagi kehidupan di masa depan"
"Iya ya Pak, kita cenderung ingin melupakan masa lalu yang pahit. Padahal, semakin kita ingin melupakannya, semakin sering memori masa lalu itu berputar di otak kita"
"Putri Camilla? Oh iya Pak, sebenarnya apa fungsi saya di sini dan apa hubungan saya dengan putri Camilla itu?"
"Untuk sekarang, saya belum bisa memberitahukan untuk apa kamu berada di sini. Yang pasti, kamu mirip sekali dengan putri Camilla," ucap pak Louis lagi sebelum akhirnya meninggalkan taman.
"Putri Camilla. Putri Camilla terus, kenapa sih aku selalu dihubungkan dengan putri Camilla itu," ucapku dengan kesal.
"Kania, kamu sirami tanaman yang ada di sini," ucap salah satu pengurus kastil.
"Iya Bu. Oh iya, saya mau tau boleh kan Bu?"
"Iya, mau tanya apa?" balas Ibu itu ramah.
"Ibu udah lama kerja di sini kan? Pak Louis itu gak punya anak ya? tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Iya, Tuan Louis tidak memiliki anak, sehingga mengangkat Revan sebagai anak asuhnya," jelas ibu itu.
"Revan sebagai anak asuh? Tapi mereka tak terlihat seperti itu, mereka terlihat seperti orang asing"
"Iya, awalnya mereka sangat akrab selayaknya ayah dan anak. Semakin tuan muda Revan dewasa, ia lebih pintar menempatkan situasi dimana ia bisa memanggil Tuan ataupun Ayah pada Tuan Louis," papar Ibu yang bernama Dina itu.
"Ohh...begitu, makasih ya Bu atas informasinya"
"Iya sama-sama, memangnya kenapa kamu bertanya soal itu?"
"Tak apa, saya hanya penasaran saja apa hubungan Pak Louis dan Revan karena Revan selalu mematuhi perkataan Pak Louis"
"Ya, seperti itulah hubungan mereka. Cepat kamu sirami semua tanaman itu," perintah Bu Dina.
Langit gelap menampakkan dirinya. Menghadirkan awan hitam pertandakan hujan akan segera datang. Di dalam kastil yang luas dan sunyi, hujan di malam hari cukup membuat suasana terasa mencekam.
"Mumpung sepi, mending jalan-jalan keliling kastil ah, siapa tau ada ruangan yang unik dan beda," pikirku sambil berjalan menyusuri kastil yang memiliki banyak ruangan tersebut.
"Wahh..pintunya sedikit terbuka. Masuk sebentar sambil lihat-lihat gak apa kali ya," ucapku lagi sambil melihat sekitar.
"Ada sebuah peti, kira-kira isinya apaan ya," gumamku memasuki ruangan tersebut sambil berusaha membuka peti itu.
"Yahh ... dikunci, gak seru ih. Sebaiknya aku keluar aja deh sebelum ada yang melihat aku berkeliaran di sini," kataku lagi dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Kania, ngapain kamu di sini?" tanya Pak Louis yang tampaknya begitu terkejut melihatku.
"Gak apa-apa kok Pak, saya tadi mengecek setiap ruangan yang ada di sini. Kebetulan melihat ada ruangan yang pintunya terbuka, saya bermaksud untuk menguncinya kembali," balasku tidak jujur.
"Yang benar? Kamu tidak masuk ke dalam kan?" curiga pak Louis.
"Gak dong Pak, mana berani saya melakukan itu," jawabku yang menunjukkan wajah yakin.
"Ok, saya percaya kamu. Lain kali, hiraukan saja jika pintu ruangan ini terbuka karena ruangan ini milik saya. Jangan coba-coba untuk masuk karena di dalam ada barang-barang pribadi punya saya," tegas Pak Louis.
"Baik pak, lain kali saya akan menghiraukannya. Saya permisi dulu," ucapku dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Ruangan itu sangat misterius. Isinya juga ada peti, buku-buku kuno dan semacam benda pusaka. Sebenarnya apa fungsi semua benda yang ada di sana untuk pak Louis," pikirku dengan penuh tanda tanya.
Pak Louis mencurigakan juga ya