Another World

Another World
Episode 39 (End)


__ADS_3

"Takdir mempunyai caranya sendiri untuk mempertemukan setiap insan yang memiliki ikatan meski dengan cara yang tak terduga"



"Semuanya berkumpul, saya akan segera membawa kalian pulang ke Belanda," ucap raja Pierre.


"Iya yang mulia," balas kami kompak menuruti perkataan raja Pierre.


"Alvi, tolong jaga Kania selama ada di sana. Karena Kania adalah anak saya juga," ucap raja Carey.


"Baik yang mulia, saya berjanji untuk menjaga Kania dan tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah diberi oleh yang mulia Carey," balasku.


"Iya, saya percaya. Dan Kania, kamu boleh datang kesini di lain waktu, Radith dan Yuna juga boleh tentunya," tambah raja Carey lagi.


"Terima kasih yang mulia," sopan Radith, Kania dan Yuna.


"Yup, portal waktu akan segera dibuka. Kalian bersiap-siap karena akan ada sedikit guncangan," jelas raja Pierre lagi.


Benar saja, portal waktu akan segera terbuka. Sebentar lagi, Kania akan menjalani kehidupan seperti biasanya tanpa pernah merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya dan juga lingkungan di sekitarnya.


"Kak, jaga diri baik-baik. Sekali lagi, aku minta maaf atas semua kesalahan yang kuperbuat," ucap Revan tiba-tiba.


"Gak perlu minta maaf, kakak tak pernah membenci kamu. Sekarang, impian terbesar kamu telah terwujud, lakukan tugas dengan sebaik mungkin dan kakak percayakan Skandinavia padamu Revan," ucapku mengingatkan sebelum kami memasuki portal waktu.


Tak butuh waktu lama, portal waktu kembali terbuka.


"Urghhh..kepalaku sedikit pusing," keluh Kania.


"Itu karena efek dari guncangan saat menuju kesini," jelasku.


"Ohh...iya, kita udah sampai. Yeayyyy....aku seneng banget," girang Kania lagi.


"Katanya pusing, sekarang udah girang aja. Gimana sih lo Kan," ucap Radith kesal.


"Pusingnya udah ilang karena akhirnya aku bisa pulang ke rumah. Udah kangen banget sama Belanda, jadi pengen ke taman tulip deh," ucap Kania lagi.


"Taman tulip, taman tulip, kita baru aja sampe. Sebaiknya istirahat dulu baru ke taman tulip," seru Yuna.


"Huuhhh...padahal aku pengen kesana sekarang," harap Kania.


"Istirahat dulu Kan, pasti kamu capek kan karena selama ini udah berada di Skandinavia?" tambahku membenarkan perkataan Yuna.


"Hmm...iya deh," balas Kania singkat.


Setelah mencari makan, kami pun kembali ke apartemen milik Kania dan Yuna.


"Lo gak boleh masuk," larang Radith padaku.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Masih aja nanyak, lo itu cowok masa iya mau nginep di apartemen cewek. Cari tempat tidur lo sendiri aja saja, nginap di hotel atau dimana kek," ketus Radith lagi.


"Kamu kok gitu sih Dith, biarin aja Vino nginep di sini untuk malam ini. Lagian aku percaya kok kalo dia gak bakal ngapa-ngapain," ucap Kania.

__ADS_1


"Enak aja, gak boleh! Lo cari tempat untuk tidur, terserah mau dimana," seru Radith lagi.


"Yaudah, kalo Vino gak boleh nginap di sini, kamu juga gak boleh," larang Kania pada Radith.


"Lohh...kenapa gak boleh?" tanya Radith.


"Iya, kamu kan juga cowok. Jadi, kamu gak boleh nginap di apartemen milik cewek," balas Kania lagi.


"Beda dong, gue kan sepupu lo. Jadi gue boleh untuk nginap di sini," tegas Radith.


"Apa bedanya? Kamu kan juga cowok. Emang gak salah sih karena kamu sepupu aku, jadi kamu boleh nginap di sini. Cuma, kamu kan bukan hanya sebagai sepupuku aja, tapi sebagai pacarnya Yuna, takutnya kamu bakal apa-apain Yuna," jelas Kania lagi.


"Tenang aja deh, gue gak bakal apa-apain Yuna kok," yakin Radith.


"Dari tadi ribut mulu, sebaiknya kalian berdua cari tempat nginap aja deh," ucap Yuna membuka suara.


"Serius kamu yang? Tega banget biarin aku bareng si Vino ini?" ucap Radith tak terima.


"Iya, sana pergi sebelum kalian gak dapat tempat penginapan. Hushhh...hushh...," ucap Yuna mengusir kami dan langsung menutup pintu.


Akhirnya, kami pun pergi mencari tempat penginapan sementara. Awalnya, aku ingin membangun rumah dengan menggunakan sihir, namun Radith menolak. Karena tak memiliki uang yang cukup, kami memesan tempat penginapan yang cukup sederhana.


"Sebenernya gue males banget sekamar sama lo," ucap Radith tiba-tiba.


"Kenapa sih kamu selalu sentimen sama aku Dith?" tanyaku penasaran.


"Itu karena lo selalu bawa masalah bagi Kania. Gak tega gue liat dia yang tinggal jauh dari orang tua gini ditambah ada berbagai masalah yang aneh dan gak masuk akal. Kesel banget gue jadinya," jelas Radith.


"Maaf kalo aku selalu menyeret Kania dalam berbagai masalah. Cuma, ini memang takdirnya Kania. Jika tidak ada masalah ini, kita tak akan mengetahui identitas Kania yang sebenarnya. Bisa jadi, Kania akan mengalami masalah yang lebih parah dari ini," terangku pada Radith.


Rencananya, hari ini kami akan pergi jalan-jalan ke berbagai tempat wisata yang ada di Belanda ini.


"Akhirnya, bisa juga aku datang ke taman tulip," girang Kania.


"Bosen banget, mending ke tempat yang memicu adrenalin," ucap Radith tak setuju.


"Yee...mending kamu aja yang pergi ke tempat yang memicu adrenalin. Kalo bisa, kamu terjun tuh dari tebing tanpa pake pengaman apapun, itu baru memacu adrenalin," balas Kania lagi.


"Mati dong gue," singkat Radith.


"Iya, biarin aja lo mati," balas Kania kesal.


"Yang, kamu nemenin aku atau Kania?" tanya Radith pada Yuna.


"Meskipun bosen, tapi aku lebih milih nemenin Kania," balas Yuna santai.


"Tega banget sih kamu yang. Jarang-jarang loh aku datang ke Belanda, ditambah lagi kemaren aku belum sempat melihat-lihat indahnya kota Belanda yang banyak kincir anginnya itu. Temenin aku jalan-jalan dong," rengek Radith.


"Iya Na, mendingan kamu temenin Radith jalan-jalan deh. Kasian dia udah datang jauh-jauh kesini," timpal Kania.


"Yaudah deh, kalian baik-baik ya. Vin, jagain Kania," pesan Yuna.


"Siap," balasku singkat.

__ADS_1


Warna-warni yang sangat memanjakan mata membuat bunga tulip ini tampak begitu mempesona. Kilauan cahaya mentari memberi kehangatan dan menambah keindahan, membuat semua tak ingin berpaling darinya.


"Gimana, cantik kan bunga tulipnya?" tanya Kania.


"Iya cantik. Kenapa sih kamu suka banget sama bunga tulip?" tanyaku penasaran.


"Kenapa? Mungkin karena saat itu ada seseorang yang memberi aku setangkai bunga tulip," terang Kania.


"Seseorang? Orang yang sangat spesial kah?" tanyaku lagi.


"Mungkin, tapi aku tak pernah bertemu lagi dengannya," lesu Kania.


"Memang saat kapan orang itu memberi kamu bunga tulip?" tanyaku lagi.


"Saat aku berumur 8 tahun, waktu itu aku pergi ke taman bermain sama oatangtuaku. Waktu itu, tanpa sengaja aku terpisah dari mama hingga aku tersesat, tiba-tiba ada kakak laki-laki yang datang ntah darimana memberi aku setangkai bunga tulip dan menghiburku agar tak sedih lagi. Tak hanya itu saja, dia juga membantu mencari orang tuaku. Sejak saat itu, aku suka sekali dengan bunga tulip," jelas Kania dengan detail.


"Taman bermain? Dulu aku pernah menggunakan portal waktu dan tak sengaja datang ke sebuah taman bermain. Cerita yang kamu bilang tadi, persis seperti yang aku alami saat itu," terangku tak percaya.


"Jangan bilang kalo kakak laki-laki itu kamu?" pikir Kania.


"Ntahlah, bisa iya bisa juga hanya kebetulan karena kejadiannya sama," balasku lagi.


"Tapi aku penasaran, apa bener kamu orang yang ngasi aku bunga tulip itu atau bukan. Kita kesana yuk," ajak Kania.


"Oke, kita ke taman bermain itu. Nama taman bermainnya apa?" tanyaku.


"Wonderland yang ada di Bogor," singkat Kania.


Langsung saja aku membuka portal waktu dan menuju tempat yang bernama Wonderland itu.


"Ayo ikut, waktu itu aku tersesat di taman bunga dan aku menangis di bawah pohon mangga," jelas Kania menarik tanganku.


"Di sini, tempat ini gak banyak berubah. Kamu apa pernah kesini dan ngasi setangkai bunga tulip pada gadis kecil yang sedang menangis?" tanya Kania lagi.


Seketika, aku terbelalak mendengar semua perkataan Kania. Yang lebih mengejutkan lagi, tenyata aku sudah pernah bertemu dengan Kania sebelumnya.


"Vin, kamu kenapa bengong? Bener gak kamu datang ke taman bermain ini?" tanya Kania lagi.


"Iya, dulu aku pernah bertemu dengan gadis kecil di sini. Saat itu, aku pergi bertugas dan diberi setangkai bunga oleh sekarang kakek yang tak kukenal. Bunga itu juga aku tak tau apa namanya, dan saat ingin kembali ke Skandinavia, aku tersesat dan sampai ke taman ini. Lalu aku bertemu dengan kamu yang tengah menangis," jelasku dengan detail.


"Aku sangat berterimakasih dengan orang itu sehingga aku terus mencari dia ingin mengucapkan terimakasih. Ternyata, kamu adalah orangnya, orang yang sangat dekat denganku," ucap Kania tak percaya.


"Ya, mungkin ini sebuah takdir. Karena sejak awal, aku selalu dipertemukan dengan kamu baik sebagai Putri Camilla atau sebagai Kania, bahkan sebelum ini pun kita pernah bertemu. Mungkin kesalahan portal waktu saat itu juga adalah sebuah takdir," ucapku lagi.


"Iya, aku sangat senang setelah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang selama ini aku cari," seru Kania lagi dan langsung memelukku.


"Aku lebih senang lagi karena bisa selalu berada di samping kamu," terangku.


"Terima kasih Vin, saat kamu pulang ke Skandinavia untuk menjalankan tugas, aku boleh ikut kesana untuk bertemu raja Carey, Pierre, Revan juga kak Ares?" tanya Kania.


"Tentu saja, karena kamu orang yang spesial bagi Skandinavia juga aku," ucapku lagi membalas pelukan Kania.


Siapa sangka jika aku dan Kania memiliki sebuah ikatan sejak lama.

__ADS_1


Yeayyyy....akhirnya tamat juga 🤩🤩


__ADS_2