
"Seperti kata pepatah, jangan pernah menilai suatu buku dari sampulnya"
***
Sekarang aku tau gimana capeknya para asisten rumah tangga yang bekerja. Bisa dibilang, aku bagian dari asisten rumah tangga yang ada di kastil yang tak kuketahui namanya ini. Rasa capek yang kurasakan berkali-kali lipat karena kastil ini begitu besar dan luas.
"Cocok juga kamu untuk pekerjaan ini," ejek Revan.
"Memang," balasku acuh tak acuh.
"Aku penasaran, gimana ya keadaan kak Alvi di negeri kincir angin, Belanda," pikir Revan.
"Mana kutahu," balasku dengan cuek.
"Atau mungkin dia sudah mati," ucap Revan lagi.
"Aku yakin dia gak bakal mati," balasku yang sedikit kesal atas perkataan Revan.
"Kenapa kamu sebegitu yakinnya? Apa kamu berharap dia bakal jadi pahlawan yang nyelamatin kamu seperti di film-film itu?"
"Mungkin dia bukan pahlawan yang bakal nyelamatin tuan putri seperti cerita dongeng klasik. Tapi aku yakin, dia akan bertahan demi menghajar adik yang modelannya kaya kamu," tegasku pada Revan.
"Jika memang begitu, aku pasti menunggu kedatangannya. Tapi aku tak yakin dia bisa sampai di sini atau tidak," balas Revan dengan songongnya.
"Terserah, tapi aku yakin pada Vino," balasku dan berlalu menuju halaman belakang kastil.
Aku yakin Vino akan datang untuk membasmi Revan. Meskipun bukan tokoh utama, tapi kebaikan tak pernah kalah atas kejahatan.
Sekarang aku sudah tak berada di ruang tahanan yang berada di bawah tanah. Setidaknya, aku merasakan sedikit kebebasan meskipun aku tak yakin ini disebut kebebasan atau bukan. Karena aku tak diizinkan untuk pergi kemanapun. Jangankan pergi, berpikir untuk meninggalkan kastil ini saja tak boleh karena setiap sudut kastil dipasangi sihir oleh Revan agar aku tak bisa melewatinya.
"Aku baru tahu kalo sihir yang ada di Skandinavia ini hanyalah sihir yang bersifat ringan bukan sihir berat seperti di film Herny Pitter," gumamku sambil menyapu halaman samping.
"Waduhh....siapa tuh yang masuk kesini. Aku gak pernah liat dia sebelumnya. Mana pakaiannya hitam semua lagi. Apa orang jahat ya," pikirku sembari menuju gerbang utama.
__ADS_1
"Orang jahat, kamu pergi dari sini. Tak ada barang berharga di kastil yang suram begini, lebih baik kamu pergi sekarang sebelum pemilik rumah yang sok kejam dan super duper nyebelin itu datang," cerocosku sambil memukulinya dengan sapu.
"Anda tak memiliki hak untuk melakukan ini terhadap saya," katanya dengan formal lalu mendorongku hingga jatuh.
"Awww...," ringisku sebelum kembali berdiri.
"Jangan mentang-mentang anda laki-laki saya gak berani. Gini-gini, saya pernah belajar karate," ucapku dengan sok formal sembari melakukan ancang-ancang untuk menendangnya.
"Anda tidak bisa mengalahkan saya jika kemampuan anda sangat payah begini," balasnya lagi yang berhasil mengelak dari tendanganku.
"Jika itu tidak berhasil, bagaimana dengan ini?" ucapku lagi sembari melempar sebuah pot bunga pada orang asing tersebut.
Bugh!
Aku tau aku telah melakukan hal yang salah, meskipun orang itu adalah orang jahat sekalipun, aku tak berhak melemparnya dengan sebuah pot bunga apalagi mengenai wajahnya. Terlihat wajahnya tampak begitu kesal. Sepertinya, hidupku sampai di sini saja.
"Tuan besar Alexander Louis," ucap Revan yang terlihat tergesa-gesa.
"Maaf, ini Kania yang saya sebut waktu itu," tambahnya lagi.
"Bodoh. Kamu tau dia siapa?" kesal Revan.
"Gak tau, aku kita dia orang jahat," balasku sembari mengangkat kedua bahu.
"Dia pemilik kastil ini," tegasnya lagi.
"Waduhh...bisa mati aku," cemasku setelah mengetahui bahwa orang asing itu pemilik kastil di sini.
"Setelah mengurus tuan Louis, aku akan kembali lagi. Jangan kemana-mana," tegas Revan berlalu memasuki kastil.
Aku pernah bilang bahwa lebih baik mati di sini daripada harus mendekam selamanya tanpa bisa pulang. Tapi aku tak menyangka bahwa kematian ku akan berada di tangan orang lain, bukan melalui kehendakku sendiri.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus terima resiko nya Kania," semangatku dalam hati.
"Tapi tadi keterlaluan banget, udah ngira dia orang jahat, mukulin pake sapu, bilang bahwa pemilik kastilnya sok kejam dan nyebelin padahal itu untuk Revan bukan orang yang bernama Louis itu karena kukira Revanlah pemiliknya. Ditambah lagi ngelempar dia pake pot bunga dan tepat mengenai wajahnya. Udah gak bisa dimaafin lagi. Huaaaa....," sedihku mengingat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kania, kamu dipanggil tuan muda Revan ke ruang tengah," ucap salah satu asisten rumah tangga.
"Baik, aku segera kesana," turutku menuju ruangan tengah.
Selama perjalanan menuju ruang tengah tersebut, aku merasa gugup dan juga takut. Revan pasti menghukumku atas apa yang telah ku perbuat pada pemilik kastil itu. Mungkin saja aku langsung dipenggal mati atas perbuatan tersebut.
"Lambat, cepat kemari," perintah Revan.
"Iya, ada apa ya?" balasku dengan gugup.
"Kamu tau akan apa kesalahan yang telah kamu perbuatan"
"Iya aku tau," ucapku tanpa melihat wajah Revan ataupun Alexander Louis itu.
"Tegakkan kepala kamu, lihat orang yang sedang berbicara denganmu," tegas Revan lagi.
"Iya. Maaf pak, tuan, yang mulia, saya benar-benar gak tau jika bapak adalah pemilik dari kastil ini. Saya yang salah, mohon maafkan saya atas apa yang telah saya lakukan. Jika bapak ingin menghukum, saya akan terima tapi tolong jangan memenggal saya," ucapku spontan pada Alexander Louis.
"Siapa yang mau memenggal?" heran Alexander Louis.
"Lohh...bukannya Revan panggil saya kesini untuk menghukum saya karena telah berlaku tidak sopan pada bapak. Apalagi jika bukan memenggal, itu kan perbuatan yang sangat tidak sopan dan merendahkan bapak," jelasku.
"Ya, saya akui itu memang perbuatan yang tidak sopan. Tapi saya maafkan kamu karena tidak mengetahui siapa saya. Ditambah lagi, Revan tak memberitahu kamu sebelumnya kan?" balas orang itu dengan ramah.
"Iya, Revan memang tak memberitahu saya. Jika tidak memenggal, bapak akan menghukum saya dengan apa?" tanyaku lagi.
"Tak ada yang dihukum, untuk kali ini saya maafkan kamu. Tapi lain kali jangan berharap lebih. Dan satu hal lagi, kamu jangan merasa takut berada di sini karena keberadaanmu bukan untuk hal yang jahat," jelas Alexander Louis tersebut.
"I...iya, terima kasih pak," jawabku agak gugup.
"Sebaiknya kamu kembali melanjutkan pekerjaan kamu," ucap Revan lagi.
"Iya, saya permisi dulu pak," ucapku sopan sebelum kembali ke dapur.
"Tujuanku berada di sini bukan untuk hal jahat. Apa maksud tuan Alexander Louis itu ya? Memangnya tujuanku disandera di sini untuk apa?" pikirku dalam hati.
__ADS_1
Jangan siders dong guys 😢