Another World

Another World
Episode 8


__ADS_3

"Saat kau merasa lelah, istirahatkan dirimu sejenak. Nikmati hidup dan bersenang-senanglah"


 ***


Selama ini aku sudah mencari Revan dan Bu Mega dimanapun aku berada. Namun hasilnya nihil, dan aku pun menyadari bahwa mereka hanyalah tokoh imajinasi yang tecipta di alam bawah sadarku untuk menemani disaat aku kesepian.


"Ayo move on Kania, gak usah ingat-ingat kota Petra, Revan atau Bu Mega. Sekarang saatnya melupakan itu semua," batinku dengan semangat.


"Bengong mulu, nanti kesambet loh," ucap Radith sambil menjitak kepalaku.


"Siapa juga yang bengong," ledekku.


"Oh iya, ini gue titip oleh-oleh buat Yuna," kata Radith lagi sambil menyodorkan sekantung tas yang lumayan besar.


"Wihh..banyak juga, kamu sengaja ngasi ini semua supaya Yuna gak niat buat mutusin kamu kan?".


"Enak aja, Yuna tuh orangnya setia gak mungkin dia putusin gue," tambahnya lagi dengan pede.


"Siapa tau aja Yuna berubah pikiran, kan di sana banyak bule-bule ganteng yang lebih keren dari kamu".


"Au ah, lo buat gue pesimis dan kepikiran".


Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Belanda dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.


"Kania, itu pesawat kamu kan?" tanya Mama.


"Iya Ma, kalo gitu Kania berangkat ya," ucapku sembari mencium punggung tangan Mama.


"Kamu di sana hati-hati dan belajar dengan rajin," nasihat Mama.


"Siap Ma. Pa, Kania pergi dulu ya," kataku pada Papa.


"Yaudah sana pergi, jangan kecewakan Papa dan Mama kamu harus giat belajar di sana," tambah Papa lagi.


"Iya Pa, Kania sayang banget sama Mama dan Papa," balasku sembari memeluk kedua orang tuaku.


"Husshh...sana pergi, nanti lo ketinggalan pesawat lagi," ucap Radith sambil mengibaskan tangannya.


"Huuhhhhhh," kesalku dan berlalu pergi.


Kurang lebih 14 jam menempuh perjalanan dari Jakarta, akhirnya aku tiba juga di Belanda.

__ADS_1


"Kaniaaaaaa.....akhirnya lo datang juga, gue udah kangen berat," ucap Yuna setengah berlari dan langsung memelukku.


"Aku juga kangen banget sama kamu Na".


"Lo tau gak, gue khawatir banget ngeliat lo ketabrak kemaren itu. Gue gak bisa ngapa-ngapain karena gak ada lo, gue jadi kesepian," cerocos Yuna.


"Kok kesepian sih, kan ada Radith yang bisa nemenin kamu".


"Iya sih, cuma tetap aja gak seru karena gak ada lo".


"Iya deh, oh iya si Radith ada nitipin oleh-oleh loh, terutama dodol dan bir pletok instan".


"Kesukaan gue, kita pulang sekarang yuk. Gue udah gak sabar buat nyobain dodol dan bir pletoknya".


"Semangat bener, ucapin makasih gih ke Radith".


"Pasti itu mah, nanti gue telpon dia," balas Yuna girang.


Benar saja, sesaat setelah menikmati dodol dan minum bir pletok, Yuna langsung menelpon bahkan melakukan panggilan video Dengan Radith. Aku seperti nyamuk di antara mereka berdua, dan itu membuatku sedikit kesal hingga kuputuskan untuk beristirahat sejenak.


"Besok weekend, cocok nih buat jalan-jalan sebentar sebelum kembali masuk kuliah," bantinku.


"Argghhh....kenapa sih keinget terus sama kota Petra terutama Revan. Ayo move on Kania jangan ingat-ingat tempat yang hanya imajinasi itu," kesalku lagi sambil menepuk-nepuk pipi.


"Kaniaaaaaa bangun, udah pagi," teriak Yuna.


"Masih jam berapa sih ini, lagian kenapa teriak-teriak gitu sih?".


"Biar lo langsung bangun, yuk kita jogging mumpung cuacanya cerah".


"Hmm...iya iya," balasku dengan malas.


"Nah kan, apa gue bilang cuacanya bangus banget buat jogging pagi".


"Iya, nanti jalan-jalan yuk sebelum besok aku mulai masuk kuliah".


"Yaudah, ke teman tulip mau?".


"Emang udah bermerkaran?".


"Udah dong, pasti lo seneng banget ngeliatnya".

__ADS_1


"Iya iya, ayo kita kesana," kataku semangat dan tanpa sadar menarik tangan Yuna.


"Gak sekarang juga buk, siangan aja kita perginya".


"Hmm...yaudah deh," balasku lesu.


Tak hanya disebut sebagai negeri kincir angin, Belanda juga dikenal sebagai negeri bunga tulip. Yang pasti tulip bukanlah tanaman asli dari Belanda melainkan tulip berasal dari Asia Tengah yang tumbuh liar di kawasan pengunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush dan stepa di Kazakhstan.


"Wahh...cantiknya, pas banget aku datang kesini disaat bunga tulipnya bermekaran," ucapku dengan girang.


"Iya dong, pokoknya jangan pernah buat gue atau keluarga lo khawatir sama keadaan lo, kejadian kemarin gak boleh terulang lagi. Awas aja!" tegas Yuna.


"Iya Na, aku janji kejadian kemaren gak akan terulang lagi".


"Mumpung udah sampe sini, kita harus selfie," tambah Yuna dengan semangat.


"Gue laper nih, yuk kita makan sambil ngopi-ngopi cantik," ucap Yuna tiba-tiba.


"Hmm..boleh deh, sekalian sepedaan juga ya".


"Iya bener-bener, seru banget pasti sepedaan saat bunga tulip bermekaran gini, di tambah lagi sambil ngopi, udahlah mantul banget!" girang Yuna lagi.


Bersepeda sambil menikmati pemandangan bunga tulip yang bermekaran disertai udara yang sejuk, merupakan suatu hal yang paling menyenangkan apalagi saat dilakukan bersama seorang sahabat.


"Gue baru ingat nih, sekarang lo jadi juniornya gue dong".


"Junior apaan?".


"Iya lah, gue sekarang udah semester 3 sedangkan lo masih semester 2, otomatis gue sekarang jadi senior lo dong".


"Itu juga kan karena aku kemaren koma, kalo gak aku bakal sama kaya kamu Na".


"Tetap aja lo jadi junior gue, kalo ada apa-apa jangan sungkan nanya ke kakak ya dek," kata Yuna dengan wajah yang bikin kesal.


"Gak, palingan kamu yang nanya ke aku".


"Gue males sih ngakuinnnya tapi emang iya sih lo lebih pinter dari gue," kata Yuna lagi dengan malas.


Oke, hari ini aku sudah puas bersenang-senang di hari pertamaku kembali ke Belanda setelah koma akibat kecelakaan. Besok, aku akan memulai hidup baru dan semoga hal-hal baik selalu datang menghampiriku.


Harapan Kania, dia ingin hidup tenang tanpa ada hal aneh seperti terjebak di kota Petra. Akankah harapannya itu terwujud?

__ADS_1


Jangan jadi siders ya guys 😅 Tinggalkan jejak kalian juga, karena setiap dukungan kalian menjadi penyemangat bagiku.


Terima kasih ☺️😊


__ADS_2