Another World

Another World
Episode 20


__ADS_3

"Setiap orang pasti memiliki sedikit kebaikan dalam hatinya, meskipun hanya sebesar butiran pasir"


 ***


"Jadi sekarang, lo udah tau dimana lokasi Kania berada?" tanya Radith.


"Iya, tapi kita harus nunggu dua hari lagi," balasku.


"Kenapa harus nunggu dua hari lagi?"


"Karena aku belum pulih total. Kalo dalam dua hari ke depan aku belum juga sembuh, aku akan memaksakan diri, semoga kekuatanku pulih tepat waktu"


"Manja banget sih, lo udah 10 hari kan terbaring di rumah sakit. Seharusnya, sekarang lo udah sembuh total," ketus Radith.


"Jangan gitu dong Yang, wajar aja kalo Vino belum sembuh total, dia itu tertimpa reruntuhan rumah tau gak. Bisa bayangin gak sih sakitnya itu gimana ditambah lagi tulangnya pada patah, aku sih gak bisa bayangin," bela Yuna.


"Kamu kok belain si Vino ini terus sih Na," kesal Radith lagi.


"Bukan belain, emang itu kenyataannya. Lagian kita harus seneng kan karena lokasi Kania udah diketahui, tinggal nunggu dua hari lagi apa salahnya sih," seru Yuna yang tampak kesal.


"Hah...iya deh iya. Semoga lo sembuh total biar kita bisa pergi nyelamatin Kania," seru Radith lagi.


Tanpa terasa, dua hari telah berlalu dengan begitu cepat.


"Oke, yuk sekarang kita pergi ke Skandinavia," ajak Radith.


"Sabar dong Yang, makan dulu sebelum pergi. Semangat banget mau nyelamatin Kania, di sana kita belum tau berhadapan dengan apa," ucap Yuna.


"Iya sih, cuma kan kita harus bergegas," semangat Radith.


"Bener kata Yuna Dith sebaiknya makan aja dulu. Di sana belum tentu kita bisa makan," tambahku membenarkan kata Yuna.


"Oke deh," balas Radith sambil menyantap makanannya.


"Semuanya harus berada di dalam lingkaran, kita akan segera membuka portal waktu dengan koordinat lokasi yang diberi oleh Revan. Semoga kekuatanku cukup untuk membawa kita ke Skandinavia," seruku pada Yuna dan Radith.


Tak butuh waktu lama, portal waktu menuju Skandinavia telah terbuka. Kali ini, portal waktu terbuka tepat di dalam lingkaran dimana kami berada. Secara tak langsung, kami sudah memasuki portal waktu tersebut.


Patts!!


"Hahh...hah....hahh...kita udah sampai di Skandinavia," ucapku terengah-engah.


"Kamu gak papa Vin?" tanya Yuna.


"Gak papa, untung kekuatanku cukup untuk membawa kita kemari," ucapku lagi.


"Yaudah, sekarang dimana Kania berada?" tanya Radith.

__ADS_1


"Mungkin mereka telah pergi dari titik lokasi ini. Coba kita susuri jalanan di sini, sepertinya mereka belum jauh"


"Oke, kamu bisa jalan kan Vin?" tanya Yuna khawatir.


"Iya, bisa kok bisa," balasku singkat.


Berjalan tanpa tau arah tujuan, itulah yang sedang kulakukan.


"Kita udah berjalan selama setengah jam, dimana Kania berada?" tanya Radith.


"Ntahlah, lebih baik kita istirahat dulu. Di gua itu mungkin bisa," balasku menunjuk salah satu gua.


"Gak ada tempat lain yang lebih bagus, masa harus gua sih," ketus Radith.


"Ngeluh terus ya Yang, gua tempat yang bagus untuk bersembunyi tau. Lihat, keadaan di sini tuh kacau dan gak ada siapapun yang terlihat. Beruntung kita tak ditemukan oleh orang jahat," ucap Yuna.


Gua itu terletak cukup tersembunyi dan dikelilingi banyak pohon juga rerumputan. Paling cocok sebagai tempat persembunyian.


"Lohh...kok gue merasa di sini kaya ada pelindung ya," seru Yuna heran.


"Iya, di sini ada pelindung. Sepertinya mereka ada di dalam," ucapku membenarkan.


"Gimana lo bisa seyakin itu?" ragu Radith.


"Iya, Revan sering banget menggunakan sihir pelindung kaya gini," balasku pada Radith.


"Serius udah bisa masuk? Lo cuma menjentikkan jari dan sekarang pelindungnya udah terbuka?" tanya Radith tak percaya.


"Iya," balasku singkat"


Dulu, Revan paling sering membuat sihir pelindung terutama di kamarnya. Karena dia tak mau kalo aku mengganggunya apalagi sampai masuk ke kamarnya. Katanya, kamarnya adalah hal paling pribadi yang orang lain tak boleh tau.


"Revan, kamu ada di dalam kan? Ini aku Alvi," teriakku memenuhi seisi gua.


"Kania, kamu ada di sini?" teriak Radith juga sambil menyusuri gua.


"Kak Alvi, aku dan Kania ada di sini," teriak seseorang.


Aku, Yuna dan Radith langsung bergegas menuju sumber suara.


"Revan, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku heran.


"Nanti aja aku jelasin kak," jawab Revan.


"Oh iya, Kania mana?" tanya Radith tiba-tiba.


"Haii...semua," sapa Kania yang terlihat sangat lemas.

__ADS_1


"Kania, kamu gak papa kan?" panik Yuna dan Radith secara bersamaan.


"Aku gak papa jika kalian gak mengobrak-abrik tubuhku," balas Kania.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Kania heran pada Yuna dan Radith.


"Iyalah, kita berdua gak mungkin berdiam diri. Kita mau nolongin lo lah," terang Yuna.


"Iya Kan, kalo sampek orangtua lo tau akan hal ini, bisa-bisa gue juga yang kena omel," cetus Radith.


"Makanya, jangan sampe Papa sama Mama tau," balas Kania.


"Ya makanya itu gue harus datang nemuin lo langsung, dan Yuna juga khawatir sama lo,", tambah Radith lagi.


"Revan, kamu yakin tempat ini aman?" tanyaku pada Revan.


"Iya kak, aku yakin tempat ini aman. Aku juga sudah memasang sihir pelindung di sekitar gua"


"Ciri khas kamu banget ya Van, mudah ditebak," seruku disertai dengan tawa.


"Sekarang, bukan waktunya untuk bernostalgia kak," sanggah Revan.


"Iya iya. Tapi aku mau tanya satu hal. Kamu berada di pihakku?"


"Awalnya sih enggak, cuma sekarang aku akan berada di pihak kak Alvi dan berusaha memperbaiki apa yang telah ku perbuat"


"Apapun masalah yang terjadi sekarang ini, kamu harus ceritakan padaku dengan detail dan jelas," pintaku pada Revan.


"Iya kak. Kakak bisa tangani Kania gak? Soalnya lukanya terlalu parah, kakak kan paling jago soal obat-obat tradisional," seru Revan.


"Oke, aku akan coba tangani Kania. Kamu istirahat aja Van"


"Iya kak, udah beberapa ini aku gak tidur," ucap Revan sembari merebahkan tubuhnya.


"Kania, kamu bisa lihat aku?"


"Vino, kamu masih hidup? Aku takut banget kalo kamu gak bisa selamat," ucap Kania khawatir.


"Iya, ini juga berkat Yuna yang bawa aku ke rumah sakit," terangku pada Kania.


"Bukan waktunya untuk bicarakan hal itu. Luka kamu ini terlalu parah, aku akan coba tangani dengan beberapa tanaman liar. Radith, Yuna temani Kania sebentar. Aku akan keluar untuk mencari beberapa tanaman liar," ucapku sebelum keluar dari gua.


"Fyuuhh..., lukanya akan segera menutup. Aku yakin kamu akan baik-baik saja," ucapku pada Kania setelah berhasil mengobatinya.


"Iya Vin," balas Kania singkat.


"Lebih baik kamu istirahat," saranku pada Kania.

__ADS_1


"Iya, makasih ya Vin. Aku senang bisa melihat kamu lagi," balas Kania sambil tersenyum.


__ADS_2