
"Tak ada yang namanya musuh abadi karena suatu saat nanti musuh pun dapat menjadi kawan begitupun sebaliknya"
"Apa yang mulia serius?" tanya penasihat raja Mestre.
"Tentu saja serius karena pasukan Manuela bisa saja datang dan menyerang Mestre," seru raja Pierre dengan yakin.
"Saya mewakili yang lain sangat senang mendengar kabar ini dari yang mulia Mestre. Tentu saja raja Carey Mulligan juga senang akan hal ini," balas Ares dengan sopan.
"Iya, saya harap ini awal yang baik bagi kedua belah pihak," ucap raja Pierre lagi.
"Yang mulia gak bercanda kan? Dalam sekejap memutuskan untuk bersekutu dengan Skandinavia. Alasannya apa?" tanya Revan dengan blak-blakan.
"Sebenarnya saya tak pernah memiliki dendam apapun pada Skandinavia. Saya akui bahwa saya iri dengan kejayaan Skandinavia, tapi bukan itu alasan utama saya tidak mau bersekutu dengan kalian. Alasannya adalah Alexander Louis," terang raja Pierre.
"Alexander Louis? Yang mulia kenal dengan dia?" tanya Revan dengan sangat kaget.
"Ya, dulu saya adalah warga Skandinavia dan berteman baik dengan Alexander Louis. Kami belajar sihir dengan guru yang sama demi mengembangkan ilmu sihir yang lebih baik lagi dari sebelumnya agar memudahkan segala pekerjaan manusia. Sampai akhirnya dia telah menyimpang dari tujuan kami yang sebenarnya. Dia telah buta sampai menyakiti guru kami demi mempelajari ilmu sihir telarang, mungkin inilah tujuannya membangkitkan pasukan Manuela," jelas raja Pierre.
"Kenapa sekarang yang mulia berada di Mestre?" tanyaku penasaran.
"Saya ke Mestre karena tak ingin bertemu dengan Alexander Louis lagi. Dan karena hal itu juga saya tak ingin bersekutu dengan Skandinavia karena saya tau ada hal kotor di dalamnya meskipun saat itu belum berpengaruh apa-apa, tapi sekarang Alexander Louis menjadi ancaman. Saya dan Mestre bersedia membantu mengalahkan Alexander Louis dan pasukan Manuela," jelas raja Pierre dengan yakin.
"Terima kasih karena yang mulia dan Mestre mau ikut membantu, tapi pasukan Manuela telah ditangani oleh pasukan elit Skandinavia. Dan Alexander Louis kami telah menemukan cara untuk memusnahkannya," tambahku lagi dengan sopan.
__ADS_1
"Cara mengalahkannya? Bagaimana?" tanya raja Pierre lagi.
"Saya juga tak tau pasti. Tapi secara tak sengaja saya membaca buku yang berisi manusia abadi dan mengalahkannya. Satu-satunya secara adalah menusukkan tanduk naga beracun yang berada di sumur api," jelasku pada raja Pierre.
"Ohhhiya, tanduk naga beracun saya ingat. Jika kalian ingin kesana, prajurit Mestre akan menemani," seru raja Pierre menawarkan bantuan.
"Tak perlu repot-repot yang mulia, kami sudah berhasil mendapatkannya," celetuk Ares lagi.
"Hah...kalian mengambil aset yang paling berharga di Mestre tanpa meminta izin dari saya? Berani sekali kalian!" tegas raja Pierre menunjukkan emosi memuncak.
"Maaf yang mulia, bukan bermaksud untuk lancang. Tapi kami sangat membutuhkan tanduk naga beracun itu sehingga tak terpikir sama sekali untuk meminta izin pada yang mulia. Karena kami tau jika yang mulia tak akan mengizinkan kami melakukan itu," jelasku kada raja Pierre.
"Iya yang mulia, kita sudah bersusah payah datang kesini demi tanduk naga beracun itu, dan sebelum sampai di perbukitan Graham kami dihadang oleh prajurit Mestre," timpal Revan yang membuka suara.
"Maaf yang mulia, sebaiknya tinggal di sini saja. Urusan Alexander Louis akan kita tangani. Kami sangat berterimakasih atas bantuan prajurit untuk melawan pasukan Manuela," seru Ares dengan sopan.
"Saya akan tetap pergi ke Skandinavia, terutama bertemu dengan Alexander Louis. Saya ingin mengetahui apa alasannya melakukan ini," ucap raja Pierre bersikeras.
"Dia berniat untuk membalas dendam atas apa yang keluarganya alami," celetuk Revan.
"Anda sangat mengetahui Alexander Louis, siapa Anda sebenarnya?" tanya raja Pierre penasaran.
"Saya bukan siapa-siapa. Tapi, saya memang diangkat menjadi anaknya Alexander Louis," ungkap Revan dengan jujur.
"Anak? Saya tak yakin jika Alexander Louis berbelas kasih seperti itu," balas raja Pierre ragu.
__ADS_1
"Iya, saya awalnya mengganggap dia tulus mengangkat saya jadi anaknya. Tapi, belakangan saya baru mengetahui bahwa dia telah merencanakan semua ini sejak lama dan saya hanyalah pion yang dapat digunakan secara bebas olehnya," jelas Revan lagi.
"Gak habis pikir saya dengan Alexander Louis. Jangan berlama-lama lagi, kita berangkat sekarang," ajak raja Pierre.
"Baik," ucap kami bertiga dengan serentak.
Sangat tak disangka bahwa raja Pierre dari kerajaan Mestre dengan senang hati mau membantu dan bersekutu dengan Skandinavia. Meskipun alasannya karena Alexander Louis tapi ini adalah hal yang sangat membantu dan menguntungkan.
"Ini kastil Serilya tempat tinggal Alexander Louis?" tanya raja Pierre.
"Iya yang mulia, di sini dia tinggal termasuk saya," balas Revan.
"Suram sekali, terlihat tidak ada kehidupan sama sekali. Saya tak tau harus senang atau kasihan melihat dia tinggal di tempat seperti ini. Meskipun megah, warna kehidupan gak terlihat di sini," terang raja Pierre memperhatikan kastil Serilya.
"Tak ada waktu untuk kasihan dengan dia, sudah sepatutnya dia musnah dari muka bumi ini," ucap Revan dengan emosi yang tak terbendung.
"Revan, tampaknya Anda sangat membenci dia," ungkap raja Pierre.
"Tentu saja, siapa yang tak membenci orang yang telah memanfaatkan orang lain sejak lama. Bahkan orang itu sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh orang yang dimanfaatkan. Apa salah jika saya membenci dia?" ungkap Revan begitu sedih.
"Tidak salah, namun saya berharap bahwa Alexander Louis memiliki sedikit kebaikan hati di dalam dirinya saat dia menjaga dan merawat Anda Revanza Adinata," ucap raja Pierre lagi.
"Ntahlah, saya tak mau berharap lagi," murung Revan.
"Wahh...wahhh...lihat siapa yang datang berkunjung," ucap seseorang berpakaian serba hitam.
__ADS_1