ANTARA AKU DAN DIA

ANTARA AKU DAN DIA
Rintihan Hati


__ADS_3

"Aneh..... Kenapa aku sangat marah?!". Seketika Dinda menunduk tidak berani menatap Rendy...


"Kata suster kak Rendy pergi sama wanita? Siapa wanita itu?". Dinda tetap menunduk tidak berani menatap suaminya.


"Bodoh......".


"Eh?". Kata Rendy yang mengatakan Dinda bodoh membuat Dinda terkejut dan menaikkan kepalanya menatap Rendy. Dinda melihat Rendy, yang hampir menangis karena menghawatirkan Dinda.


"Kak Ren....".


Rendy memeluk Dinda sangat erat,


"Kenapa kau bisa sampai terluka...itu membuatku sangat khawatir.....". Dinda terkejut, Rendy tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Kak Ren, kamu bisa memelukku saat aku sudah membaik".


Rendy pun melepaskan pelukannya dari Dinda. Kemudian suara pintu ruang Dinda diketok.


"Permisi nona Dinda, waktunya mengganti perban anda". Tampak Lucas masih berdiri menunggu di depan ruang Dinda.


"Lucas, masuklah jangan berdiri di situ". Lucas menurut dan masuk.


Beberapa saat setelah perban Dinda di ganti, Lucas pamit pulang.


Malam pun tiba.


Terlihat Dinda sedang menyulam syal dan Rendy sibuk memandanginya. Mereka berbincang bersama.


"Kak Ren, apa aku boleh makan paha ayam?". Rendy menatap Dinda dengan tersenyum jahat.


"Cium aku dulu, baru ku berikan paha ayamnya". Dinda memandang suaminya dan agak menjauh.


"Kak Ren, kamu benar-benar mesum!". Dinda tetap menyulam dengan wajah agak kesal.


"Jadi, mau paha ayamnya tidak?". Tanya Rendy.


"Tentu saja aku mau!". Jawab Dinda.


"Kalau begitu cium aku dulu". Perintah Rendy.


"Aku akan pesan sendiri dari telfon". Dinda mengambil ponselnya dan memesan paha ayam.


"Benar-benar tidak menarik, hey aku ini suamimu, jangan pelit! Berbagi bibir itu baik!". Rendy menatap kesal istrinya itu.


"Kalau begitu, aku boleh berbagai bibir dengan orang lain". Rendy menatap tajam Dinda.


"Iya, baiklah aku tidak akan berbagi bibir ke orang lain!". Rendy tersenyum dan mendekat ke Dinda,


"Kak Ren kamu mau apa?". Dinda mulai gugup.


"Menurutmu?". Raut wajah Rendy menampakkan wajah orang yang tidak sabaran.


"Tu-tunggu, ini di rumah sakit!".


Rendy hampir mencium Dinda tapi sebelum itu, tangan kanan kanan Dinda menghentikan wajah Rendy.


"Aku punya satu syarat! Kalau mau menciumku jawab dulu pertanyaanku!". Rendy tersenyum sangat lebar.

__ADS_1


"Kak Rendy tadi pergi keluar sama siapa?".


.......


"Cemburu?". Tanya Rendy.


"Mana ada? Nggak tuh!". Jawab Dinda.


"Hey, hey wajahmu cemberut tuh". Rendy menggoda Dinda.


"T-tinggal jawab saja susah, cepetan di jawab!". Dinda mengalihkan wajahnya.


"Aku tadi hanya menemani wanita tua, dia memintaku menemaninya, aku terima saja, dia bilang akan memberikan uang yang sangat banyak". Rendy sangat tidak jujur, jelas sekali wajahnya berbohong.


"Memangnya kau kekurangan uang di dompet?". Ejek Dinda.


"Hmmm.... Mungkin begitu". Jawab Rendy.


"CEO miskin". Perkataan singkat Dinda membuat Rendy kesal.


"Apa??????".


"Hahaha, bercanda! mukamu lucu saat marah tau! Coba marah lagi". Dinda mengejek suaminya.


"Aku tidak bisa marah padamu". Rendy agak menundukkan kepalanya.


"Kenapa?". Tanya Dinda penasaran.


"Entahlah, rasanya sesak jika memarahimu". Ekspresi Rendy berubah.


"Mung-". Saat Dinda akan menjawab, ada orang yang mengetuk pintu.


"Bodoh, tanganmu masih di infus!". Rendy menyentil dahi istrinya


"Maaf, aku lupa karena lapar..". Dinda menggosok-gosok dahinya yang disentil Rendy.


"Tunggu di sini aku akan mengambil pesanannya".


Dinda kembali duduk di tempat tidurnya. Kemudian Rendy kembali membawa paha ayam pesanan Dinda. Dinda memakan paha ayam yang dipesannya. Setelah kenyang, Dinda kembali merajut syal, Rendy mengajaknya bicara.


"Hei..apa aku boleh bertanya?". Tanya Rendy.


"Hmm.. apa?". Dinda masih fokus menyulam syal.


....


.......


Untuk beberapa saat, suasana hening. Rendy pun bertanya.


"Kenapa saat aku memperhatikanmu tidur, tidur mu selalu tidak nyenyak atau tidurmu selalu seperti terganggu? Apa karena kebanyakan mimpi buruk?". Dinda terpaku mendengar ucapan suaminya, Dinda menoleh dan mengejeknya.


"Sejak kapan si Rendy Xiao Li jadi orang yang memperhatikan diriku?".


"Hei tinggal kau jawab!". Ketus Rendy.


"Pftttt...". Dinda tertawa kecil.

__ADS_1


Untuk beberapa saat hening memenuhi ruangan. Dinda menatap suaminya yang menatapnya juga.


.


..


...


....


......


.......


.........


Dinda mengalihkan tatapannya, dan menatap syal yang dia sulam, lalu menjawab pertanyaan suaminya.


"Suatu saat...... Suatu saat, kak Rendy pasti melihat tidurku yang sangat pulas, pasti....". Rendy terdiam mendengar jawaban Dinda.


.


..


...


"Tidurlah, untuk syalnya biarkan perawat yang menggantikan mu".


"Aku masih belum ngantuk, syalnya biar aku saja yang mengurusnya, kalau aku melihat orang lain menyulam syalnya, aku akan buat yang baru". Rendy diam mendengar ucapan istrinya.


......


"Memangnya untuk siapa syal itu?". Tanya Rendy.


"....untuk seseorang". Jawab Dinda.


"Hei tinggal kau jawab!". Perintah Rendy lagi.


"......... iya iya... Mungkin... Untuk Excel".


Rendy terdiam, Dinda melanjutkan menyulam syalnya.


"Apa kau dan Excel punya hubungan khusus?".


Dinda terkejut, untuk kedua kalinya Dinda berhenti merajut syalnya. Dan menoleh kepada Rendy yang terlihat agak kecewa.


"Mengapa ekspresi nya seperti itu...". Dinda bertanya dalam hatinya.


"Kenapa wajahmu kelihatan....". Dinda mencoba menyentuh wajah Rendy, tapi Rendy menghindarinya.


"Kenapa kak Rendy kelihatan marah?". Rendy masih tetap diam. Dinda agak merasa aneh, hati Dinda bagaikan tertusuk pisau yang tajam.


Rendy tetap diam,


"Kalau begitu... aku tidur dulu.....". Dinda meletakkan syalnya dan berbaring di ranjangnya. Rendy berdiri, dan pergi meninggalkan Dinda. Dinda bergumam.


"Selamat malam kak Ren...."

__ADS_1



~TBC~


__ADS_2