ANTARA AKU DAN DIA

ANTARA AKU DAN DIA
Alergi


__ADS_3

Di rumah.


Tibanya Rendy dan Dinda di rumah disambut oleh Miran.


"Kak Rendy,Dinda! Kalian dari mana? Ayo masuk aku memesan makan malam yang enak lho!". Kata Miran menarik masuk tangan Dinda.


Di meja makan mereka bertiga akan duduk dan akan menyantap makanan mereka. Saat Dinda akan duduk, Dinda terkejut melihat makanan yang Miran pesankan. Miran memesan kepiting untuk makan malam hari ini. Wajah Dinda agak pucat melihat makanan itu.


"Dinda kenapa masih berdiri? tidak duduk? Makanannya bisa dingin lho". Kata Miran menatap Dinda.


"A-ah iya aku akan duduk". Sahut Dinda.


"Ya ampun kenapa bisa kebetulan gini". Kata Dinda dalam hati.


Setelah makan malam, Dinda cepat-cepat pergi ke dapur dan mencari sebuah lemon, tapi tidak menemukan lemon di dapur. Dinda memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan menelfon Excel sambil duduk tergeletak di sebelah kasurnya............... Setelah menelfon Excel, Tubuh Dinda sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit, sesak nafas dan nyeri diperutnya semakin menjadi. Setelah itu semua di mata Dinda menjadi gelap


.


..


...


....


.....


......


Saat terbangun Dinda hanya melihat dinding langit-langit rumah sakit yang berwarna putih, tubuh Dinda terasa lemas, tangannya di infus. Dinda melihat Miran berada di sampingnya tertidur pulas. Mungkin Miran yang sudah menjaga Dinda selama tidak sadar. Dinda hanya menatap seisi rumah sakit, melihat jam yang menunjukkan pukul 7 pagi. Dinda mendudukkan tubuhnya di kasur perlahan-lahan agar Miran tetap tidur. Tidak sesuai perkiraan Dinda, Miran terbangun karenanya. Miran yang melihat Dinda sudah sadar itu langsung memeluk Dinda sangat erat.


"Mi-Miran, aku tidak bisa bernafas". Kata Dinda.


"Maaf, aku tidak tau kalau kamu punya alergi kepada kepiting". Kata Miran sambil melepaskan pelukannya dari Dinda.


"Tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak memberitahumu karena sungkan padamu, kamu tidak salah jadi jangan menyalahkan dirimu


". Kata Dinda.


"Sudah berapa lama aku tidak sadar?". Tanya Dinda.


"Hampir 5 bulan". Jawab Miran.


"APA?! 5 BULAN?!". Teriak Dinda.


Miran tertawa kecil.

__ADS_1


"Pffttt.... Tidak, tidak, aku bercanda. Kamu tidak sadar selama 5 hari saja".


"Oh iya! Excel dimana? Aku kan yang memanggilnya untuk menolongku? Kenapa dia tidak ada di sini?". Tanya Dinda.


Miran berkata "Sebenarnya ceritanya....".


*Flasback*


Terlihat Excel buru-buru menuju rumah Rendy. Setibanya di depan pintu rumah Rendy, Excel menggedor-gedor pintu rumah Rendy. Rendy turun ke bawah dan membuka pintunya. Tanpa mendengar teguran Rendy, Excel nyelonong masuk ke dalam kamar Rendy di lantai atas dan mendorong pintu kamarnya. Excel terkejut karena yang terlihat di dalam kamarnya bukan kakaknya Dinda tapi wanita asing. Rendy menarik Excel yang main nyelonong di rumahnya dan berteriak kepada Excel.


"HEI KAU! SIAPA KAU MAIN MASUK KE RUMAH ORANG SAJA".


"DI MANA KAK DINDA?!". Tanya Excel berteriak.


"Di kamar tamu, si-". Sebelum Rendy selesai bicara Excel berlari ke kamar tamu di ikuti Rendy dan Miran, Excel membuka pintu kamar dan melihat Dinda tergeletak pingsan di sebelah kasur. Excel, Rendy dan Miran terkejut melihat Dinda tergeletak pingsan dengan kondisi seperti itu. Refleks Excel berlari dan menggendong Dinda, Excel berkata.


"Saya akan membawa kakak ke rumah sakit, kalian tolong rahasiakan ini dari tante Kiran". Miran hanya diam shock melihat keadaan Dinda seperti itu. Sedangkan Rendy, dia pergi ke kamar mengganti bajunya untuk bersiap-siap menyusul Dinda. Miran menghentikan langkah Rendy karena ingin ikut bersama Rendy.


"Kak Rendy! Aku ikut!". Kata Miran menarik tangan Rendy.


"Tidak sebaiknya kamu di rumah saja!". Perintah Rendy.


"Tapi Dinda seperti itu karena aku! Aku ingin bertanggung jawab dengan merawatnya!". Bantah Miran.


"Baiklah, baiklah ayo kita masuk ke mobil!". Rendy mengalah kepada Miran.


"Jadi itu yang terjadi". Cerita Miran.


Dinda bertanya "Lalu sekarang Excel kemana?".


"Sedang pergi membeli buah". Jawab Miran.


'Klek', pintu terbuka dan Excel masuk. Excel yang melihat kakaknya sudah sadar itu langsung berlari memeluknya.


"Yahhh, untuk kedua kalinya aku dipeluk sangat erat seperti ini di hari yang sama". Kata Dinda mengeluh dalam hati.


"Kak, aku sangat khawatir padamu, kau memakan kepiting sangat banyak sehingga membuat alergimu hampir membuatmu terbunuh!". Kata Excel sambil menghawatirkan kakaknya.


Lalu Excel bertanya lagi pada Dinda dengan berbisik ke Dinda "Kak, omong-omong dia ini siapa? Kenapa dia bisa satu kamar dengan suamimu?".


"Excel, dia ini kekasih kakak iparmu". Jawab Dinda.


"APA?! KAK KAMU SERIUS?! LEBIH BAIK KAMU BERSAMA KAK KEI DARIPADA BERSAMA KAKAK IPAR!". Teriak Excel dengan menatap tajam Miran.


Miran hanya bisa menunduk karena Excel menatapnya sangat tajam.

__ADS_1


"Excel! Jangan membuat Miran takut! Dia ini teman kakak! Kamu jangan membencinya! Meskipun Rendy salah! Tapi Miran ini tidak bersalah, kakak sudah menganggapnya sebagai teman saat pertama kali ketemu, dan jangan beri tahu ibuku tentang masalah ini, kalau sampai kamu memberi tahu ibuku, dan mengganggu Miran, kakak akan tidak akan memaafkanmu!". Tegur Dinda dengan tegas membuat Excel agak tertunduk.


"Iya, iya aku tidak akan memberitahu Tante Kiran, dan tidak mengganggu miran! Lagipula aku tidak suka dengannya!". Jawab Excel dengan kesal.


"Ya ampun, anak ini ngambek lagi". Kata Dinda dalam hatinya.


"Dinda apa kamu lapar? Mau ku suapi?". Tawar Miran sambil menatap Dinda.


"Kamu ambilkan saja makanannya, aku bisa makan sendiri". Jawab Dinda.


Beberapa bulan pun berlalu, sudah 6 bulan berlalu sejak kejadian alergi itu.


Pagi hari di rumah Rendy, Miran mengetok pintu kamar Dinda dan masuk ke kamarnya.


"Dinda, apa kamu mau ke taman bermain bersamaku? dirumah sangat membosankan". Tanya Miran.


Dinda berpikir sebelum mengatakan jawabannya.


"Apa kamu bertengkar sama kak Rendy?". Tanya Dinda.


Miran menjawab, "tidak! Aku tidak bertengkar dengan kak Rendy! Aku cuma kangen untuk ke taman hiburan, waktu kecil kakakku sering membawaku ke taman hiburan. Jadi aku kangen dengan taman hiburan".


Dinda berfikir lagi sebelum menjawab Miran.


"Baiklah, aku akan pergi bersamamu ke taman hiburan". Kata Dinda tersenyum ke Miran.


"....... Apa aku boleh memanggilmu kakak?". Miran berkata seperti itu sambil menatap Dinda dengan penuh harapan.


Dinda penasaran kenapa Miran ingin Dinda memanggil kakaknya. Dan bertanya.


"Kalau boleh tau, di mana kakakmu?". Tanya Dinda.


"Kakakku meninggal karena menyelamatkan aku dari tabrakan mobil, aku berniat bunuh diri karena mengira kakakku hanya memanfaatkan ku sebagai alat mewarisi kekayaan ayah, tapi aku salah, sebenarnya kakakku sangat menyayangiku sepenuh hatinya, setelah hari itu orang tuaku membenciku. aku tidak memiliki teman karena semua menjauhi ku mengira aku membunuh kakakku sendiri, aku berharap kakakku akan kembali dan memelukku dengan kasih sayangnya seperti dulu, tapi itu hanyalah hayalanku. Kenyataannya sudah tidak bisa diubah. Dan juga aku sudah menganggap kamu sebagai kakakku, jadi aku mohon, kamu mau menganggapku sebagai adikmu". Sambil berkata seperti itu, Miran menundukkan kepalanya, matanya memanas, air mata Miran satu demi satu jatuh.


Tidak tega melihat Miran seperti itu, Dinda langsung memeluk Miran dan berkata.


"Adikku jangan menangis, aku Dinda mulai hari ini akan menjadi kakakmu".


Seketika tangis Miran pecah dan tersenyum bahagia mendengar ucapan Dinda.


"Terima kasih". Kata Miran dengan membalas pelukan Dinda.


Lalu mereka berdua pun pergi bersama ke taman hiburan. Di sana mereka sangat bersenang-senang. Setelah hari itu mereka pun menjalani hari hari seperti biasanya sebagai kakak beradik.


Tapi benih cinta mulai tumbuh di hati Dinda.....

__ADS_1


5 tahun kemudian......


__ADS_2