
"Jadi... Rasanya punya anak seperti ini... Mama tidak sabar kalian lahir".
"Tantemama, ayah sama paman yang tadi dimana?". Dinda baru sadar kalau Lucas dan suaminya menghilang.
"Mungkin mereka pergi membeli sesuatu. Oh iya, tadi panggilan Mimi itu panggilan Mingming ya? Apa boleh, tante Dinda panggil Mingming, Mimi?". Mingming tersenyum.
"Tentu saja, tantemama boleh panggil Mingming, Mimi".
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Setelah beberapa saat bermain Mingming akhirnya tertidur. Dinda mencoba menelfon suaminya. Jeda yang panjang dan akhirnya panggilannya terhubung.
"Halo? Kak Ren, kamu di mana? Ini sudah sore, kak Ren bersama Lucas kan?". Dinda menunggu jawaban.
.
..
...
"Halo? Kak Ren... Kamu dengarkan?". Tanya Dinda.
"Aku bersama Lucas, kami sedang berada di cafe dekat rumah sakit kamu tidak perlu khawatir". Rendy secepat mungkin menutup panggilannya. Dinda bingung kenapa suaminya secepat itu mematikan panggilannya.
Dinda merasa ada yang aneh dari suaminya, sembari memikirkan itu Dinda menatap Mingming yang tertidur di pahanya.
__ADS_1
"Kurasa perutku agak besar...". Kata Dinda.
"OH IYA! BESOK JADWALKU CHEK UP! BAGAIMANA INI....". Dinda terlelap memikirkan jadwal chek up nya besok, dia pun tak sengaja tertidur.
.
..
...
....
.....
"Aneh.... Kenapa Lucas belum mebawa pulang Mimi? Ada apa sebenarnya....". Dinda segera bangun tanpa membangunkan Mingming. Dinda teringat soal jadwal chek up. Tanpa menunggu waktu, Dinda pun pergi ke ruang dokter kandungan. Beberapa menit setelah check...
"Kandungan anda sangat sehat, tapi harus tetap jaga pola makannya ya!". Kata dokter.
"Iya saya akan berusaha sekuat mungkin menjaga anak ini....". Setelah itu Dinda cepat-cepat kembali ke kamar.
Dia masih tidak melihat suaminya dan Lucas belum datang. Dinda memutuskan untuk menelfon suaminya.
Setelah jeda yang panjang akhirnya panggilan diangkat.
__ADS_1
"Kak Ren, kamu dimana? Kenapa kak Ren dan Lucas tidak ke rumah sakit?". Dinda bertanya.
"Hei Din....". Yang menjawab bukan Rendy.
"Lucas?! Dimana kak Ren??". Dinda semakin khawatir pada Rendy.
"Jadi....... Sebenarnya kemarin dia mabuk... Hehe.... Kalau begitu aku tutup dulu telfonnya". Lucas cepat-cepat menutup telfonnya. Seketika kekhawatiran Dinda menghilang, dia lega suaminya tidak kenapa-napa.
Tiba-tiba ada yang memegang tangan Dinda.
"Tantemama? Mimi lapar". Kata Mingming.
"Ah! Iya sayang, ayo pesan makanan". Dinda memanggil suster lalu meminta diantarkan sarapan.
Beberapa menit berlalu bersamaan makanan yang Dinda pesan suaminya dan Lucas datang. Rendy nampak agak ngantuk. Mereka berempat duduk bersama, Mingming hanya makan dengan lahapnya. Lucas duduk dengan senyumannya. Tapi Dinda mengkhawatirkan Rendy.
Rendy yang melihat istrinya khawatir melontarkan senyuman menandakan dirinya baik-baik saja. Meskipun begitu Dinda tetap khawatir, Lucas segera memecah kecanggungan itu dengan mengajak pulang Mingming. Kini tinggal Dinda dan Rendy yang ada di ruangan inap itu. Tiba-tiba Rendy berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Dinda. Dinda kaget dan hanya memandang suaminya. Rendy tiba-tiba tidur di paha Dinda. Dinda mematung tidak bisa bergerak, kemudian Rendy berkata
"Tidak apa-apa kan, seperti ini?....". Katanya yang menutup mata.
"Lain kali jangan minum banyak ya....". Tidak ada jawaban Dinda melihat wajah suaminya tertidur pulas. Padahal ini sudah pagi.... Dinda meletakkan telapak tangannya di kepala Rendy lalu mengelusnya. Dinda bertanya
"Kenapa kak Ren minum banyak-banyak.......".
__ADS_1