
7 Hari Kemudian
"Nyonya apa anda bisa mendengar suara saya? Suster tolong beritahu suami pasien kalau istrinya sudah sadar".
"Bau rumah sakit? Ah iya aku kan dibawa ke rumah sakit, semoga dokter itu tidak mengatakan aku hamil!". Dinda hanya bisa berkata dalam hatinya. Tubuhnya sangat lemas. Dinda berusaha membuka matanya tapi cahaya lampu agak menyilaukan matanya.
"Ughh..... kepalaku......". Dinda mencoba duduk, tapi tidak bisa. Dia melihat beberapa suster memperhatikan Dinda.
'Kasihan sekali ya dia..... Iya suaminya malah baru saja pergi meninggalkannya bersama wanita lain!". Kedua suster itu sibuk menggosipkan tentang Rendy suami Dinda, Dinda tidak peduli dengan yang suster bicarakan, memang pada dasarnya Rendy tidak menyukai Dinda. Setelah itu, beberapa saat setelah Dinda agak tidak lemas, dia meminta ponselnya dari dokter.
"Semoga kak Rendy tidak melihat isi HP ku, ah..... Kalau aku memanggil Excel dia harus kemari sangat lama, apa aku panggil........".
"Hai Dindaaaa, astaga tangan kirimu.....". Seseorang datang membuka pintu kamar Dinda.
"Silahkan duduk, wah kamu membawa buah tangan, terimakasih Lucas". Dinda memanggil, Lucas?!
"Pantas saja 7 hari lalu kamu tidak datang, ternyata masuk RS ya! Kamu tinggal sendirian di rumah?". Lucas duduk di sebelah Dinda yang sedang duduk di dekat jendela.
"Iya.. maaf ya, sapu tangannya pasti di hotel. Tidak kok, suamiku sedang bekerja, aku tinggal berdua bersama suamiku". Dinda masih melihat langit-langit yang berwarna biru.
"Jadi.... Kau dan suamimu tinggal di hotel
__ADS_1
....sudah punya anak?". Lucas bertanya.
"Anak? Tidak, aku masih belum siap jadi ibu... Tapi kami menikah karena dijodohkan, aku tidak menyesalinya, tapi hal ini juga membuat diriku agak tersiksa, Ah! Kamu jangan bilang siapa-siapa! Ini rahasia!". Kata Dinda yang menyodorkan kelingking nya.
"Pfffttt... Iya iya aku janji". Mereka pun membuat janji.
"Anu.... Lucas..". Dinda agak ragu bicara.
"Ya ada apa?". Lucas menatap Dinda.
"Bisakah kamu kupaskan apel?". Dinda menunduk malu.
"Ya baiklah, lagipula tangan mu yang satunya pastinya sakit, sebagai teman, aku akan berusaha sebaik mungkin". Lucas tersenyum sangat lebar, Dinda pun membalas senyumannya itu.
.
..
...
....
__ADS_1
.....
Beberapa saat kemudian....
"DINDA!". Seseorang membuka pintu ruangan Dinda dengan kasar. Orang itu adalah Rendy,dia seperti habis berlari maraton, wajahnya penuh keringat, ekspresi nya khawatir campur senang, dan bajunya kusut seperti tidak pernah diseterika, padahal yang digunakan adalah baju kantor. Tapi setelah Rendy melihat Dinda bersama seorang laki-laki duduk bersama, dia mengerutkan keningnya.
"Ah! Kak Rendy! Kamu dari mana saja?". Dinda berdiri tapi kakinya lemas Dinda hampir jatuh, tapi tubuhnya di topang oleh Lucas sehingga tidak jadi jatuh.
"Te-terima kasih Lucas". Rendy yang melihat istrinya akrab dengan laki-laki lain itu semakin marah......
"Permisi pak Lucas, apakah anda bisa keluar sebentar, saya ingin berbicara berdua dengan istri saya". Rendy menatap marah Dinda.
Lucas agak ragu-ragu meninggalkan Dinda. Dia menatap Dinda.
"Din....".
"Tidak apa-apa, keluarlah sebentar". Dengan terpaksa Lucas pergi meninggalkan Dinda. Kini hanya ada Dinda dan Rendy di ruangan.
"Aneh.....". Dinda bingung Rendy berkata seperti itu, saat Dinda mengangkat kepalanya dan melihat Rendy menatapnya dengan mengerikan. Dinda terkejut, Dinda tidak pernah melihat ekspresi Rendy yang sangat menyeramkan itu.
"Aneh..... Kenapa aku sangat marah?!". Seketika Dinda menunduk tidak berani menatap Rendy...
__ADS_1
MAAF YA CERITA KALI INI PENDEK AUTOR AGAK NGGAK ENAK BADAN HEHE.... SAMPAI JUMPA DI CERITA SELANJUTNYA, BYE BYE..