
WARNING!
UNTUK EPISODE YANG AKAN ANDA BACA TERMASUK UNTUK 18+ BAGI YANG AKAN MEMBACA HARAP BIJAK DALAM MENYIKAPI EPISODE INI! SEKIAN TERIMAKASIH.
__ADS_1
____________(~~~~)___________
"Dinda? Dinda? Hei!". Ada tangan yang melambai di depan mata Dinda.
"Eh! Ah! Iya nggak papa!". Jawab panik Dinda. Dinda cepat-cepat menyelesaikan merapikan tempat tidur.
"Aku tidak bilang kamu nggak papa apa enggak". Kata Rendy Dinda tetap diam.
__ADS_1
____________(~~~~)___________
"Apakah kau tidak ingin punya anak?". Dinda terkejut mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Dulu kak Rendy menyuruhku aborsi ketika mengetahui aku hamil. Aku tidak ingin punya anak dengan kak Rendy karena kak Rendy tidak ingin punya anak bersamaku, tapi bukan hanya karena kak Rendy tidak ingin punya anak bersamaku, aku juga tidak ingin punya anak bersama kak Rendy, kak Rendy juga sudah punya anak bersama Miran, sudah cukup bagiku untuk menikah hanya karena membuat ibuku bahagia. Aku juga tidak pernah menyukai kak Rendy....". Kata Dinda sambil memejamkan matanya.
Rendy berganti posisi malah menindihi Dinda, Dinda yang melihat suaminya itu langsung berdiam diri karena jantungnya berdegup kencang. Rendy mulai mencium leher Dinda perlahan tapi Dinda berusaha mendorong dan menolak suaminya itu.
__ADS_1
"Aku ingin melakukannya sekarang, meskipun kau tidak ingin melakukannya malam ini, kau adalah istriku, sudah kewajibanmu melayani seorang suami". Kata-kata Rendy membuat mata Dinda mulai memanas. Dinda pun membalas perkataan suaminya.
Malam itu adalah malam yang panas bagi Dinda.