
5 Tahun kemudian....
Di toilet kamar Dinda.
"Ya, ampun ini terjadi lagi.....Dua tahun lalu, ini juga terjadi, tapi sudahlah aku akan merahasiakan ini, dan juga dari Miran sekalipun". Kata Dinda dalam hatinya.
Dinda memutuskan pergi ke dapur dan membuat makan malam. Setelahnya Dinda pergi ke kamar Miran untuk memanggilnya. Terdengar suara tawa yang sangat keras dari dalam kamar Miran. Dinda terkejut kenapa ada suara tertawa sampai sekeras itu di kamar Miran. Dinda memutuskan untuk mengintip di sebelah pintu kamar Miran dan melihat Miran yang sedang tertawa sangat kerasnya. Dinda melihat Miran menelfon seseorang dan membicarakan sesuatu yang membuat Dinda terkejut.
"Seharusnya si Rendy itu meninggal 5 tahun yang lalu, tapi tidak jadi karena menikah dengan kak Dinda.....". Kata Miran yang mengeluh kepada orang yang ditelfonnya.
Mata Dinda terbelalak mendengar ucapan Miran tentang matinya Rendy, kali ini Dinda benar-benar serius menguping adiknya itu.
"Bagaimana kalau kita membunuhnya 2 hari mendatang? Dia mengajakku dinner di restoran cepat saji, saat akan makan, kamu suruh anak buahmu menunggu beberapa saat dan setelah itu, menembak mati si Rendy di bagian fitalnya, aku tidak sabar melihat mayat Rendy tergeletak mati di sana, bagaimana? Setuju?.......baiklah kita lakukan rencana ini 2 hari ke depan". Kata Miran sambil menutup telfonnya. Beberapa menit kemudian Dinda mengetok pintu kamar Miran dan masuk.
"Dik, kakak ingin bertanya padamu.....". Dinda yang serius, menatap tajam Miran.
"Ya, kakak boleh tanya apa saja". Jawab Miran yang masih fokus berias.
Untuk beberapa saat Dinda terdiam dan menarik nafas panjang-panjang.
Dinda pun bertanya. "apa kamu ingin membunuh kak Rendy?".
Miran berhenti merias wajahnya dan menoleh terkejut ke arah kakaknya itu. Mereka beradu pandang dan Miran pun menjawab.
"Kak apakah kamu menguping pembicaraan ku tadi?".
.
..
...
"Ya, kakak menguping mu, maafkan kakak karena menguping mu. Tapi apakah kamu bersungguh-sungguh ingin membunuh kak Rendy?"
Dinda menatap kecewa Miran.
"Miran, dengarkan kakak, kamu dan kak Rendy sudah memiliki anak, tapi kenapa kamu ingin membunuh kak Rendy?". Mata Dinda menunjukkan rasa kecewa yang sangat mendalam untuk Miran.
"Kak, aku tidak bisa memberitahumu soal ini! Meskipun aku menganggap kamu seperti kakak kandung ku! Aku tetap tidak bisa memberitahumu". Kata Miran membuat Dinda terdiam sejenak.
.
..
__ADS_1
...
....
.....
"Kalau begitu..... Biarkan kakak dan kak Rendy berlibur bersama selama satu bulan, dan setelah itu kamu bisa membunuhnya". Dinda berkata seperti itu sambil memegang tangan adiknya.
"Berikan kakak kesempatan terakhir untuk bisa bersama kak Rendy sebelum akhirnya kamu membunuh kak Rendy, kakak hanya ingin berbulan madu bersamanya sebelum dia meninggalkan kakak". Kata Dinda meyakinkan Miran.
"Apakah kakak, mencintai Rendy?". Tanya Miran.
"..................".
"Kakak hanya sedikit suka, tapi tidak akan pernah mencintainya. Sebagai sepasang suami istri, kakak dan kak Rendy belum berbulan madu sama sekali, kakak hanya menginginkan itu sebagai saat terakhir kakak bersamanya". Jawab Dinda.
Miran berfikir keras sebelum akhirnya dia menjawab.
"Baiklah kak, aku akan membiarkan kalian berdua pergi untuk satu bulan itu, tapi setelah satu bulan itu, aku akan benar-benar membunuhnya, aku melakukan ini karena menyayangimu!". Kata Miran yang memalingkan wajahnya karena kesal melihat Dinda memohon dengan wajah memelas.
"Terima kasih, adik". Sambil berkata seperti itu Dinda memeluk miran.
Besoknya Dinda pergi berpamitan kepada Miran karena ingin pergi ke rumah ibu mertuanya(Tante Jane). Setelah berada di rumah mertuanya cukup lama Dinda memutuskan untuk pulang dan segera memasak makan malam. Malam pun tiba, seusai makan malam Dinda dan Miran mencuci piring bersama, sedangkan Rendy sedang memikirkan sesuatu, dan memanggil Dinda. Dinda pun segera pergi ke Rendy yang memanggilnya itu.
"Ada, apa kak Ren?". Tanyanya.
"Berapa hari?". Tanya Dinda.
"Satu bulan". Jawab singkat Rendy.
Kemudian Dinda menoleh ke arah Miran yang sudah selesai mencuci piring, dan memperhatikan Rendy dan Dinda. Miran mengangguk kepada Dinda untuk mengiyakan ajakan Rendy.
" Ya, aku mau". Jawab Dinda menatap Rendy.
"Miran kamu juga ikut ya!". Ajak Rendy ke Miran.
"Hey! Waktu itu kita liburan berdua tanpa mengajak kak Dinda, sekarang giliran kak Dinda yang liburan bersamamu!". Jawab Miran sambil melipat tangan.
"Iya iya, kalau begitu aku akan liburan bulan madu dengan Dinda". Jawab Rendy.
Malamnya di kamar Dinda, dia mengemasi barang-barang untuk bersiap liburan bersama Rendy. Rendy pun melakukan hal yang sama seperti Dinda, namun dibantu oleh Miran. Dinda tidak bisa tidur memikirkan hal yang dia bicarakan dengan ibu mertuanya tadi sore.
*Flashback*
__ADS_1
Dinda sebenarnya sudah memikirkan cara agar Rendy dan dia bisa berlibur bersama, jadi.... Dinda meminta bantuan ibu mertuanya dan dia berhasil membuat Rendy liburan bersamanya.
*****
Keadaan Miran dan Rendy sekarang ini....
"Apakah kamu tidak cemburu aku berlibur dengan Dinda?". Tanya Rendy sambil mengkhawatirkan Miran.
"Tenanglah, aku tidak cemburu, lagipula dia sudah kuanggap kakak kandungku sendiri, Waktu itu juga dia membiarkan kita untuk berlibur berdua, ya kan!". Kata Miran sambil mengemasi barang-barang Rendy.
"Yah, kau ada benarnya juga, tapi aku masih ingin kamu ikut liburan". Rendy berkata seperti itu sambil menggenggam tangan Miran erat-erat.
Miran menghela nafas panjang dan berkata.
"Kamu jangan banyak mengeluh, kamu juga tidak memberi kesempatan bagi kakak Dinda, berikan dia kesempatan untuk libur berdua bersamamu! Kamu pasti akan sangat senang saat berlibur bersamanya!". Miran yang berteriak membuat Rendy terkejut dan diam. Dinda yang mendengar suara teriakan Miran sontak berlari kecil ke arah kamar Miran dan Rendy.
"Ada apa?! Kenapa Miran teriak?!". Dinda yang khawatir kenapa Miran berteriak, membuka pintu kamar Miran dan Rendy tanpa mengetuk dulu, Dinda terdiam karena melihat kecanggungan antara Miran dan Rendy. Dinda memutuskan untuk menutup pintu kamar yang sudah dibukanya tadi perlahan-lahan.
"Astaga, bertengkar lagi lah mereka berdua....". Dinda pergi ke kamarnya meninggalkan Miran dan Rendy berdua.
"Aku akan mencoba membuka pintu hatiku untuk Dinda, Miran kamu sungguh-sungguh menyayangi Dinda seperti kakakmu sendiri, aku sangat senang akan hal itu". Kata Rendy memasang senyum lebarnya.
Jarang-jarang orang seperti Rendy tersenyum lebar seperti itu.
Esoknya Dinda dan Rendy berpamitan kepada Miran dan pergi liburan. Selama perjalanan tak ada yang berbicara sama sekali, Dinda menatap jendela mobil dengan gugup, tapi Rendy malah bersantai-santai mengendarai mobil, hanya radio mobil yang memecah keheningan di antar mereka berdua.
Malamnya mereka sampai di hotel tempat penginapan dan mulai memesan kamar.
Di kamar.
Dinda pergi mandi karena tubuhnya agak berkeringat dan membuatnya tidak nyaman, setelah mandi perasaan yang Dinda rasakan hanyalah gugup, selama 5 tahun terakhir Dinda dan Rendy hanya pernah tidur bersama satu kali saja. Jadi Dinda memutuskan untuk tidur di sofa.
"Ngapain kau? Nyiapin selimut di sofa sama bantal? Apa ranjangnya kurang lebar?". Tanya Rendy yang melipat tangannya sambil tersenyum mengejek.
"Wah rasanya ingin ku hajar wajahnya yang sok cool itu!". Geram Dinda dalam hatinya.
Rendy membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Dari tadi yang dilakukan Dinda hanyalah menatap Rendy dengan penampilan yang sok coolnya itu.
"Daripada lihat-lihat mending tidur di sebelahku!". Kata Rendy.
Dinda pun patuh pada Rendy, dan tidur di sebelah Rendy, Dinda tidur dengan posisi membelakangi Rendy. Tiba-tiba Rendy memeluk Dinda dan berkata.
"Kau bisa patuh juga ya, tidurlah aku hanya ingin memelukmu".
__ADS_1
Pipi Dinda langsung memanas, karena tiba-tiba Rendy memeluk nya. Entah sejak kapan Dinda merasa dirinya terlelap dalam tidur yang nyenyak karena dipeluk Rendy.
Keesokannya.........