
"Yang akan kulakukan......Tidurlah sudah malam, besok kita akan pergi ke pantai". Rendy beranjak dari tempat duduk dan membaringkan tubuhnya di kasur.
"Hei kamu belum menjawab pertanyaannya!". Hening sesaat....
"Ah sudahlah orang seperti kak Rendy memang sulit dipahami". Kata Dinda yang kesal di dalam hati.
Masih tetap hening tapi Dinda masih berbicara.
"Pantai ya..... Sudah lama aku nggak ke sana, aku boleh berenang di lautnya kan". Tanya Dinda sambil membereskan kotak makan paha ayam tadi.
Rendy hanya diam karena keadaannya sedang setengah tidur, Dinda pun pergi keluar kamar dan mencari tong sampah untuk membuang sampah bekas makanan tadi. Dinda terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang memeluk Dinda dari belakang.
"Kak Rendy, ini tidak lucu lepaskan aku". Dinda mengira orang yang memeluknya adalah Rendy, lalu menoleh ke belakang. Dinda terkejut melihat Erik yang berpapasan dengannya tadi siang, memeluknya. Erik tersenyum mengangkat satu sudut bibirnya dan berkata.
"Hei aku ini bukan Rendy suamimu, aku ini, mantan tunanganmu Erik Zhou". Bisiknya.
"Minggir aku ingin kembali ke kamar". Dinda mendorong Erik sekuat tenang dan berhasil lepas dari pelukannya, Dinda cepat-cepat pergi menjauh dari Erik. Masih belum menyerah, Erik mengejar Dinda dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Terkadang, aku ingin mengehentikan waktu seperti ini dan bisa selamanya berduaan denganmu,...... Tapi! Kau malah menghancurkan hidupku, ibuku meninggal, ayahku tidak peduli padaku lagi! Dan itu semua, karena ulahmu! Entah kenapa kau sangat tega melakukan itu pada keluargaku, tapi yang jelas, aku tidak akan melepaskanmu". Seketika erik mencengkram erat tangan Dinda, dan menahan amarah yang bisa meledak kapan saja seperti bom.
"Aku sudah bilang padamu! ITU HANYA FITNAHAN, FOTO ITU PALSU! DAN KEMATIAN IBUMU ITU SEHARUSNYA MENJADI TANGGUNG JAWAB YIWEN! KAU BAHKAN LANGSUNG MENCAMPAKANKU DAN TIDAK MEMBERIKU KESEMPATAN UNTUK MENJELASKAN! JANGAN PERNAH MENGUSIK HIDUPKU LAGI!". Setelah mengatakan itu Erik itu cuma diam menunduk dan kembali menatap dinda.
"Kau pikir aku akan mempercayai mu? Perempuan munafik sepertimu seharusnya mati mengenaskan dan masuk ke neraka". Erik semakin mempererat cengkramannya di tangan Dinda.
"LEPASKAN AKU! AH, SAKIT, LEPASKAN TANGANMU!". Dinda memberontak melepaskan cengkraman Erik. Tiba-tiba Dinda tersandung dan terjatuh.
'BRUK'. Suara Dinda terjatuh agak keras.
"Uhh....., Perutku....". Dinda merasakan nyeri di perutnya.
"Erik.... Antarkan aku ke rumah sakit....". Dinda memegangi perutnya karena terasa nyeri dan meminta tolong Erik.
"Tidak ada hubungannya denganku, pergi dengan suamimu kan bisa". Erik tak peduli melihat keadaan Dinda sekarang.
"ERIK KUMOHON BAWA AKU KE RUMAH SAKIT! PERUTKU SANGAT SAKIT!". Dinda mulai menangis merasakan sakit nyeri yang semakin menjadi. Karena tidak tega Erik pun cepat-cepat mengantarkan Dinda ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit. Dinda pun memeriksakan perutnya dan mendapatkan pertolongan. Dinda lega karena perutnya baik-baik saja. Dokter keluar mendatangi Erik yang duduk menunggu di depan pintu.
"Pak istri anda baik-baik saja, kandungannya juga sehat, untung cepat dibawa ke rumah sakit". Kata dokter.
"APA? Dinda hamil?!". Erik terkejut dan berdiri dari duduknya.
"Dokter, kamu serius kan?!". Erik bertanya lagi, memastikan ucapan dokter.
"Tentu saja, kalau begitu saya pergi dulu ya". Dokter pergi meninggalkan Erik.
Dinda membuka pintu dan berjalan mendekati Erik.
__ADS_1
"Terima kasih, karena kamu, kandungannya sehat, dan juga.... aku berharap kamu tidak mengatakan kehamilanku pada kak Rendy...". Dinda membungkukkan badannya.
Erik memandang Dinda dan berkata.
"Kenapa suamimu tidak boleh tau?". Dinda terpaku mendengar ucapan Erik, lalu menjawab.
"sebenarnya ini masalah pribadi... jadi aku mohon jangan memberi tahu kak ren....". Erik hanya memandangi Dinda dan pergi meninggalkannya. Dinda menatap punggung Erik yang semakin menjauh. Kemudian Erik berkata.
"Apa kau mau menginap di rumah sakit?". Erik menoleh ke belakang.
"Ah tidak, apa kamu menawarkan aku untuk kembali bersama ke hotel?". Dinda berlari kecil mengejar Erik.
Erik tidak menjawab, dia hanya diam.
Dinda dan Erik kembali ke hotel bersama-sama. Saat akan masuk ke dalam hotel, Dinda melihat Rendy yang melipat tangannya dan bersandar di dinding tempat akan masuk ke hotel. Rendy terlihat mengerutkan keningnya dan menghampiri Dinda yang bersama dengan Erik.
"Dari mana?". Tanya Rendi
"Ka-kami tidak seperti yang kamu pikirkan, jangan salah paham, Erik han-". Belum selesai bicara tangan Dinda ditarik oleh Rendy menuju kamar hotel.
*Di kamar*
"Jelaskan!". Rendy duduk dengan melipat tangannya.
"Sudah kubilang aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa!". Dinda duduk dan menatap Rendy.
"Baik, baik akan kujelaskan....".
Setelah Dinda menjelaskan semuanya kepada Rendy, mereka pun tidur. Meskipun penjelasan Dinda ada yang tidak benar dan berbohong, itu semua dilakukan karena anaknya. Dinda takut kalau Rendy mengetahui kehamilannya, Rendy pasti memaksa Dinda aborsi seperti 2 tahun lalu.
*Flashback*
2 Tahun lalu....
"Jadi kau hamil?". Suara Rendy yang terdengar datar membuat Dinda menatapnya serius.
"Aborsi!". Perkataan singkat yang Rendy ucapkan membuat Dinda menjadi emosi.
"Apa?! Aborsi? Kenapa kau sangat tega?". Dinda bangun dari duduknya berteriak pada Rendy.
"Kecilkan suaramu! Anakku sedang tidur! Kalau sampai dia bangun dan menangis kau akan menanggung akibatnya, soal aborsi tadi meskipun kau tidak menyetujuinya aku akan tetap membuatmu aborsi, kau tidak mempunyai pilihan lain, besok lakukan aborsi". Rendy pergi meninggalkan Dinda dan pergi menemui Miran.
"Maafkan ibu nak...kamu harus pergi secepat ini.. ibu janji jika ibu mengandung adik ibu tidak akan membiarkannya menjadi sepertimu ibu janji.....". Dinda menangis sejadi-jadinya karena harus kehilangan anak pertamanya....
***
Sudah seminggu Dinda menghabiskan waktu liburan bersama Rendy. Malam ini Dinda akan pergi ke taman bermain bersama Rendy.
__ADS_1
*Di mall*
"Ganti! Ganti! Ganti! Tidak itu terlalu terbuka malam ini kau akan keluar jadi pakai pakaian yang tertutup! Malam ini pasti dingin........ Tidak itu terbuka yang lain!". Rendy membantu Dinda memilih baju di mall.
"Sebenarnya yang dia mau yang bagaimana sih?". Eluh Dinda dalam hatinya.
"Coba pakai pakaian yang itu". Dinda mencoba pakaian yang Rendy rekomendasikan. Beberapa saat kemudian,
'Astaga siapa wanita itu? Wah cantik sekali dia, jadi ingin memacarinya, wah apa dia model?'. Beberapa pengunjung di mall terdekat tempat Rendy dan Dinda kunjungi menjadi ramai berbincang.
"Oke, aku sudah putuskan pilih yang ini saja, baju ini membuat tubuhku menjadi hangat, aku nanti pasti tidak akan terkena masuk angin". Ucap Dinda yang cepat-cepat pergi melepaskan baju itu dan membayarnya di kasir.
Mereka berdua kembali ke hotel. Setibanya di hotel Dinda merebahkan dirinya di kasur dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian.......
Dinda melihat ada seorang anak kecil yang memeluknya.
"Mama... Kenapa mama membuang saya? Apa saya anak pembawa sial?". Anak kecil itu memanggil Dinda mama?!.
"Kamu....anakku?". Dinda menatap anak kecil itu dan terkejut.
"Mama mengandung adik, tapi kenapa mama tidak melahirkan ku?". Anak kecil itu menangis menggenggam tangan Dinda.
Dinda ikut menangis dan memeluk anak itu.
"Jangan tinggalkan mama, mama minta maaf karena tidak melahirkan mu, mama terpaksa nak". Dinda menyadari anak itu menghilang dari pelukannya dan mendengar suara Rendy.
"Dinda, Dinda bangunlah, kau pasti bermimpi buruk". Mata Dinda terbuka perlahan, Dinda tertidur sambil menangis. Dinda langsung mendudukkan badannya dan bertanya.
"Kak Ren, kenapa aku menangis?".
"Aku tidak tau, tadi saat aku melihatmu tertidur kau tiba-tiba menangis, pasti kau bermimpi buruk, katakan kau bermimpi apa?". Rendy yang khawatir pada istrinya itu menggenggam tangan Dinda.
"Aku... Aku bermimpi tentang anak kita......". Mendengar kata Dinda, Rendy terkejut dan menampakkan ekspresi yang tidak bisa dipahami.
"Kak Ren, anakku mengira aku tidak menginginkannya! Dia bilang kalau aku mengira dia anak pembawa sial! Aku sangat sedih kehilangannya, andai saja.... ANDAI SAJA AKU TIDAK MEMBERI TAHU KAMU SOAL KEHAMILANKU, ANAKKU PASTI AKAN LAHIR DI DUNIA DAN TIDAK BERAKHIR SEPERTI ITU!". Air mata Dinda mengalir sangat deras, dia menangis sejadi-jadinya, Rendy diam dan memeluk Dinda,
"Ini semua salahku,...... Kamu bisa menghukum ku sesuka hatimu, tapi sungguh aku tidak ingin kau kehilangan anak pertamamu, aku melakukan ini demi Miran". Rendy mengatakan hal itu sambil menangis perlahan.
"A-apa katamu?! Miran? Demi Miran?!"...........?!
~TBC~
__ADS_1