Asmara Gadis Gendut

Asmara Gadis Gendut
Bab 18. Pergi


__ADS_3

Rasa yang seharusnya kini sedang tumbuh mendadak layu menyaksikan dengan jelas kebenaran yang di depan mata.


Aku kecewa, sangat kecewa dan betapa bodohnya aku terlalu menaruh harapan besar pada hubungan kami.


Kevin...


Mungkin...


Benar kata mereka aku memang tak pantas untuknya, jika dibandingkan dengan wanita yang duduk dengannya kini, aku tak ada apa apanya dia lebih cantik dan lebih segalanya dari pada aku.


Kevin..


Mungkin..


Benar kata mereka kalau aku tak layak di cintai.


Mereka sangat serasi, haruskah aku memberi selamat atau menamparnya saat ini.


Aku yakin mereka pasti tertawa saat tau kisah cinta yang aku banggakan adalah sebuah kebohongan.


Cinta.


Pertama kali aku mengenalnya dari dia yang duduk di sana.  Dari dia yang di sana juga aku merasakan sakitnya di bohongi dan dihianati. Apa memang aku gak pantas medapatkan cintaku?.


Aku melihat Kevin berdiri menghampiri meja kami, kak Gilang sudah mengepalkan tangannya tapi aku memberinya isyarat untuk tidak melakukan apapun.


" permisi om tante" sapa Kevin pada ayah dan bunda


"ya ada apa? kamu siapa?" tanya ayah


"perkenalkan saya Kevin dan saya pa-"


"dia teman kelasku yah, ada apa Vin? Gak ya nyangka ketemu di sini, apa mama kamu udah selesai belanja?" ucapku memotong perkataannya


Dia diam tak menanggapi ucapanku tapi menatapku dengan sendu, mata kami bertemu, rasanya sakit banget melihatnya tapi aku mencoba sekuat mungkin agar air mataku gak jatuh.


"ohh temannya Raya, silahkan duduk nak Kevin" ucap bunda lalu menatapku seakan tau sesuatu


"iya tante terimakasih" ucapnya duduk di depanku


"itu kekasihnya gak di ajak gabung, sini gabung sekalian nak" ajak bunda pada Yasmin seperti memastikan


Aku melihat dia ingin mengatakan seauatu tapi keburu Yasmin menghampiri kami dan duduk di sebelah Kevin.


"saya yasmin tante om, saya pacarnya Kevin dari jakarta" ucapnya memperkenalkan diri


meskipun sudah tau apa yang akan sebenarnya dia katakan tapi mendengar dan melihat langsung di depan mata kita itu rasanya jauh lebih menyakitkan.


"wahh jauh ya dari jakarta ke sini nemuin pacar, perjuangan cinta namanya hahaha" ucap ayah tertawa di sambut senyum oleh Yasmin


Kevin,


dia hanya diam melihatku yang tak memandangnya sama sekali. aku terus memakan makananku.


"maaf om tante apa boleh saya berbicara dengan Raya berdua, ada hal yang mau saya sampaikan" ucap Kevin meminta ijin


"gak bisa dan gak boleh, kalau mau bicara di sini jika tidak gak usah bicara sama adek gue" ucap kak Gilang dengan nada tegas


"emmb maaf nak Kevin mungkin lain kali saja ya bicara sama Raya, sepertinya kakaknya tidak mengijinkan, maklum Raya itu belum pernah dekat sama cowok jadi kakaknya agak posesif " jelas bunda memberi pengertian


"iya tante" jawabnya lesu


Aku memberanikan diri menatapnya dan mata kami bertemu. Aku dapat melihat penyesalan di matanya, mungkin saat ini mataku sudah memerah ingin menangis tapi aku selalu menahan agar tak membuat bunda khawatir.

__ADS_1


"kenapa kamu jahat Vin, kenapa harus seperti ini, apa salahku sampai kamu tega lakuin ini ke aku" ratapku getir


"maaf nak Kevin kami permisi pulang dulu, dan makannya sudah saya bayar sekalian " ucap ayah yang sepertinya paham dengan situasi ini


"iya om terimakasih" ucap Kevin pelan


"ayo Raya , Gilang kita pulang" ucap ayah pada kami


ayah dan bunda telah berjalan pergi, aku dan kak Gilang segera menyusulnya tapi belum sempat melangkah tanganku di cekal oleh Kevin


"Ray, dengarin penjelasan aku dulu pliss" pintanya


Buggh


satu pukulan mendarat di pipi Kevin.


"jangan pernah sentuh adek gue lagi jika loe masih mau hidup, dan jangan pernah temuin adek gue" ucap kak Gilang emosi


"Kak sudah, ayo kita pergi jangan buat keributan" ajakku pada kak Gilang


"dan untuk kamu Vin, terimakasih untuk cinta dan luka ini, semoga kamu bahagia dengan dia ya" ucapku dengan air mata yang sudah tak dapat ku tahan


Dia kembali meraih tanganku dan kembali kali Gilang menghajarnya.


"Gue bilang jangan sentuh adik gue" teriak kak Gilang lalu menarikku pergi


"nggak Ray, aku sayang samu Ray plisss dengerin aku dulu Ray" ucapnya tapi aku tak menghiraukannya lagi


"Rayaaaa, arrrggghhhh" aku dengar dia berteriak tapi aku tak menghiraukannya lagi


Aku dan kak Gilang telah sampai di mobil tapi baik ayah dan bunda tidak ada yang bertanya kenapa kami terlambat.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam di sebelah bunda. Aku menutup mataku mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi.


Tess..


Gagal sudah, akhirnya tak dapat lagi aku tahan air mataku, aku memeluk bunda dan terisak di pelukannya.


Tak ada kata yang keluar hanya isakan tangisku terdengar di mobil. Bunda terus memelukku dan mengusap punggungku seakan memberiku kekuatan untuk tegar.


Tak ada yang berbicara, hanya suara tangisku yang terdengar memilukan. Setelah puas menangis akhirnya aku berbicara.


"ayah bunda hiks hiks boleh Raya hiks minta sesuatu?" tanyaku pada mereka


"apapun akan kami berikan untukmu sayang, Raya mau apa ? bilang sama bunda" ucap bunda menghapus air mataku


"Raya minta pindah sekolah, Raya pengen pergi dari kota ini ayah bunda" ucapku menatap mata bunda sedih


"apa kamu yakin sayang mau pindah? jangan membuat keputusan saat emosi sayang , tenangin diri dulu ya" ucap bunda menenangkan


"keputusan Raya sudah bulat bunda, Raya gak mau di sini, Raya pengen suasana baru bun" jawabku


"dan lupain semuanya " lanjutku dalam hati


"baiklah jika itu keputusan kamu nak, ayah pasti akan melakukan apapun agar putri ayah ini bahagia" kata ayah meskipun nadanya lembut aku tau ada kemarahan di dalamnya


"terimakasih ayah bunda" ucapku memeluk bunda


Semoga Ini keputusan yang tepat, karena jika aku terus melihatnya maka aku akan semakin terluka. Biar orang bilang aku pengecut karena kabur dari masalah tapi keputusan setiap orang berbeda dan ini keputusanku. Yang terbaik untukku dan untuknya.


"Besok pagi Raya mau pindahnya yah" pintaku


"ya sayang terserah kamu" balas ayah dan setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara kami

__ADS_1


Meskipun kak Gilang terdiam dari tadi tapi aku yakin dia pasti sangat marah saat ini karena bagaimanapun yang mengijinkanku dan Kevin berpacaran adalah dia.


Aku tak tau lagi apa yang terjadi dengan Kevin dan pacarnya di resto. Setelah sampai di rumah, Malam ini aku telah mempersiapkan keperluanku untuk pergi besok pagi.


Aku memblokir semua kontak  dan mengeluarkan kartuku, selamat tinggal semua selamat tinggal sahabatku, semoga esok menjadi awal yang baru untukku.


Malam ini aku terakhir akan tidur di kasurku, perjalan kehidupan akan terus berjalan. Tapi mungkin hari ini aku harus lari dari masalah ini tapi Aku bahagia bisa mengenal dia dalam hidupku. aku bahagia bisa merasakan cinta dan dicintai meski hanya sebebtar.


malam telah berganti pagi, aku segera bersiap untuk perjalananku.


Aku akan di antar oleh ayah dan bunda pagi ini ke bandara.


"pagi semua" ucapku riang seolah tak terjadi apa apa


"pagi juga sayang, ayo sarapan dulu sebelum berangkat" ajak bunda


"iya bun" jawabku


"dek maaf ya kakak gak bisa antar kamu ke sana soalnya kakak ada kelas pagi hari ini dan gak bisa di tinggal" ucap kak Gilang


"iya kak gpp, kan sudah ada ayah dan bunda yang menemaniku beberapa hari di sana" jelasku


"kamu belajar yang rajin dek di sana dan jangan lupa jaga kesehatan dan kakak minta maaf untuk apapun yang terjadi" tutur kak Gilang lagi sambil mengelus rambutku


"iya kakakku tersayang, aku bakalan rindu kakak selama di sana, kakak jangan lupa tengok aku kesana ya setiap liburan" pintaku sambil tersenyum


"kalau itu jangan di tanya dek, kakak akan selalu datang ke sana sesering mungkin dan siapa tau dapat jodoh orang sana" kata kak Gilang


"sudah sudah cepat makan dan jangan bicara lagi Gilang" tegur ayah


"ya ayah " jawab kami serempak


ini akan menjadi sarapan bersama di rumah ini sebelum keberangkatanku. aku akan merindukan suasana ini.


"ayo dek sudah selesai kita berangkat" ajak ayah


"iya ayah" jawabku segera keluar rumah


"kak adek pergi dulu ya" pamitku sambil memeluknya dan kembali menangis


"hati hati dek di sana dan ingat pesan kakak tadi" ucap kak Gilang balas memelukku erat dan mencium keningku


"iya kak pasti dan kak jangan beritahu siapa pun tentang kemana aku pergi" pintaku


"iya dek" jawabnya mengelus rambutku lagi untuk terakhr kalinya sebelum berangkat


"assalamualaikum kak" salamku


"waalaikumsalam "


aku memasuki mobil dan perlahan membawaku ke bandara. Aku menyenderkan tubuhku ke belakang. sampai di bandara kami melakukan boardingpass Penerbanganku pukul 07.30. aku bersama dengan ayah dan bunda yang akan menemaniku di sana beberapa hari.


Aku melangkah menaiki tangga pesawat. Aku duduk tenang di kursiku memandang keluar.


"Selamat tinggal Surabaya dan selamat tinggal KEVIN " gumamku


Aku bukan melarikan diri hanya menghindar dari keterpurukan


~Raya Putri~


##################################


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2