Asmara Gadis Gendut

Asmara Gadis Gendut
Bab 42. Kevin 2


__ADS_3

Aku tak pernah terbayangkan olehku jika kejadian seperti ini akan terjadi. Ku pikir selama ada aku di sisinya dia akan baik baik saja.


"assalamualaikum yah, ini Kevin" sapaku pada ayahnya Raya


"waalaikumsalam Vin, ada apa? Kenapa telp pakai hp nya Raya, Rayanya mana?" tanya ayahnya Raya beruntun


"maaf yah Kevin gagal jaga Raya, Raya di tusuk orang di restoran xx dan sekarang ada di rumah sakit x, ayah sama bunda bisa ke sini" jelas ku panjang lebar


Keheningan terjadi di seberang sana, lalu terdengar helaan nafas kasar.


"lalu bagaimana sekarang keadaan Raya Vin? Dan pelakunya?"


"masih di ruang operasi yah dan pelakunya masih dalam pengejaran anak buah Kevin, Kevin pastikan siapapun orangnya akan mendapatkan akhir yang mengerikan" jawabku sambil menggertakkan gigi


"tolong jaga Raya sebentar, jangan kasih tau bundanya karena takutnya kondisinya drop saat tau keadaan Raya. Nanti ayah akan ke sana sama Gilang" jelasnya


"tapi yah mungkin bunda sudah tau dari teman teman Raya yang menghubungi telp rumah" jawabku khawatir


"kalau begitu ayah ke rumah dulu untuk memastikan, setelah itu langsung ke rumah sakit, tolong jaga Raya sebentar dan selalu kabari ayah kondisi Raya"


"baik yah assalamualaikum" salamku


"waalaikumsalam" jawabnya bertepatan pintu ruang operasi terbuka


"bagaimana dokter" tanyaku tak sabar


"pasien baik baik saja, operasinya lancar dan pasien akan di pindahkan ke ruang rawat untuk pemulihan" terang dokter


"terimakasih dok" jawabku lalu menunggu Raya di pindahkan


"tuan" panggil Ardi


"hm" jawabku singkat


"pelaku sudah ada di markas tuan, saat ini anggota kita menunggu perintah" jelasnya


"biarkan saja dulu dia menikmati sisa waktunya, namun saatnya tiba dia akan memohon kematiannya sendiri" ujarku pelan


"andai nona Raya tau sifat tuan yang ini dia pasti akan pingsan" pikir Ardi ngeri


#skip


Tak berapa lama setelah Raya di pindahkan mama datang sambil menangis, setelah aku memberitahunya tentang Raya.


Ternyata benar apa yang di khawatirkan ayah jika bunda telah menerima kabar dan kondisinya sekarang drop dan harus istirahat total. Alhasil hanya aku sendiri dan mama yang menunggu Raya siuman, namun karena sudah malam aku meminta mama pulang karena kasihan jika harus tidur di rumah sakit.


"Ke..vin" akhirnya suara yang ku tunggu terdengar membuka mata karena tadi aku tertidur di sebelahnya


"Sayang kamu sudah sadar? Jangan kayak gini lagi kamu bisa buat aku gila jika terjadi apa apa sama kamu Ray" ucapku sambil menciumi wajahnya bahagia


"Aku takut" jawabnya pelan dan menangis


"ssstt.. Jangan takut sayang, aku di sini. gak akan terjadi apa apa sama kamu oke. Tenang ya" tenang ku mengusap rambutku sayang


"semua akan baik baik saja" lanjut ku tegas tapi lembut

__ADS_1


"akan ku buat si baji***n itu membayar mahal atas air mata calon istriku" rutuk ku dalam hati


Tok tok tok


Ceklek


"Selamat sore" ucap seorang dokter membuatku menyingkir saat akan memeriksa kondisi Raya


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanyaku


"Beruntung Lukanya tidak terlalu dalam dan tidak menenai titik vital pasien jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dalam beberapa hari jika sudah membaik bisa istirahat di rumah"


Jelasnya ramah


"Syukurlah terimakasih dok" balasku lega seakan beban berat di pundakku terangkat


"Ya sama sama, kalau begitu saya permisi dulu dan jangan banyak bergerak dulu" pamit dokter itu


"Iya dok" jawabku


"Sayang haus" pintanya


"Sebentar" jawabku cekatan


"Kamu istirahat ya, aku sudah hubungin keluarga kita kalau kamu sudah siuman nanti mereka akan ke sini" perintahku tanpa memberitahukan keadaan bundanya karena aku takut dia sedih saat tau


"Aku mencintaimu Ray, aku takut saat melihat kamu menutup mata seperti ini" ucapku mencium keningnya


"maaf udah buat kamu khawatir" jawabku lirih


"mulai sekarang kalau mau pergi pergi harus sama aku, saat aku menerima telpon dari Yanti tentang kamu rasanya duniaku runtuh Ray, aku sanggup membayangkan apa yang terjadi padaku jika kamu kenapa napa. Saat kamu pergi aku masih menunggu karena aku yakin kamu pasti kembali. Tapi-" ceritaku padanya dan menggenggam tangannya erat


"em.. Sekarang kamu istirahat dulu" ujarku kemudian dan menaikkan selimutnya


#skip


Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya dia sudah boleh pulang. Aku bahagia bisa melihatnya beraktifitas lagi seperti biasanya.


Untuk pelakunya, dia bukanlah pelaku utama. Makanya aku sangat takut dengan keselamatan Raya. Ada dua orang yang sekarang masih ku selidiki dengan dugaan kuat salah satunya adalah dalang yang sesungguhnya.


Aku lebih protektif dengan menempatkan beberapa pengawal pribadi yang mengawasinya dari jauh, karena pasti dia tak akan mau jika harus di kawal. Dan juga jika terlalu mencolok melindunginya akan membuat musuh semakin waspada. Tunggu saja, akan ku lihat sejauh mana mereka akan bermain denganku.


#skip


Aku tak tau jika hari ini dia sudah boleh pulang, tau gitu kan aku gak akan mampir ke kantor tadi. Lihatlah dia yang sudah bersiap sendiri seperti bukan orang sakit, membuatku menggelengkan kepala.


Akhirnya kami telah sampai di rumah dan di sambut oleh bundanya, setelah menunggu ayah Raya selesai mandi kami menuju meja makan untuk sarapan bersama.


"Tante, om ada yang mau Kevin bicarakan" kataku yang saat ini kami berada di ruang tamu


"Apa Vin? Kok kelihatan serius" tanya ayah


"Emmbb, begini om tante saya berencana memajukan pernikahan kami satu minggu lagi" jelasku


"Apa?!! Tapi kenapa?" Tanya ku terkejut dan penasaran

__ADS_1


deg


"apa Raya gak mau?" pikirku menatapnya rumit


"Raya tenang dulu sayang, biar Kevin menjelaskan" tegur ayahnya


"Begini om tante, alasan saya memajukan hari pernikahan saya dengan Raya agar saya bisa memantaunya 24 jam, dan saya bisa leluasa merawatnya jika terjadi sesuatu padanya seperti kemaren itu mohon tante dan om mengerti saya juga ingin segera menghalalkan Raya agar segera menjadi istri saya" jelas ku panjang lebar


"semua demi kebaikanmu Ray, tolong jangan tolak" mohon ku dalam hati seakan tau apa yang akan Raya ucapkan


"Kalau om sama tante terserah Raya saja Vin, bagaimana menurut kamu Ray?"


"Aku gak setuju Vin, aku ingin semuanya sesuai dengan kesepakatan awal, aku tau maksud kamu baik tapi nggak harus memajukan pernikahan. Kita masih perlu mempersiapkan banyak hal dan gak baik juga kalau terburu buru" jelasnya membuatku menunduk sebentar


"kenapa Ray, bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya Kevin tampak kecewa


"semua butuh proses Vin, lagian aku juga baru keluar dari rumah sakit. Nanti kalau terburu buru hasilnya malah gak bagus" jelasnya lagi


Memang benar semua butuh proses, tapi dalam proses itu entah apa yang akan terjadi kemudian tak ada yang tau. Aku hanya mencemaskannya, bukan diriku.


setelah itu keheningan menerpa kami.


Aku terdiam mendengar penolakannya, tak mungkin aku memaksanya karena itu akan menyakitinya. Takut jika aku berbicara nanti akan membuatnya sedih jadi aku memilih diam hingga suara orang tuanya menyadarkanku.


"ekhem.. Ayah sama bunda ke atas dulu, kalian bicarakan baik baik sebelum mengambil keputusan, karena ini yang menjalani kalian jadi ayah sama bunda akan menerima apapun hasil akhirnya" lalu mereka meninggalkan kami berdua di ruang tamu


"Kevin" panggilnya membuatku menoleh karena dia di sebelahku


"hem" jawabku singkat


Karena aku tak tau harus bagaimana menanggapi hal ini. Di sisi lain aku takut dia akan terus menjadi target mereka sedang aku tak bisa melindunginya dengan terus menerus.


tapi di sisi lain juga aku tak ingin menolak keinginannya, karena akan membuatnya sedih dan kecewa padaku.


"jangan seperti ini" ucapnya memelukku seakan tau apa yang ku takutkan


Aku memeluknya erat, menyalurkan segala keresahan hati yang melanda


"kenapa terburu buru hem" tanyanya membuatku menghembuskan nafas lelah dan melepaskan pelukan kami


"aku takut kamu akan ninggalin aku lagi Ray, aku takut kejadian ini terjadi lagi dan aku tidak bisa melindungi kamu 24 jam" jelas ku pada akhirnya


"karena pelaku sebenarnya belum terpecahkan Ray dan kamu yang menjadi incaran mereka" tambahku dalam hati tentunya


"semua akan baik baik saja oke, aku gak akan pernah pergi dari kamu dan akan selalu sama sama kamu terus" jawabnya mencoba meyakinkanku dan aku menatapnya


"tinggal beberapa bulan lagi sayang, sabar ya" lanjutnya memelukku lagi


"baiklah, aku memang tak bisa menolak keinginanmu Ray, aku akan melakukan apapun asal kamu baik baik saja" kataku dalam hati


*** Terimakasih sudah membaca ceritaku...


Jangan lupa Like, Komen dan Vote ya..


biar penulis lebih semangat update nya"**

__ADS_1


##################################


Bersambung...


__ADS_2