
Hari ini aku ikut ke kantor ayah untuk pertama kalinya. Dengan pakaian kerja yang menurutku cocok aku berjalan mengikuti ayah memasuki gedung perusahaan. Aku melihat banyak karyawan yang menundukkan kepala ketika kami lewat.
"Ayah, Raya mau lihat lihat dulu ya besok baru mulai kerja soalnya Raya ada janji mau ketemu teman lama hehehe" ucapku sambil bergelayut manja di lengan ayah setelah di ruangannya
"Ya sudah kamu lihat lihat dulu nanti kalau mau pergi temui ayah di ruangan meeting lantai 24" jawab ayah
"Siap ayah, Raya sayang ayah" ucapku mencium pipi ayah
"Dasar manja kamu dek, nanti jangan lupa hubungin kakak atau ayah jika ada masalah" kata ayah
"Iya ayah Raya pergi dulu" pamit ku
"Iya" balas ayah
Aku berjalan mengelilingi kantor ayah melihat lihat para staf yang bekerja. Ada yang menyapa meski tak kenal ada pula yang memandang rendah. Ternyata tak pernah berubah ya cara pandang orang lain terhadapku.
"Hehh gadis anak baru!" seseorang tiba tiba berteriak padaku
"Ya ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku sopan
"Kamu karyawan baru kan? Ini fotocopy berkas ini sekarang jadikan 15 copy an dan antarkan ke ruang rapat di lantai 24, awas kalau sampai ada kesalahan" perintahnya
"Hufftt sabar" pikirku sambil menerima berkas yang lumayan banyak itu
Aku melangkah menuju tempat fotocopy yang tadi sempat aku lihat saat berkeliling. Untung tau jadi aku bisa cepat tak perlu muter muter.
Sekitar 10 menit aku telah selesai memfotocopy semua dan sekarang tinggal menuju ruang rapat.
"Beratnya berkas ini, tanganku sampai merah bawanya" gumamku pelan
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu rapat kemudian masuk. Aku melihat banyak orang di dalam termasuk ayah dan kak Gilang. Mereka tampak terkejut melihatku membawa berkas begitu banyak, tapi aku mengerlingkan mata.
"Kamu itu cuma fotocopy lama sekali, makanya jadi karyawan baru itu harus gesit jangan lelet biar gak lama bawanya" ucap karyawan tadi yang memerintah ku ketus
"Maaf pak" ucapku
"Ya sudah kamu boleh pergi" perintahnya
Aku berbalik hendak pergi hingga suara seseorang menghentikan ku
"Tunggu" ucapnya yang ku tau itu kak Gilang
Kakakku ini memang tak pernah bisa diam jika adiknya di sakiti.
"Maaf pak dia karyawan baru jadi dia mungkin bingung tempat fotocopy nya jadi itu yang membuat berkasnya terlambat" jelas karyawan yang tadi
"Bukannya itu bagian tugas kamu kenapa dia yang mem fotocopy berkasnya?" Tanya kak Gilang
"Saya hanya sedikit memberinya pelajaran pak karena saat yang lain bekerja dia malah asyik keluyuran, dan biar dia sedikit olahraga pak" jawabnya lagi
"Dan kamu siapa nama kamu?" Tanya kak Gilang padaku
"Raya ka- eh pak" jawabku
__ADS_1
"Nama lengkap?" Kata kak Gilang lagi
"Apa sih maunya kak Gilang ini?" Pikirku
"Raya Putri Atmaja pak" jawabku tegas
"Dan kamu coba kamu ulangi namanya tadi" suruh kak Gilang pada karyawan itu
"Raya Putri Atma-" dia tidak melanjutkan kalimatnya tapi dia menatapku dengan mata melotot
"Maafkan saya nona, saya sudah lancang menyuruh anda" ucapnya langsung membungkuk padaku
Ohhh jadi ini maksud kak Gilang.
"Tidak apa apa kok saya senang bisa membantu" ucapku sambil tersenyum
"Kamu sudah berani menghina adik saya di depan saya bahkan di depan ayah saya pemilik perusahaan ini mulai sekarang kamu saya pe-"
"Kak sudahlah lagian dia juga tidak tahu aku siapa dan juga aku gak masalah di mintai tolong selagi aku bisa" jawabku memotong omongannya
"Tapi dek dia-"
"Ayah kak Gilang gak mau turutin aku" ucapku mengadu pada ayah
"Gilang sudah kita akan segera mulai rapat, dan untuk kamu dan siapapun jangan pernah memberikan pekerjaannya pada orang lain meskipun itu karyawan baru" kata ayah menengahi kami
"Ayah, adek mau ke pergi sekarang ya" pamit ku
"Kemana dek?" Tanya kak Gilang
"Ada deh kakak kepo hehehe, assalamualaikum"
"Siap" jawabku seraya berjalan meninggalkan ruang rapat
#skip
Di sinilah aku sekarang, setelah membayar taxi aku segera melangkahkan kakiku ke gedung perusahaan Kevin. Jantungku berdetak kencang membayangkan bertemu dengannya.
"Semoga dia ada di dalam" gumamku
"Permisi saya ingin bertemu dengan Kevin, apa dia ada?" Tanyaku sopan pada resepsionis
"Maaf bu apa sudah buat janji?" Tanyanya
"Emmb belum mbak" jawabku
"Tunggu sebentar saya tanyakan dulu ya bu" jawabnya
"Iya mbk"
Ku lihat dia menghubungi seseorang entah apa yang di katakan orang di seberang sana.
"Maaf bu pak Kevin nya sedang rapat ibu bisa menunggu di loby sebelah sana" kata resepsionis itu
"Baik terimakasih saya kesana dulu" ucapku lalu berlalu pergi dan duduk di lobi
__ADS_1
Aku melihat jam tanganku masih pukul 10 dan mungkin sebentar lagi selesai. Satu jam telah berlalu tapi Kevin masih belum muncul juga.
"Apa masih lama ya?" Gumamku pelan
"Capek aku duduk terus seperti ini" gumamku lagi
Aku benar benar bosan di sini sudah hampir dua jam aku menunggu tapi tak kunjung datang juga Kevin.
"Apa jangan jangan tidak di kasih tau kalau aku menunggu di sini" kataku seraya bangkit menuju resepsionis lagi
"Maaf mbak apa masih lama rapatnya?" Tanyaku
"Sudah selesai bu, ibu bisa langsung ke ruangan beliau di lantai 28" jawabnya sopan
"Iya terimakasih ya" jawabku sedikit sewot karena capek
Akhirnya aku bisa menemuinya juga sudah dua jam aku menunggu. Punggungku rasanya capek duduk terus dari tadi. Sekarang aku telah sampai di lantai 28 dan berdiri di depan pintu. Karena tidak ada siapapun jadi aku putuskan untuk langsung saja.
"Ini pasti ruangannya Kevin" pikirku antusias
"Pintunya kok tidak di tutup rapat? Apa aku masuk saja ya?" Pikirku
"Permisi" ucapku sambil membuka pintu
Deg
Mata kami saling memandang sepersekian detik hingga aku tersadar
"Maaf saya tidak sengaja" ucapku seraya kembali menutup pintu dan pergi
Entah apa yang kurasakan, kenapa aku harus lari seperti ini? Bukannya dulu aku yang meninggalkannya kenapa aku sekarang sakit hati melihatnya dengan wanita lain. Harusnya aku gak sepenuhnya percaya dengan ucapan Yanti waktu itu karena mana mungkin orang setampan Kevin dan sesukses dia masih mengharapkan aku yang tak menarik sama sekali.
Lagi lagi aku lari tanpa mendengarkannya
Bodoh
Lagi, air mata ini jatuh untuk orang yang sama yaitu Kevin.
Aku berlari cepat keluar dari perusahaan Kevin dan segera menghentikan taxi yang lewat. Saat hendak membuka pintu taxi tanganku di cekal oleh seseorang dan seketika aku menoleh.
Deg deg deg
Mata kami saling beradu pandang seakan menggambarkan kerinduan yang teramat sangat. Dia menatapku dalam dengan tangannya memegang tanganku erat seakan tak akan dilepasnya lagi.
Kevin
Dia Kevin yang kini berdiri di depanku, tak ada kata terucap dari bibir kami hanya mata kami yang saling menatap dalam. Tangannya terulur menghapus air mata di pipiku yang masih mengalir. Aku memejamkan mata menikmati sentuhan lembut tangannya di pipiku.
Mata yang kurindukan dan sentuhan ini yang selalu ku harapkan.
"Aku merindukanmu Ray" ucapnya seraya menarik ku dalam pelukannya
yang selalu orang bodoh lakukan adalah mengulangi kesalahan yang sama
~Raya Putri~
__ADS_1
##################################
Bersambung...