
Episode sebelumnya.....
"Dan untuk acaranya terserah kalian deh maunya gimana" lanjutnya
"Saya tidak setuju" ucap seseorang yang tiba tiba menyela pembicaraan kami
################################
Kami menoleh ke asal suara, di depan pintu terlihat wanita paruh baya menghampiri kami yang tengah duduk di ruang tamu, papa dan mama Kevin lekas berdiri sehingga membuat kami ikut berdiri.
"cobaan apa lagi ini Tuhan, kenapa di saat kami melangkah ke arah yang lebih baik selalu ada yang menghalangi" pikirku dan menghela nafas
Wanita tua itu berjalan masuk dan berdiri di depan kami, menatap kami satu persatu dan berhenti saat menatapku.
"Nenek? Kapan nenek datang? Dan apa maksud nenek tidak setuju? Ini pilihan Kevin nek dan Kevin sangat mencintai dia nek. Setuju atau tidak Kevin akan tetap menikahi Raya" sanggah Kevin tegas sebelum wanita yang di panggil nenek berbicara
Aku yang mendengar Kevin berbicara seperti itu segera mencubit pinggangnya.
"aduh, sakit sayang" ucapnya memelas menatapku
"jangan bicara seperti itu, gak sopan. Dengerin dulu alasannya" bisikku lirih dan dia menghela nafas kasar lalu mengangguk
"Kevin tenang dulu, mama duduk dulu kita bicara baik baik" ucap tante Diana pada wanita paruh baya itu yang ternyata neneknya Kevin dan menuntunnya untuk duduk
"Apa alasan nenek tidak setuju dengan Raya?" Tanya Kevin lagi tidak sabar
Aku geleng- geleng kepala melihatnya.
"Alasan? Kamu tidak berpikir bahwa wanita ini yang membuat kamu terpuruk hingga nyaris gila dan sekarang dia kembali begitu saja dan kalian menerimanya? Dan kamu Sandi kenapa kamu membiarkan wanita yang membuat kehancuran putramu menjadi calon istrinya?" Jawab nenek itu sambil menatapku marah membuatku menunduk
"ya semua itu benar" jawabku dalam hati
"cukup nek, itu bukan salah Raya. Itu salahku yang sudah membohongi dia jadi wajar dia marah dan pergi" ujar Kevin membelaku
"kamu bodoh atau gimana sih, dia kembali pasti karena kamu sudah sukses dan kaya raya. pandai juga memilih waktu. Pokoknya nenek gak setuju dengan pilihan kamu yang ini" ketus nenek Kevin sambil menatapku
"nenek -"
"Maaf nek saya memang bersalah atas apa yang terjadi pada Kevin dulu. Saya adalah alasan yang telah membuat kehancuran bagi Kevin. Tapi kami sama sama bersalah dan bukan hanya saya saja. Alasan kepergian saya karena luka yang Kevin berikan, sedang alasan terlukanya dia karena kepergian saya. Kami sudah mendapatkan banyak rasa sakit selama berpisah. Kerinduan, kehampaan, kesendirian yang selalu menemani kami di tujuh tahun kemaren. Kami banyak belajar tentang sebuah hubungan selama waktu perpisahan itu. Bukan hanya cinta yang di perlukan tapi kejujuran dan kepercayaan itu yang utama" jawabku sambil menatap mata neneknya Kevin
"sekarang takdir mempertemukan kami lagi, kami bahagia karena kami masih memiliki rasa yang sama. Tolong jangan membuat kami kembali menjalani hari dalam kehampaan nek" lanjut Kevin meneruskan ucapanku
"maksud kamu apa? Mau menyalahkan cucu saya? Semua itu salah kamu jangan mencari - cari kesalahan orang lain" tutur neneknya seperti tidak tau alasanku pergi
Air mataku hampir tumpah jika bukan karena sebuah tangan yang selalu menggenggam ku dari tadi. Kevin dia seolah menenangkan bahwa semua akan baik baik saja.
"benar aku punya Kevin" pikirku sambil menatapnya hangat
"Cih, sok melas" sindir Tiara yang sedari tadi diam
"Tiara jaga mulut kamu" ucap tante Diana yang ikut menangis mengenang kisah kami yang baru seumur jagung harus kandas karena kesalahpahaman
"nenek lihat kan, wanita ini sudah menyihir tante dan om" adu Tiara pada nenek Kevin
"Cukup Tiara kamu tidak perlu ikut campur urusan kami, masuk ke kamar kamu sekarang" perintah om Sandi
__ADS_1
"Tapi om a-"
"Masuk sekarang sebelum om menyuruhmu keluar dari rumah ini" perintah om Sandi tegas memotong ucapannya sehingga diapun bangkit dan meninggalkan kami berlima di sini
"Ma, mama itu tidak mengerti kejadian yang sebenarnya dan itu bukan salah Raya itu salah Kevin ma" kata om Sandi menjelaskan
"Siapapun yang salah harusnya dia tidak bersikap seperti itu, pokoknya mama tidak setuju dengan dia" balas nenek itu
"Ini hidup Kevin nek jadi siapapun tidak berhak mengaturnya termasuk nenek, Kevin mencintai Raya dan hanya Raya wanita yang akan Kevin nikahi" ucap Kevin emosi membuatku semakin bersalah dan aku merasakan genggamannya semakin erat
"Jangan tertipu dengan tampang polosnya Kevin, dia kembali karena kamu sudah sukses coba kalau kamu tidak punya apa apa pasti dia tidak akan mencari mu" tutur neneknya lagi- lagi menghinaku
"Cukup nek!" ucap Kevin berdiri dengan emosi membuatku ikut berdiri dan menenangkannya
"Kevin duduk, jangan berbicara kasar pada nenekmu" perintah om Sandi
"Duduk dulu vin, ma jangan bicara seperti itu Raya itu gadis baik baik ma bukan seperti yang mama pikirkan" sambung tante Diana
Kevin telah duduk kembali tapi masih terlihat emosi dari raut wajahnya. Aku menghela nafas kasar, semua ini terjadi karena aku yang pergi meninggalkan Kevin. Namun kepergianku itu karena ada sebabnya bukan karena berniat meninggalkannya begitu saja.
"Nek, apa nenek tidak tau jika kepergian Raya waktu itu karena-"
"Kevin biar papa yang menjelaskan kamu diam saja, mama tidak mau kamu mengingat hal itu lagi" potong tante Diana
"Tidak ma biar Kevin yang menjelaskan" tolak Kevin
"Nenek tahu dia adalah Raya cinta pertama Kevin saat Kevin masih SMA dan dia wanita yang sangat Kevin cintai. Kepergiannya adalah kesalahan Kevin bukan karena dia ingin meninggalkan Kevin. Waktu itu dia melihat Kevin sedang bersama wanita yang menjebak Kevin sedang makan bersama seperti pasangan kekasih dan dia melihat semua perlakuan wanita itu mulai dari memeluk Kevin hingga mencium Kevin semua itu di lihatnya" dia menghela nafas
"Dia menangis melihatku bersama wanita lain di hadapannya kemudian dia memutuskan Kevin dan dia pergi. Apa itu salahnya nek? Itu salah Kevin cucu nenek yang b******* ini telah mengkhianatinya. Dan untuk keterpurukan Kevin itu adalah hukuman karena sudah menyakiti wanita sebaik Raya" jelas Kevin sambil menggenggam tanganku
"Ma apa yang dikatakan Kevin itu benar dan wanita itu sekarang ada di penjara" sambung tante Diana
Aku mengangkat wajahku melihat seseorang berdiri di depanku. Aku pun refleks berdiri karena neneknya Kevin menatapku tajam dan berdiri di depanku.
plakk
Sebuah tamparan yang aku dapatkan membuatku memejamkan mata menerima. Tamparan itu tidak sakit tapi cukup membuatku terkejut, karena nenek Kevin menamparku pelan.
"Nenek!" Ucap Kevin dengan suara keras dan berdiri di sebelahku
"Dasar cucu kurang ajar berani kamu membentak nenekmu ini hah? Dan kamu sudah menyakiti hati seorang wanita" ucap neneknya yang kemudian menoleh ke arah Kevin kemudian menjewer telinganya
"Ampun nek ampun, sakit nek lepaskan" ucap Kevin meringis kesakitan membuatku meringis.
"yah akhirnya kami sama- sama dapat hukuman dari neneknya" pikirku lega
"Sebelum nenek lepaskan kamu harus janji dulu tidak akan menyakitinya lagi setelah menikah nanti" perintah neneknya
"Kevin janji nek, jadi nenek setuju kan dengan pilihan Kevin?" Tanya Kevin dan neneknya hanya mengangguk
"Sayang maafkan nenek ya menampar kamu, gak sakit kan ya nenek kan menamparnya pakai perasaan" ucap neneknya sambil membelai pipiku lembut dan tersenyum
"Tidak nek hanya sedikit terkejut" ucapku tersenyum
"Maaf nenek tadi sempat meragukan mu sayang, sebenarnya nenek hanya mau melihat kesungguhan kalian saja. Jangan melangkah ke jenjang yang serius jika tidak ada komitmen bersama yang kuat, sebuah hubungan harus saling mendukung dan saling percaya" ucap nenek sembari memelukku dan memberi nasehat
__ADS_1
"Iya nek" jawabku membalas pelukannya dengan senyuman ceria di wajahku
"Sudah nek jangan lama lama memeluk Raya, dia punya Kevin" ucap Kevin memisahkan kami
"dasar kamu ini" ucap nenek lalu kembali duduk di sebelah tante Diana
"Akhirnya semuanya sudah selesai dan tidak ada masalah lagi. Berarti hari minggu diputuskan ke rumah Raya sesuai rencana awal" kata om Sandi
"Akhirnya aku dapat menantu juga, pa sebentar lagi kita akan jadi nenek jika mereka cepat menikah" ujar tante Diana antusias
Aku tersenyum melihat wajah wajah bahagia merestui hubungan kami berdua. Aku bersyukur keluarga Kevin bisa menerimaku dengan baik tinggal nenek lampir itu yang mencari masalah.
"Kevin sudah malam sebaiknya kamu antar Raya pulang" perintah om Sandi
"Iya pah, ayo sayang aku antar pulang" ajak Kevin
"Sebentar aku ambil tas dulu di kamar kamu" jawabku
"Biar aku saja yang ambil sekalian ambil kunci mobil" cegah Kevin dan aku hanya mengangguk
"Antarkan nenek sekalian ke kamarnya Vin biar nenek istirahat" perintah om Sandi
"Iya pa, ayo nek ke kamar" ajak Kevin
"Raya hati hati pulangnya ya nenek mau istirahat dulu" pesan nenek
"Iya nek" jawabku tersenyum
Aku melihat nenek pergi bersama Kevin kemudian tante Diana menghampiriku dan duduk di sebelahku.
"Sayang maafkan perkataan nenek tadi ya, dia memang seperti itu kalau tidak sesuai keinginannya tapi aslinya nenek baik banget orangnya" ucap tante Diana sambil mengelus rambutku
"Iya tante" jawabku tersenyum
"Tante lagi sih sayang, panggil mama" tegur tante Diana padaku
"Iya ma" jawabku kikuk
"Ayo sayang" ajak Kevin setelah mengambil kunci dan tasku
"Mama aku pamit pulang dulu ya" ucapku berpamitan dan mencium tangannya
"pa saya permisi pulang dulu" pamit ku pada om Sandi
"Iya hati hati sayang, salam buat ayah dan bunda ya" pesan tante Diana
"Iya ma assalamualaikum" salamku dan Kevin
"Waalaikumsalam" jawab mereka
Terimakasih buat pembaca sekalian yang sudah mampir ke cerita aku..
Jangan lupa VOTE ya biar author semakin semangat dalam update nya..
##############################
__ADS_1
Bersambung....