![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Be rainbow in someone else's cloud."
◆◇◆
Minggu pertama Atherio di markas bawah tanah, Atherio sedang berlatih kemampuan berbicara dan kemampuan menguasai bahasa asing bersama Carlos dan Min Hyuk.
Sementara itu, Atherina sedang memperhatikan adiknya dari kejauhan. Sesekali dia tersenyum melihat wajah kesal Atherio.
"Kenapa kita tidak bicara menggunakan bahasa Korea saja?" Tanya Atherio setengah menggerutu.
"Tapi Tuan, rekan bisnis kita bukan hanya orang Korea, ada banyak rekan bisnis yang berasal dari luar negeri." Mendengar ucapan Min Hyuk, tubuh Atherio tersandar lemas ke kursi.
"Ayah benar-benar ingin membunuhku secara perlahan, padahal aku bukan pengkhianat," gumam Atherio pelan. Min Hyuk terkekeh geli mendengar ucapan Atherio.
"Jadi, ini akan di lanjutkan?" Tanya Carlos. "Sebentar, rasanya lidahku bermasalah."
Atherina terkekeh kecil.
Minggu selanjutnya, Atherio berlatih komputer dengan Joon Ki. Pria itu menjelaskan tentang perangkat-perangkat penting yang bisa di gunakan untuk meretas sistem komputer. Atherio mendengarkan Joon Ki dengan serius.
"Itu mudah sekali, bukan?" Mendengar pertanyaan Joon Ki, Atherio mendongkak menatap pelatihnya itu. Dengan senyuman manis, Atherio menggelengkan kepalanya. Joon Ki memutar kedua bola matanya.
Atherina yang memperhatikan Atherio di tempat yang sama, tampak tersenyum simpul.
Minggu selanjutnya, Gun Seok bersama Carlos menjelaskan strategi dan cara kepemimpinan yang baik kepada Atherio. Dia mendengarkannya dengan serius, kali ini dia tampak mengerti.
"Berpikir cepat," gumam Atherio. Carlos dan Gun Seok saling pandang lalu menganggukkan kepalanya.
Tidak ada Atherina yang biasa memperhatikannya. Entah kemana gadis itu.
Minggu selanjutnya, Esteban menjelaskan cara memegang pistol dengan benar.
Esteban membidik dada kiri manekin yang sudah tersedia di ruang latihan.
Dor!
Satu tembakan membuat manekin itu hancur. Atherio terpukau dengan kemampuan Esteban. Atherio di suruh menembak kepala manekin.
Dor!
Atherio terkejut karena suara letupan dari pistol yang dia pegang. Tembakannya mengenai telinga manekin. Esteban yang melipat kedua tangan di depan dada tersenyum sambil menunjukkan jempolnya.
"Awal yang bagus," ucap Esteban.
Atherio terkekeh kecil.
Atherina ada di tempat biasa, dia memperhatikan adiknya sambil tersenyum bangga.
Minggu selanjutnya, Atherio berlatih bela diri bersama Victor. Gerakan Atherio masih sangat kurang. Setelah merasa kelelahan, dia memilih duduk di lantai lalu terbaring dengan napas terengah-engah.
Victor duduk di samping Atherio, dia menyodorkan botol air mineral pada tuan mudanya itu. Atherio menerimanya, "Terima kasih, Paman Victor."
Atherio bangkit untuk duduk. Tangannya bergerak membuka botol air mineral tersebut, namun tak kunjung terbuka. Dia memberikannya pada Victor. Victor menoleh lalu mengambil botol tersebut dan membukakannya untuk Atherio. Victor mengembalikannya kepada Atherio.
Atherio segera meminum air mineral tersebut sampai-sampai sebagian membasahi dagu dan mengalir ke dadanya. Melihat itu, Victor menggeleng sambil tersenyum.
Satu botol habis, napasnya masih terengah-engah. "Apakah.. kak Nana juga berlatih seperti ini?" Tanya Atherio.
"Kurasa lebih dari ini, nona Park kadang berlatih dua kali lipat dari jam biasanya. Dia bahkan belum mau meminum air mineral setetes pun sebelum menguasai satu gerakan sempurna." Pandangan Atherio berubah menyendu setelah mendengar jawaban Victor.
"Apa dia begitu kuat?" Tanya Atherio. "Aku tidak berhak menilai nona Park," jawab Victor. Atherio menghela napas pelan.
Selain jadwal sekolah, hari-hari Atherio di penuhi dengan jadwal latihan. Dia memang sering mengeluh, tapi dia berlatih dengan baik. Kadang dia kabur dari tempat latihan atau berpura-pura tidur. Para pelatihnya juga kadang kewalahan dengan sikap kekanakannya.
Para pelatih yang merupakan orang-orang kepercayaan Park tidak berani melaporkan sikap Atherio pada Park. Mereka lebih sering melaporkannya pada Atherina. Sehingga gadis itu terkadang harus turun tangan menasehati Atherio.
Namun belakang ini, Atherina jarang berada di rumah. Atherio dan Atherina hanya bertemu di jam sarapan. Kadang keduanya tidak bersamaan ketika berangkat ke sekolah, Atherio selalu berangkat lebih dulu. Pulang sekolah, Atherio berlatih di markas bawah tanah, sementara Atherina mengurus kepentingan kelompok di tempat lain.
Atherio mendengus kesal, dia meminum air mineral yang di berikan Ji Hoo padanya.
Selama ini kakak berlatih sekeras ini? Tapi dia tidak tampak terbebani sama sekali. Dia benar-benar hebat.
Atherio merebahkan tubuhnya di meja. Ji Hoo yang duduk di kursi membuka botol air mineralnya. Kedua mata bulat Atherio menatap langit-langit markas.
Aku merindukan kak Nana.. sedang apa dia sekarang? Apa dia juga merindukanku?
"Apa kak Nana pernah kabur ketika di paksa latihan?" Tanya Atherio. Ji Hoo tidak jadi menegak air mineralnya. Dia menoleh pada Atherio.
"Nona Park tidak pernah kabur ketika latihan, selain itu dia juga tidak pernah di paksa latihan. Nona Park sendiri yang minta untuk di latih," jawab Ji Hoo lalu meminum air mineralnya. Atherio mencerna jawaban Ji Hoo.
__ADS_1
"Ah, kenapa sesulit ini.."
"Nona Park tidak pernah mengeluh, dia selalu yakin dengan kemampuannya, itulah sebabnya dia menjadi seorang pemimpin.. bukankah Tuan muda adalah pemimpin yang sesungguhnya? Seharusnya anda bisa mencontoh nona Park."
"Aaahhh.. bicaramu pedas sekali, Paman."
Ji Hoo terkekeh kecil, "Nona Park pernah bilang, jika dia tidaklah kuat, makanya dia ingin berlatih untuk menjadi kuat dan menjadi pelindung keluarga Park."
"Pelindung? Kenapa dia mau jadi pelindung? Jika jawabanya adalah perintah ayah, kenapa ayah tidak memilihku? Apa karena aku lemah?"
"Tidak, itu karena Tuan Muda adalah pemimpin," sanggah Ji Hoo.
"Bukankah tugas pemimpin adalah untuk melindungi anggotanya?"
"Iya, itu benar. Tugas anda sebagai pemimpin adalah untuk melindungi anggota keluarga anda, tugas nona Park adalah untuk melindungi anda, pemimpin kami."
Atherio mencerna ucapan Ji Hoo yang menurutnya ambigu. "Ah, ucapan Paman Ji Hoo sama membingungkan seperti ucapan paman Carlos dan paman Min Hyuk," gerutu Atherio.
Ji Hoo tertawa lepas, "Aku bukan ahli berbahasa seperti mereka berdua. Tugasku adalah memaki orang."
Atherio tertawa, "Seperti paman Gun Seok." Ji Hoo mengangguk, "Ya, kami memang orang yang paling sering bertengkar.. makanya Tuan Park memisahkan kami." tatapan Ji Hoo menerawang.
"Di dunia gangster, pemimpin adalah lambang kemenangan.. jika pemimpin sebuah kelompok di kalahkan, maka seluruh kelompok itu kalah."
"Apa anggota kelompoknya tidak berhak membalas kekalahan pemimpinnya?" Tanya Atherio sambil menatap Ji Hoo dengan serius. Ji Hoo menggeleng, "Itu jarang terjadi, karena anggota kelompoknya akan di bantai, atau memilih ikut bergabung dengan mereka."
Atherio mengacak rambutnya yang basah karena keringat, "Aku perlu banyak belajar dari kalian, ini menyusahkan. Kalian memiliki satu kemampuan, sementara aku harus menguasai masing-masing kemampuan kalian.. tidak adil." Atherio mendengus pelan.
"Di dunia gangster, pemimpin yang memiliki banyak kemampuan adalah pemimpin yang paling di takuti, paling di segani, paling di hormati, seperti Tuan Park.."
Ji Hoo menarik napas sejenak, dia meminum lagi air mineralnya, lalu melanjutkan kalimat yang sempat terputus. ".. karena musuh atau rekan sekali pun akan berpikir dua kali untuk menjatuhkan kelompok yang memiliki pemimpin seperti itu."
Atherio mengangguk mengerti, "Kenapa polisi tidak mencium pergerakan anggota kelompok dunia gangster? Padahal sering terjadi pembunuhan dan kekerasan," Tanya Atherio.
"Ketika satu orang anggota gangster tertangkap, maka anggota lainnya atau bahkan satu kelompok tersebut akan tertangkap juga.. jika satu kelompok itu tertangkap, maka kelompok lain yang bekerja sama dengan kelompok tersebut akan terseret juga.. bahkan musuh dari kelompok tersebut juga akan terseret." Ji Hoo menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inilah istimewanya dunia gangster, jika sebuah kelompok terancam bahaya, musuh pun siap melindungi agar mereka tidak ikut terseret. Jika semua kelompok tertangkap, maka dunia gelap akan runtuh, perlu puluhan tahun untuk menghidupkan kembali dunia gelap. Dunia gangster tidaklah besar, setiap kelompok memiliki hubungan satu sama lain."
"Seperti rantai," gumam Atherio. Ji Hoo mengangguk, "Benar sekali, dulu di sebuah daerah pernah terjadi penangkapan anggota gangster besar-besaran, itu karena mereka tidak saling melindungi di dunia gelap. Mereka bersikap individualis."
Atherio mengangguk mengerti, dia meregangkan tubuhnya seperti bayi. "Aku mau pulang saja, ini sudah sore."
"Nona Atherina akan mempertanyakanku nantinya jika Tuan Muda pergi," ucap Ji Hoo. "Tenang saja, Paman, aku yang akan membelamu.. aku duluan, ya." Atherio melambaikan tangannya sambil berlalu meninggalkan markas bawah tanah.
◆◇◆
Atherio tidak melihat mobil yang sering di pakai Atherina di garasi, itu menandakan kakaknya tidak berada di rumah.
Atherio bertanya pada salah satu pelayan, "Apa kak Nana pergi keluar?"
Pelayan itu membungkukkan badannya, "Iya, Tuan, nona pergi beberapa menit yang lalu."
Atherio terkejut, "Apa orang-orangnya ayah bersama kak Nana?" Pelayan itu menggeleng, "Nona pergi bersama beberapa bodyguard."
"Kau boleh kembali bekerja." Pelayan itu menjawab dengan anggukkan.
"Di dunia gangster, pemimpin adalah lambang kemenangan.. jika pemimpin sebuah kelompok di kalahkan, maka seluruh kelompok itu kalah." Kata-kata Ji Hoo masih terngiang di telinganya.
Atherio bergegas keluar dari rumah, dia melihat mobil yang di kemudikan Ji Hoo memasuki pelataran rumahnya. Ji Hoo menurunkan kaca mobil sembari melihat Atherio.
"Ada apa, Tuan? Kenapa kau terlihat panik?" Tanpa menghiraukan pertanyaan Ji Hoo, Atherio memasuki mobil tersebut.
"Kak Nana mengadakan pertemuan sendirian dengan rekannya. Aku pikir itu bukan hal yang bagus. Kita harus mencarinya." Nada bicara Atherio terdengar panik.
"Memangnya tidak ada seorang pun yang menemaninya?" Tanya Ji Hoo.
"Tidak ada, hanya ada beberapa anak buah, cepat jalankan mobilnya." Atherio memukul dashboard karena mencemaskan kakaknya.
"Kemana?"
Atherio mendadak diam karena pertanyaan Ji Hoo. Pemimpin dari ketujuh orang kepercayaan ayahnya itu menggeleng pelan, dia memasang alat komunikasi berbentuk oval ke telinganya.
"Joon Ki, aktifkan alat pelacak nona Park." Ji Hoo memberikan perintah.
"Baik."
"Tanyakan pada teman-teman Paman, kenapa mereka tidak ada yang menemani kakakku!" Gerutu Atherio.
Ji Hoo mengangguk kemudian kembali bicara, "Joon Ki, hubungkan aku dengan yang lainnya."
"Sebentar, lokasinya sudah aku kirim ke komputer di mobil yang kau pakai.."
__ADS_1
Ji Hoo menyalakan laptop yang berukuran sedang di mobil. "Biar aku saja," kata Atherio sambil mengambil alih komputer.
"Ini lokasinya sudah ketemu," kata Atherio. Ji Hoo mengangguk lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Park.
".. aku sudah menghubungkanmu dengan yang lainnya," kata Joon Ki dari seberang sana.
"Carlos? Apa kau mendengarku?" Tanya Ji Hoo sambil fokus menyetir. Atherio melihat pada Ji Hoo.
"Iya, ini aku.. ada apa Ji Hoo?" Carlos bersama Min Hyuk sedang mengadakan pertemuan juga di tempat lain.
"Kenapa kau tidak menemani nona Park ke pertemuan? Apa kau begitu sibuk?" Tanya Ji Hoo sambil menoleh pada Atherio. Dia memberikan alat yang sama pada Atherio.
Atherio menerimanya dan memasangnya ke telinga. "Siapa yang bertanggung jawab menemani kakak ke pertemuan itu?" Tanya Atherio yang sudah kesal. Ji Hoo memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
"Aku di perintahkan Tuan Park untuk ke pertemuan lain bersama Carlos," jawab Min Hyuk.
"Ini aku, Victor.. aku sedang bersama anggota lain melatih anggota baru." Victor membenarkan alat komunikasinya sambil memperhatikan beberapa anggota baru yang sedang berlatih.
"Gun Seok di sini, aku sedang mengatasi permasalahan di wilayah kekuasaan Tuan Park." Gun Seok tengah mengawasi pembangunan di wilayah baru milik Park.
"Aku sedang melakukan transaksi penjualan senjata terbaru dari Amerika, maaf aku tidak bisa mendampingi nona Park." Esteban membelakangi orang-orang yang sedang melihat-lihat senjata yang dia bawa.
Atherio mengepalkan tangannya, Ji Hoo menyadari kemarahan tuannya. "Kenapa kalian memperdulikan yang tidak lebih penting dari seorang pemimpin? Jika kakakku kenapa-napa, bukan hanya kalian, tapi juga kelompok ayahku akan dalam bahaya!" Atherio melemparkan alat komunikasinya.
"Tuan muda,"
Tatapan Ji Hoo lurus ke jalanan, ternyata tuan muda sudah besar. Dia akan menjadi pemimpin yang lebih tegas setelah nona Atherina.
Atherio kembali mengambil alat komunikasi yang sempat dia lempar. Dia memasangnya kembali.
Mobil yang di kendarai Ji Hoo terhenti di depan sebuah gedung terbengkalai. Mereka berdua segera keluar dari dalam mobil.
"Kenapa gangster memilih tempat mengerikan ini sebagai tempat pertemuan? Restoran lebih baik, kurasa." Atherio menggerutu sendiri.
Ji Hoo mengambil beberapa pistol dari kotak persenjataan di kursi belakang.
"Ji Hoo? Kau di mana?" Gun Seok memasuki mobilnya.
"Diam sebentar, aku sedang mencari pelurunya." Ji Hoo menggerutu sambil mengobrak-abrik kotak penyimpanan pistol.
"Dasar menyebalkan, kau.. tinggal menjawab saja kau di mana!" Gun Seok melajukan mobilnya meninggalkan lokasi.
"Kau bisa bertanya pada Joon Ki, kenapa bertanya padaku!" Ji Hoo menemukan kotak pelurunya. "Sialan, kemana saja kau!"
"Apa kau bilang? Aku sialan? Lalu kau kemana saja waktu itu? Tukang main wanita!" Gun Seok memukul stir karena kesal.
"Aku tidak sedang bicara padamu! Aku bukan tukang main wanita!" Gerutu Ji Hoo.
"Lalu kau bicara pada siapa! Brengsek!"
Sementara itu, orang-orang yang masih terhubung alat komunikasinya hanya mampu diam. Victor sama sekali tidak berekspresi, dia berkemas untuk menemui Ji Hoo.
Carlos dan Min Hyuk memegang kepala masing-masing, mereka tetap melanjutkan pertemuan. Lalu Esteban memasukkan uang yang sudah dia dapatkan ke dalam tas. Dia tidak memperdulikan kedua orang yang sedang bertengkar di alat komunikasi.
Joon Ki yang setia pada layar komputernya hanya mampu memutar bola matanya kesal.
"Kau yang brengsek!"
"Diam brengsek!"
"KALIAN BERDUA DIAM!"
Ji Hoo terhenyak mendapat bentakan dari rekan-rekannya. Atherio tertawa kecil mendengar pertengkaran mereka. Ji Hoo menoleh pada tuannya kemudian menggeleng pelan.
◆◇◆
2 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1