![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Putuskan hubungan yang sempat ada.. jangan membangun hubungan baru lagi. Cukup ini yang kau miliki sekarang."
_Park Johan Armez_
◆◇◆
Di dalam kelas, So Yeon sedang membaca buku pelajaran. Gadis itu menghirup aroma maskulin yang beberapa hari ini dirindukan. Dia menoleh, laki-laki tampan itu berdiri tidak jauh darinya. Kedua mata So Yeon bergetar melihat sosok yang dia cintai.
"Hemm." Atherio duduk di bangkunya. So Yeon segera bangkit menghampiri Atherio.
"Kau baik-baik saja?"
Atherio mengangguk, "Tidak ada pengumuman penting, kan?"
So Yeon menggeleng. Dia menatap Atherio yang mengeluarkan bukunya.
So Yeon memeluk Atherio dengan erat, "Jangan tinggalkan aku."
Atherio mengusap rambut So Yeon dengan lembut, "Aku tidak akan pergi."
"Aku mencintaimu, Atherio."
"Aku juga, So Yeon."
So Yeon tersenyum bahagia.
"So Yeon.."
"So Yeon.."
"So Yeon?" Atherio mengibaskan tangannya di depan wajah So Yeon yang sedang melamun sambil tersenyum senang.
"So Yeon?"
Gadis itu tersentak. Dia menoleh kearah Atherio sambil menggeleng untuk mengumpulkan kesadarannya. Imajinasi yang indah.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Atherio.
Apa dia menanyakan keadaanku? Ah, senangnyaaaa!! So Yeon tersenyum bahagia. Atherio terlihat bingung.
"Hei?"
Kedua alis So Yeon terangkat, "Ah, i.. iya.. aku baik-baik saja."
Tanpa mereka sadari, Hye In memperhatikan dari jendela. Dia mengepalkan tangannya kesal. "Si idiot itu benar-benar tidak mendengarkanku, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, bitch."
◆◇◆
Atherio membuka pintu mobil, tapi dia melihat Hye In berlari menghampirinya. Atherio kembali menutup pintu mobil.
"Hai, Atherio." Hye In menyapa Atherio dengan senyuman cantiknya. Atherio tersenyum, "Hai."
"Aku mendengar Atherina masuk rumah sakit, apa aku boleh menjenguknya?" Tanya Hye In dengan ekspresi khawatir.
Ah, dari mana dia tahu? Apa paman Ji Hoo benar, mereka suka menguntit? Bagaimana jika kak Nana marah karena aku membawanya? Batin Atherio bertanya-tanya.
"Emm.. baiklah," jawab Atherio ragu. Hye In masih berdiri di tempat semula. Dia paham maksud dari pemikiran gadis seperti Hye In. Atherio membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih." Hye In mengedipkan sebelah matanya sambil memasuki mobil. Atherio menggeleng pelan lalu masuk juga.
Selama di perjalanan, Hye In tidak berhenti tersenyum karena merasa senang bisa berada dalam satu mobil dengan Atherio. Apalagi mereka berdua duduk berdampingan. Hye In mendekat dan perlahan melelapkan kepalanya ke bahu Atherio, membuat laki-laki itu terkejut dan sedikit menoleh. Esteban yang menyetir melirik spion lalu memutar bola matanya.
Atherio melihat So Yeon sedang berjalan pulang. So Yeon jalan kaki? Rumahnya, kan, jauh.
"Paman, tepikan mobilnya." Esteban menuruti perintah Atherio. Sementara Hye In tampak bingung. Dia kembali ke posisi semula dan melihat keadaan.
Langkah So Yeon terhenti, dia menoleh ketika Atherio keluar dari mobil dan menghampirinya. Hye In terlihat geram, dia *** ujung roknya.
"Kenapa kau jalan kaki? Kau bisa pulang bersamaku."
So Yeon menunduk, "Aku.."
"Masuklah, kebetulan aku mau ke rumah sakit untuk menemui kakakku."
Kepala So Yeon mendadak terangkat menatap Atherio, "Kak Erina sakit?" Atherio mengangguk pelan. So Yeon menoleh ke mobil, tepatnya melihat Hye In yang sedang menatapnya berang.
Esteban melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Atherio duduk di sampingnya, sementara kedua gadis itu duduk di kursi belakang dengan berpaling wajah.
Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju kamar rawat VIP di mana Atherina berada. So Yeon dan Hye In membawa parsel buah-buahan di tangan mereka. Sebelum sampai di rumah sakit, Atherio membelikan keduanya parsel agar Atherina tidak terlalu kesal karena kedatangan orang yang asing baginya.
Ada dua penjaga di depan kamar rawat tersebut. Esteban berbicara sebentar menggunakan bahasa asing, kemudian mereka bertiga diperbolehkan masuk.
Tampaklah seorang gadis tengah terbaring sambil memegang bunga indah berwarna putih. Dia menoleh ketika menyadari keberadaan tiga orang yang sedang berjalan menghampirinya.
"Selamat sore, Erina." Hye In tiba-tiba memeluk Atherina, membuat gadis itu heran.
Ada apa dengan orang yang satu ini? Apa dia sedang berakting seolah-olah akrab denganku?
Atherio dan So Yeon saling pandang. Hye In melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Atherina, "Kenapa kau tidak bilang jika kau sedang sakit? Kalau aku tahu, aku akan datang kemari menjengukmu sejak lama."
Atherina menggerakkan kepalanya, "Aku masuk rumah sakit dua hari yang lalu." Hye In terdiam sejenak lalu tersenyum, "Ini adalah bukti kekhawatiranku." Atherina tersenyum kaku.
So Yeon meletakkan parsel ke meja, "Semoga Kak Erina cepat pulih." Gadis itu membungkuk sopan. Atherina melirik adiknya lalu kembali melihat pada So Yeon sambil tersenyum kecil.
Atherina berdehem pelan, "Terima kasih, kalian berdua sudah menjengukku."
"Aku akan meminta paman Esteban untuk mengantar kalian pulang," kata Atherio. Hye In menoleh kearah Atherio, "Secepat itu? Aku masih merindukan Erina." Hye In memperlihatkan wajah manisnya.
Atherina menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Hye In, aku mohon, pergilah kalian!
Atherio menggeleng, "Kakakku membutuhkan istirahat, paman Esteban akan mengantar kalian." So Yeon mengangguk. Kedua gadis itu keluar meninggalkan Atherio dan Atherina.
__ADS_1
Sunyi.
Atherio mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur. Dia menatap kakaknya dengan intens. Atherina juga menatap adiknya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
"Apa keadaanmu membaik? Apakah ruangan ini nyaman untukmu?" Tanya Atherio lembut. Atherina tersenyum sembari mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Ini ruang VIP," jawab Atherina singkat. Atherio mengusap lembut rambut kakaknya. Atherina merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap Atherio, namun dia tidak bereaksi karena tak ingin melukai perasaan adiknya.
"Ada yang ingin aku katakan," ucap Atherio. Atherina mengangguk, "Aku juga."
"Kalau begitu, katakanlah."
"Kau duluan."
Hening.
"Aku tahu, kau bukan kakak kandungku." Ucapan Atherio sama sekali tidak membuat Atherina terkejut, seolah dia sudah memprediksinya.
Atherio kembali berkata, "Jadi, tidak ada alasan untuk menyalahkan perasaanku padamu."
Gadis itu menutup mata sejenak, lalu menatap kedua manik abu-abu milik Atherio, "Perasaanmu tidak akan bertahan lama terhadapku. Perasaanmu muncul karena kita sering bersama. Jadi, kau memiliki kasih sayang yang besar untukku."
"Itu berbeda.."
"Rio, percayalah.. cinta dimasa remaja seperti ini tidaklah abadi. Seiring berjalannya waktu, kau akan melupakan perasaan ini dengan perlahan."
Atherio tidak mau mendebat kakaknya, saat ini dia sedang sakit. Dia tidak ingin memperburuk kondisi Atherina.
"Kakak ingin bilang sesuatu, kan? Katakanlah."
Atherina memijat dahinya, "Berjanjilah, kau tidak akan marah."
Atherio melipat kedua tangan di depan dada, "Aku tidak mau berjanji. Jika kau bilang begitu, aku jadi semakin yakin.. apa yang akan kau katakan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan untukku."
Atherina mengangguk, "Aku akan pergi ke Jepang, secepatnya."
Atherio menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya, "Ada apa ini?"
"Mengertilah, aku harus melakukannya. Ini tidak akan lama, aku akan kembali ke Korea ketika semuanya baik-baik saja."
"Apakah ini juga perintah ayah?"
Atherina mengangguk ragu. Atherio mengacak rambutnya frustasi, "Aku rasa, hanya keluarga kita yang hidup tidak normal." Laki-laki itu berdiri dan pergi dari ruangan tersebut. Atherina melelapkan kepalanya dengan nyaman.
Sementara itu, Tamparan keras mendarat di wajah Azura. Azokka yang melakukannya, "Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?! Untung saja mereka tidak menyerang kita!"
Azura mendecih, "Mereka tidak akan menyerang, pertahanannya sangat lemah."
"Mereka memiliki pasukan rahasia, kita tidak bisa meremehkan mereka!" Bentak Azokka. Azura meludah kesal. Azokka mendengus sambil bergegas keluar.
◆◇◆
Atherio duduk menyendiri di taman sekolah. Dia duduk di kursi dengan tubuh bersandar nyaman. Kepalanya menengadah memandang langit yang cerah. Seseorang duduk di sampingnya, Atherio menoleh. Ternyata So Yeon yang tersenyum hangat padanya.
"Mereka bilang, aku ini seperti kuman jelek yang terus menerus mengikutimu."
Atherio mendecih, "Jangan dengar."
"Tapi, aku rasa mereka benar. Aku hanya gadis menyebalkan."
Hening.
"Benar, kan?"
Hening.
"Menurutmu, aku ini bagaimana?" Tanya So Yeon. Atherio mengubah posisi duduknya menjadi condong ke depan. "Kau orang yang baik, mungkin beberapa orang salah menilaimu."
"Apa kau akan marah.. jika aku bilang.. a-aku menyukaimu?" Seketika Atherio menatap So Yeon. Gadis yang sudah memerah wajahnya itu tertunduk dalam.
Atherio tersenyum masam, "Maka aku akan bilang, kau telah menyukai orang yang salah." So Yeon terluka mendengar jawaban Atherio. Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menjauh. So Yeon menatap punggung lebar Atherio yang sangat sulit dicapai.
"Sampai jumpa di kelas," ucap Atherio.
Sepasang mata mengawasi mereka. Sedari tadi menguping pembicaraan tersebut.
Jam pelajaran dimulai, Atherio menoleh ke belakang. Bangku So Yeon kosong. Gadis itu tidak kembali sejak istirahat pertama.
Atherio berbicara dengan pikirannya sendiri, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Aku tahu dia pasti sakit hati karena ucapanku, tapi itu lebih baik.
Aku tidak mungkin memiliki hubungan dengan siapa pun, terutama So Yeon. Aku hanya menghargai kebaikannya.
Lagi pula, aku mencintai Atherina.
Atherio terhenyak, dia bangkit maju ke depan. Guru menoleh, "Ada apa?" Atherio membungkukkan badan, "Permisi, saya mau ke toilet."
Guru mengangguk.
Di kamar mandi,
So Yeon jatuh tersungkur karena didorong oleh Hye In dan teman-temannya.
"Bagaimana rasanya setelah mengungkapkan perasaanmu padanya? Malu, kan?" Tanya Hye In dengan nada meledek.
So Yeon tertunduk.
"Aku yakin, setelah ini Atherio akan membencimu dan menjauhimu. Kau menjijikkan sekali!" Gadis itu menyiram tubuh So Yeon dengan air yang berbau busuk. So Yeon berteriak dan menangis. Teman-teman Hye In tertawa melihatnya.
"Kenapa melakukan ini? Bukankah itu adalah perintahmu?" Tanya So Yeon dengan suara bergetar.
__ADS_1
Hye In menatap So Yeon dengan tajam, "Atherio sedang duduk sendiri di taman. Kau harus mengatakan bahwa kau menyukainya."
So Yeon menggeleng, "Tapi.."
"Atau.." Hye In meletakkan tangannya di leher So Yeon seperti mau mencekik.
"Cepat! Maka kau akan selamat!" Bentak Hye In. So Yeon segera berlari.
"Tapi, aku tetap ingin menghancurkanmu meski bukan dengan membunuhmu." Hye In tertawa jahat. So Yeon menggeleng, "Apakah kau sampai sejauh ini karena mencintai seseorang?"
Hye In menjambak rambut So Yeon, "Ini bukan cinta.. ini obsesi." So Yeon meringis kesakitan. Hye In bersama teman-temannya membawa So Yeon ke atap dan mendorongnya agar terjatuh dari atap bangunan yang berlantai tiga.
So Yeon tetap berpegangan pada Hye In, "Jangan lakukan ini, aku mohon."
"Hentikan!"
Semua mata tertuju pada sumber suara. Ternyata Atherio. So Yeon menggeleng, "Atherio! Tolong!"
Hye In mendengus, dia mendorong So Yeon. Atherio segera menghampiri mereka.
"Aaaa!!!" So Yeon berteriak. Atherio menarik So Yeon dan Hye In. So Yeon yang hampir jatuh refleks menarik baju Atherio hingga robek.
So Yeon terkejut melihat perut Atherio yang terpahat sempurna.
◆◇◆
So Yeon yang sudah berganti pakaian duduk bersebelahan dengan Atherio yang memakai jaket. Mereka berdua berada di ruangan Jang Hun.
"Aku sudah melihat keadaan Hye In. Sebenarnya dia itu.. memiliki gangguan jiwa."
So Yeon terhenyak, sementara Atherio tidak berekspresi sama sekali. Jang Hun menatap Atherio, "Aku mengerti, menjadi idola para gadis itu sedikit memberatkan bagimu. Aku rasa, akan lebih baik jika kau sekolah di tempat yang khusus untuk laki-laki."
So Yeon tercengang, dia menoleh pada Atherio.
Di kediaman Park,
Atherina menuangkan teh hangat ke cangkir. Sejenak dia menghirup aromanya kemudian meneguknya perlahan. Azokka duduk seberang meja.
"Aku merasa senang melihatmu pulih dan kembali ke rumah," ucap Azokka. Atherina menoleh sedikit, "Terimakasih telah berkunjung."
"Aku menyesali perbuatan Azura, aku harap ini tidak berlanjut. Aku akan menebus kesalahan yang telah dia lakukan," ujar Azokka.
"Kita adakan rapat resmi saja besok, bagaimana?" Tanya Atherina. Azokka tampak berpikir lalu mengangguk.
Setelah itu, Azokka pamit bersama anak buahnya. Tak berselang lama, Atherio pulang dengan ekspresi datar. Atherina menoleh, "Rio?"
Atherio menoleh kearah kakaknya, dia mendekat dan duduk di samping Atherina.
Atherina menuangkan teh hangat ke cangkir baru lalu memberikannya pada Atherio, "Aku sudah mendengarnya, bagaimana menurutmu?"
Atherio menerimanya, dalam sekali teguk habislah teh hangat tersebut. "Menurut Kakak, aku harus bagaimana?"
Atherina menggerutu, "Kenapa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"
"Aku hanya ingin mendengar pendapatmu."
"Pendapatku? Emm.. semudah itu mereka mengalihkan perhatianmu." Atherina membuka jaket adiknya membuat Atherio terkejut. Atherina melihat seragam adiknya yang robek. Dia menyentuh perut kotak adiknya.
Atherio meringis perih. Atherina mengerutkan keningnya, "Gadis-gadis itu.. mereka mencakar perutmu?"
"So Yeon hampir terjatuh, dia menarik bajuku," Atherio menjawab jujur. Atherina mengangkat kedua alisnya, "Apa dia berharga bagimu?"
"Aku hanya menghargainya, aku bersimpati kepadanya."
"Bisa saja dia salah mengartikan kepedulianmu, Hye In ternyata memiliki gangguan jiwa sejak lama, jangan-jangan.."
"So Yeon tidak gila, Kak."
Bagi Atherina, ucapan Atherio terdengar seperti sedang membela So Yeon.
Atherina menelpon seseorang dengan ponselnya, "Bibi Ha Yeon, kemarilah.. adikku terluka."
Atherio menatap kesal pada kakaknya yang menutup telepon, "Kakak, ini luka kecil."
"Bukan hanya luka ini, aku perlu memeriksa isi kepalamu juga. Jangan sampai penyakit jiwa Hye In menular padamu." Atherina beranjak menuju tangga.
Atherio mengusap kasar wajahnya.
Atherina berhenti di anak tangga pertama. Dia melirik kearah adiknya, "Besok akan ada pengumuman penting di markas besar kita, jadi malam ini aku akan bicara denganmu." Atherina kembali berjalan.
"Apakah ini tentang keberangkatanmu ke Jepang?"
Kaki Atherina berhenti melangkah, dia kembali melirik pada adiknya, "Kita bicarakan malam ini."
◆◇◆
27 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow Instagram dan Wattpad aku\, yaaa... @ucu_irna_marhamah
Beli Ebook aku juga, yaaa...
__ADS_1