![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Seperti bunga mawar. Tidak hanya cantik, tapi juga berbahaya."
◆◇◆
Pria muda dengan setelan jas formal itu mengangkat kakinya dan meletakkannya di meja. Dua wanita cantik bergelayut manja di sisinya. Anak buahnya yang tidak banyak berdiri di belakang pria itu.
Atherina yang duduk berhadapan dengannya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Beberapa orang berdiri di belakang Atherina. Dia tidak bersama penasehatnya, Carlos, atau pun juru bicaranya, Min Hyuk. Dia datang ke tempat itu bersama beberapa anak buahnya.
"Aku tidak punya kartu untuk mentransfer uangnya, jadi aku bawa saja uang ini dari rumah," kata pria itu. Salah satu anak buahnya membawa tiga koper besar berwarna hitam. Dia meletakkannya di depan Atherina. Gadis itu memberikan kode pada anak buahnya agar membuka koper tersebut.
Salah satu anak buah Atherina maju, dia membuka koper tersebut. Isinya uang dollar Amerika. Atherina mengangguk pada anak buahnya. Ketiga koper itu di tutup kembali dan di bawa oleh tiga anak buah Atherina.
"Kau tahu, kan, aku ini orang yang perhitungan. Tidak mau sedikit pun mengalami kerugian. Karena itu, aku tidak mau bank menyentuh uangku. Uang adalah milikku, aku hanya akan membelikannya jika aku mau." Pria itu merangkul kedua wanitanya.
Atherina mendecih pelan mendengar ucapan pria di hadapannya. Pria itu merasa tidak terima, "Apa ada yang lucu?"
Atherina mengangkat wajahnya menatap pria itu, "Uang itu tidak bertuan.. setiap waktu dia akan berpindah tangan.. seberapa besar pun perjuanganmu mempertahankan uang, uang itu akan pergi dan kembali dengan sendirinya."
Pria itu mencerna ucapan Atherina, "Ucapanmu luas sekali, berapa usiamu?" Tanya pria itu penasaran.
Atherina tersenyum, "Ucapanku tidak ada hubungannya dengan usiaku, Tuan Wu."
Pria itu menyipitkan matanya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan, semua orang yang ada di dalam gedung itu terkejut.
Atherina bangkit dari tempat duduknya, "Tuan Wu, cepatlah kembali, sepertinya mereka ingin merampok kita." Mendengar ucapan Atherina, Wu mengangguk cepat dan segera pergi bersama kedua wanita dan anak buahnya.
Atherina juga segera pergi bersama anak buahnya yang mengeluarkan pistol mereka lalu membentuk formasi untuk melindungi Atherina. Tiba-tiba terdengar ledakan besar yang membuat semua jalan untuk keluar dari gedung tersebut tertutup. Gedung itu pun jadi cukup gelap, hanya lubang besar di bagian atas gedung yang terbuka, membuat sinar matahari masuk ke dalam sana.
Wu dan Atherina bersama kelompok mereka terjebak di dalam. Atherina masih tampak tenang, meskipun keadaan bisa saja semakin buruk.
Wu dan kedua wanitanya di lindungi oleh anak buahnya yang menodongkan pistol ke sembarangan arah.
Terdengar langkah kaki yang menggema dari kegelapan, pandangan orang-orang yang ada di gedung tertuju ke sana. Semua senjata di arahkan ke pojok gelap itu. Suara langkah kaki itu menghilang. Berganti dengan suara tembakan yang menggema dan mengenai beberapa anak buah Atherina dan anak buah Wu. Kedua wanita Wu berteriak histeris karena ketakutan. Atherina mengepalkan tangannya melihat anak buahnya yang tewas terkena tembakan.
"Lemparkan pistol kalian ke arah sini. Jika tidak, kami akan menembak lagi. Kalian tidak bisa menemukan keberadaan kami di tempat gelap seperti ini.." suara pria yang tergas memberikan peringatan.
"Jika tidak, bukan hanya kalian, pemimpin kalian juga akan kami tembak," seperti ultimatum, pria itu kembali mengeluarkan perintahnya.
Terpaksa semua anak buah dari kedua kelompok itu melemparkan pistol mereka ke pojok gelap itu.
Sunyi.
Suara langkah kaki itu kembali terdengar. Awalnya terdengar seperti langkah dari sepasang kaki, tapi lama-lama terdengar seperti derap langkah yang tegas. Wu terlihat panik, kedua wanitanya juga.
Kini terlihat wujud orang itu, seorang wanita muda yang cantik bersama beberapa pria berbadan kekar di belakangnya dengan senapan di tangan mereka. Wanita itu memakai baju musim dingin, padahal hari itu tidak dingin sama sekali.
Anak buah Atherina merapatkan tubuh mereka untuk melindungi Atherina.
"Aku mencium keberadaan putri sulung dari pemimpin kelompok Park. Kabarnya, dia hanyalah gadis kecil." Wanita itu melihat pada kelompok Atherina.
Yang merasa namanya disebut, menautkan alisnya dibalik punggung para bodyguard.
Merasa tidak mendapatkan jawaban, wanita itu kembali bicara, "Kalian tahu siapa aku?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan wanita itu. "Namaku Azura, adik dari pemimpin Kelompok Ular, seharusnya kalian mengenalku."
"Tentu saja aku mengenalmu, kau preman wanita yang suka berbuat onar." Pandangan Azura tertuju pada Wu yang berada di pojok kanan. "Aku tidak suka kau menyebutku preman wanita."
Azura menoleh ke arah kiri dimana kelompok Atherina berdiri di sana. Atherina yang mendengar itu menautkan alisnya dengan tajam.
Azura melangkahkan kakinya lalu mengangkat pistolnya dan menembak kedua anak buah Atherina yang berdiri paling depan. Atherina terkejut melihat kedua anak buahnya jatuh dan mati seketika.
Azura bisa melihat wajahnya Atherina, langkahnya terhenti. Kedua anak buah Atherina yang lain menghalangi Atherina. Azura sangat geram, kedua alisnya menukik tajam.
"Minggir!" Dia menembak kedua orang itu, membuat Atherina semakin geram. Dua di depannya tumbang menyusul kedua rekannya. Dua anak buah Atherina akan maju, tapi Atherina menahan tangan keduanya, membuat kedua anak buahnya melihat pada Atherina.
"Aku tidak mau kalian mati sia-sia," ucap Atherina pelan. Kedua matanya menatap tajam ke arah Azura yang tersenyum cantik.
__ADS_1
"Aku baru tahu tuan Park memiliki anak perempuan yang.. cantik.." Azura sudah berada di depan Atherina. Mereka saling menatap satu sama lain. Tangannya bergerak menyentuh dagu Atherina.
Tiba-tiba terdengar ledakkan, semua orang di gedung itu terkejut. Jalan keluar yang awalnya tertutup, kini terbuka lebar seperti semula.
Kelompok Wu berlari keluar, anak buah Azura menembaki kelompok Wu. Salah satu wanitanya terkena tembakan dan tewas seketika.
Suara tembakan bersahutan di dalam gedung. Beberapa anak buah Azura tumbang, Atherina melihat ke atap gedung. Ada Esteban di sana, pria itu mengangkat tangannya memberikan hormat pada Atherina. Atherina tersenyum tipis.
Tidak hanya Esteban, ada Ji Hoo, Gun Seok, dan Victor di sana. Atherina menendang tangan Azura yang lengah. Pistol Azura terlempar, Atherina memukul Azura. Terjadi perkelahian antara Azura dan Atherina.
"Ini wilayah terlarang untuk anak kecil. Seharusnya anak kecil mengerjakan PR, bukan melakukan transaksi seperti orang dewasa!" Azura melayangkan pukulannya, Atherina menghindar dan memutar tangan Azura ke belakang lalu menendang lutut Azura dari belakang. Tubuh Azura pun tertekuk ke tanah.
"Bergerak sedikit saja, aku akan menghentikan titik kehidupanmu," ancam Atherina. Victor tersenyum bangga melihat kemampuan Atherina.
Sementara itu, Atherio yang berada di dalam mobil merasa cemas. Beberapa kali dia mendengar suara tembakan. Dia melihat ada pistol di kursi belakang.
Seseorang menodongkan pistol ke kepala Atherina, Azura tersenyum penuh kemenangan. Atherina menoleh, ternyata salah satu anak buah Azura.
"Lepaskan nona kami," ucap pria itu. Atherina melihat tajam pada Azura.
Dor!
Atherina terkejut, karena tubuh orang yang barusan menodongkan pistol padanya tumbang. Dia melihat Atherio berdiri di sana dengan pistol di tanganya, Atherio yang membunuh pria itu.
Pertama kalinya aku membunuh orang, gumam Atherio dengan tangan yang masih gemetar memegang pistol.
Atherina memukul titik kesadaran Azura tepat di dekat tengkuknya, membuat wanita itu terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
"Pemimpin kalian ada di tanganku! Salah langkah sedikit saja, aku akan menghabisinya!" Teriak Atherina penuh kemarahan. Semua anak buah Azura berhenti berkelahi, mereka meletakkan pistol mereka ke tanah.
"Paman Gun Seok, urus mereka semua, Paman Esteban, bawa wanita ini ke markas." Gun Seok dan Esteban mengangguk mengerti.
Mobil-mobil itu melaju bersusulan membelah jalanan. Di mobil yang paling depan ada Gun Seok, Esteban dan Azura yang masih pingsan dengan tubuh terikat.
Di mobil kedua ada Ji Hoo, Atherina dan Atherio yang tampak masih shock dengan kejadian barusan. Wajahnya tampak seperti pucat, Atherina menarik tubuh adiknya agar terlelap pada bahunya.
Di mobil selanjutnya ada Victor bersama anak buah Atherina dan anak buah Azura yang terikat. Di susul mobil lainnya.
Sesampainya di rumah, Atherina membantu Atherio berbaring di tempat tidurnya. Atherio menatap Atherina yang selalu lembut menjaganya.
"Kakak.." Atherina menoleh pada adiknya, ".. Kakak baik-baik saja?" Atherina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Karena kau datang tepat waktu, aku baik-baik saja."
Sementara itu, di markas bawah tanah.
Perlahan kedua mata indah itu menunjukkan maniknya yang tersembunyi di balik kelopak matanya. Azura tersadar dan mendapati tubuhnya yang terikat pada kursi. Badannya terasa sakit karena posisinya terus seperti itu dalam keadaan terikat.
"Kau baru sadar?"
Azura terhenyak dan menoleh, ternyata Esteban berdiri di depannya dengan pistol di tangannya.
"Kau tahu, tindakanmu yang membahayakan nona kami tidak bisa di maafkan," kata Esteban sambil menodongkan pistol ke dahi Azura.
Azura tersenyum licik, "Kau pikir dengan membunuhku semuanya selesai? Kakakku akan datang dan menghabisi kelompok Park."
Esteban menautkan alisnya geram.
"Aku harus menemui Paman Ji Hoo," kata Atherina kemudian berlalu, tapi dengan cepat Atherio meraih tangan kakaknya.
Atherina menoleh menatap adiknya yang tersenyum tampan, "Aku menyayangimu, Kak."
Atherina jadi merasa canggung mendengar ucapan adiknya. Tidak seperti biasa, yang barusan itu terdengar asing. Dia mengangguk pelan, Atherio melepaskan tangan Atherina. Gadis itu melenggang keluar dari kamar adiknya.
Atherio tersenyum geli, "Aku akan menjadi lebih dewasa darimu."
Atherina meminum air dingin dari lemari es, dia mendengar suara langkah kaki memasuki dapur. Atherina menoleh, ternyata Esteban.
◆◇◆
__ADS_1
Atherina bergegas memasuki markas bawah tanah bersama Esteban. Dia melihat Azura yang masih duduk terikat pada kursi. Dengan kasar, Atherina memutar kursi tersebut agar orang yang duduk di atasnya menghadap padanya.
"Sebenarnya apa maksudmu datang ke tempat pertemuanku yang tertutup?!" Bentak Atherina di wajah Azura. Wajah mereka begitu dekat, Azura menatap Atherina dengan lekat.
Atherina menarik dagu Azura dengan kasar, "Katakan! Apa kau ingin terjadi peperangan diantara kelompok kita?!" Bentak Atherina dengan tatapan penuh intimidasi.
Azura mendecih, "Pemimpin Kelompok Ular adalah kakakku, Azokka. Sebaiknya, sebelum kau menyatakan perang gangster, kau cek dulu seperti apa kelompok kami." Esteban dan Atherina saling pandang.
"Jika kakakku tahu aku di sandera oleh kelompok lain, dia akan menyerang kelompok tersebut.. dia memiliki pasukan rahasia yang banyak.. apa kalian tidak takut?" Azura berupaya memprovokasi Atherina.
Esteban membungkuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Atherina, lalu dia berbisik. Atherina serius mendengarkan. Azura melirik kedua orang di depannya secara bergantian.
Atherina tampak berpikir, "Bukankah kelompokmu adalah kelompok yang bergengsi, kenapa kau ingin mengacau di pertemuan orang lain? Aku ingin mendapatkan jawabanmu."
Azura tertawa, "Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu, satu-satunya gadis kecil yang tergabung di dunia gelap. Aku ingin mengenalmu"
Atherina menyambar leher Azura, tatapan mematikannya membuat Azura terkejut. "Jangan main-main dengan orang sepertiku, Azura.. aku memang terlihat seperti anak kecil di matamu, tapi aku punya sisi buruk yang tidak siapa pun mengetahuinya.. kau telah menghabisi keempat orang-orangku.. dan sekarang kau bicara dengan ringan seperti barusan," geram Atherina.
Azura merasa kesulitan bernapas karena cengkraman kuat tangan Atherina pada lehernya. Esteban menyentuh bahu Atherina, "Nona Park, anda bisa membunuhnya."
Atherina melepaskan cengkramannya, Azura terbatuk-batuk. "Aku akan mengirimmu kembali ke kelompokmu, anggap tidak ada kejadian apa pun." Atherina melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Azura tertawa, "Kau pikir aku akan terima di perlakukan seperti ini oleh gadis kecil seperti dirimu? Bagaimana jika aku kembali pada kakakku dan memintanya untuk memerangi kelompokmu?"
Atherina menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Azura dengan kedua tangan di lipat di depan dada.
"Apa yang kau mau?"
"Aku tahu, kelompok Park tidak sehebat yang diceritakan orang-orang. Sebenarnya kau takut, kan, jika harus berperang?" Azura menjulurkan lidahnya meledek Atherina.
Jika ayah tidak sedang dalam masalah, melakukan peperangan besar pun kami sangat mampu. Peperangan membutuhkan pemimpin yang sesungguhnya, batin Atherina.
"Lepaskan aku, biarkan aku tinggal di sini untuk beberapa waktu, jika aku sembuh aku akan kembali ke kelompokku."
Atherina berbalik meninggalkan markas bawah tanah, Esteban menatap tajam pada Azura.
"Apa lihat-lihat!" Bentak Azura.
"Nona Park tidak akan tinggal diam," kata Esteban kemudian berlalu menyusul Atherina.
"Bunga mawar, cantik tapi berbahaya."
◆◇◆
Atherina duduk berhadapan dengan Carlos. Dia tampak tertekan, kepalanya bersandar pada punggung kursi.
"Ayah di mana?" Tanya Atherina pelan, nyaris tidak terdengar seolah dia bertanya pada dirinya sendiri.
Carlos menjawab, "Besok sore tuan Park akan kembali dari Busan."
Atherina mengubah posisi duduknya menjadi tegak, "Aku lelah, Paman." Carlos mengangguk mengerti.
"Besok hari minggu, aku mau tidur sampai siang.. bilang pada semua orang jangan ada yang menggangguku, apa pun yang terjadi, jangan ganggu aku. Aku sudah meminta paman Esteban untuk mengurus Azura." kata Atherina.
Carlos mengangguk, "Itu bisa di atur, Nona.. tapi tuan muda.." Carlos menggantung kalimatnya. Atherina bisa membaca pikiran Carlos.
"Pengecualian untuk dia, Rio satu-satunya orang yang bebas melakukan apa pun di sini, termasuk mengambil waktuku." Carlos mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Atherina.
Atherio yang berdiri di depan pintu ruangan itu tersenyum mendengar percakapan mereka. Sedari tadi dia menguping pembicaraan kedua orang itu.
Sebegitu pentingnya diriku dalam hidupmu? Aku merasakan jika rasa sayangmu padaku lebih besar dari yang aku pikirkan... Terima kasih, Atherina....
◆◇◆
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1