![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
Enam tahun penantian,
Tokyo, Jepang.
Gadis berambut panjang itu tengah memperhatikan beberapa anak buahnya yang sedang berlatih dengan serius. Tidak lain dia adalah Atherina. Gadis yang tumbuh dewasa itu kini benar-benar terlihat cantik. Markas cabang milik Aleena itu kini dalam genggamannya. Atherina berhasil membuat Aleena mempercayainya dan memberikan posisi terbaik untuknya. Itu tidak luput dari bantuan Han Jin dan Han Gun.
Hwan terlihat tampan dengan gaya rambut pendek. Dia menghampiri Atherina, "Nona Erina, ibu petir memanggilmu ke markas utama, aku akan mengantarmu."
Atherina tersenyum sembari mengusap pundak Hwan, "Aku akan pergi sendiri. Kau telah menjalankan tugas dengan baik, ajak anak buahku makan siang jika mereka telah selesai latihan."
Hwan membeku.
Atherina berlalu memasuki mobilnya menuju markas utama. Gadis itu menyetir sendiri. Jantungnya berdebar mengingat hari ini adalah hari terakhirnya menjalani misi pengabdian. Dia akan segera kembali ke Korea untuk menemui adiknya. Atherina yakin, Atherio pasti marah dan kecewa karena dia terlambat selama 1 tahun. Tapi, dia akan membujuk adiknya dengan baik. Tiga tahun terakhir, komunikasi mereka sedikit terganggu karena tugas masing-masing. Namun, Atherina masih bisa mengetahui kabar Atherio dari Ji Hoo. Atherio kembali ke Korea 2 tahun yang lalu.
Gadis itu memarkir mobilnya di depan gedung perusahaan milik Aleena. Gedung itu kini tampak lebih tinggi dan megah. Atherina menengadah, dia tidak bisa melihat ujung tertinggi gedung tersebut.
Gadis itu memasuki gedung. Ada banyak karyawan yang bekerja. Mereka bukan anggota gangster, mereka karyawan biasa yang bekerja secara umum di perusahaan tanpa tahu ada apa di lantai dasar.
Atherina memasuki lift menuju lantai dasar. Dia benar-benar tidak sabar ingin bertemu Aleena. Ketika memasuki ruangan Aleena, Atherina melihat keberadaan Han Jin yang tampaknya sedang berbicara serius dengan Aleena.
Wanita itu menyadari keberadaan Atherina, "Erina? Kemarilah, kau datang tepat waktu."
Atherina tersenyum kemudian duduk di samping Han Jin. Aleena melihat Han Jin dan Atherina bergantian.
"Aku bisa melihat kebahagiaan di wajahmu, kau benar-benar ingin segera melihat negara kelahiranmu?" Tanya Aleena. Atherina mengangguk semangat sambil melihat pada Han Jin dan Aleena bergantian.
Aleena mulai terlihat serius, "Hari ini adalah hari terakhirmu di sini. Aku mengerti kau akan memilih tinggal lama di Korea setelah ini. Tapi, jangan lupakan wilayah kekuasaanmu di sini.." Atherina mendengarkan dengan baik.
".. sesekali datang kemari untuk melihat keadaan di sini."
"Aku mengerti," jawab Atherina semangat.
Han Jin tersenyum tipis mendengar suara Atherina yang terdengar begitu bahagia.
"Kau akan kembali ke Korea sore ini. Aku akan menyiapkan semuanya agar kau dan orangmu yang akan kembali ke Korea bisa sampai dengan nyaman."
Setelah Aleena mengatakan itu, Atherina menggenggam tangan Aleena dengan erat, "Terima kasih, terima kasih, aku sangat senang."
"Tapi, aku ingin meminta satu permintaan terakhirku sebelum kau pulang.." Aleena menggantung kalimatnya. Atherina mengangguk menunggu Aleena menyelesaikan ucapannya.
".. aku ingin kau mendampingi Han Jin dan menjaganya dengan baik," sambung Aleena. Kedua alis Atherina terangkat. Genggaman tangan Atherina melemah. Han Jin juga tampak terkejut, dia tidak mengira Aleena akan mengatakan itu.
Aleena mengeratkan genggaman tangannya pada Atherina, "Aku harap kau tidak menolak, aku akan senang jika kalian bersama."
Han Jin menggeleng, "Ibu petir, ini tidak adil untuk Atherina. Dia tidak bisa hidup bersama pria cacat sepertiku."
Atherina tersenyum, "Aku akan menjaga Kak Han Jin dengan baik."
Aleena dan Han Jin terkejut mendengar perkataan Atherina. Kedua pipi Han Jin memerah ketika Atherina memanggilnya kakak untuk pertama kalinya.
Aleena tersenyum, "Aku tahu, kau gadis yang pengertian."
Beberapa anggota kelompok petir yang berasal dari Korea dan sebagian yang berasal dari Jepang diperbolehkan ikut bersama pemimpin mereka. Ketiga pemimpin petir, yaitu Han Jin, Han Gun, dan Atherina telah siap kembali ke tanah air mereka. Tidak lupa, Hwan juga ikut.
Seoul, Korea Selatan.
Esteban dan Joon Ki sedang berjongkok di depan rumah Park. Mereka berdua terlihat seperti anak kecil sedang membakar sosis di kehangatan malam. Api unggun kecil itu hampir padam.
Joon Ki menggerutu, "Angkat sedikit sosismu, nanti apinya padam."
Esteban menopang dagunya, "Apa tidak ada alat pemanggang? Dulu kita punya dua."
"Aku tidak tahu di mana mereka menyimpannya," Joon Ki menjawab dengan ketus.
Mobil putih itu terhenti di depan pelataran rumah Park. Kedua pria itu menoleh melihat siapa yang datang. Gadis cantik bergaun hitam dibalut blazer senada keluar dari mobil. Esteban dan Joon Ki terkejut. Mereka segera berlari menghampiri gadis yang tidak lain adalah Atherina.
"Nona Atherina! Kau sudah kembali?!" Kedua pria itu berseru dengan semangatnya sambil membungkuk. Atherina terkejut lalu tersenyum dan membungkuk pada mereka. Kedua pria itu membungkuk lagi membuat Atherina heran.
Esteban menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kenapa tidak bilang dulu? Kami pasti akan datang menjemput Nona ke bandara."
Atherina tersenyum sambil menggeleng, "Ah, tidak usah repot-repot. Sekarang posisiku di kelompok Park sama dengan kalian. Jadi, kalian tidak perlu seperti ini."
"Bagaimana kabar Nona? Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Joon Ki. Sejenak Atherina terdiam lalu tersenyum, "Aku mengatasi situasi dengan baik. Ini semua berkat pelatihan dari paman-pamanku ini."
Joon Ki dan Esteban jadi salah tingkah. Atherina mencium sesuatu, "Ini bau apa?"
Esteban dan Joon Ki saling pandang, "Sosis kita!!"
Atherina mengerutkan keningnya ketika kedua pria itu berusaha memadamkan api yang hampir membakar habis sosisnya. Atherina menepuk dahinya, "Kalian ini. Bukankah tinggal memesan sosis jika ingin makan sosis?"
"Sebenarnya kami hanya menghilangkan rasa bosan dengan membakar sosis. Selain itu, kami tidak bisa pesan makanan dengan ponsel," jawab Esteban.
"Kenapa?" Tanya Atherina heran.
Joon Ki berbisik, "Polisi bisa melacak kami. Jadi, selama beberapa tahun ini kami tidak menggunakan ponsel ketika sedang dalam misi transaksi."
Atherina mengangguk mengerti, "Sepertinya banyak hal yang terjadi ketika aku tidak ada di sini."
Joon Ki dan Eseteban saling pandang lalu menghela napas panjang.
Atherina melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku memanggil truk pengantar makanan. Sebentar lagi mereka tiba. Kalian semua harus makan malam bersama."
Belum lama Atherina berkata begitu, beberapa truk makanan tiba. Joon Ki dan Esteban bersorak gembira sambil berlari menghampiri salah satu truk. Atherina hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua pamannya itu. Dia melangkahkan kakinya memasuki rumah yang sama sekali tidak berubah ketika dia pergi.
Tidak ada benda yang pindah satu inci pun dari tempatnya. Atherina tersenyum ketika kenangan-kenangan masa kecilnya berputar dalam benaknya. Rumah itu adalah rumah yang penuh dengan memori. Rumah pertama yang dia tinggali. Kaki jenjangnya membawanya ke ruangan dimana terdapat bingkai foto Park dan Aleena.
Gadis itu merindukan sang ayah. Atherina berdiri di depan foto Park yang tampak berkharisma.
"Ayah, aku pulang."
Pandangan Atherina tertuju pada foto Aleena. Siang ini dia berpamitan pada wanita itu sebelum kembali ke Korea. Dia tersenyum.
"No-nona?"
Merasa ada seseorang yang memanggilnya, Atherina berbalik. Ternyata Carlos besama Min Hyuk. Mereka berdua membungkuk. Atherina melakukan hal yang sama.
"Halo, bagaimana kabar kalian?" Tanya Atherina. "Kabar kami sangat baik, apalagi ketika anda datang," ucap Min Hyuk. Atherina tersenyum, "Kalian pasti lapar, di luar ada truk pengantar makanan. Paman Esteban dan paman Joon Ki sedang makan. Kalian makanlah."
Min Hyuk dan Carlos memiringkan tubuh mereka untuk melihat keluar. Terlihat Joon Ki dan Esteban yang menyantap makanan. Ketika mereka kembali ke posisi semula, Atherina sudah tidak ada.
"Apa kau lapar?" Tanya Carlos.
Min Hyuk tersenyum, "Tentu saja."
Atherina menaiki tangga menuju lantai dua. Dia berpapasan dengan Ji Hoo. Pria itu terkejut dengan keberadaan Atherina. Padahal gadis itu sudah memberitahu Ji Hoo bahwa dia akan pulang di hari itu. Dia tidak ingin Ji Hoo memberitahu yang lain.
"Paman, dimana Atherio? Aku tidak melihatnya."
Ji Hoo tampak berpikir. Atherina menunggu jawaban Ji Hoo. Pria itu tersenyum kaku, "Aku akan memberitahunya jika Nona sudah sampai." Ji Hoo berbalik, tapi Atherina meraih tangannya.
"Biar aku yang menemuinya," kata Atherina. Ji Hoo menggeleng, "Nona tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Pria itu berlalu. Atherina mengikuti Ji Hoo. Ketika pria itu mengetuk pintu kamar Atherio, Atherina berdiri di belakangnya.
Pintu kamar itu terbuka. Atherina memiringkan kepalanya melihat siapa yang membuka pintu. Namun, kedua matanya membulat ketika melihat dua orang wanita cantik berpakaian minim keluar dari kamar adiknya. Pandangannya tertuju pada kedua wanita itu yang berlalu menuruni tangga.
"Siapa kau?" Suara bariton itu membuat Atherina terhenyak dan menoleh. Dia melihat pria tampan itu berdiri menyandarkan badannya ke ambang pintu. Wajahnya yang tegas dengan alis mata yang bertautan. Hidung dan bibirnya yang terpahat indah di wajahnya. Tidak lupa tatapannya yang mematikan dan rahang yang kokoh. Tatapan matanya begitu dalam.
Pandangan Atherina turun ke dada pria itu yang terekspos. Tiga kancing teratas kemejanya terbuka. Sejenak Atherina membeku melihat pemandangan itu. Ji Hoo membungkukkan badan, "Permisi, aku harus memberitahu yang lain."
Atherina sedikit terhenyak dan melihat Ji Hoo yang pergi meninggalkan mereka berdua. Pria tampan yang tidak lain adalah Atherio itu membuang napas kasar, "Mengganggu kesenangan saja."
Atherina terkejut mendengar perkataan adiknya. Dia tidak percaya Atherio akan mengatakan itu. Tidak ada wajah manis pada adiknya. Tidak ada sikap manja pada diri Atherio. Tidak ada ekspresi polos yang biasa dia lihat.
"Kau mau apa?" Tanya Atherio ketus. Atherina sedikit terhenyak, "Aku Nana, kakakmu. Mana mungkin kau lupa."
Atherio menatap kakaknya dari atas ke bawah dan sebaliknya. Diperhatikan seperti itu, Atherina merasa canggung. Atherio menggerakkan kepalanya, "Masuk kamar."
Atherina mengikuti Atherio ke kamarnya. Banyak botol minuman di meja kamar adiknya. Atherina tidak tahu sebesar apa perubahan yang terjadi pada Atherio ketika tinggal di Amerika.
"Aku pernah bilang, jika kau tidak kembali dalam 5 tahun, kau bukan kakakku lagi."
Atherina menunduk karena terluka dengan ucapan Atherio. Pria itu duduk di tepi tempat tidurnya yang king size. Dia tidak berhenti memperhatikan kakaknya.
"Setelah 6 tahun kau baru kembali. Apa yang harus aku lakukan padamu?" Atherio memasang ekspresi seolah-olah dia sedang berpikir. Dia tidak menyadari butiran bening yang menggenang di pelupuk mata kakaknya.
Atherio menatap lurus, "Tapi, tenang saja. Apa yang kau katakan waktu itu ada benarnya. Aku tidak akan bertahan dengan perasaan yang sama padamu. Perasaan itu sudah hilang sejak lama."
Atherina tetap dalam posisi. Dia menggigit bagian bawah bibirnya.
"Bukan hanya perasaan itu. Aku bahkan seperti kehilangan rasa persaudaraan denganmu.."
".. kenapa tidak datang besok?"
Atherina tesentak dan seketika menatap Atherio dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Atherio terkejut karena baru menyadari jika Atherina menangis.
"Setelah 6 tahun aku kembali. Aku berharap pelukan hangat dari adikku dan senyuman polosnya yang selalu aku ingat dimana pun aku berada. Tapi, malah ini yang aku lihat, malah ini yang aku dapat. Kau tidak tahu.. aku sangat merindukan adikku yang dulu."
Atherio bangkit dan menghampiri kakaknya. Dia mengusap buliran bening yang tiada hentinya mengalir. Atherina menepis tangan adiknya. Atherio memegang tangan kakaknya dan tetap menghapus air mata itu.
"Kenapa menangis? Kau bilang ingin pelukan hangat dariku." Atherio mendekap kakaknya dengan lembut. Atherina masih menangis dalam diam. Perlahan kedua tangannya bergerak membalas pelukan adiknya. Atherio menghirup aroma tubuh Atherina. Gadis itu mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.
"Karena kau datang, maka kau tidak bisa pergi. Kedatanganmu telah mengusir wanita malamku. Sebagai gantinya, kau harus menghangatkanku."
Seketika Atherina melepaskan pelukannya dan menatap Atherio, "Atherio, kau.."
Pria itu menyentuh bahu Atherina dengan senyuman nakalnya. "Kau memiliki wajah yang cantik, tubuh yang bagus, dan.. bisakah aku melihatmu lebih jauh lagi?"
Atherio menurunkan blazer yang membalut tubuh Atherina. Gadis itu mempertahankan pakaiannya. Dia menyilangkan kedua tangan seolah memeluk dirinya sendiri. Gadis itu mundur menjauh dari Atherio. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ingat, Atherina.. saat ini posisiku di atasmu. Seharusnya kau menuruti perkataanku. Kembali dan lakukan apa yang aku inginkan," kata Atherio dengan santai. Atherina menggeleng, "Kau telah berubah."
"Atherina.."
Gadis itu *** lengan bajunya ketika Atherio memanggil namanya, "Aku mohon.. panggil aku kakak."
Atherio masih menatap kakaknya, "Kau bukan kakakku, Atherina. Dari dulu hingga saat ini kau bukan kakakku."
Gadis itu melempar sesuatu ke lantai lalu pergi meninggalkan kamar adiknya. Atherio mengambil benda yang di jatuhkan kakaknya. Ternyata beberapa lembar foto Atherina bersama Aleena ketika di Jepang.
Atherina menyetir dalam keadaan menangis. Dia benar-benar kecewa, sedih, marah dan kesal dengan sikap Atherio. Gadis itu memukul stir, "Kenapa kau berubah.."
Mobil Atherina berhenti di depan rumah besar bercat putih. Gadis itu keluar dari mobil sambil mengusap air matanya. Ketika memasuki rumah, dia terkejut dengan keberadaan Han Jin yang sedang duduk di sofa. Atherina melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 2 malam.
"Erina, kau sudah pulang?" Tanya Han Jin, kedua tangannya bergerak. Atherina segera meraih tangan Han Jin lalu duduk di samping pria itu.
"Apa kau sudah menemui Atherio?"
Atherina mengangguk, "Iya, aku sudah menemuinya. Kenapa Kak Han Jin belum tidur?"
__ADS_1
"Kau menangis?" Tanya Han Jin lagi. Atherina terkejut, bagaimana bisa Han Jin mengetahuinya? Apakah Han Jin begitu peka?
"Suaramu berbeda," ucap Han Jin. "Hehe, iya.. tadi aku menangis karena bahagia bisa bertemu adikku."
Han Jin tersenyum, "Aku pikir terjadi sesuatu."
Hening.
Kedua tangan mereka masih saling menggenggam. Atherina masih memikirkan perkataan Atherio. Sungguh itu membuatnya terluka.
"Atherina," gumam Han Jin. Gadis itu sedikit tersentak lalu menoleh pada Han Jin.
"Bolehkah aku menyentuh wajahmu?" Tanya Han Jin sembari mengangkat tangannya. Atherina meletakkan kedua tangan Han Jin di wajahnya. Han Jin merasakan lembutnya wajah Atherina. Pria itu tersenyum, "Kau sangat cantik."
Atherina mengusap tangan Han Jin, "Terima kasih."
"Kau tidak perlu mendampingiku seperti yang dikatakan ibu petir. Kau hanya perlu menemaniku."
Atherina mengangguk, "Aku mengerti."
Mata yang aku pesan akan segera tiba. Setelah operasi mataku berhasil, aku akan memiliki Atherina sepenuhnya. Dia akan menerimaku. Dia harus menerimaku, batin Han Jin.
Han Gun memasuki ruangan sambil memainkan kunci mobil di tangannya. Dia terkejut melihat keberadaan kakaknya bersama Atherina. Gadis itu melihat kearahnya.
"Ah? Aku mengganggu, ya?" Han Gun berbalik untuk pergi lagi.
Han Jin menggeleng, "Anak itu.."
Di kediaman Park, seluruh anggota Park sedang makan malam bersama. Beberapa truk makanan yang di pesan Atherina terparkir di depan rumah itu. Atherio melipat kedua tangan di depan dada melihat anak buahnya tampak menikmati malam mereka.
Ji Hoo menghampirinya, "Tuan, bagaimana perasaan anda?"
Atherio membuang napas sejenak, "Suasana hatiku sedang kurang baik hari ini. Tapi, kalian harus makan dengan baik."
Ji Hoo mengangguk, "Lalu bagaimana dengan Tuan?"
"Aku sedang diet," jawab Atherio sambil berbalik memasuki rumah. Tapi, langkahnya terhenti dan kembali menoleh pada Ji Hoo.
"Kau sudah membayar kedua wanita itu, kan?"
"Iya, Tuan."
Keesokan harinya,
Atherio melihat jam menunjukkan pukul 9 pagi. Dia tidak melihat keberadaan Atherina di rumah itu. Dia mengira Atherina akan kembali.
"Dimana gadis itu tinggal?" Atherio bergumam. Gun Seok menyapanya sambil membungkuk lalu melenggang pergi.
"Paman Gun Seok, tunggu." Mendengar Atherio yang memanggil, Gun Seok menghampirinya.
"Apa semalam Atherina benar-benar pergi setelah menemuiku?" Atherio bertanya dengan ekspresi penasaran. Gun Seok mengangguk, "Kami melihat mobilnya pergi."
"Sekarang panggil dia kemari. Bilang saja ini perintahku."
Gun Seok mengangguk.
◆◇◆
Pagi pertama di Korea,
Atherina melihat barang dapur yang asing baginya. Seumur hidup, dia tidak pernah memasak. Jika dia ingin makan, maka dia akan memesan makanan. Gadis itu mulai dengan mengiris sayuran asal-asalan alias tidak rapi. Atherina tampak berpikir.
Han Jin memasuki dapur, "Atherina? Apa yang sedang kau lakukan?"
Atherina menoleh, "Aku sedang belajar memasak."
Han Jin mengerutkan keningnya. Ketika pria itu berbalik, terdengar barang-barang dapur berjatuhan ke lantai. Atherina tidak sengaja menyenggolnya. Gadis itu menepuk dahi merutuki kekonyolannya.
Han Jin kembali berbalik, "Apa kau yakin sedang memasak? Yang kudengar kau seperti sedang berkelahi."
Atherina terkekeh sambil meletakkan kembali benda-benda itu ke tempatnya, "Ah, tenang saja.. makanannya akan segera siap."
Selesai memasak, Atherina menyajikan makanannya ke meja makan. Terlihat aneh sekali sayuran buatannya itu. Han Jin menghirup aroma masakannya, "Aromanya lezat."
Atherina menuangkan makanan ke piring Han Jin. Pria itu mengunyah makananan tersebut. Sejenak dia berhentilah mengunyah. Ekspresinya terlihat aneh. Atherina menatap Han Jin dengan ekspresi harap-harap cemas. Tapi, itu hanya berselang beberapa saat. Han Jin lanjut menelan makanannya sambil tersenyum, "Ini lezat."
Atherina mengerutkan keningnya. Dia mencoba mencicipi masakannya. Seketika kedua matanya melebar. Dia segera minum air dan mengambil sendok yang dipegang Han Jin. Pria itu terkejut dengan apa yang dilakukan Atherina.
"Ini tidak enak. Rasanya buruk sekali. Jangan dimakan, nanti Kak Han Jin bisa keracunan!" Atherina segera memesan makanan melalui ponselnya. Han Jin tersenyum dengan sikap Atherina. Meskipun dia tidak bisa melihatnya, tapi dia bisa membayangkannya.
Gadis itu kembali sambil membereskan meja. "Kenapa Kakak berbohong?" Tanya Atherina setengah menggerutu. Han Jin terkekeh, "Aku tidak mau melukai perasaanmu."
Atherina menepuk dahinya, "Tapi, jika Kakak memakannya, perutmu yang terluka."
"Kau mengkhawatirkanku?" Tanya Han Jin. Atherina menghela napas, "Tentu saja, apa yang akan aku katakan pada ibu petir jika Kak Han Jin sakit?"
Han Jin terdiam. Dia tahu, Atherina melakukan semua ini atas perintah Aleena. Sementara Han Jin ingin gadis itu bersamanya karena kehendak hatinya. Atherina menyadari perubahan raut wajah Han Jin, "Aku salah bicara, ya?"
Han Jin menggeleng, "Tidak, tidak ada yang salah."
Hening.
Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Han Jin mengetuk-ngetuk meja makan dengan jemarinya. Dia mencari topik pembicaraan yang bagus.
"Pagi ini aku akan pergi ke dokter mata," kata Han Jin. Atherina terlihat senang, "Benarkah? Kalau begitu, aku akan mengatarmu."
"Bukankah kemarin kau bilang akan menemui Atherio lagi?" Pertanyaan Han Jin membuat senyuman di wajah Atherina memudar, "Aku akan kesana lain kali."
Han Jin tersenyum, "Baiklah."
Setelah makanan yang di pesan Atherina tiba, mereka berdua langsung sarapan.
Mereka berdua akan pergi ke rumah sakit. Ketika Han Jin dan Atherina memasuki mobil, Gun Seok menelepon. Atherina yakin jika Gun Seok disuruh Atherio untuk menghubunginya.
Han Jin mendengar suara ponsel Atherina yang terus berdering, "Jawab saja, tidak apa-apa."
Atherina memakai sabuk pengaman kemudian memegang stir, "Biarkan saja, Kak. Ini sudah siang. Aku harus mengantarmu ke dokter."
Han Jin tidak berkata lagi.
Sesampainya di rumah sakit, Atherina menggandeng tangan Han Jin yang tidak membawa tongkat. Mereka menemui dokter spesialis mata. Setelah berbicara panjang lebar, Han Jin mengajak Atherina bertemu seseorang.
Di sebuah ruangan khusus yang masih bagian dari bangunan rumah sakit, terlihat seseorang yang membawa kotak hitam berukuran sedang ditangannya.
Ketika Han Jin dan Atherina memasuki ruangan tersebut, pria itu menoleh dan menyapa, "Selamat pagi, Tuan Han Jin."
Atherina menoleh dan terkejut karena mengenali pria paruh baya itu.
"Kang Hoo," gumam Atherina. Orang yang tidak lain adalah Kang Hoo juga tampak terkejut dengan keberadaan Atherina yang bersama Han Jin. Kang Hoo melirik sinis padanya. Atherina yakin, di dalam kotak itu ada organ yang di jual Kang Hoo.
Kang Hoo tidak menyukai Atherina karena telah menolak kerja sama dengannya di masa lalu.
"Selamat pagi, Tuan Kang Hoo." Perhatian kedua orang yang sedang saling menatap tajam itu teralihkan oleh jawaban Han Jin. Kang Hoo tersenyum, "Silakan duduk, Tuan Han Jin."
Atas memicingkan matanya karena merasa tidak dianggap keberadaannya oleh Kang Hoo.
"Aku membawa barangnya. Kau bisa mentransfer uangnya setelah operasi matamu berhasil," bisik Kang Hoo dengan senyuman liciknya.
Atherina melihat pada Han Jin dan Kang Hoo bergantian. Dia tidak setuju dengan Han Jin yang membeli organ dari orang seperti Kang Hoo. Namun, Atherina tidak mau ikut berbicara. Dia memilih diam dan memperhatikan mereka berdua.
Setelah sedikit berbasa-basi, pria paruh baya itu berpamitan kepada Han Jin. Atherina mendengus kesal.
"Kau mengenalnya?" Tanya Han Jin.
"Dia pernah mengajakku bekerja sama. Tapi, aku menolaknya karena dia benar-benar.." Atherina tidak melanjutkan kalimatnya. ".. ah, dia bahkan tidak menganggapku ada di sampingmu.."
".. kenapa Kak Han Jin mau berurusan dengan dia?" Sambung Atherina dengan nada penyesalan.
"Aku tidak punya pilihan lain. Tidak ada orang yang mau mendonorkan matanya secara sukarela. Terpaksa aku mencari seseorang yang menjualnya. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku ingin melihat dunia seperti dulu."
Atherina merasa sedih dengan ucapan Han Jin, "Maafkan aku."
__ADS_1
Ponsel Atherina kembali berdering. Kali ini adalah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Kali ini gadis itu mengangkat panggilannya.
"Yeoboseyo?" Atherina menunggu jawaban dari seberang sana.
"Atherina, datang kemari. Tidak ada penolakan. Semalam kau pergi dari rumahku tanpa permisi. Terima hukuman dariku. Ini perintah!" Suara Atherio terdengar seperti ancaman. Atherina mematikan ponselnya. Han Jin bisa mendengarnya. Dia terlihat kesal dengan ucapan Atherio yang terdengar lancang.
"Semalam kau menangis karena sikapnya, kan?" Tanya Han Jin.
Atherina menunduk dalam, "Dia banyak berubah."
Han Jin mengepalkan tangannya geram, "Seharusnya kau menceritakannya padaku semalam. Aku akan membawamu kembali ke Jepang, jika dia tidak bersikap baik padamu."
Seketika Atherina mendongkak menatap Han Jin, "Tidak.. aku tidak bisa meninggalkannya. Tuan Park tidak akan tenang di surga, jika aku melanggar janjiku."
Hening.
Atherina bangkit sambil menggandeng tangan Han Jin, "Aku akan mengantarmu pulang dulu, lalu aku akan ke rumah itu."
Setelah mengantar Han Jin pulang, Atherina menyetir mobilnya menuju kediaman Park. Kali ini dia memakai pakaian yang tertutup. Jaket hitam dan jeans dengan warna yang senada.
Tibalah gadis itu di tempat tujuan. Beberapa penjaga membungkuk hormat ketika Atherina keluar dari mobilnya. Atherina memasuki rumah tersebut. Tidak ada siapa pun di dalam. Biasanya dia akan bertemu dengan kepala pelayan atau orang-orang kepercayaan Atherio. Gadis itu mencari seseorang yang bisa dia tanya.
Disaat bingung seperti itu, ponselnya berdering. Ada pesan masuk dari nomor yang telah diberi nama Atherio olehnya. Gadis itu membuka pesan tersebut.
Aku di kamar, temui sekarang.
Atherina mendengus pelan, "Kenapa dia bertindak seenaknya padaku? Ibu dan anak sama saja."
Dengan kesal, gadis itu menaiki tangga menuju kamar Atherio. Setelah tiba di depan pintu kamar adiknya, Atherina mengetuk pintu.
Tok tok tok tok..
Tidak ada respon. Dia memutar knop pintu dan masuk. Kamar Atherio tampak rapi. Tapi, pria itu tidak ada di dalam. Atherina melangkah dan melihat ke meja di samping tempat tidur. Ada barang-barang lucu yang sempat dia kirim dari Jepang untuk Atherio saat berulang tahun. Gadis itu tersenyum seraya menyentuh squishy kelinci yang berwarna merah muda.
Ternyata Atherio masih menyimpan benda darinya.
Atherina terlonjak kaget karena seseorang menyentuh bahunya. Dia berbalik, ternyata Atherio yang memakai jubah mandi. Atherina melihat Atherio yang bertolak pinggang. Dadanya yang kotak terekspos oleh mata Atherina. Gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Aku meneleponmu 3 jam yang lalu," kata Atherio dengan nada yang dingin. Atherina melipat kedua tangannya tanpa mau melihat Atherio, "Kau meneleponku satu jam yang lalu."
"Ketika paman Gun Seok meneleponmu, itu adalah perintahku. Seharusnya kau tahu itu adalah aku. Karena tidak mungkin paman Gun Seok tiba-tiba meneleponmu, kan?" Atherio berjalan ke depan Atherina yang terus menghindari tatapannya.
Atherina tetap mengalihkan pandangannya ke arah sebaliknya, "Aku sudah disini, kau mau apa?"
"Semalam kau tidur dimana?"
"Bukan urusanmu."
"Urusanku, karena kau termasuk anggotaku."
"Hotel."
"Kenapa?"
"Sikapmu."
"Lihat aku ketika aku bicara, Atherina."
Gadis itu pun mendongkak menatap adiknya. Atherio mengangguk, "Aku sudah bilang akan menghukummu, kan?"
Atherina tidak menjawab.
"Sebenarnya ini bukan hukuman, tapi.. kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
"Kenapa?" Kedua alis Atherina menukik. Atherio mendekat, "Pilihanmu ada dua.. tinggal di rumah ini sesuai kemauanku, atau tinggal di rumah ini dengan paksaanku."
Atherina mengerutkan keningnya.
"Oh ya, waktu itu kau pernah bilang padaku, kalau kau akan selalu menganggapku adik kecilmu. Iya, kan?" Tanya Atherio sambil memasang ekspresi berpikir.
Atherina mendengus pelan, "Semalam kau tidak menganggapku kakak."
Atherio mendekat sambil memainkan rambut panjang Atherina. Gadis itu sedikit mundur. Pria itu tetap memainkan rambut kakaknya, "Kau masih menganggapku adikmu, kan?" Atherio menatap Atherina dengan intens.
Gadis itu tampak berpikir. Ekspresinya berubah menyendu. Sejujurnya dia memang merindukan Atherio. Dia ingin sekali menghabiskan waktu dengan adiknya seperti dulu. Bercanda dan bermain.
Atherio berbalik dengan tangan menyentuh hidungnya lalu menarik napas, "Sepertinya aku benar-benar telah kehilangan kakakku. Ah, bahkan dia datang tanpa meminta maaf karena telah pulang terlambat selama satu tahun."
Atherina segera mendekati Atherio. Dia berdiri di depan adiknya seraya menyentuh kedua lengan Atherio. Atherina menggeleng, "Itu tidak benar.. aku.. aku masih kakakmu. Maafkan aku." Atherina menunjuk dirinya.
Atherio membelakangi kakaknya, "Benarkah? Kalau begitu kau harus melakukan sesuatu hal yang biasa kau lakukan dulu sebagai seorang kakak."
Atherina berjalan ke depan Atherio, "Iya, tentu saja." Atherio tersenyum sambil menangkup wajah kakaknya, "Kau memang kakakku."
Kedua mata Atherina bergetar ketika mendengar Atherio mengakuinya seperti dulu.
Atherio membuka tali jubah mandinya, "Hari ini panas sekali. Aku ingin kau memandikanmu seperti waktu itu."
Atherina tercengang, dia segera berbalik membelakangi Atherio yang membuka jubah mandinya. Pria itu tersenyum nakal sambil melemparkan jubah mandinya ke ranjang. Padahal dia mengenakan boxer putih.
"Kau gila? Aku pernah bilang tentang batasan antara kita, bukan?" Atherina bertanya setengah menggerutu.
Atherio melenggang ke kamar mandi, "Aku tidak mendengarmu."
Atherina menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Dia menengadah menatap langit-langit kamar, ayah.. kenapa kau memberikanku adik macam dia?! Ayah, tolong datang kemari dan pukul saja anak itu, aku rela.
Atherina menepuk jidatnya, "Maafkan aku, Ayah. Tenanglah kau di alam sana."
"Kakak?" Suara Atherio dari kamar mandi. Atherina menoleh, "Aku datang, adikku!"
Di kamar mandi,
Atherio tengah berada di dalam bath up berisi gelembung sabun yang banyak. Tatapannya lurus ke depan dengan kedua matanya yang tertutup, menambah kesan sexy pada dirinya.
Atherina yang membawa sabun di tangannya memasuki kamar mandi dan menghampiri Atherio. Dia berdiri di belakang adiknya itu. Sejenak Atherina melihat punggung kekar adiknya.
Atherina menarik napas sebentar. Tangannya bergerak membuat gelembung lalu perlahan menyentuh punggung adiknya dan mengoleskannya secara merata. Atherio merasakan sentuhan kakaknya yang lembut. Kedua matanya terbuka dengan perlahan.
Waktu masih kecil, Atherio sering di mandikan kakaknya. Tapi, kali ini rasanya berbeda.
Atherio merasakan rambut Atherina yang menyapu bahu lebarnya seperti mencoba untuk menggodanya. Sesekali Atherina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Atherio mendongkak menatap kakaknya. Pandangan mereka bertemu sejenak.
"Jangan melihatku," kata Atherina. Atherio tersenyum tanpa berhenti menatap gadis itu. Sama seperti dulu, Atherina selalu bersikap lembut padanya.
Atherio menarik lengan Atherina dan menjungkirbalikkan tubuh ramping itu hingga ikut tercebur ke dalam bath up. Atherina berteriak karena kaget. Pria itu membuat Atherina duduk dipangkuannya.
"Atherio! Kau! Aku jadi basah begini!" Atherina memukul tangan adiknya yang memeluk perutnya.
Atherio tersenyum senang sambil mengecup tengkuk Atherina dengan lembut, "Berhenti bergerak, atau aku akan keluar dari bath up ini dan kau akan melihatku telanjang bulat."
Seketika Atherina berhenti meronta-ronta. Dia benar-benar kesal karena sikap adiknya. Atherio meletakkan dagunya di ceruk leher Atherina, "Aku sudah melihat foto itu."
Atherina sedikit menoleh pada adiknya. Atherio menarik tubuh Atherina agar bersandar pada dadanya, "Bagaimana keadaan ibu?"
Atherina membayangkan wajah Aleena, "Dia baik-baik saja, dia sangat merindukanmu. Banyak sekali fotomu yang dia miliki. Dia rela membayar mahal paparazzi."
Atherio mengangguk, "Aku akan menemuinya jika waktunya sudah tepat."
Hening.
Atherina beranjak dari bath up. Dia mencari handuk tanpa memperdulikan Atherio yang sedang memperhatikannya.
"Jangan pergi," kata Atherio. Atherina menoleh menatap adiknya. Ucapan Atherio terdengar seperti permohonan.
◆◇◆
"Semakin kamu bersembunyi, mereka semakin ingin mencarimu."
04 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1