![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Cinta tanpa memiliki itu sama halnya ketika kau menggenggam air."
_So Yeon_
◆◇◆
Sinar mentari pagi menyusup menyentuh paras cantik yang terlelap dalam mimpi. Perlahan-lahan, kedua mata kecil itu menunjukkan manik coklat gelap dari balik kelopaknya. Atherina telah terbangun. Dia melihat siluet pria berdiri didekat jendela sambil menyentuh gorden yang menyebabkan cahaya masuk menyinari wajahnya. Seolah sengaja pria itu membangunkannya dengan cara seperti itu.
"Ireona," suara Atherio. Pria itu mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Jelas wajah tampan itu kini tengah menatap Atherina.
Atherina mendongkak menatap adiknya. Dia bangkit dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa," gumam Atherina. Atherio melirik kakaknya, "Ikuti skrip."
Hening.
Atherio bangkit kemudian mengusap lembut rambut Atherina, "Mulai sekarang dan selamanya, kau akan tetap tinggal di rumah ini. Kau hanya akan keluar jika itu bersamaku." Pria itu melenggang pergi.
Atherina mencerna ucapan adiknya. Ketika sampai di pintu, Atherina memanggilnya, "Apa kak Han Jin baik-baik saja? Aku melihatmu melukainya semalam."
Atherio berhenti melangkah. Dia membuka pintu kamarnya kemudian berlalu tanpa mau menjawab pertanyaan Atherina. Gadis itu terlihat sedih ketika pintu kamar adiknya tertutup.
Han Jin mendatangi rumah Atherio sendirian. Mereka berbicara di markas dengan serius.
"Apa Atherina sudah bangun?" Tanya Han Jin. Anggukkan Atherio adalah jawabannya. Han Jin bernapas lega.
"Apa Aleena Park memperlakukan kakakku dengan buruk ketika di Jepang?" Tanya Atherio.
Han Jin menyandarkan punggungnya ke kursi, "Ibu petir selalu bertindak sesuka hatinya. Awalnya mereka memang tidak cocok. Namun, Atherina bisa membuat ibu petir terkesan karena kemampuannya. Tidak ada hal lain."
"Aku anggap kau berkata jujur. Aku akan menandatangani dokumen kerja sama kita," kata Atherio. Han Jin mengangguk pelan.
Han Jin memperhatikan Atherio yang sedang menggerakkan tinta hitam di atas kertas kerja sama mereka. Atherio memutar balik dokumennya, giliran Han Jin yang menandatanganinya.
"Bisakah aku bertemu Atherina?" Tanya Han Jin.
"Untuk apa? Bukankah kau membantunya ke Jepang hanya untuk kerja sama ini?" Tanya Atherio. Han Jin tidak mengira Atherio akan tahu sejauh itu. Memang benar, awalnya Han Jin hanya memanfaatkan Atherina untuk mendapatkan kerja sama yang baik dengan kelompok Park. Tapi, setelah mengenal gadis itu, Han Jin mulai menyukai Atherina.
"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," sanggah Han Jin. Dengan cepat, Atherio berkata, "Dia aman bersamaku."
Atherina sedang bersama Min Hyuk. Mereka berdua mengelilingi rumah sambil membicarakan hal penting selama Atherina di Jepang dan Atherio di Amerika.
".. jadi, apa saja yang dilakukan Atherio di Amerika?" Atherina memilih Min Hyuk sebagai narasumbernya karena Min Hyuk adalah orang yang bisa dibilang paling jujur diantara yang lain. Jadi, Atherina memiliki kepercayaan yang lebih terhadapnya.
"Tuan muda giat belajar dan melakukan transaksi dengan hati-hati. Kami melihatnya selalu tidur lebih awal dan jarang berkomunikasi dengan orang sana."
Atherina mengangguk pelan, "Apakah dia suka minum alkohol?"
"Hanya ketika ada pertemuan dengan seseorang yang istimewa. Tuan muda jarang minum jika di markas."
"Orang istimewa?" Tanya Atherina menyelidik. "Pembeli dan rekan gangster yang dihormati."
Atherina menggigit bagian bawah bibirnya, "Apakah dia pernah dekat dengan seseorang? Maksudku seorang perempuan?"
Min Hyuk tampak berpikir, "Ada, bahkan banyak sekali perempuan yang mendekatinya."
Atherina tampak serius mendengarkan. Min Hyuk menggaruk-garuk dagunya, "Gadis-gadis Amerika itu menyukai tuan muda. Mereka sering datang ke mansion walaupun tuan muda sering menolak mereka."
Atherina merasa curiga. Apa yang dia lihat secara langsung dengan apa yang dia dengar dari Min Hyuk sungguh berbeda. Atherina bertanya, "Lalu siapa dua wanita yang ada ketika aku pertama datang kemari?"
"Aku tidak tahu. Tapi, tuan muda meminta Ji Hoo untuk mengundang mereka berdua sehari sebelum Nona ke rumah," jawab Min Hyuk.
"Jadi, Atherio tidak terpengaruh dengan kehidupan disana?" Tanya Atherina. Min Hyuk menggeleng, "Tidak, bahkan tuan muda sangat tertutup dengan orang sana. Tuan muda tidak berteman dengan siapa pun."
Atherina mengangguk paham. Mereka berdua berpapasan dengan Atherio dan Han Jin. Min Hyuk membungkuk kemudian berlalu. Manik biru pria itu menatap Atherina yang juga tengah menatapnya. Sementara Atherio pura-pura tidak peduli. Dia melihat kearah lain.
Han Jin tersenyum, "Sebelum aku melihatmu, aku tahu kau memang cantik." Atherina tersenyum kecil, "Terimakasih."
"Aku minta maaf atas kejadian semalam. Dan aku berjanji tidak akan membuatmu takut padaku," ujar Han Jin. Atherina menganggukkan kepalanya, "Aku mengerti. Terimakasih telah membantuku. Bagaimana luka di punggungmu? Apa sudah diobati?"
__ADS_1
Han Jin tersenyum sambil sekilas melirik Atherio yang mendelik dingin padanya. "Aku baik-baik saja," jawab Han Jin. Atherina menghela napas sejenak, "Syukurlah."
"Aku harus pergi. Jaga dirimu, sampai jumpa." Han Jin mengusap lembut rambut Atherina kemudian berlalu. Atherio menarik pinggang Atherina dengan posesif, "Berapa kali dia menciummu?"
"Ah? Apa maksudmu?" Atherina memukul lengan adiknya. Atherio memegang kedua lengan kakaknya, "Kau menikmati ciumannya? Sampai-sampai lupa pulang?"
Atherina membuka mulutnya untuk membantah, tapi Atherio malah mencium Atherina dengan mata tertutup. Gadis itu terkejut dan merasakan kedua pipinya yang memanas. Atherio melepaskan ciumanannya dan menatap Atherina. Merasa tidak ada penolakan, pria itu lagi-lagi mencium kakaknya.
Terdengar suara keributan dari depan. Atherio dan Atherina terkejut seiring terhentinya ciuman itu. Mereka berdua menoleh. "What happen?" Gumam Atherina.
Mengganggu saja, batin Atherio.
Ternyata So Yeon datang lagi. Atherio mendengus kesal. Atherina melihat beberapa penjaga menghalangi gadis itu yang mencoba masuk.
"Sepertinya, aku mengenal dia." Atherina bergumam sendiri. "Atherio! Mianhae, karena kemarin membuatmu marah!" Teriak gadis itu.
◆◇◆
Di dalam rumah, So Yeon celingukan melihat kemewahan tempat tinggal Atherio. Atherina dan Atherio saling pandang melihat tingkah So Yeon.
Atherina mengerutkan keningnya, gadis ini terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Pertama kalinya aku mengunjungi rumah temanku!" So Yeon berseru gembira. Atherio melipat kedua tangan di depan dada, "So Yeon, aku tidak punya waktu untuk ini. Aku berterimakasih karena kau sering membantuku di masa lalu. Tapi, tolong ini terakhir kalinya kita bertemu."
Gadis itu terlihat sedih mendengar ucapan Atherio. Dia melirik Atherina yang sedang melihat kearahnya.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu, Atherio."
"Mwo?"
"Aku tahu siapa dirimu dan kenapa kau berusaha menjauh dari semua orang," ucap So Yeon. Atherina terkejut sontak dia menoleh pada Atherio kemudian kembali menatap So Yeon.
Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kartu nama. Tertera pekerjaan gadis itu adalah agen rahasia. Atherio tidak bergeming sama sekali. Ekspresinya masih datar.
"Polisi mengejarmu, Atherio. Termasuk Chris." Kedua alis Atherina terangkat mendengar nama itu. Dia terkejut dan tidak mengira Chris akan menjadi polisi. Lalu ingin menangkap mereka?
So Yeon menunduk, "Waktu itu, aku akan mengatakannya.. tapi, kau terlanjur marah dan menggebrak meja. Aku tidak mungkin mengatakannya ketika kau marah."
"Apa yang bisa dilakukan polisi? Mereka tidak punya bukti dan saksi," kata Atherina. So Yeon menoleh pada gadis itu, "Untuk saat ini mereka memang tidak memiliki apapun. Mereka bekerja sama dengan agen mata-mata untuk menyelidiki kalian. Aku salah satu agen yang di sewa kepolisian."
Atherina menatap So Yeon dengan tatapan tidak percaya. Dia melihat adiknya yang sedang berpikir keras. Kedua mata elangnya tertutup rapat.
"Kenapa kau mengatakan ini? Sebenarnya kau di pihak siapa?" Tanya Atherina. "Aku tidak bisa bekerja untuk polisi. Atherio pernah berbuat baik padaku," kata So Yeon.
Atherio bangkit dari kursi dan berlalu. So Yeon menyusulnya, "Aku bisa membantumu dengan mengecoh mereka. Aku akan berada di pihakmu."
Langkah Atherio terhenti, "Aku tidak ingin kau terlibat di pihak yang salah. Kembalilah pada mereka dan pura-pura tidak mengenalku. Maka kau akan aman."
So Yeon tersentuh dengan ucapan Atherio. Terselip kekhawatiran dari kalimat yang dia katakan.
"Aku merasa aman jika kau juga aman," kata So Yeon. "Kau dalam bahaya jika bersamaku, So Yeon."
"Atherio, mereka mengirimkan banyak mata-mata. Hanya aku yang tahu siapa mereka," kata So Yeon dengan keras kepala.
"Ucapan So Yeon ada benarnya. Jika dia memang benar-benar di pihak kita, dia bisa membantu kita. Kau tidak ingin kelompok kita dalam bahaya, kan? Ada banyak anggota yang perlu kita lindungi," kata Atherina.
Atherio melanjutkan langkahnya tanpa memberikan jawaban. So Yeon menghela napas panjang. Atherina memegang pelipisnya.
Ponsel Atherina berdering. Gadis itu segera mengangkat panggilan dari seseorang, "Halo?"
"Nona, apa aku perlu menjemputmu? Kau berada di mana?"
So Yeon memperhatikan Atherina yang sedang menelepon. "Aku di rumah adikku, Hwan."
◆◇◆
Dengan bantuan So Yeon, Atherio memperketat keamanan dalam markas. Dia memerintahkan pemeriksaan seluruh anggotanya untuk mengetahui apakah ada keterlibatan dengan kepolisian.
So Yeon merasa senang ketika Atherio mau menurut padanya. Dia menatap punggung Atherio yang sedang berdiri memimpin anggotanya.
So Yeon tinggal beberapa minggu di rumah Atherio. Dia melihat kegiatan Atherio setiap hari. So Yeon merasa sangat dekat dengan Atherio. Tapi, dia juga melihat sikap manis Atherio kepada Atherina. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih daripada saudara.
So Yeon harus siap untuk menahan rasa sakit setiap melihat itu.
Pria itu berbalik menatap So Yeon yang tengah tersenyum sayu sambil menatapnya. Atherio mengangguk kemudian berlalu melewati So Yeon.
Gadis itu menyusul Atherio, "Atherio, apa kau sudah makan malam?" So Yeon berjalan menyesuaikan langkahnya dengan Atherio.
"Gomawo, kau telah membantuku. Sekarang ada banyak masalah dalam kelompokku, sebaiknya kau kembali ke tempat yang aman sebelum mereka mencurigaimu juga," kata Atherio.
"Aku tidak mau meninggalkanmu!" Kata So Yeon sambil menghalangi jalan Atherio. Otomatis pria itu menghentikan langkahnya dan menatap So Yeon.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu," kata So Yeon. "Apa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri?" Tanya Atherio.
"Aku lebih mengkhawatirkanmu," sanggah So Yeon. Gadis itu mendekat dan memeluk Atherio. Tidak ada penolakan dari pria itu. So Yeon mendongkak menatap Atherio lalu mengecup lembut bibir pria itu dengan mata tertutup. Pria itu menatap So Yeon yang sedang menciumnya.
__ADS_1
Atherio melingkarkan tangannya ke pinggang ramping So Yeon. Mereka berciuman dalam gelapnya ruangan itu. Kedua mata mereka terpejam. Malam yang dingin terasa lebih hangat.
Tiba-tiba, Atherio melepaskan ciumannya dan dia teringat pada Atherina. So Yeon menatap Atherio dengan sendu.
"Dimana Atherina?" Pertanyaan Atherio membuat So Yeon kecewa. Atherio selalu memikirkan Atherina. Pria itu berlalu mencari kakaknya. Tidak ada Atherina di rumah.
Dia bertanya kepada semua orang di rumah itu. Tidak ada yang tahu. Atherio mulai cemas.
"Aku melihat Nona Atherina di jemput seseorang. Ketika aku bertanya, Nona bilang orang itu adalah orang kepercayaannya ketika di Jepang," kata Min Hyuk.
"Paman Joon Ki!" Atherio berlalu ke markas dan berpapasan lagi dengan So Yeon. Pria itu sama sekali tidak menoleh dan seolah-olah tidak memperdulikan keberadaannya. So Yeon mengepalkan tangannya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Joon Ki segera menghampiri Atherio.
"Cek CCTV dan lihat plat nomor mobil orang yang menjemput Atherina!" Perintah Atherio.
Semua orang sibuk mencari Atherina dan mengabaikan keberadaan So Yeon.
Sementara itu,
Atherina yang berada di dalam mobil melihat keluar jendela. Gadis itu melihat pemandangan malam kota Seoul. Sesekali dia menggigit bibirnya seperti sedang cemas.
"Hwan, tolong lebih cepat. Aku takut kak Han Jin kenapa-napa," kata Atherina dengan nada khawatir.
"Baik, Nona."
Di rumah Han Jin,
Atherina menemui Han Gun yang kebetulan berada di sana, "Han Gun, bagaimana keadaan kak Han Jin?" Tanya Atherina cemas.
"Demamnya sedikit menurun sekarang," jawab Han Gun. Atherina melihat Han Jin terbaring di tempat tidurnya. Gadis itu menyentuh dahi Han Jin. Pria itu terbangun dan menggenggam tangan Atherina.
Han Gun menggaruk kepalanya melihat itu, "Hyungie, aku mau keluar." Tanpa menunggu jawaban, pria itu berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Atherio pasti marah jika tahu kau di sini. Kenapa mengambil resiko?" Tanya Han Jin.
Atherina menggerakkan tubuhnya, "Kenapa Kakak tidak bilang kalau Kakak sedang sakit? Aku sudah berjanji pada ibu petir untuk melakukan menjagamu dengan baik."
"Ada Han Gun di sini," sanggah Han Jin.
Hwan sedang bersandar pada mobilnya. Dia menunggu Atherina. Sesekali pria itu mengecek ponselnya. Dia melihat ada beberapa mobil memasuki pelataran rumah Han Jin. Hwan menyipitkan matanya. Dia terkejut melihat Atherio yang bergegas keluar dari salah satu mobil itu. Hwan segera memakai topi untuk menutupi wajahnya. Atherio melirik sekilas pada pria itu.
Seseorang menghampirinya, "Hei! Kau yang membawa Nona kami, kan? Kami melihat mobilmu dari CCTV."
Hwan membungkuk, "Iya, Tuan. Aku sopir pribadi Nona Atherina. Tadi, Nona memintaku mengantarnya kemari."
Atherio memasuki rumah Han Jin dengan ekspresi marah, "Han Jin! Dimana kau sembunyikan Atherina!"
"Sebenarnya.. aku senang melihatmu di sini. Aku merindukanmu." Han Jin menatap Atherina dengan skeptis.
Atherio membuka pintu kamar dengan paksa. Han Jin dan Atherina menoleh ketika pria itu tiba di kamar. Atherio menautkan alisnya melihat Han Jin bersama kakaknya di kamar. Di menarik lengan Atherina dengan kasar.
"Pulang!" Atherio berlalu tanpa permisi.
Han Jin memutar bola matanya, "Dia pikir, dia itu siapa? Keluar masuk rumahku tanpa izin."
Atherio tidak kunjung melepaskan kakaknya. Dia tetap merangkul kakaknya dengan posesif, "Kau sudah tahu polisi sedang mengincar kita. Kenapa masih keluar sendiri?"
"Aku bersama orangku," bantah Atherina. "Jangan menjawabku ketika aku marah!" Gerutu Atherio.
Hwan melihat Atherio membawa Atherina keluar dari rumah itu.
Atherio membukakan pintu mobil untuk Atherina. "Aku harus bicara dulu pada orangku," kata Atherina. Atherio memutar bola matanya. Gadis itu melihat Hwan, "Kau bisa kembali, aku bersama adikku."
Hwan membungkuk.
Selama di perjalanan, mereka berdua terdiam. Ada banyak hal yang berputar di dalam pikiran masing-masing.
"Kau memasuki wilayah Han Jin dua kali tanpa permisi. Apa kau tidak takut peperangan?" Tanya Atherina. Atherio membuang muka, "Dia sudah menandatangani kerja sama denganku. Tidak ada alasan aku melewati wilayahnya. Aku sudah bilang, kau tidak bisa kemana pun jika tanpa aku."
Setibanya di rumah, Atherio membawa Atherina masuk ke kamarnya. So Yeon melihat betapa Atherio mengkhawatirkan Atherina. Pria itu sangat posesif terhadap Atherina.
Dan mereka masuk kamar?
Sementara itu, Atherio menutup pintu kamarnya. Dia berbalik menatap Atherina, "Aku tidak suka ketika kau berbuat baik pada Han Jin."
Atherina menarik napas, "Tapi, dia juga baik kepadaku. Dia sudah membantuku dan secara tidak langsung dia juga membantumu untuk mempertemukan dengan ibu petir. Apa aku salah membalas kebaikannya?"
"Aku juga sudah baik padamu. Aku lebih lama bersamamu. Seharusnya kau lebih baik padaku. Ayahku sudah memberikanmu segalanya. Apa kau tidak berniat membalas budi?" Tanya Atherio. Atherina terdiam seribu bahasa.
Atherio memegang kedua lengan kakaknya, "Apa yang ayahku lakukan jauh lebih besar dibandingkan Han Jin."
Atherina menunduk dalam. Atherio tersenyum penuh kemenangan melihat Atherina yang sudah tidak bisa lagi memberikan jawaban.
"Maaf, aku telah melukai perasaanmu. Tapi, aku juga terluka melihat kebaikanmu untuk orang lain." Atherio menarik dagu kakaknya agar melihat kepadanya.
Mereka saling menatap sejenak. Atherina tidak melihat adiknya yang dulu. Dia merasa berhadapan dengan pria lain. Atherio merasakan hal yang sama. Dia merasa sedang melihat perempuan lain. Bukan Atherina, kakaknya.
"Jika aku bertanya.. dengan apa kau bisa membalas kebaikan ayahku, maka apa itu?" Tanya Atherio sambil berbalik membelakangi Atherina.
Gadis itu membuka blazer-nya. Kemudian menurunkan gaun yang dia pakai. Atherio berbalik dan terkejut dengan apa yang dilakukan kakaknya. Dia mendekat dan segera mengambil blazer Atherina lalu memakaikannya.
"Apa yang kau.." Atherio tidak melanjutkan kata-katanya ketika Atherina membungkamnya dengan ciuman. Sejenak kedua mata mereka saling memandang.
Atherina melepaskan ciumannya, "Aku hanya memiliki tubuh ini ketika lahir. Aku hanya bisa membalas dengan ini." Gadis itu kembali mencium Atherio. Pria itu membalas ciumannya.
Atherio mendorong Atherina ke tempat tidurnya. Dia mengecup leher Atherina.
So Yeon yang berada di depan pintu kamar Atherio menangis tertahan mendengar suara mereka. Dia berlalu pergi.
"Apa kau juga begini pada jalang-jalang itu?" Tanya Atherina. Atherio menatap Atherina yang berada di bawahnya, "Aku belum pernah menyentuh wanita."
Hening.
Atherio melihat Atherina yang berusaha menahan buliran bening di matanya. Gadis itu sedari tadi berusaha untuk tidak menangis. Atherio menyelimuti tubuh kakaknya yang hampir telanjang.
"Aku tahu, kau tidak siap untuk ini. Jangan memaksakan diri, aku akan menunggumu sampai kau bisa menerimaku," ucap Atherio kemudian berlalu dari kamar itu.
Atherina menutupi seluruh bagian tubuhnya kemudian menangis karena tindakan bodohnya. Dia hampir saja memberikan kesuciannya pada pria lain. Bahkan adiknya sendiri. Tangisannya pecah dan menggema di kamar Atherio.
Kau seperti pelacur, teriak Atherina dalam hatinya.
◆◇◆
06 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1