ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Misi Pertama di Jepang


__ADS_3

このちいさなまどから、ぼくはきみのよこがおをさがして、さびしいだから


◆◇◆


Atherina duduk berhadapan dengan Aleena. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Han Jin sedang beristirahat di apartemennya. Han Gun entah pergi kemana. Di meja ada dua gelas anggur.


"Minumlah," ucap Aleena. Atherina menunduk, "Aku tidak minum."


"Han Gun seumuran denganmu, dia juga minum." Aleena menggerakkan tangannya agar gadis di depannya mau minum. Atherina mengangguk lalu meminum sedikit anggurnya.


"Aku tidak pernah berpikir akan ada perempuan lain di dunia gelap ini selain diriku," ujar Aleena yang memulai pembicaraan. Atherina mendengarkan dengan baik.


"Namamu bagus sekali, indah didengar, dan mengingatkanku pada sesuatu. Kau tahu arti namamu?" Tanya Aleena.


"Sinar dalam kehampaan," jawab gadis itu cepat. Aleena mengangguk, "Terlalu berbahaya dunia gelap ini untukmu, gadis muda. Lebih baik kau mundur dan kembali ke rumahmu yang nyaman."


Atherina mendongkak menatap Aleena, "Aku datang kemari untuk pekerjaan ini. Aku tidak memiliki rumah untuk pulang."


Aleena mengerutkan keningnya, "Darimana kau berasal? Apa sebelumnya kau pernah bekerja di kelompok lain?"


Atherina terdiam. Dia sedang berpikir. Wanita di depannya menatap Atherina dengan intens. Dia menunggu jawaban dari gadis itu.


"Aku pernah bekerja sebagai penjual senjata di sebuah kelompok. Tapi, aku tidak diperbolehkan bertemu dengan ketua kelompok. Itu karena aku seorang bawahan. Aku tidak diberi tahu nama kelompok itu. Aku hanya diberikan tugas untuk bertransaksi dengan pembeli di tempat tertentu."


Aleena mencerna ucapan gadis itu kemudian mengangguk mengerti, "Aku tahu, ada beberapa kelompok yang tertutup bahkan dengan anggotanya sendiri. Baiklah, posisi apa yang kau inginkan?"


"Aku.. ingin posisi yang sama dengan Han Gun." Jawaban Atherina membuat Aleena terkejut lalu tertawa keras. "Polos sekali kau! Han Gun memerlukan 10 tahun untuk mendapatkan posisi itu, apa kau bercanda?"


Atherina sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Aleena. Dia tetap pada posisi semula. Aleena yang melihat Atherina menyadari jika gadis itu tidak sedang bercanda. Aleena berhenti tertawa, "Maaf, aku memang tidak cantik ketika tertawa. Ehemm.. kenapa kau menginginkan posisi itu?"


"Aku hanya ingin ada seseorang yang mengakuiku, mengakui kekuatanku." Jawaban Atherina begitu dalam. Aleena memiringkan kepalanya, "Bagus sekali tekadmu, nak. Tapi, aku ingin tahu seberapa hebat dirimu? Tidak biasanya Han Jin membawa seseorang kemari jika orang tersebut tidak istimewa."


Beberapa pria bertubuh besar memasuki ruangan. Atherina melihat ke sekelilingnya. Ada sekitar 12 orang yang mengelilinginya.


"Aku melakukan pekerjaan dengan perasaan, artinya aku melakukan apapun sesuka hatiku. Jika kau berhasil melawan mereka, kau mendapatkan posisi sebagai anggota biasa."


Atherina bangkit sambil menendang kursi ke belakang dan mengenai salah satu dari mereka. Aleena terkejut, "Gadis kasar."


Atherina melawan mereka dengan cekatan. Aleena meneguk anggurnya sambil menutup mata. Ketika matanya terbuka, dia melihat sosok Park yang sedang berkelahi dengan orang-orangnya. Aleena mengernyitkan keningnya. Tubuhnya sedikit sempoyongan untung saja tangannya bergerak cepat memegang meja. Wanita itu mengucek matanya. Tidak ada Park. Yang dia lihat adalah gadis cantik berdiri di depannya. Semua anak buahnya terkulai di lantai sambil meringis kesakitan.


Aleena melihat ke sekeliling. Dia menggeleng pelan ketika Atherina menghampirinya. Wanita itu memegang bahu Atherina untuk menopang tubuhnya. Gadis itu terkejut dan refleks memegang pinggang Aleena.


"Kau.. resmi menjadi anggotaku." Setelah berkata begitu, Aleena pergi dan tidak sengaja menyenggol anak buahnya. Dia berjalan sempoyongan. Atherina mengerutkan keningnya, "Dia mabuk?"


Setelah itu,


Atherina pulang ke apartemen. Dia memesan makanan lalu mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi apa pun. Biasanya ada Atherio yang mengirim pesan atau voice note. Gadis itu meletakkan ponselnya ke meja, "Mungkin dia sedang sibuk. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk."


Atherina pergi ke Jepang tidak membawa hal-hal yang berhubungan dengan Atherio. Tidak ada foto Atherio. Atherina melarang adiknya menelepon. Gadis itu tidak ingin Aleena mengetahui siapa dirinya. Sebagai gantinya, dia menelepon Ji Hoo dan yang lainnya untuk menanyakan kabar Atherio. Atau menanyakan apa yang sedang dilakukan adiknya itu.


Atherina menelepon Carlos. Karena kemarin dia sudah menelepon Ji Hoo.


"Nona?"


"Paman Carlos, bagaimana keadaan Rio? Apa dia sudah makan?"


"Tuan muda tidak mau makan, dia sedang melakukan sesuatu yang lain."


Atherina mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"


"Kepolisian mencurigai kita, aku rasa itu menjadi beban pikiran untuk tuan muda."


Ucapan Carlos membuat kedua mata Atherina melebar karena terkejut, "Polisi?"


"Nona tidak perlu khawatir, kami sudah mengurusnya. Besok kami akan pindah ke New York."


"Iya, kalian harus hati-hati. Oh iya, jangan lupa antarkan makanan untuk Rio. Bilang padanya, sebanyak apapun musuh kita, jangan membuatnya lupa makan."


"Baik, akan aku sampaikan, Nona."


"Aku akan menutup teleponnya." Setelah mengatakan itu, Atherina mengakhiri panggilan.


Pintu apartemen diketuk. Atherina menoleh dan segera membuka pintu. Ternyata pengantar makanan. Atherina melihat makanan yang dia pesan. Terlihat masih hangat dan lezat.


"Selamat makan, Rio."


 


 


Aleena menunduk dalam. Han Jin yang berdiri di belakangnya tampak tenang.


"Kelompok Park benar-benar sangat tertutup. Mereka tidak membiarkan orang luar mengetahui kegiatan mereka. Aku tidak bisa melihat putraku dari sini." Aleena menatap foto Atherio yang memakai seragam. Ada banyak foto yang berhasil didapatkannya dari paparazzi.


"Dia sangat tampan. Aku ingin bertemu dengannya. Kenapa harus menunggu 7 tahun lagi. Apa yang dipikirkan Park?"


Han Jin tidak berekspresi sama sekali. Dia hanya mendengarkan keluh kesah yang setiap hari dilontarkan Aleena kepadanya.


"Ada informasi lain tentangnya?" Tanya Aleena sambil berbalik menatap Han Jin. Pria itu menggeleng, "Kelompok itu semakin tertutup."


Seseorang memasuki ruangan lalu bertekuk, "Ibu petir, anggota baru itu sudah tiba."


Aleena mengangguk, "Suruh dia ke ruanganku."


"Baik."


"Han Jin, kau juga ikut."


◆◇◆


Siang yang panas,


Aleena duduk berhadapan dengan Han Jin dan Atherina.


Wanita itu mengangkat dagunya dan berkata, "Erina, Han Jin telah banyak menceritakan dirimu. Dia mendukungmu untuk memiliki posisi yang sama dengan Han Gun. Aku membawa Han Gun bersama Han Jin ketika mereka masih kecil. Misi pengabdian aku berikan pada Han Gun ketika usianya 6 tahun. Dia mengerjakan misi itu selama 10 tahun dan sekarang posisinya cukup berpengaruh di kelompok petir. Untuk Han Jin, dia mengerjakan misi pengabdian dalam waktu 6 tahun. Sisanya adalah misi berat dan posisinya tiga tingkat diatas Han Gun."


Atherina mencerna ucapan wanita itu. Waktu selama 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mau tidak mau dia harus mengingkari janjinya pada Atherio dan melakukan misi ganda.


"Jika menurutmu 10 tahun adalah waktu yang terlalu lama, kau bisa menyingkatnya. Tapi, tingkat misinya juga bertambah." Aleena tersenyum mengintimidasi.


"Aku ingin selesai dalam 6 tahun," ucap Atherina. Han Jin mengerutkan keningnya mendengar keputusan Atherina.


"Misi pengabdian 6 tahun itu berbahaya. Han Jin kehilangan penglihatannya karena misi itu. Apa kau tidak akan menyesal?" Ucap Aleena diakhiri pertanyaan.


Han Jin angkat bicara, "Pikirkan itu baik-baik." Aleena menoleh pada Han Jin kemudian tersenyum.


Atherina mengangguk, "Aku siap untuk 6 tahun." Aleena mengetuk meja tiga kali dengan telunjuknya yang lentik.


"Kapan misinya di mulai?" Tanya Atherina. "Itu terserah padamu, kau bisa memulainya kapan saja. Tapi, lebih baik kau melakukan misi sederhana sebagai permulaan."


"Han Gun akan membimbingmu," kata Han Jin. Aleena menoleh pada Han Jin. Atherina mengangguk setuju.


Setelah pertemuan itu, Atherina dan Han Gun melakukan berbagai macam misi. Dimulai dengan misi sederhana menuju misi yang lebih sulit. Misi tersebut dinamakan misi pembuktian yaitu misi yang dilakukan sebelum misi pengabdian. Cukup sulit untuk diterima menjadi anggota yang bisa dipercaya di kelompok petir. Aleena memang suka membuat keputusan seenaknya dan terkadang itu memberatkan anggotanya sendiri.


Atherina mulai mengerti maksud ucapan Park. Aleena menggunakan perasaannya dalam melakukan sesuatu. Wanita itu bertindak sesuai keinginannya sendiri.


Han Gun sedang bersantai di apartemennya sambil memakai  earphone. Dia mengambil segelas jus jeruk lalu meminumnya.


Ketika dia kembali ke posisi. Dia tersentak kaget mendapati Atherina duduk di depannya. "Se-sejak kapan kau di sana?"


Atherina memainkan gunting di tangannya. Dengan santai, dia menggunting kabel earphone milik Han Gun lalu memasukkannya ke dalam jus jeruk.


"Dari tadi aku mengetuk pintu dan berteriak, kau tidak mungkin mendengarku karena benda ini." Itu jawaban Atherina. Han Gun meneguk jus jeruknya tanpa peduli dengan potongan kabel di dalam.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Han Gun.


"Aku mendapatkan misi, ayo kita harus pergi sekarang."


"Misi? Bukankah minggu kemarin kita sudah melakukan misi yang berat? Kapan kita istirahat?"


"Kau tidak mau mendapatkan promosi untuk kenaikan posisimu? Setidaknya kita berada di posisi kedua setelah kakakmu."


"Kita? Aku sudah mendapatkan posisi yang nyaman. Kau sendiri yang belum mendapatkan posisi sepertiku."


Atherina memukul paha Han Gun, "Ketika posisiku naik di atasmu dan di bawahnya Han Jin, aku bisa merekomendasikanmu."


Mendengar itu, kedua mata Han Gun berbinar, "Benarkah? Kau serius?"


Kedua alis Atherina menukik, "Kau pikir aku ini pernah bercanda?"


Han Gun menepuk lengan Atherina sambil tertawa semangat, "Haha! Tentu tidak! Ayo, kita ambil posisi baru!" Laki-laki itu melenggang pergi dengan semangatnya.


Atherina mendengus sambil mengusap lengannya.


◆◇◆


 


 


Malam yang sunyi. Terdapat rumah besar dengan benteng cukup tinggi melindunginya. Tidak cukup untuk keamanan, terlihat beberapa orang bertubuh besar berdiri disetiap sudut rumah. Tak hanya itu, ada beberapa anjing yang berjaga tanpa dililit rantai.

__ADS_1


Ada dua bayangan melompati benteng dan berhasil mencuri perhatian seorang penjaga. Dia mendekat untuk memastikan ada apa di sana. Baru beberapa langkah, seseorang melompat ke punggungnya dan mematahkan lehernya dengan cepat. Beberapa anjing menggonggong pada dua orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah.


Salah satu dari mereka menembaki anjing-anjing itu dengan pistolnya yang tidak bersuara. Mereka berdua melanjutkan memasuki rumah tersebut ketika mendengar suara derap langkah para penjaga.


Salah satu penjaga yang membawa walkie talkie memberitahukan seluruh penjaga di rumah itu, "Ada penyusup!"


Kedua orang berpakaian hitam bersembunyi di salah satu kamar. Mereka membuka penutup wajah karena gerah, "Aku tidak melihat ada anjing kemarin." Tak lain mereka adalah Han Gun dan Atherina.


Atherina mengangguk, "Tidak masalah, tugas kita hanya menemukan dokumen itu dan keluar dengan selamat."


Tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka. Seketika mereka berbalik, ternyata ada anak laki-laki yang masih kecil. Dia melihat kearah Atherina dan Han Gun bergantian.


"Ka-kalian siapa?" Tanya anak itu ketakutan. Kedua anggota gangster dari kelompok petir itu saling pandang. Han Gun mengambil pistol kemudian menodongkannya kepada anak itu. Atherina menarik tangan Han Gun.


"Jangan lakukan," bisik Atherina. "Dia melihat wajah kita," sanggah Han Gun. Mereka saling menatap tajam. Atherina menggeleng, "Ini bukan bagian dari misi."


Pintu kamar tersebut didobrak dari luar. Para penjaga yang membawa pistol mengarahkan moncong pistol ke kamar tersebut. Pintu kamar itu roboh. Para penjaga segera masuk. Tidak ada siapa pun di dalam. Hanya ada anak laki-laki yang telihat ketakutan sambil menunjuk jendela yang terbuka lebar. Para penjaga segera berpencar untuk mencari penyusup.


Di dalam mobil, Han Gun dan Atherina terlihat panik. "Jalankan mobilnya," ucap Atherina. Ketika Han Gun menyentuh stir, seseorang muncul dari persimpangan jalan di depan mobil mereka. Itu adalah salah satu penjaga rumah yang baru saja mereka datangi (tanpa permisi). Seketika keduanya bersembunyi melelapkan diri ke bawah kursi depan.


Penjaga melihat mobil asing yang terparkir tidak jauh dari rumah itu. Merasa curiga, dia menghampiri mobil tersebut dan melihat ke dalam. Dia tidak melihat apa-apa.


Merasa keadaan sedikit aman, Atherina dan Han Gun kembali duduk. "Sial, kita keluar dari rumah itu tanpa dokumennya." Han Gun memukul stir karena kesal.


Atherina memberikan disk merah pada Han Gun. "Apa ini?" Tanyanya. "Kau pikir apa? Itu dokumennya." Atherina menjawab setengah menggerutu. Han Gun terkejut lalu tersenyum senang, "Kapan kau mengambilnya?"


"Jangan tanya," jawab Atherina sambil tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba seseorang muncul di depan mobil sambil menodongkan pistol. Atherina dan Han Gun terkejut. "Matilah, pencuri!"


Dia menembak namun meleset, tembakannya mengenai kursi mobil. "Jalankan mobilnya!" Atherina berteriak sambil memukul lengan Han Gun. Tanpa menunggu lagi, Han Gun menginjak gas dan menabrak orang itu. Mobil pun melaju meninggalkan lokasi.


Di perjalanan,


Kedua remaja itu masih telihat syok. Han Gun tidak bisa fokus karena kejadian barusan. Mobilnya yang melaju hampir menabrak truk di depan. "Awas!" Atherina menarik stir untuk menghindari truk tersebut. Beruntung Atherina tepat waktu.


"Han Gun! Kita menepi saja," ucap Atherina. "Tidak! Mungkin saja mereka mengejar kita!" Han Gun menepis tangan Atherina.


Sekali lagi Han Gun hampir menabrak mobil di depannya. "Han Gun!" Atherina berteriak keras. Seketika Han Gun menginjak rem. Tubuh mereka tersentak ke depan. Keduanya saling pandang dengan napas terengah-engah.


Atherina menepuk-nepuk lengan Han Gun, "Aku belum mau mati." Setelah mengatakan itu, dia keluar dari mobil tersebut. Han Gun menyusul, "Erina! Kau mau kemana?"


"Aku mau cari air," jawab Atherina tanpa berbalik padanya, dia berjalan sempoyongan. Han Gun menggeleng pelan. Setelah menepikan mobil, Han Gun menyusul Atherina yang memasuki tempat makan Jepang.


Keduanya memesan makanan dan minuman. Han Gun mabuk berat dan bicara omong kosong. Atherina tidak menanggapinya.


Dia mengingat anak kecil di rumah itu. Melihatnya seperti Atherio waktu pertama bertemu. Atherina merindukan Atherio.


Atherina terhenyak mendengar suara Han Gun. "Ah, aku mau kencing di celana," ucap Han Gun sambil melelapkan kepalanya ke meja.


Atherina menepuk-nepuk punggung Han Gun, "Hei, bangun. Besok kita harus pergi ke sekolah baru."


"Ah, sepertinya aku sudah selesai." Han Gun menggaruk pinggangnya.


Atherina memutar bola matanya kesal.


Han Gun sudah berganti celana. Dia mengenakan celana pendek berwarna putih yang kontras dengan pakaiannya. Atherina melipat kedua tangan di depan dada sambil memperhatikan Han Gun dari atas ke bawah dan sebaliknya. Han Gun mendengus kesal, "Bisakah kau memilih celana lain yang lebih bagus?"


Atherina memutar bola matanya, "Siapa suruh mengompol di celana." Setelah mengatakan itu, Atherina berlalu disusul Han Gun yang berjalan dengan cara konyol.


Mereka berdua memasuki ruangan Aleena. Keduanya terkejut melihat Aleena tidak sendiri. Ada beberapa orang penting di dalam, termasuk Han Jin. Semua mata tertuju pada Han Gun, lebih tepatnya celana pendek yang dipakai Han Gun. Seketika wajah laki-laki itu memerah karena malu.


Han Gun berbisik, "Erina, ini salahmu."


Atherina berbisik, "Aku tidak tahu akan ada banyak orang di ruangan ini."


"Kemarilah," ucap Aleena.


Han Gun dan Atherina menekuk satu lutut untuk menemui ibu petir. Aleena melihat Atherina yang menekuk lutut kanannya, "Tekuk kaki kirimu, bukan kaki kananmu." Atherina menurut dengan mengubah posisi kakinya.


"Aku dengar, kalian hampir tertangkap." Ucapan Aleena membuat Han Gun dan Atherina cukup kebingungan.


"Misi sebelumnya bisa berjalan baik, tapi kenapa yang ini hampir gagal? Padahal kalian tidak perlu berkelahi, bukan?" Lanjut Aleena. Mendengar itu, Han Jin sama sekali tidak bereaksi.


"Kami tidak menyadari ada anjing penjaga di rumah itu. Tapi, Ibu tenang saja, kami berhasil mendapatkan dokumen yang mereka curi." Han Gun memberikan disk-nya pada Aleena. Wanita itu menerima benda tersebut lalu memberikannya pada ahli komputer.


"Cek isinya!"


"Baik."


Atherina dan Han Gun bangkit dengan kepala yang masih tertunduk. Dua orang bodyguard memasuki ruangan tersebut dengan membawa anak kecil. Atherina dan Han Gun terkejut. Anak yang ada ketika mereka berdua menyusup ke rumah musuh.


Ternyata Aleena mengirimkan pasukan khusus untuk membunuh habis semua orang yang ada di rumah itu.


"Seharusnya kalian membunuh saksi mata. Dia bisa mengingat wajah kalian dan melaporkannya ke polisi."


"Sekarang bunuh dia!" Kata Aleena setengah berteriak. Atherina terhenyak dan menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya. Han Gun melirik kearah Atherina yang menggeleng padanya.


"Kalian berdua, tembak dia!" Ucap Aleena pada bodyguard yang berhasil membawa anak itu. Kedua orang itu mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke kepala anak itu. Atherina menggeleng melihat kedua mata anak kecil yang terlihat ingin meminta tolong padanya. Walaupun tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Yang ada hanya ekspresi ketakutan di wajah polos itu.


"Kak Nana." Samar-samar dia mendengar suara Atherio.


"Tidak!" Teriak Atherina menggema di ruangan itu. Semua orang menoleh padanya.


"Ibu petir, aku mohon jangan sakiti anak itu." Atherina menggeleng sambil mengibaskan tangannya. Dia hendak menangis.


Aleena menautkan alisnya geram, "Kalian berdua! Tembak dia!"


Dor! Dor!


Dor!


Atherina menutup kedua telinganya. Dia bersujud sambil menangis histeris, Rio, maafkan Kak Nana.


Tercium aroma anyir seperti darah menyeruak memenuhi indra penciuman. Atherina tidak mampu bergerak dari posisi semula ketika darah itu mengalir ke hadapannya. Sebuah tangan menyentuh bahunya. Dengan refleks, dia menarik tangan itu dan menghajar pemiliknya.


Beberapa orang menahannya, namun gadis itu masih bisa memukul dan menggerakkan tubuhnya untuk menghajar mereka.


"Brengsek kalian!" Teriak Atherina. Beberapa orang tersungkur jatuh terkena pukulannya. Sepertinya tidak ada kegagalan ketika Victor melatih gadis itu.


"Mati kalian!"


Tangan mungil itu menyentuh jemari lentik Atherina yang dipenuhi darah. Gadis itu menoleh dan terkejut melihat anak itu masih hidup dan kini dia sedang menatap Atherina. Tapi, tadi dia sempat mencium dan melihat darah. Ternyata itu darah yang berasal dari kantong plastik yang sengaja di bawa kedua bodyguard tadi.


Keheningan berubah ketika semua orang di ruangan itu mendadak tertawa kecuali dirinya dan Han bersaudara. Aleena tertawa lepas seolah ada lelucon.


"Lihatlah wajahnya, hahaha."


"Lucu sekali."


"Haha!"


Atherina mengepalkan tangannya geram, "Berhenti! Ini tidak lucu!" Setelah berteriak dengan suara keras, gadis itu bergegas pergi dengan rasa kesal yang belum surut.


Han Gun menyusulnya, "Erina! Atherina!"


Tidak mau menghiraukan panggilan temannya, Atherina memilih memberhentikan taksi. Han Gun membuang napas ketika taksi itu melaju pergi.


Keesokan paginya, Han Jin mendatangi apartemen Atherina. Dia membawa barang-barang sekolah untuk gadis itu.


"Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu semalam."


Merasa tersinggung dengan ucapan Han Jin, gadis itu menatap tajam kearah Han Jin. Kedua alisnya menukik, "Aku tidak bisa begini! Aleena benar-benar monster! Dulu, aku pikir tidak ada monster sekejam Park J. A.! Tapi, sekarang aku sadar. Aleena itu tiga kali lebih mengerikan!"


"Jaga ucapanmu, gadis muda. Kau tidak tahu berapa banyak mata dan telinganya yang berkeliaran disekitarmu."


Atherina membuang muka.


"Segera berganti pakaian dan pergi ke sekolah. Han Gun menunggumu." Setelah mengatakan itu, Han Jin menggerakkan tongkatnya untuk keluar dari ruangan itu. Atherina merasa kasihan, dia membantu Han Jin membuka pintu.


Setelah memakai seragam barunya, Atherina bergegas menemui Han Gun di mobil. Laki-lakinya itu juga terlihat sudah rapi dengan seragam di tubuhnya.


"Konichiwa," sapa Han Gun. Gadis itu memasuki mobil. Han Gun memperlihatkan kartu izin mengemudinya pada Atherina. Gadis itu mengambilnya dan melihat dengan jelas isi kartu tersebut.


"Sekarang aku punya izin untuk mengemudikan kendaraan, bagaimana?" Tanya Han Gun sambil mendekatkan wajahnya. Atherina tersenyum sambil menepuk pipi Han Gun, "Baguslah, ayo berangkat."


Han Gun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, "Kita tidak boleh jauh."


"Kenapa?"


"Kita harus terlihat seperti saudara kembar."


"Apa?"


"Jangan protes, ini termasuk misi."


"Bagaimana bisa kita menjadi saudara kembar?!"


"Memangnya kenapa? Kita tidak perlu memiliki wajah yang sama. Kau perempuan, dan aku laki-laki. Ceritanya kita ini kembar identik."


"Malapetaka apa ini?"


◆◇◆

__ADS_1


Hikari, seorang guru yang merupakan wali kelas untuk Han Gun dan Atherina. Wanita itu berjalan diikuti kedua murid pindahan. Mereka memasuki kelas yang berisik. Melihat kedatangan Hikari, kelas mendadak sunyi. Atherina dan Han Gun saling pandang.


"Selamat pagi, semuanya."


"Pagi, Sensei."


"Dua orang yang ada di samping ibu ini adalah murid pindahan dari Korea," ucap Hikari.


"Waaahh! Artis Korea, ya?"


"Ternyata mereka tinggi-tinggi, ya."


"Waahh ada orang Korea di kelas kita."


Semua murid bersorak menyambut kedatangan kedua remaja itu. Atherina dan Han Gun saling pandang.


Hikari memberikan isyarat agar Atherina dan Han Gun memperkenalkan diri.


Han Gun yang sedikit menguasai bahasa Jepang mulai mengenalkan diri dengan bahasa campuran, "*Annyeonghaseyo*, yeorobun.. namaku Park Jimin." Atherina tersentak mendengar ucapan konyol Han Gun. Gadis itu menoleh pada laki-laki di sampingnya.


Semua gadis di kelas itu berteriak histeris. Han Gun tersenyum sambil melambaikan tangannya, "Senang bertemu kalian."


Atherina memutar bola matanya melihat tingkah Han Gun. "Namaku Park Eri Na, mohon bantuannya, *arigatou*gozaimasu."


Semua murid di kelas itu bertepuk tangan. Atherina dan Han Gun membungkuk hormat.


Hikari tersenyum sambil mengusap bahu kedua remaja itu, "Mereka ini kembar tidak identik, kalian harus bersikap baik pada kedua murid pindahan ini, ya."


"Ha'i, Sensei."


Kegiatan pembelajaran pertama di negeri orang. Tidak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti sewajarnya. Bedanya, semua murid bertanya-tanya kepada mereka tentang kehidupan di Korea. Seolah mereka berdua adalah idol.


"Park Jimin? Apakah perutmu juga seseksi dia?" Tanya salah satu siswi pada Han Gun. Laki-laki itu malah tersenyum sambil melirik Atherina.


"Jangan melihatku," ucap Atherina.


"Kenapa bisa namamu sama dengan Jimin?"


Han Gun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum, "Mungkin orang tuaku menyukainya."


"Ahhh.. dia manis sekali ketika tersenyum.. terlihat seperti Park Jimin!"


Jam pulang telah tiba.


Selama di perjalanan Atherina memprotes Han Gun, "Park Jimin? Kenapa kau menggunakan nama itu?"


"Memangnya kenapa? Aku ini fanboy."


Atherina menepuk dahinya mendengar jawaban konyol Jimin palsu di depannya. Han Gun tertawa melihat ekspresi kesal di wajah Atherina, "Kakakku juga fanboy."


"Apa?"


"Kau tidak percaya? Kau bisa menanyakannya nanti."


Di markas petir,


Aleena melihat kedatangan Han Gun dan Atherina, "Kalian terlihat manis dengan seragam sekolah."


Kedua orang itu saling pandang lalu bertekuk. Atherina berkata, "Ibu petir, aku.. ingin meminta maaf soal kemarin. Aku telah bersikap buruk."


"Ah, aku mengerti perasaanmu. Kau masih pemula, aku yakin kau belum pernah membunuh seseorang. Jadi, yang semalam itu membuatmu terguncang." Atherina hanya menunduk mendengar ucapan ibu petir. Dia sudah membunuh orang ketika masih kecil. Tapi, dia tidak berniat menyanggah ucapan wanita itu.


"Pertujukanmu semalam membuatku semakin yakin dengan kemampuanmu. Kau benar-benar hebat ketika berkelahi. Aku jadi meragukan anak buahku." Perkataan Aleena terdengar seperti pujian untuk Atherina. Han Gun mengangguk mengingat kejadian semalam.


"Emm, lalu.. anak itu.." Atherina kebingungan mencari kalimat yang tepat untuk menanyakan keadaan anak kecil semalam.


"Kau tidak perlu bertanya, minggu ini kalian istirahatlah."


Han Gun bangkit sambil menarik tangan Atherina. Mereka membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Aleena menarik napas perlahan, "Gadis itu, mengingatkanku waktu muda dulu. Tapi, aku lebih cantik waktu itu."


Sore harinya, Atherina pergi ke rumah Han Gun untuk menanyakan sesuatu. Setibanya di sana, tidak ada Han Gun. Han Jin yang menyambutnya.


 


 


"Memangnya kau ingin bertanya apa?"


Dengan ragu, Atherina menjawab, "Ini tentang misi yang akan kami laksanakan minggu depan."


"Jadi kau tidak ingin memberitahuku?"


"Sebenarnya.. ibu petir bilang.. ini misi rahasia."


"Begitu, ya."


"Iya."


Hening.


Han Jin terlihat duduk tenang. Sementara Atherina berusaha mencari topik pembicaraan yang bagus untuk menghentikan kecanggungan itu.


"Apa kau merindukan Korea?" Tanya Atherina memecah keheningan.


"Emm, begitulah. Aku cukup lama tinggal di Jepang, jadi bagiku tidak ada yang berbeda."


Atherina menggerakkan sepatunya, "Bagiku ada banyak sekali perbedaan. Sebenarnya.. aku sedikit merindukan musik Korea."


"Kau menyukai musik? Aku juga, apakah kau mengidolakan seseorang?" Tanya Han Jin cepat.


Atherina berkedip beberapa kali, "Aku? Emm.. begitulah."


"Aku sangat suka mendengarkan musik ketika sendiri di rumah. Aku mengidolakan Park Chanyeol. Dia memiliki suara yang indah. Aku tidak pernah bosan mendengar suaranya."


Atherina tersenyum kaku, "Oh, begitu. Emm, iya mereka sangat tampan."


Hening.


Han Jin menutup matanya, "Aku ingin melihat wajahmu. Mendengar suaramu, aku yakin kau gadis yang cantik."


Atherina melirik Han Jin. Dia memperhatikan pria itu tanpa mau merespon ucapannya. Han Jin tersenyum. "Apa yang telah aku katakan. Maaf membuatmu canggung. Bagaimana hari pertama di sekolah baru?" Pria itu mengubah topik pembicaraan.


"Emm, teman-teman sekelas kami cukup baik. Begitupun dengan guru yang mengajar. Aku rasa kami akan nyaman sekolah di sini." Han Jin membuka matanya kemudian mengangguk mendengar jawaban Atherina.


Han Gun memasuki ruang tamu, "Erina? Apa kau sudah lama di sini?" Pertanyaan itu yang dia lontarkan. Pandangan Atherina tertuju pada leher Han Gun yang sedikit memerah. Gadis itu mengerutkan keningnya karena curiga, "Kau dari mana? Kenapa lehermu?"


Han Gun terkejut dan segera menutupi lehernya, "Aku.. aku.. aku habis berkencan."


Atherina menyipitkan matanya lalu menoleh pada Han Jin. "Apa dia bilang padamu untuk pergi berkencan?" Tanya Atherina. Han Jin menggeleng, "Tidak, dia hanya bilang mau keluar."


Han Gun duduk di samping Atherina, "Pasti ada misi lagi, hari ini aku tidak bisa. Kita baru saja mendapat waktu untuk istirahat." Laki-laki itu mengalihkan pembicaraan.


"Ini misi untuk minggu depan," sanggah Atherina. Han Jin bangkit dari tempat duduknya dan berlalu. Kedua remaja itu menatap punggung Han Jin yang menghilang dibalik pintu.


"Kau berkencan dengan siapa?" Bisik Atherina. Han Gun menggeleng, "Kau tidak perlu tahu."


"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan teman kencanmu? Kau jangan mempermalukan aku. Di sini kau saudara kembarku!" Atherina memukul paha Han Gun.


Laki-laki itu menggerakkan kedua tangannya membentuk bulatan di depan dada, "Sedikit bermain dengan perempuan tidak masalah, kan? Lagipula, siapa yang bisa menolak ketampananku?"


Atherina memukul lengan Han Gun, "Dasar, hentai!" Atherina berteriak karena kesal. Han Gun menjauhi Atherina untuk menghindari pukulan gadis itu.


"Aku tidak hentai, aku hanya sedikit yadong."


Atherina menepuk melepaskan sepatunya sambil mendekati Han Gun dengan mengacungkan sepatu, "Apa yang harus aku lakukan besok di sekolah? Kau benar-benar.."


Han Gun berlari menjauh sebelum Atherina menangkapnya. "Hei! Letakkan sepatumu ketika kita bicara!" Teriak Han Gun. Atherina tetap mengejar Han Gun bahkan kini dengan dua sepatu.


"Mau ditaruh di mana wajahku ketika besok mereka mengintrogasiku karena kelakuanmu!" Teriak Atherina.


"Katakan saja kau tidak tahu apa-apa!"


"Setelah berbuat hal yang menyenangkan, kau tidak mau bertanggung jawab, huh!"


"Kenapa aku harus bertanggung jawab padamu? Aku tidak melakukan apa-apa kepadamu!"


"Sialan! Kemari kau! Aku akan menghabisimu!"


Han Jin yang berdiri di depan pintu tersenyum geli mendengar kedua orang yang lebih muda darinya itu sedang bertengkar seperti anak kecil.


"Anjing dan kucing itu.. mereka bisa berubah menjadi serigala dan macan ketika dalam misi."


Pria itu terlihat sedih, "Ingin sekali aku melihat mereka. Aku ingin melihat ekspresi mereka ketika bertengkar seperti itu. Aku ingin berada di tengah-tengah mereka." Setelah mengatakan itu, Han Jin berlalu.


◆◇◆


24 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2