![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Three things you should never break : Trust, promise, hearts."
◆◇◆
Esteban dan Joon Ki sedang mendata senjata yang akan dikirim ke luar negeri hari itu juga. "Kita akan kaya dengan uang ini!" Esteban berseru sambil menepuk bahu Joon Ki yang tersenyum semangat.
Esteban melihat ada salah satu anggotanya sedang melihat senapan yang akan dikemas. "Hei, anak baru!"
Pria itu menoleh lalu menghampiri Joon Ki dan Esteban, "Memanggilku?" Esteban menepuk bahu pria itu lumayan keras. "Iya, siapa lagi memang?" Tanya Esteban setengah menggerutu.
Joon Ki menutup map merah itu lalu memberikan laporan data tersebut kepada pria itu, "Choi In, berikan laporan ini pada Ji Hoo."
Pria yang bernama Choi In menganggukan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Choi In melihat ke sekeliling. Banyak anggota lain yang beraktifitas di sana. Dia keluar dari markas bawah tanah dan berdiri di dekat pohon besar. Tangannya bergerak membuka map merah tersebut. Matanya membelalak.
Dia segera mengambil ponsel dari saku celananya. Menekan nomor untuk menelepon seseorang.
Lee Hwan tengah mengawasi sekolah tempat dimana Atherio belajar. Dia terhenyak ketika ponselnya berdering. Lee Hwan melihat nama Jae Hyung di layar ponselnya. Sejenak dia melihat kesekitar lalu mengangkat panggilannya, "Bagaimana Jae Hyung?"
Jae Hyung yang sedang menyamar menjadi Choi In tampak cemas, "Hwan, aku menemukan data-data penting kelompok Park. Aku akan mengirimkan fotonya." Pria itu memotret lembar demi lembar dokumen tersebut sambil mengirimnya.
Lee Hwan sudah menerima beberapa foto dan mencoba memperbesar foto tersebut.
Keringan dari dahi Jae Hyung menetes. Seseorang menepuk bahunya. Jae Hyung terhenyak dan menoleh. Moncong pistol menyentuh ke dahinya. Ternyata Gun Seok yang menodongkan pistol tersebut.
Di seberang sana, Lee Hwan tidak mendengar suara Jae Hyung. Dia tampak cemas. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga. Lee Hwan terbelalak kaget. Tangannya gemetar sampai-sampai ponsel yang dia pegang jatuh ke tanah. Pria itu bergegas pergi.
Sementara itu, Gun Seok mengelap cipratan darah di wajahnya. Esteban dan Joon Ki menunduk dalam ketakutan ketika mengetahui Gun Seok telah menemukan penyusup di dalam markas.
Gun Seok melempar ponsel berlumur darah ke meja membuat kedua pria di depannya sedikit tersentak.
"Cek ponselnya, Joon."
Ji Hoo dan Carlos bergegas memasuki ruangan dengan ekspresi panik. Gun Seok menyalakan rokoknya. Joon Ki segera mengecek ponsel tersebut.
"Di mana mayatnya?" Tanya Ji Hoo cemas. "Aku sudah mengurusnya," ucap Gun Seok. Dia menatap Esteban yang masih menunduk, "Seharusnya kau bisa memilih anggota dengan baik, kau hampir mencelakakan kita."
Ji Hoo dan Carlos melirik Esteban. Mereka berdua tahu, jika Esteban lebih takut pada Gun Seok daripada yang lain, bahkan Park.
"Dia polisi." Ucapan Joon Ki membuat keempat pria itu tercengang kaget. Carlos mengusap kasar wajahnya.
Ji Hoo memberikan instruksi, "Joon Ki, urus pembekuan! Esteban, urus persenjataan bersama Gun Seok dan Victor.." Gun Seok mendelik pada Ji Hoo. ".. aku bersama Carlos dan Min Hyuk akan mengurus anggota lainnya."
Semua anggota kelompok Park tampak sibuk. Terjadi kepanikan di markas besar.
"Polisi pasti akan tiba sebentar lagi. Mereka sangat cepat," gumam Ji Hoo. "Lalu kita bagaimana?" Tanya Min Hyuk. Ji Hoo terdiam.
Carlos menepuk bahu Ji Hoo, "Kau sangat pandai menyusun strategi. Sebagai pembicara, aku akan mengikuti arahanmu." Ji Hoo merasa terharu dengan ucapan Carlos.
Beberapa mobil polisi memasuki pelataran rumah Park. Dengan seragam kepolisian yang melekat di tubuhnya, Lee Hwan bersama beberapa orang polisi keluar sambil membawa pistol di tangan mereka. Tangan Lee Hwan gemetar karena mencemaskan Jae Hyung.
Melalui megafon, polisi memberikan perintah untuk keluar dari rumah tersebut sambil menyerahkan diri. Tidak ada satu pun orang yang keluar dari rumah megah tersebut.
Polisi yang memegang megafon menoleh pada Lee Hwan yang terlihat menahan amarah.
".. ini peringatan yang terakhir! Semua orang di dalam segera keluar dalam hitungan ketiga!" Suara megafon mendengung.
"Satu!"
Tidak ada orang.
"Dua!"
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Lee Hwan menautkan alisnya geram.
__ADS_1
"Tiga!"
Ketujuh orang kepercayaan Park berjalan di depan diikuti beberapa orang bertubuh besar dan belakang mereka. Jumlah mereka sangat banyak. Namun, itu tidak membuat para polisi ketakutan sama sekali.
Lee Hwan menghampiri Gun Seok dengan tatapan penuh intimidasi, "Kami perlu menggeledah markas kalian." Suaranya bergetar menahan marah.
Min Hyuk dan Victor saling melirik. Carlos dan Ji Hoo menautkan alisnya melihat sikap Lee Hwan. Sementara Joon Ki dan Esteban tetap dalam posisi.
Carlos menghalangi Gun Seok, "Kalian punya surat perintah untuk memeriksa rumah ini?" Dia bertanya pada Lee Hwan yang langsung memberikan surat perintah dari atasannya. Lee Hwan tidak bisa berhenti cemas. Carlos membaca surat tersebut, "Kepolisian Daegu?"
Lee Hwan segera menjawab, "Kami semua bekerja sama untuk kasus yang sama dan tersangka yang sama."
Carlos menautkan alisnya mendengar jawaban Lee Hwan. Polisi lain berkata, "Dua bulan lalu, kami menangkap salah satu anggota kelompok Park di Daegu. Dia menjual senjata secara ilegal dan kami membawa barang bukti. Tidak mungkin kami datang kemari dengan tangan kosong."
"Selain itu, sudah menjadi rahasia umum jika Park J. A. adalah kepala gangster." ucapan Lee Hwan membuat amarah Gun Seok tersulut. Dia akan memukul Lee Hwan, tapi Victor menahannya.
Lee Hwan menyeringai sinis, "Serang aku, maka kau akan mendapatkan masalah karena menyerang polisi yang bertugas."
Mobil hitam memasuki pelataran. Semua mata tertuju pada sopir mobil yang baru saja tiba. Ternyata dia baru saja menjemput Atherio yang baru pulang sekolah. Lee Hwan mengarahkan tatapannya ke kaca mobil belakang. Siluet itu tampak melihat kepadanya.
"Tuan Atherio adalah pemilik sah rumah ini," ucap Carlos. Kaca mobil sedikit turun, kini tampak sepasang mata bulat namun begitu tajam seperti elang. Carlos mendekat dan berbicara bahasa asing pada Atherio. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Tuan Atherio mengizinkan kalian memeriksa rumah ini," ucap Carlos. Lee Hwan menubruk tubuh Carlos untuk memeriksa rumah Park, "Tidak perlu izin dari anak itu, aku sudah membawa surat izin yang sah."
Tim kepolisian memeriksa seluruh ruangan di rumah besar tersebut. Termasuk CCTV dan interkom. Tidak ada yang mencurigakan.
Min Hyuk berbisik pada Carlos dan Ji Hoo, "Pria itu kakaknya Chris, teman tuan muda." Carlos melirik Lee Hwan yang sedang memeriksa kamar Atherio.
"Seharusnya kita membunuh adiknya waktu itu," gumam Carlos sambil mendelik Ji Hoo. Merasa disalahkan, Ji Hoo angkat bicara, "Kalian lupa? Nona Atherina sendiri yang memberikan kesempatan pada Christian waktu itu. Dan selain itu, kita melindunginya mana mungkin dia mengkhianati kita."
Min Hyuk kembali berbisik, "Bisa saja kakaknya mengancam Chris dan anak itu tidak punya pilihan lain untuk membocorkan informasi tentang kita." Ji Hoo memijat pelipisnya mendengar ocehan Min Hyuk, "Hentikanlah, aku akan mencari tahu itu nanti."
Salah seorang polisi menemukan lift menuju markas bawah tanah. Gun Seok mendelik Esteban yang sedari tadi diam. Kini markas besar di bawah tanah sedang diperiksa oleh para polisi. Tidak ada yang mencurigakan.
"Ini tempat untuk apa?" Tanya Lee Hwan pada Carlos. "Ruangan besar ini dibangun tuan Park, kami tidak diberi tahu apa fungsi ruangan ini."
Gun Seok mendorong Lee Hwan agar menjauh dari Carlos. "Jangan bicara sembarangan, kau pikir kami akan diam saja dengan ini? Jika kalian tidak bisa membuktikan tuduhan ini, kami bisa menuntut kalian!" Bentak Gun Seok penuh ancaman. Lee Hwan menepis tangan Gun Seok.
Selama berjam-jam para polisi menggeledah rumah Park. Tapi, tidak ada sedikit pun barang bukti yang mereka temukan.
"Barang bukti apa yang kalian bawa ketika menangkap orang yang diduga anggota gangster?" Tanya Min Hyuk. Salah satu polisi memberikan map merah pada Min Hyuk. Sejenak Min Hyuk membaca isinya.
"Tidak mudah bagi orang Korea yang ingin memiliki senjata. Perlu melalui banyak proses untuk membeli sebuah pistol. Rekening Park yang menerima uang hasil penjualan ini. Semuanya tercatat di sini." Penjelasan dari salah satu polisi itu membuat Min Hyuk berpikir keras.
"Satu lagi, orang yang kami tangkap itu sekarang di penjara. Dia sudah mengakui semuanya. Termasuk kalian semua yang ada di sini juga terlibat dalam bisnis gelap Park J. A.," ucap Lee Hwan.
Ji Hoo menepuk bahu Min Hyuk lalu ikut bicara, "Tunggu, apa kalian bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan orang yang ditangkap itu? Bisa saja ini hanya jebakan untuk menjatuhkan reputasi tuan Park."
"Orang yang sudah mati memiliki reputasi?" Tanya Lee Hwan sarkas. "Orang ini! Tidak punya sopan santun!" Gun Seok akan memukul Lee Hwan. Jika saja Victor dan Carlos tidak lebih cepat, wajah Lee Hwan akan lebam.
"Tolong jangan bertele-tele, kami benar-benar tidak memiliki waktu untuk ini. Katakan, apa kalian ini anggota gangster atau bukan?" Tanya polisi lain.
"Kami bukan gangster!" Gun Seok menjawab dengan nada setengah membentak.
"Dengar, bukti ini sama sekali tidak bisa membenarkan tuduhan kalian. Tuan Park adalah orang yang kaya tentunya ada banyak pengusaha yang bersaing dengan tuan Park. Mungkin salah satu dari mereka melakukan trik ini untuk menjatuhkannya," ucapan Ji Hoo membuat semua orang terdiam.
"Lalu, kalian ini siapa? Pekerjaan kalian apa? Kenapa Park J. A. mempekerjakan orang asing?" Tanya Lee Hwan tidak mau menyerah.
"Kami kepala bodyguard yang bertugas menjaga anggota keluarga tuan Park. Seperti yang aku katakan, banyak orang yang ingin menjatuhkan tuan Park. Apakah salah jika tuan Park memilih beberapa orang asing yang menjaganya?" Ji Hoo mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan.
Seorang polisi berbisik ke telinga atasannya. Polisi itu mengangguk, "Kita kembali ke kantor."
Lee Hwan terkejut dengan keputusan polisi itu. Dia menarik kerah kemeja Ji Hoo, "Aku harus mengintrogasi anak itu!"
Semua polisi menoleh kearahnya. Ji Hoo menepis tangan Lee Hwan, "Bersikap sopan ketika bicara dengan tuan muda kami. Dia tidak pantas diberikan pertanyaan."
__ADS_1
◆◇◆
Di kantor polisi,
Lee Hwan tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja dengan pensil ditangannya. Dia terlihat begitu cemas karena belum tahu bagaimana keadaan Jae Hyung.
Pintu ruangan introgasi terbuka. Laki-laki yang masih menggunakan seragam sekolah itu memasuki ruang introgasi. Lee Hwan menatap wajah Atherio dengan seksama, "Duduk."
Atherio duduk berhadapan dengan Lee Hwan. Tidak ada ekspresi takut di wajah tampannya. Dia terlihat dingin. Introgasi tertutup pun dimulai.
"Berapa usiamu?"
"Usiaku 18 tahun."
"Apakah kau tahu sesuatu tentang pekerjaan ayahmu?"
"Dia pengusaha."
"Aku dengar, ada peraturan di dunia gangster, terutama kelompok Park. Generasi penerusnya yaitu sang anak harus melakukan tugas sebagai pemimpin ketika sang ayah yang sedang memimpin telah meninggal. Apa kau juga sudah menjadi seorang pemimpin sekarang?"
Atherio mencerna ucapan Lee Hwan. Sejenak dia memikirkan apa yang harus dia katakan. "Aku tidak tahu apa-apa." Kalimat itu tebesit di kepalanya.
Lee Hwan mendecih, "Jika kau terbukti melakukan tindakan kriminal seperti seorang gangster, maka aku akan memenjarakanmu."
Atherio tidak takut dengan ancaman dari polisi yang merupakan kakak temanya itu. Dia masih pada posisi.
"Bagaimana kabar Christian?" Lee Hwan menoleh karena mendapatkan pertanyaan itu. Kemudian Lee Hwan menjawab, "Hampir ada orang yang ingin membunuhnya. Tapi, untung saja aku ada untuk menyelamatkannya."
Atherio menarik bibirnya mendengar jawaban Lee Hwan. Kesunyian menyerang.
"Aku sarankan agar kau memperhatikannya. Dia anak yang baik. Sebagai seorang polisi, kau tidak punya waktu untuknya." Lee Hwan muak mendengar ucapan Atherio. Dia menarik bagian depan seragam Atherio, "Beraninya kau mengatakan itu kepada orang yang lebih tua darimu!"
"Lepaskan aku, orang sepertiku tidak pantas diperlakukan begini." Perkataan Atherio terdengar seperti ancaman bagi Lee Hwan.u Pria itu melepaskan cengkramannya, "Orang sepertiku juga tidak pantas mendapatkan saran darimu."
"Aku tahu," ucap Atherio sambil menepuk seragamnya yang disentuh Lee Hwan.
Carlos dan Ji Hoo yang ada di luar ruangan introgasi mengepalkan tangan karena geram dengan sikap Lee Hwan. Carlos berbisik pada Ji Hoo, "Orang itu harus dilenyapkan."
"Apa saja yang sudah kau katakan pada Chris? Kau mengancamnya agar tidak membocorkan kejahatan kelompokmu?" Tanya Lee Hwan. Atherio menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, "Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku hanya seorang siswa sekolahan."
"Polisi berhasil menangkap salah satu anggotamu, dia akan dipanggil kemari untuk menjelaskan semuanya," ucap Lee Hwan.
Para polisi membawa seorang pria bertubuh besar dari sel. Ketika melewati Carlos dan Ji Hoo, pria itu melakukan kontak mata dengan keduanya. Dia di masukkan ke ruang introgasi.
Lee Hwan memberikan pertanyaan pada pria itu, "Katakan, apa yang kau ketahui tentang kelompok Park?"
Pria itu menoleh kearah Atherio yang sama sekali tidak meliriknya sedikitpun. Dia membuka mulutnya, "Ada banyak anggota di kelompok tuan Park. Semuanya adalah orang-orang yang sangat ahli. Kemampuan yang bisa dibilang sama dengan pasukan kepolisian. Mereka mengedarkan senjata ke seluruh dunia. Ketika tuan Park tiada, kepemimpinan jatuh pada Atherina Park, putri sulungnya. Sekarang nona Atherina tidak di sini, kepemimpinan sepenuhnya ada di tangan tuan Atherio."
Lee Hwan mendelik Atherio yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Dia tetap diam dan mendengarkan.
"Apa kau tidak mau menyapa bawahanmu?" Tanya Lee Hwan meledek Atherio. Laki-laki itu memiringkan kepalanya lalu beranjak dari kursi menghampiri pria bertubuh besar itu.
"Tu-tuan," pria itu menunduk ketakutan. "Apa kau bicara jujur?" Tanya Atherio.
"Aku.." seketika tubuh pria itu kejang-kejang dan menggeliat di lantai. Atherio melangkah mundur. Lee Hwan yang panik membantu pria itu dengan menepuk-nepuk pundaknya. Mulut pria itu berbusa.
Beberapa polisi memasuki ruang introgasi. Carlos dan Ji Hoo ikut masuk untuk melihat keadaan Atherio. Ji Hoo menutup mata Atherio agar tidak melihatnya.
Lee Hwan menoleh kearah mereka bertiga.
◆◇◆
22 Agustus 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1