![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
Beberapa minggu kemudian.
Atherio memperhatikan gurunya yang sedang menjelaskan materi. Tangannya tidak berhenti memainkan pensil dengan mengetuk-ngetuk meja. Seorang siswi berkacamata yang duduk di belakangnya memperhatikan Atherio. Kedua pipinya memerah, tampaknya dia menyukai Atherio.
Guru menyadari jika gadis itu tidak memperhatikannya dengan serius. "So Yeon, perhatikan Ibu." Gadis itu terhenyak ketika guru memanggil namanya.
"Ah? I-iya, Bu." Semua mata di kelas tertuju pada So Yeon kecuali Atherio yang berhenti memainkan pensilnya.
"Bisa kau jelaskan rumus ini?" Tanya guru sambil menunjuk papan tulis. Tertera rumus beserta contoh soalnya.
Atherio menoleh ke kiri mendengar suara gadis itu. "I-iya, Bu," jawab gadis itu gugup. Atherio kembali menatap lurus ke papan tulis.
"Kemari, jelaskan pada teman-temanmu."
So Yeon bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan melewati bangku Atherio yang menatap punggung gadis itu sekilas.
So Yeon berdiri di depan sambil sesekali membenarkan kacamatanya. Semua pasang mata di kelas itu tertuju padanya, tak terkecuali Atherio.
Gadis itu menjadi gugup, perlahan tangannya terangkat, dia menunjuk papan tulis dan menjelaskan rumus itu dengan rinci. Caranya menjelaskan berbeda dengan gurunya, tapi apa yang dia jelaskan itu benar adanya.
Gurunya tersenyum sambil menyentuh pundak So Yeon, "Penjelasan yang bagus, tapi meskipun kau sudah memahami pelajaran yang di jelaskan oleh gurumu, kau tetap harus mendengarkan gurumu ketika menerangkan pelajaran."
So Yeon mengangguk hormat, "Maafkan saya, Bu."
"Kembali duduk."
Sekali lagi So Yeon mengangguk hormat lalu kembali ke mejanya. Ketika melewati bangku Atherio, pandangan keduanya bertemu. Jantung So Yeon berdegup kala manik abu-abu milik Atherio berpapasan dengan iris hitam miliknya.
Guru melanjutkan, "Selanjutnya, Ibu akan memberikan tugas kelompok.. satu baris dari depan ke belakang itu satu kelompok."
Kedua mata So Yeon membelalak, itu berarti.. aku satu kelompok dengannya.
Sementara Atherio tampak acuh tak acuh. Guru membagikan kertas per kelompok, isinya adalah soal yang berjumlah cukup banyak.
Di kelas Atherina, sedang jam kosong. Beberapa siswa sibuk masing-masing, ada yang berbincang, memakan cemilan, bernyanyi, bahkan ada juga yang pacaran di dalam kelas. Pacarannya hanya sekedar mengobrol.
Atherina tidak tertarik untuk bergabung, dia memilih untuk membaca buku dari pada berbicara dengan teman sekelasnya.
Tiba-tiba alat komunikasi di telinganya aktif. Atherina menyentuh telinganya yang tertutupi oleh rambut panjangnya. "Ehmmm," Atherina berdehem pelan.
"Nona, ada rekan kita yang ingin membeli barang kita sore ini. Apakah anda akan datang ke tempat transaksi?" Suara Esteban dari seberang sana.
Atherina menghalangi wajahnya dengan buku lalu dia berkata dengan pelan, "Sore ini aku ada kegiatan les bahasa asing."
"Ah? Nona sudah menguasai beberapa bahasa, apa Nona tidak merasa lelah dengan pelajaran bahasa?"
Atherina membenarkan rambutnya, "Kenapa mempertanyakan diriku?"
"Ah, ma-maafkan aku, Nona."
Atherina melihat Atherio berjalan melewati kelasnya bersama beberapa teman sekelasnya. Beberapa siswi yang berada di kelas Atherina menatap Atherio dengan tatapan terpesona.
"Tampan sekali," gumam Hye In, gadis populer di sekolah itu. Kebetulan dia satu kelas dengan Atherina yang menyadari jika gadis itu menyukai adiknya.
"Bilang pada rekan kita untuk bertemu di jam malam, suruh Paman Gun Seok, Paman Carlos, Paman Min Hyuk, untuk bersiap, Paman Esteban juga ikut."
"Baik!"
Atherina mencopot alat komunikasinya dan memasukkannya ke dalam tas.
Di perpustakaan sekolah, tempat di mana kelompok Atherio sedang berniat mencari buku sumber untuk mengisi soal matematika.
Kelompok Atherio terdiri dari 4 orang, Atherio, dua orang laki-laki, dan So Yeon.
So Yeon mengerjakan soal itu sendirian tanpa buku sumber. Dia duduk di salah satu bangku di perpustakaan itu. Sementara kedua laki-laki yang satu kelompok dengannya malah saling bercanda sambil saling mengejar. Atherio tidak memperdulikan kedua laki-laki itu, dia tetap mencari buku sumber.
So Yeon mendengus gusar karena merasa kesulitan mengisi soal matematika yang cukup banyak itu. Sementara dia sendirian yang mengerjakannya.
Beginilah resikonya jika aku satu kelompok dengan anak laki-laki.
Atherio yang mendengar So Yeon menghela napas kasar menoleh sejenak kemudian dia menghampirinya. Namun seorang gadis tiba-tiba menghalanginya.
Dia Hye In, teman sekelas Atherina. Perhatian Atherio teralihka pada gadis itu. So Yeon melihat jarak keduanya sangat dekat. Ada rasa sesak di hati So Yeon. Dia menunduk melihat kembali pada kertas soalnya.
"Halo, Atherio." Hye In menyapa dengan senyuman cantiknya. Atherio sedikit mundur karena tidak nyaman dengan posisi terlalu dekat seperti itu.
"Kau adiknya Erina, ya?" Tanya Hye In. Atherio mengangguk, "Iya, sunbae."
Gadis itu terlihat cemberut karena Atherio memanggilnya sunbae. "Panggil aku Kakak saja, aku seumuran dengan Erina. Oh ya, namaku Hye In."
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Atherio. Dengan senyuman, Atherio menjabat tangan Hye In.
"Atherio Park."
Atherio menganggukan kepala hormat. So Yeon mendelik kearah mereka berdua. Melihat tangan mereka bersatu, So Yeon *** bukunya kesal.
Ah, kenapa hatiku sakit melihat mereka bersalaman? Apa aku benar-benar menyukainya?
"Aku berteman dekat dengan Erina, jika kau mau menemuinya, kau bisa berbicara dulu padaku," kata Hye In.
Pembohong, seumur hidupnya kak Nana tidak pernah memiliki teman.
"Iya, Kak."
__ADS_1
Hye In tersenyum, "Jika ada sesuatu, kau boleh bicara padaku juga."
Atherio mengangguk, "Aku harus mencari buku." Atherio menunjuk rak yang jauh dari tempatnya berdiri. Hye In tersenyum dan mundur memberikan Atherio jalan.
Atherio berlalu menuju rak yang dia tunjuk sebagai bahan kebohongannya agar bisa menghindar dari Hye In.
Hye In menoleh pada So Yeon yang menatap padanya. "Apa lihat-lihat!" Gerutu Hye In sambil menghentakkan kakinya ke lantai membuat So Yeon terhenyak.
"Ti-tidak, Kak." So Yeon menunduk.
"Kakak? Kau pikir aku ini kakakmu?" Hye In mencibir lalu pergi meninggalkan ruangan perpustakaan.
So Yeon menjulurkan lidahnya ketika Hye In benar-benar sudah pergi. Dia berbalik dan terkejut dengan keberadaan Atherio di depannya yang kini tengah menatap dirinya.
Kedua pipi So Yeon memanas dan terlihat memerah seperti kepiting rebus.
Ya ampun, apa dia melihatku ketika mencibir pada kakak kelas barusan? Semoga tidak, pasti aku terlihat sangat jelek.
Atherio menyodorkan buku sumber yang dia temukan di rak kepada So Yeon.
"Ada beberapa soal yang rumusnya aku temukan dari buku ini," kata Atherio. So Yeon mengangguk mengerti.
Salah satu dari kedua anak laki-laki tadi menghampiri mereka berdua, "Jika kalian sudah selesai mengerjakan soalnya, beritahu kami."
Dengan wajah tanpa dosa, dia berlalu menghampiri temannya dan kembali bercanda.
"Soalnya sulit," kata So Yeon pelan. Atherio mengambil kertas soal tersebut dari tangan So Yeon. Tangan mereka bersentuhan membuat jantung So Yeon berdetak lebih cepat.
"Aku akan membawa soal ini ke rumah dan mengerjakan sisanya di rumah," kata Atherio polos, namun dengan ekspresi datar.
"Ah? Tapi bu guru bilang, kan, harus selesai hari ini," sanggah So Yeon.
Atherio menyimpan kertas itu ke dalam tasnya. "Bilang saja belum selesai, bu guru akan mengerti."
"Tapi.."
"Apa kau mengharapkan mereka yang mengerjakannya?" Tanya Atherio memotong ucapan So Yeon sambil menunjuk kedua anggota kelompoknya.
"Baiklah," So Yeon masih tampak ragu. Atherio melihat buku So Yeon yang kusut. Melihat arah tatapan Atherio, So Yeon segera menyembunyikan bukunya.
Atherio menenteng tasnya dan berlalu, So Yeon menatap punggung Atherio yang menjauh. Langkah Atherio yang tiba-tiba berhenti membuat So Yeon mengalihkan pandangannya berpura-pura tidak memperhatikan laki-laki itu.
Atherio menoleh pada So Yeon, "Apa kau akan tetap berada di sini?"
So Yeon melirik sebentar pada Atherio lalu melihat kedua laki-laki yang satu kelompok dengannya masih sibuk bercanda. So Yeon beranjak menghampiri Atherio, mereka berdua pergi meninggalkan perpustakaan.
Atherio yang berjalan lebih dulu tiba-tiba berhenti melangkah. So Yeon yang berjalan di belakangnya sedari menunduk karena merasa gugup berjalan berdua dengan Atherio. Tidak menyadari Atherio yang berhenti mendadak, So Yeon menubruk punggung lebar Atherio.
Tentu saja Atherio merasa kesal melihat raut wajah Junwoo yang tampaknya menyukai Atherina. Pandangan So Yeon tertuju kearah mata Atherio.
Sejak kapan kak Nana mau bersikap terbuka pada orang? Batin Atherio.
Atherio menoleh pada So Yeon yang memasang ekspresi konyol ketika melihat kakaknya. Atherio memutar bola matanya kemudian melanjutkan langkahnya diikuti So Yeon.
Langkah Atherio kembali terhenti, So Yeon kali ini menyadari Atherio berhenti. Dia juga menghentikan langkahnya.
"Bisakah kau berjalan di sampingku? Kau bukan bodyguard yang harus berjalan di belakangku," kata Atherio.
Kedua mata So Yeon membelalak dibalik kacamatanya. Kedua pipinya kembali merona, dia melangkah untuk berdiri di samping Atherio.
Keduanya berjalan beriringan, So Yeon menatap Atherio yang terlihat begitu keren dan tampan.
Selain tampan, dia juga perhatian.
Rasa kagum di hati So Yeon berubah jadi rasa suka terhadap Atherio. Sejak pertama masuk kelas yang sama dengan Atherio, dia memperhatikan Atherio yang menurutnya siswa paling tampan di kelasnya. Dia mengagumi sosok Atherio yang ternyata di idolakan oleh beberapa siswi meskipun baru hari pertama dia menjadi siswa di sekolah itu.
Atherio menautkan alisnya memasang ekspresi manly yang luar biasa ketika melewati kelas kakaknya. Semua siswi yang melihat ketampanannya itu menjerit histeris.
Pandangan kedua kakak adik itu bertemu ketika Atherio melewati Atherina dan Junwoo yang sedang berbicara. Tersirat rasa cemburu yang terpancar dari mata Atherio. Atherina menyadarinya, dia melihat pada So Yeon yang berjalan bersama adiknya.
Hye In yang melihat So Yeon dan Atherio dalam jarak sedekat itu membuat hatinya terbakar.
"Bitch," geram Hye In. Teman-temannya yang berada di belakang Hye In ikut kesal melihat itu.
Atherio tersenyum penuh kemenangan setelah melewati kakaknya. Dia puas ketika melihat ekspresi terkejut dari wajah Atherina yang melihatnya berjalan berdampingan dengan So Yeon.
Aku yakin dia cemburu, batin Atherio.
Pandangan So Yeon tertuju pada Hye In yang melihatnya dengan ekspresi kesal. So Yeon segera menunduk dalam karena takut.
Atherina menatap punggung Atherio yang kian menjauh bersama So Yeon. Junwoo melihat kearah pandang Atherina.
"Dia junior baru itu, ya? Yang menjadi idola siswi di sekolah ini?" Tanya Junwoo dengan ekspresi cemburu.
Tatapan Atherina teralihkan pada Junwoo, "Dia adikku."
Mendengar jawaban Atherina, Junwoo tersenyum lebar, "Begitu, ya?"
Atherio dan So Yeon berbelok menuju kelas mereka, tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan Christian. Kedua mata Chris melihat Atherio dan So Yeon bergantian.
"Kau tidak masuk kelas?" Tanya Atherio.
Chris melihat jam tangannya, "Sebentar lagi jam istirahat."
__ADS_1
Belum barang sedetik pun Chris menjawab pertanyaan Atherio, bel istirahat berbunyi.
"Aku.. aku harus ke kelas." So Yeon berlalu meninggalkan mereka berdua. Chris menatap punggung So Yeon yang semakin menjauh.
Atherio menepuk pipi Chris, "Apa yang kau lihat?" Chris terhenyak dan menoleh pada Atherio.
"Sejak kapan kau dekat dengan perempuan?" Tanya Chris. Atherio berdecak pelan, "Dia teman sekelasku, aku mau bicara denganmu."
Atherio merangkul pundak Chris dan berlalu ke kantin.
◆◇◆
"Apa?" Kata tanya itu terlontar ketika Chris mendengar cerita Atherio yang menyukai Atherina, kakaknya sendiri. Mereka berdua sedang berada di kantin, ada beberapa makanan yang tersedia di meja.
Chris ingin memastikan jika Atherio hanya bercanda, "Kau serius? Ya ampun, ini tidak benar."
Atherio menyandarkan punggungnya ke kursi, "Apa salahnya aku menyukai perempuan? Jika aku menyukai laki-laki, kau baru boleh bereaksi seperti itu."
Chris mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan, "Masalahnya dia itu kakakmu."
Atherio mendecih, "Bukan kakak kandungku.. aku masih bisa mendapatkan dia."
Kedua mata Chris membelalak, "Astaga, aku baru tahu setelah empat tahun mengenalmu. Ini rahasia besar, kenapa kau mengatakannya padaku?"
Atherio tersenyum hangat, "Itu karena aku percaya padamu.. aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini."
Chris merasa terharu dengan ucapan Atherio, dia benar-benar memiliki sahabat yang baik.
Jam pembelajaran hari itu telah berakhir, Atherio bersama Chris menuju tempat parkir dimana sopir yang menjemput mereka selalu menunggu di sana. Atau mereka berdua yang menunggu sopir mereka. Biasanya sopir yang menjemput Chris akan tiba lebih dulu.
Atherio tahu jam berapa biasanya sopir Chris menjemput, dia akan menghubungi Ji Hoo atau sopir pribadinya melalui alat komunikasi setelah Chris pulang lebih dulu.
Kali ini sopir Chris belum tiba, kedua laki-laki itu memilih duduk bersama di bangku yang tersedia di sana. Mereka menyandarkan punggung dengan kepala menengadah menatap langit yang cerah.
"Atherio, apa kau menganggapku teman?" Tanya Chris.
Atherio tidak segera menjawab, dia menutup matanya. Christian yang tidak kunjung mendapatkan jawaban menoleh pada Atherio.
Chris tersenyum, "Aku hanya memiliki satu teman, yaitu dirimu. Aku senang sekali ketika kau bilang kau mempercayaiku."
Atherio membenarkan posisinya menjadi duduk tegak. Chris menatap Atherio, dia berharap Atherio menjawab pertanyaannya yang tertunda.
"Mobilmu," Atherio menujuk mobil hitam yang tiba di area parkir. Pandangan Chris teralihkan pada mobilnya.
"Aku duluan, ya.. seperti biasa aku selalu pulang duluan," kata Chris, tidak lupa dengan senyuman tampannya. Atherio tersenyum simpul kemudian menganggukkan kepalanya.
Chris memasuki mobilnya lalu melambaikan tangannya pada Atherio ketika mobilnya melaju meninggalkan tempat parkir. Atherio hanya mengangkat tangan membalas lambaian temannya.
Dia memasang alat komunikasinya ke telinga lalu menyalakannya, "Siapa pun, jemput aku."
"Baik, Tuan!"
Atherio meregangkan tubuhnya, tanpa dia sadari, ada tatapan membeku dari seorang gadis yang tak jauh dari tempatnya duduk.
So Yeon tidak sengaja melihat otot perut Atherio. Kedua pipinya merona kemerahan. Mustahil, siswa Senior High School memiliki otot perut.
Atherio membenarkan tasnya, So Yeon segera bersembunyi dibalik pohon. Dia tidak ingin Atherio melihat keberadaannya.
Tidak lama kemudian, mobil yang menjemput Atherio telah tiba. Atherio memasuki mobilnya, kepala So Yeon muncul. Dia melihat Atherio yang di jemput mobil itu.
Setelah Atherio memasuki mobil, sopir melakukan mobilnya akan meninggalkan sekolah. Atherio yang sedang melepaskan alat komunikasi terkejut karena mobil itu melaju.
"Tunggu, bagaimana dengan kakakku?" Tanya Atherio. Sopir segera menginjak rem.
Sopir melihat ke kaca spion tengah, "Tuan Esteban bilang, nona Atherina ada les bahasa."
Atherio mengerutkan keningnya sambil bergumam sendiri, "Les bahasa?"
Atherio keluar dari dalam mobilnya, So Yeon yang masih berada di sana tampak bingung karena Atherio tidak jadi pulang.
Atherio berbicara pada sopir, "Tunggu di sini."
Sopir menganggukkan kepala mendengar perintah tuannya. Dengan langkah gegas, Atherio kembali memasuki area sekolah.
So Yeon tampak berpikir. Setelah beberapa menit berpikir, dia memilih mengikuti Atherio.
◆◇◆
"Tanha koi kabhi jee na sake."
•••
18 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1