![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"A life without suffering is a life without happiness."
◆◇◆
"Wait, little girl." Ucapan Kim membuat Atherina menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Carlos yang berbalik menatap Kim.
"Apa yang kau lakukan pada anak buahku yang aku kirim ke sekolah untuk menemuimu?"
Atherina menolehkan kepalanya dengan ekspresi seperti seorang psikopat. "Aku menghabisinya, dengan tangan kecilku," jawab Atherina dengan nada bicara seolah puas telah melakukan hal tersebut.
Kim terbelalak mendengar itu. Park tampak terkejut karena melihat ekspresi Atherina seperti pembunuh berdarah dingin. Dia melihat pada Esteban yang juga tampak terkejut. Carlos juga terlihat kaget meski tidak memperlihatkan ekspresi keterkejutannya.
Atherina benar-benar telah membunuh orang untuk pertama kalinya di usianya yang baru 7 tahun? Batin Park.
Atherina melanjutkan langkahnya diikuti Carlos.
"Kau benar-benar manusia paling kejam, Park. Menciptakan dirimu yang baru di tubuh anak perempuan itu," kata Kim sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Park memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Selesaikan ini sekarang juga, aku ada urusan yang lebih penting di kantor."
Kim tersenyum, "Aku tahu sekarang kau sedang dalam masa yang paling lemah. Oleh karena itu, kau mencari pemimpin baru untuk kelompokmu. Kau sudah terlalu tua, sementara anak kandungmu masih kecil. Kenapa kau memilih anak perempuan itu?"
Park tersenyum sinis, "Kau tidak tahu seperti apa kekuatan perempuan. Dunia gelap ini membutuhkan pemimpin yang benar-benar kuat."
Sementara itu, Carlos membukakan pintu mobil untuk Atherina. Atherina melihat adiknya tertidur pulas di dalam mobil, dia tersenyum kemudian memasuki mobil.
Min Hyuk menoleh pada Carlos, "Kau juga akan ikut?" Carlos menggeleng, "Tuan Park membutuhkanku, kau bawa tuan muda dan nona ke markas." Min Hyuk mengangguk kemudian melajukan mobilnya meninggalkan lokasi.
Selama di perjalanan, Atherina melamun memikirkan apa yang telah terjadi dalam satu hari ini.
Dia merasa kalau dirinya benar-benar menjadi monster seperti apa yang di katakan semua orang.
***
"Bukankah yang berharga itu adalah darah dagingnya? Kau hanya pion catur yang di pungut oleh Park untuk kepentingannya sendiri.. aku yakin kau mengerti maksudku. Kau sudah memahami di usiamu sekarang, kan?"
Atherina menyingsingkan lengan bajunya. Dia memperlihatkan kepalan tangannya, "Wan't to know it's like to die?"
Terjadi perkelahian yang tidak imbang jika dilihat dari ukuran tubuh dan usia. Suasana sepi di belakang sekolah membuat mereka bebas saling memukul.
"Jangan harap aku kasihan padamu karena kau gadis kecil, aku akan tetap memukulmu!" pria itu memukul wajah Atherina, membuat gadis itu tersungkur jatuh.
Dia selalu mengingat ucapan Victor, orang yang melatihnya bela diri. 'Ketakutan akan membuatmu kalah, kemarahan akan membuatmu jatuh, tapi keyakinan bisa mengubah hasilnya.'
Terlalu banyak kalimat yang masuk ke dalam kepala mungilnya. Semua itu di serap dengan cepat dan bertahap. Banyak pelajaran kehidupan miring yang di tanamkan Park padanya.
Perlahan Atherina bangkit mengusap pipinya yang lebam. "Anak kecil ini tidak mau kalah, ya. Jika aku membunuhmu, kau pikir Park akan sedih? Kurasa dia akan mencari anak yang baru yang lebih baik darimu," kata pria itu.
Pria itu melihat Atherina yang tampaknya tidak akan menyerang duluan, dia bergerak dan menendang perut Atherina hingga Atherina terpundur.
Tanpa iba, pria itu terus menyerang Atherina. Atherina yang berkali-kali jatuh pun bangkit lagi, seolah tubuhnya terbuat dari besi yang tidak bisa terluka dengan mudah.
Pria itu mengeluarkan pisau, "Shit, aku akan membunuhmu," gumam pria itu sambil bergerak akan menusuk dada Atherina, tapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan dengan posisi akan menusuk.
Senyuman kecil tersungging di bibir Atherina yang sedang menunduk dalam. Dia mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan ekspresi horor.
"Kau pikir aku diam saja ketika kau memukulku?" Pertanyaan Atherina membuat pria itu terkejut. Dia ingat, ketika memukul Atherina, Atherina tidak melawan, tapi menyentuh titik lemahnya tanpa terasa sama sekali.
"Sayang sekali, kau hanya suka banyak bicara," ucap Atherina sambil menyeringai seram pada pria itu. Atherina menendang dahi pria itu dengan keras membuat pria itu jatuh tersungkur. Pisau yang dia pegang pun terlempar ke tanah.
Atherina mengambil pisau tersebut.
***
Atherina menggeleng cepat, apakah aku benar-benar telah menjadi monster kecil? Apa aku harus seperti ini?
Mobil yang membawanya terhenti di depan sebuah rumah mewah. Itu bukan kediaman Park, rumah itu terasa asing untuk Atherina.
"Ini adalah salah satu markas Tuan Park," kata Min Hyuk seolah bisa membaca pikiran Atherina yang menyimpan berbagai pertanyaan.
◆◇◆
__ADS_1
Di markas Park, ketika semua masalah sudah selesai, Park mengumpulkan beberapa orang penting di kelompoknya.
Keenam orang kepercayaan Park berdiri di depannya yang sedang duduk di kursi sambil menghisap cerutu. Di sampingnya ada Atherina yang berdiri dengan ekspresi serius.
Keenam orang itu adalah Carlos, Victor, Gun Seok, Min Hyuk, Woo Joon Ki, Esteban.
"Aku memiliki 7 orang yang penting di kelompokku. Hari ini semuanya berkumpul, kecuali Ji Hoo." Keenam orang itu menundukkan kepala mendengar Park memulai pembicaraan yang serius.
"Aku mengadopsi kalian dan membawa kalian kemari bukan tanpa alasan," kata Park. Atherina yang mendengar itu menatap ayahnya. Park mengeluarkan pistolnya dan meletakkannya di atas meja.
"Kejadian hari ini adalah rencana orang dalam. ada seseorang diantara kalian semua yang ingin mengkhianatiku. Orang itu harus bertanggung jawab. Sebelum aku yang menemukannya sendiri, lebih baik mengaku secepatnya."
Sunyi, tidak ada yang berani mengeluarkan suara ketika Park mulai serius seperti itu.
"Carlos, aku membawamu dari Italia ke Korea untuk menjadi penasehat utamaku, itu karena aku sangat percaya dengan kemampuanmu."
Carlos mengangguk hormat, "Suatu kehormatan bagiku, anda telah mempercayaiku selama ini."
"Tapi, bisa saja saran darimu malah mencelakaiku," ucap Park cepat. Carlos tidak berani menanggapi, dia memilih tetap menunduk.
Pandangan Park tertuju pada Victor, "Sebagai petarung dan yang tertua diantara yang lain, kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Melatih putriku dan banyak membantuku, tapi bisa jadi itu malah menjadi bumerang untukku."
Victor mengangguk hormat, "Bila anda menemukan kesalahanku, aku siap menerima konsekuensinya."
"Gun Seok," mendengar namanya di panggil, Gun Seok jadi gelagapan, "N-ne, Tuan?"
"Kau anak buahku yang bertugas memegang kendali orang-orang khusus yang aku punya. Aku suka caramu mengatur mereka dengan cukup baik, tapi kau terlalu sering mengambil inisiatif sendiri dalam mengatasi masalah."
Gun Seok tampak gugup mendengar ucapan Park, "Ma-maafkan aku, Tuan." Min Hyuk menoleh kearah Gun Seok.
"Min Hyuk," yang di panggil terhenyak dan segera menunduk karena tidak berani menatap Park.
"Iya, Tuan."
"Kau orang yang patuh dengan semua perintahku. Tidak pernah membuat kesalahan sama sekali. Kau berbeda dengan yang lain, tapi bisa jadi karena tidak pernah membuat kesalahan, kau berniat melakukan satu kesalahan yang besar." Min Hyuk tidak berniat mengeluarkan suaranya. Jangankan untuk bicara, melihat tuannya pun dia tidak berani.
"Joon Ki, kau sangat ahli dalam dunia teknologi. Kau bisa menjadi hacker atau bekerja di kepolisian jika kau mau. Tapi, kau memilih bekerja di dunia gelap bersamaku. Aku percaya padamu, tapi kenapa kau seperti kesulitan ketika harus mencari lokasi Kim?"
Esteban menelan salivanya, dia adalah orang terakhir yang akan diberi pertanyaan oleh Park.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya kau kembali ke Korea setelah aku mengirimmu pulang ke Italia. Apalagi kau jadi bersama Atherina," ucap Park.
"Aku bertemu dengan Ji Hoo di Venesia. Dia bilang dia sedang mengerjakan misi dari anda di sana. Dia menyuruhku ke Korea untuk membantu Carlos dan yang lainnya ketika dia di Italia," jawab Esteban. Tampaknya hanya dia yang berani berbicara untuk menjawab tuannya.
Park menarik bibirnya ke samping, "Jujur saja, aku tidak pernah sedikit pun percaya padamu. Kau terus menerus memikirkan uang, kau bisa mengkhianatiku kapan saja jika musuhku punya lebih banyak uang."
"Sejujurnya aku memang sempat berniat mengkhianati anda waktu itu, tapi aku merasa anda membutuhkan ahli persenjataan sepertiku."
Park mendecih kemudian menodongkan pistolnya kepada Esteban. Semua mata tertuju padanya. Bukannya takut, Esteban tidak terlihat gentar sama sekali.
Carlos menyesalkan ucapan Esteban yang sarkas. Victor hanya menghela napas pelan melihat itu, walau dalam hati dia menyesalkan sikap Esteban yang tidak tahu situasi. Gun Seok tampak panik melihat salah satu rekannya dalam masalah. Min Hyuk tetap pada posisi. Joon Ki memutar bola matanya karena sikap Esteban yang tidak dewasa.
"Putri anda tidak hanya membutuhkan pengetahuan dari anda. Dia tidak hanya membutuhkan pelajaran bahasa dari Min Hyuk dan Carlos, tidak hanya belajar berkelahi dari Victor, bukan hanya cara membagi tugas dari Gun Seok, bukan hanya belajar cara meretas sistem dari Joon Ki.. dia juga membutuhkan pengetahuan di bidang persenjataan dariku," kata Esteban dengan percaya diri.
Park masih bersabar dan mendengarkan.
"Tujuh orang penting anda ini adalah orang-orang hebat yang berhasil mendapatkan kepercayaan anda. Jika salah satu dari kami di izinkan melatih putri anda, kenapa yang lainnya tidak?"
Park mendecih kemudian menyimpan kembali pistolnya ke meja. "Kau termasuk anggota baru di sini. Baru 10 tahun kau bersamaku, tapi bicaramu seperti orang kerasukan."
Joon Ki menyikut lengan Esteban, memberikan kode agar Esteban tidak membuat Park emosi. Sementara Esteban terlihat kesal karena dia masih ingin bicara.
"Atherina, bagaimana caranya kau bisa bertemu dengan Esteban?" Tanya Park.
"Paman Esteban menemuiku di sekolah, dia meminta izin dari guruku untuk membawaku kepada Kim." Mendengar jawaban Atherina, Park mengalihkan pandangannya kepada Min Hyuk.
"Bukankah tugasmu untuk menjemput Atherina?" Park bertanya pada Min Hyuk dengan nada curiga. "Ah? Tapi, bukankah sedari tadi aku bersama dengan Tuan?" Min Hyuk malah balik bertanya.
Park mengusap dahinya yang terasa pusing, "Kalian bukan sopirku. Tapi, ketika aku menyuruh salah satu diantara kalian untuk menjemput anak-anakku, itu artinya kalian mendapatkan kepercayaan yang lebih. Aku tidak pernah mau memakai sopir biasa untuk menjemput anak-anakku yang masih kecil."
Atherina mencerna kalimat yang diucapkan Park. Dalam hati, gadis itu bersyukur karena Park mengkhawatirkannya seperti seorang ayah.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya aku merasa seperti ini. Aku tidak tahu siapa diantara kalian yang berbohong."
Pintu ruangan Park di ketuk, semua mata tertuju pada pintu tersebut. "Masuk," ucap Park.
Pintu di buka, dan masuklah salah satu pengasuh Atherio, "Tuan, maaf mengganggu.. tuan muda tidak mau makan, dia ingin anda dan nona menemaninya makan."
"Aku akan segera menemuinya, kau kembali bekerja." Setelah mendapat perintah, pengasuh itu membungkukkan badan kemudian berlalu.
Atherina mengambil pistol ayahnya dari meja, dia menembak betis pengasuh itu. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan apa yang di lakukan Atherina. Sementara pengasuh itu meringis kesakitan dengan darah mengalir dari luka tembakan barusan.
Beberapa penjaga yang mendengar suara letupan senjata segera datang menghampiri.
"Dia pengkhianat yang sebenarnya," kata Atherina. Park berdiri dan menghampiri pengasuh itu, "Bawa dia," perintah Park. Penjaga-penjaga berbadan kekar itu membawa si pengasuh yang meringis kesakitan.
Park kembali ke ruangan dan menghampiri Atherina, "Kenapa kau bisa berpikir bahwa dia yang berkhianat? Bagaimana jika kau salah orang?"
Ternyata, selain mendengarkan ucapan Park dan para pamannya, Atherina memikirkan kecurigaan sendiri sedari awal.
"Sejak pertama aku melihatnya, dia terlihat aneh. Hari di mana aku pertama kalinya sarapan di rumah Ayah, dia membuat 2 gelas susu sapi dan susu kedelai. Rio yang membenci susu kedelai meminta bertukar denganku.."
***
Pengasuh menyajikan dua gelas susu ke meja makan. Atherio melihat gelas susu yang berada di depan Atherina. "Kakak, bolehkah kita bertukar susu?" Atherina melihat gelasnya dan gelas milik Atherio. Dia mengangguk, Atherio dengan semangat mengambil gelas susu milik Atherina kemudian meminumnya.
Setelah Park marah pada adiknya, Atherina mencicipi kedua susu yang berbeda itu.
***
".. rasanya sama, kedua gelas itu berisi susu sapi. Itu berarti pengasuh itu memang berniat membuat Rio sakit. Jika Rio sakit, dengan mudah dia menculiknya."
Semuanya masih mendengarkan penjelasan Atherina, termasuk Park yang mencerna dengan baik ucapan putrinya.
"Rumah Ayah terlalu sulit ditembus orang luar. Tidak ada satu orang penjaga pun di sana. Seseorang telah memberikan obat bius pada mereka. Aku tahu karena aku meminjam ponsel paman Min Hyuk untuk menelepon beberapa dari mereka. Tapi, tidak ada satu pun yang menjawab. Telah terjadi sesuatu pada mereka.."
***
Atherio melihat ada mobil hitam terhenti di depan gerbang. Itu bukan salah satu mobil ayahnya. Atherio mengetahui setiap benda milik ayahnya dengan rinci termasuk mobil, orang kepercayaan, dan yang lainnya.
Beberapa orang asing keluar dari mobil, mereka membawa senjata. Atherio melihat tidak ada penjaga satu orang pun di rumahnya. Biasanya para penjaga akan siap siaga berdiri di setiap penjuru halaman depan dan belakang.
Atherio merasakan ada kehadiran seseorang di belakangnya, bayangan orang itu terlihat di tanah. Dia menoleh, pengasuhnya berdiri di sana dengan kain di tangannya.
Tiba-tiba tubuhnya di masukkan ke dalam kain karung tersebut dan di angkat di bawa pergi ke dalam mobil.
***
".. pengasuh itu yang menculik Rio dengan tangannya sendiri."
Park masih mencerna ucapan Atherina. Atherina menunggu ayahnya untuk memberikan tanggapan, tapi sepertinya Park masih belum puas dengan penjelasan Atherina.
"Lalu barusan dia bilang Rio ingin makan bersama kita, padahal tugasnya bukan menyajikan makanan. Dia bertugas mengasuh Rio. Itulah sebabnya para penjaga di rumah Ayah tidak sadarkan diri. Dia berniat memasukkan sesuatu ke makanan yang akan kita makan," Atherina mengakhiri penjelasannya.
Gun Seok bertepuk tangan semangat sambil tersenyum seperti bangga pada Atherina. Joon Ki menoleh pada Gun Seok dan ikut bertepuk tangan. Carlos akan bertepuk tangan, tapi melihat Park mendelik dengan tatapan mematikan, Carlos tidak jadi bertepuk tangan. Dia berpura-pura membenarkan jas yang dia pakai.
Park menyentuh bahu Atherina, "Siapa yang mengajarimu memegang pistol?" Atherina menoleh pada Esteban yang menganggukkan kepalanya. "Paman Esteban," jawab Atherina.
Park menoleh pada Esteban yang tersenyum bangga, "Ah, baiklah, kalian semua boleh pergi." Setelah Park memberikan perintah, mereka semua membungkukkan badan kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Bersihkan dirimu, jika ada bagian tubuhmu yang sakit, katakan pada dokter Ha Yeon." Atherina mengangguk kemudian berlalu pergi meninggalkan Park sendirian di ruangannya.
Park menghela napas panjang, "Ada benarnya si bangsat itu, aku harus segera pensiun dari dunia gelapku dan di gantikan oleh orang yang lebih muda."
◆◇◆
7.06 : 25 Juni 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1