ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The Brown Envelope


__ADS_3

Empat tahun kemudian,


Kedua mata mungil itu masih tertutup. Ayam, burung, alarm, benda apa pun yang ada di dunia ini tidak mampu membangunkan anak laki-laki itu. Atherio Park masih mencintai bantalnya. Kejayaan keluarga Park berada dalam bahaya jika Atherio terus tertidur. Wajah mungilnya memperlihatkan ekspresi konyol ketika tidur.


Pintu kamarnya di ketuk. Bukannya bangun, Atherio malah menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut serapat mungkin.


Ketukan di pintu kembali terdengar, Atherio sama sekali tidak berniat untuk bangun.


"Atherio Park?  Kau tidak mau bangun?" teriak gadis kecil dari luar kamar. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Atherina. Pintu di buka dengan kasar, di susul kekesalan di wajah manis Atherina.


Dia menatap kesal adiknya yang masih terbungkus selimut. Atherina bergegas menghampiri tempat tidur besar adiknya. Dia mengguncangkan tubuh Atherio dengan brutal tapi terlihat konyol. "Atherio, ini hari pertamamu ulangan, kan?"


"Lima menit lagi," ucap Atherio. Atherina sangat kesal, dia melompat dan menghempaskan tubuhnya sehingga menindih Atherio. "Ireona!" Atherina membentur-benturkan kepalanya ke kepala Atherio.


"Dua menit lagi," kata Atherio. Atherina mulai menghitung sambil melipat satu per satu jarinya dengan ekspresi lucu. "Waktumu habis, bangun cepatlah!" Atherina menarik selimutnya membuat Atherio berusaha mempertahankan selimut tersebut.


"Lima menit lagi," gerutu Atherio. Atherina mengerutkan keningnya, "Kenapa jadi bertambah?" Atherina menggerutu.


Dengan sisa kekesalan, Atherina menyingkap selimut yang mengurung adiknya. "Usiamu sudah 8 tahun, seharusnya kau bangun sendiri. Atau kau mau ayah yang membangunkanmu?" Tanya Atherina.


Atherio segera bangkit. Dia tahu kemarahan ayahnya lebih mengerikan daripada amukan massa. "Aku sudah bangun, Kak." Atherio segera memasang wajah cerah. Atherina tersenyum, "Aku tunggu di meja makan." Atherina menepuk-nepuk pipi bulat adiknya kemudian berlalu.


"Hurry up!"


Setelah Atherina keluar dari kamarnya, Atherio menguap lebar lalu memasuki kamar mandi.


Sementara itu, Atherina duduk menunggu di meja makan. Kedua tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai. Atherio sudah siap dengan seragamnya, dia duduk di samping kakaknya dan akan mengambil roti di piring. Tapi Atherina mengambil piringnya dari Atherio.


"Wash your hand," suruh Atherina. "Aku habis mandi, Kak, jadi tanganku bersih." Atherina memberikan kode untuk tidak membantahnya. Atherio menghela napas kemudian menuruti perintah kakaknya. Dia membasuh tangannya di wastafel.


Atherio kembali duduk di samping kakaknya lalu menunjukkan telapak tangannya pada Atherina. Gadis itu mengamati tangan Atherio dengan teliti lalu dia mengangguk. Mereka menyantap sarapan pagi dengan ceria.


"Kakak, sore ini aku akan bermain sepak bola di lapangan. Aku ingin kau menonton, ini pertandingan antar kelas." Atherina mengangguk. "Iya, aku akan menonton." Atherio tampak semangat.


Setelah selesai sarapan, mereka berdua berangkat ke sekolah yang sama dengan diantar sopir pribadi.


Atherio melihat pada kakaknya yang memperhatikan jalanan. "Kak, ayah tidak ada di rumah?" Pertanyaan Atherio membuat perhatian Atherina teralihkan padanya.


"Ada, ayah di ruangannya." Atherina kembali melihat ke jalanan. "Wae?" Atherina menoleh lagi pada adiknya. Dia menunggu jawaban Atherio.


"Aku dengar, ayah akan pergi ke Singapura, apa itu benar?" Tanya Atherio sambil menatap Atherina dengan ekspresi harap-harap cemas.


"Emm.. iya." Atherina tampak ragu dengan jawabannya sendiri. Atherio terkejut, "Yeee!!!" Atherio berseru semangat membuat Atherina kebingungan.


"Kenapa kau senang? Kupikir kau akan sedih karena ayah akan pergi jauh." Atherina masih melihat pada Atherio dengan keheranan. "Tidak ada ayah berarti tidak ada paksaan." Atherio menghela napas lega sambil bertumpang kaki layaknya orang dewasa.


Atherina tersenyum tipis, "Masih ada aku," kata Atherina sambil mencubit pipi Atherio. Atherio menghela napas berat, "Tapi tidak apa-apa, Kakak tidak akan memukulku jika sedang marah." Atherio tersenyum manis membuat ekspresi Atherina menyendu.


Belakangan ini, Park memang bersikap lebih keras pada Atherio. Park akan marah atau memukul Atherio jika dia tidak menurut atau melanggar peraturan yang di tetapkan Park.


Atherio yang sekarang bukan anak yang penurut, dia akan terus membantah. Semakin dia mendapat hukuman dari Park, maka dia akan semakin nakal. Atherina harus selalu mengawasi dan menasehati adiknya, karena Atherio hanya akan mengerti dan hanya akan mendengarkan ucapan Atherina.


Atherina merasa Park jauh lebih kejam terhadap Atherio. Selama Park mendidik Atherina, Park tidak pernah sekali pun memukul atau memarahi Atherina meskipun Atherina sering membuat kesalahan yang tidak disengaja.


Padahal posisinya hanyalah anak angkat.


Atherio mendekatkan wajahnya memperhatikan kakaknya yang sedang melamun. "Kakak?" Atherina terhenyak dan menoleh. Dia terkejut karena wajah Atherio dekat dengannya. Atherina segera memundurkan wajahnya.


Atherio kembali duduk dengan normal. "Kadang aku berpikir, apakah ayah itu benar-benar menyayangiku?" Atherio bergumam, namun Atherina mendengarnya.


"Tentu saja dia menyayangimu, sangat menyayangimu," kata Atherina cepat.


Jika tidak, dia tidak akan membawaku ke rumah. Dia bahkan menyuruhku untuk bersumpah akan selalu melindungimu dengan nyawaku sendiri, Atherina membangun sambil mengingat memori 4 tahun lalu.


"Jika iya, dia tidak akan memukuliku hanya karena aku bicara jujur." Atherio cemberut kesal. "Itu karena kau bicara keterlaluan, Rio." Atherina mencubit pipi Atherio.


"Aduh, sakit Kak!" Atherio menarik tangan sang kakak dari pipinya.


Mereka sampai di area sekolah. Kedua kakak beradik itu segera memasuki sekolah. "Kak, sore ini datang ke lapangan, ya." Atherio melambaikan tangannya sebelum memasuki kelas. Atherina mengangguk sambil tersenyum dan melambaikan tangannya juga.


Atherina melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Ekspresi Atherina tampak serius. Dia membawa sebuah amplop dari saku jaketnya.


"Atherina, hari ini aku akan memberikanmu misi penting." Park memberikan sebuah amplop berwarna coklat pudar pada Atherina. Atherina menerima amplop itu, di belakang Atherina ada pria yang usianya tidak jauh beda dengan Carlos.

__ADS_1


"Berikan amplop ini pada anaknya Hitoshi Yamamoto," kata Park.


"Kenji Yamamoto," gumam Atherina.


"Hitoshi adalah yakuza yang cukup berpengaruh di Jepang. Dia telah bekerja sama cukup lama dengan Tuan Park, tapi entah apa yang membuatnya berani melanggar aturan transaksi," kata pria itu.


"Paman Ji Hoo mengenalnya?" Atherina menoleh pada pria yang ternyata bernama Ji Hoo.


"Besok sore kau akan di jemput oleh Ji Hoo di dekat Perpustakaan Kota." Park beranjak dari tempat duduknya menghampiri Atherina. Park mengusap rambut Atherina dengan lembut, "Aku percayakan semuanya padamu."


Park menepuk bahu Ji Hoo kemudian berlalu.


Langkah Atherina terhenti, "Sore ini, aku harus pergi tapi Atherio... aku sudah berjanji padanya akan menonton pertandingan sepak bola. Bagaimana ini?" Atherina menghela napas berat.


Lonceng sekolah berbunyi, Atherina segera memasukkan amplop itu ke saku jaketnya dan memasuki kelas.


Jam pelajaran di mulai. Pelajaran di jam pertama hari itu adalah Matematika. Atherina tidak memperhatikan guru, dia memperhatikan seorang anak lelaki yang duduk di bangku paling depan.


"Nona Park?" Atherina terkejut, dia segera memperhatikan ke papan tulis. "Apa anda memperhatikanku?" Tanya guru Matematika. Atherina mengangguk ragu.


Anak laki-laki yang sedari tadi diperhatikan Atherina berbalik dan melihat Atherina. Atherina menoleh pada anak laki-laki yang sekarang tersenyum padanya.


◆◇◆


Atherina melihat anak laki-laki itu sedang duduk di bangku kantin sendirian. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri anak itu yang kini mendongkak menatap Atherina, "Erina?"


Atherina mengubah ekspresi seriusnya menjadi ekspresi normal anak perempuan yang berusia 10 tahun. "Hai, boleh aku duduk di sampingmu, Kenji?" Tanya Atherina ramah.


Kenji mengangguk, dia menggeser duduknya. Atherina menghempaskan pantatnya di samping Kenji.


Sunyi,


Sunyi,


Sunyi.


"Kenji," Atherina menatap Kenji dengan serius. Tidak ada ekspresi polos anak perempuan di wajah manisnya. Kenji juga jadi serius menunggu Atherina melanjutkan kalimatnya.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting. Tentang sesuatu yang... rahasia." Atherina berbicara seperti orang dewasa. Dia mengambil amplop coklat pudar dari saku jaketnya dan memberikannya kepada Kenji.


Atherio melihat kakaknya keluar dari kantin. Dia segera menghampiri Atherina.


"Kak? Kak Nana?" Merasa namanya di panggil, Atherina menghentikan langkahnya dan menoleh. Atherio menghampiri kakaknya, "Kak? Kakak terlihat serius, apa ada sesuatu?" tanya Atherio.


"Rio, sore ini Kakak akan datang terlambat, sampai jumpa nanti sore." Atherina mengusap pipi bulat Atherio. Belum sempat Atherio mengucapkan tanggapannya, Atherina sudah pergi meninggalkan Atherio.


"Ah, pasti ayah yang membuat Kak Nana sibuk." Atherio menggerutu pelan.


◆◇◆


Mobil hitam terparkir di tepi jalan dekat gedung Perpustakaan Kota. Di dalamnya ada Ji Hoo. Atherina keluar dari area sekolah, dia menghentikan langkahnya di seberang jalan. Pandangannya tertuju pada Ji Hoo yang berada di dalam mobil hitam itu. Pria itu juga menoleh padanya.


Atherina melihat ke kiri dan ke kanan, setelah yakin tidak ada mobil dari arah mana pun, Atherina menyeberangi jalan menuju mobil itu. Atherina memasuki mobil.


"Sudah lama, Paman?" Atherina bertanya sambil memasang sabuk pengaman. "Tidak, baru beberapa menit. Tuan muda Park sudah pulang?"


"Dia ada pertandingan sepak bola, sopir akan menjemputnya nanti sore."


"Kita berangkat?" Atherina mengangguk.


Sementara itu, Atherio dan teamnya melakukan pemanasan sebelum memulai pertandingan. Sesekali pandangannya tertuju ke bangku penonton. Hanya ada beberapa anak yang menonton, Atherio mencari Atherina. Dia berharap ada kakaknya itu ada di salah satu bangku untuk melihatnya bermain bola.


Di tempat lain, di sebuah gedung terbengkalai, Atherina dan Ji Hoo berdiri di belakang Hitoshi Yamamoto yang memohon pengampunan dari Park. Orang-orang kepercayaan Park berdiri di belakang Park.


"Maafkan aku, Tuan Park, aku berjanji tidak akan membocorkan ini." Hitoshi membungkukkan badannya. Park menodongkan pistolnya pada Hitoshi.


"Kau berbohong terlalu banyak, Tuan Yamamoto." Park menggeram kesal. Hitoshi tampak ketakutan, dia menggeleng cepat, "Anda salah paham, Tuan Park."


"Kau bukan orang Jepang. KTP-mu palsu, kau berkewarganegaraan Korea." Park menatap tajam pria di hadapannya.


Atherina menghela napas pelan. Ini pasti akan lama, apa aku masih sempat melihat pertandingan Atherio? Atherina melihat jam tangannya. Hitoshi menarik Atherina dan menyanderanya dengan menodongkan pistol ke kepala Atherina. Ternyata dia membawa pistol dan menyembunyikannya di dalam jas.


Orang-orang kepercayaan Park bereaksi dam mendekat, "Nona Atherina!"

__ADS_1


"Jangan membuat kesalahan lagi," ancam Park.


Beberapa penjaga akan mendekat, tapi Hitoshi menggertak, "Jangan mendekat! Atau aku akan membunuh anak ini!" Ancam Hitoshi.


Di lapangan bola, Atherio bersiap di titik tengah lapangan. Peluit berbunyi, pertandingan sepak bola di mulai. Atherio bergerak cepat dan lincah.


Sementara itu, Atherina masih di sandera oleh Hitoshi. "Kau bodoh sekali, Tuan Park. Sudah bertahun-tahun kita bekerja sama, dan baru hari ini kau mengetahui fakta-fakta itu?" Gertak Hitoshi. Park mengepalkan tangannya.


Atherina mendengus kesal. Perhatian Hitoshi tertuju pada Atherina yang ada pada genggamannya saat ini, "Ayah macam apa dia melibatkan putrinya yang masih kecil ke dalam bisnis gelap yang haram ini? Monster biadab itu ingin mengotori tanganmu." Hitoshi mencoba memprovokasi Atherina.


Atherina mendengus kesal, dengan cepat, dia bergerak membating tubuh Hitoshi yang dua kali lipat ukuran tubuhnya. Tubuh Hitoshi terbanting keras ke tanah dengan cukup keras. Atherina menodongkan pistol ke wajah Hitoshi. Hitoshi terkejut dengan apa yang di lakukan Atherina padanya barusan. Hitoshi melihat kedua tangannya yang kehilangan pistol. "Sejak kapan?"


Atherina tersenyum, "Percayalah, Tuan Yamamoto, ini bukan pertama kalinya aku membunuh orang." Senyuman Atherina berubah menjadi horor. Atherina menarik pelatuknya namun tidak terjadi apa pun. Hitoshi menyerang Atherina, Atherina mengindar.


Park menembak punggung Hitoshi, "Aarrghhh!" Hitoshi tersungkur jatuh.


"Beraninya kau menyentuh Nona Atherina!" Ji Hoo menembak Hitoshi, lagi-lagi Hitoshi meringis kesakitan. Suara tembakan bersahutan di gedung terbengkalai itu.


Di lapangan, Atherio tampak fokus menggiring bola. Seseorang memasuki bangku penonton, pandangan Atherio teralihkan. Dia mengira itu Atherina, padahal bukan. Bolanya berhasil di rebut tim lawan. Atherio mendengus kesal.


Di gedung terbengkalai, darah terciprat menodai gedung kusam itu. Sebagian darah juga mengotori seragam yang di pakai Atherina. Bau anyir darah memenuhi indra penciuman siapa pun yang berada di sana.


Atherina mengusap sedikit darah di pipinya. Tidak terlihat ketakutan sama sekali di wajahnya karena kejadian barusan.


"Dia bahkan tidak mengisi pistolnya dengan peluru." Ji Hoo mengambil pistol Hitoshi yang di pegang Atherina.


"Ayah, aku harus melihat Rio, dia sedang dalam pertandingan sepak bola." Atherina mengguncangkan tangan Park.


"Pulanglah dulu, bersihan dirimu." Atherina menggeleng, "Pertandingannya akan segera berakhir, dia bisa marah padaku."


Park menghela napas panjang. "Baiklah, bersihkan dirimu di mobil." Park memberikan sekotak tisu dan sebotol cairan pembersih badan. Atherina menerimanya. "Terimakasih, Ayah." Atherina segera berlalu.


"Atherina, memangnya kau mau pergi sendiri?" Tanya Park. Langkah Atherina terhenti, dia berbalik kemudian tersenyum manis karena malu. Orang-orang kepercayaan Park tertawa melihat betapa lucunya Nona mereka. Ji Hoo juga terkekeh kecil. Park menoleh pada orang-orangnya dengan ekspresi membunuh. Seketika semuanya diam, termasuk Ji Hoo.


"Ji Hoo, antarkan putriku."


"Baik, Tuan."


◆◇◆


Napas Atherio terengah-engah, pandangannya tertuju ke papan skor. Tertera angka 3-2, tim lawan yang unggul. Team Atherio berunding membuat strategi untuk menyamakan skor.


Peluit berbunyi, tim Atherio pun ambil posisi. Pandangan Atherio tertuju ke bangku penonton. Dia melihat kakaknya di sana melambaikan tangan. Kedua mata bulat Atherio berbinar, dia juga melambaikan tangannya pada Atherina. Gadis itu tersenyum melihat Atherio yang tampak ceria.


Atherio jadi semangat setelah melihat keberadaan kakaknya. Dia menggiring bola menuju gawang lawan. Atherina berdiri dan memperhatikan dengan serius. Atherio akan menendang bola, namun tim lawan menubruknya hingga tersungkur. Bola berhasil di rebut lawan.


Atherina mengepalkan tangannya, "Bukankah itu curang?" Atherina menggerutu kesal. Bola masuk di gawang Atherio, skor menjadi 4-2.


Tim lawan yang menang, Atherio memukul tanah, "Ah, sial." Atherio melihat sepasang kaki di depannya, dia mendongkak, ternyata Atherina.


Atherina mengulurkan tangan padanya. Atherio menerima uluran tangan kakaknya, dia berdiri. "Namanya juga permainan, jangan terlalu di dramatisir." Atherio mendelik kesal pada kakaknya.


Mereka berdua berjalan meninggalkan lapangan. "Kau tidak mau memberikan ucapan selamat pada temanmu yang menang?" Tanya Atherina. Atherio mendengus pelan, "Besok saja, sekalian dengan buket bunga."


Atherina tertawa mendengar ucapan sarkas adiknya itu. "Sesekali pemeran utama harus kalah, bukan?"


"Kakak ini bicara seperti orang dewasa saja," gerutu Atherio sambil berpangku tangan. Atherina tertawa, "Usiaku memang 10 tahun, aku juga terlihat masih kecil, tapi ayah mendidikku untuk cepat dewasa."


"Apa kau juga menonton film biru?"


"Kau gila? Itu di larang!"


◆◇◆


"Ketika kau harus bersikap lebih dewasa dibandingkan usiamu, percayalah itu sangat keren."


(Ucu Irna Marhamah)


3.33 : 26 Juni 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2