ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Late


__ADS_3

"Erzähle nicht, wie du warst, sondern zeige, wie du jetzt bist."


◆◇◆


Pagi telah tiba, cahaya matahari masuk ke dalam mobil dan menerpa wajah Atherio membuat laki-laki tampan itu merasa silau. Perlahan kedua matanya terbuka dan mengerjap pelan. Atherio mendapati dirinya bersadar di bahu sang kakak. Semalam Atherina tidak mau membangunkan adiknya, dia memilih tidur bersama Atherio di dalam mobil sampai pagi. Atherio menatap wajah Atherina di jarak yang begitu dekat. Atherio menggeleng cepat.


Apa yang kau pikirkan, Atherio?


Atherio melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7. Atherio membelalak, "Aku harus pergi ke sekolah!" Gerutu Atherio yang membuat Atherina terbangun karena mendengar suaranya.


Atherina melihat keluar jendela mobil, "Ah, ini sudah pagi?"


Mereka berdua segera keluar dari mobil dan berlari menuju rumah untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Mereka bergerak secepat kilat mengemas buku dan melupakan sarapan.


Atherina memasang alat komunikasi ke telinganya, "Antar kami ke sekolah! Secepatnya!"


Tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya, Atherina mematikan alat komunikasi dan memasukkannya ke dalam tas. Dia melihat Atherio sedang memasang sepatunya.


Atherina melihat jam tangannya, sebentar lagi pukul 8.


Mobil yang membawa Atherio dan Atherina berhenti di depan gerbang sekolah yang akan ditutup oleh dua penjaga sekolah.


Atherio dan Atherina segera keluar dari mobil dan berlari akan masuk, namun gerbang sudah tertutup.


Atherina mengetuk gerbang, "Hanya satu detik, Paman buka gerbangnya." Atherina melihat jam tangannya.


Paman penjaga gerbang menggeleng, "Maaf, kalian bisa kembali besok."


Atherio dan Atherina saling pandang. Kembali besok? Seperti mendatangi sebuah toko.


"Lebih baik menerima hukuman daripada membolos," ucap Atherio.


"Sayang sekali, seharusnya kalian datang seperti waktu biasanya."


Atherina mendengus lalu berlalu ke mobil, dia memukul kaca mobil karena kesal. Atherio yang menyadari kekesalan kakaknya segera menghampiri untuk menenangkan Atherina.


Atherio menyentuh bahu kakaknya, "Kak, kita punya jalan lain."


Atherina menatap adiknya.


Mereka berdua berada di bagian belakang sekolah. Di depan mereka ada dinding tinggi yang membentengi area sekolah.


"Kita harus memanjatnya," ujar Atherio sambil setengah jongkok. Atherina memperhatikan adiknya dengan ekspresi bingung.


Atherio menoleh pada kakaknya. "Kenapa malah melihatku? Iya, aku tahu aku tampan, tapi cepatlah Kakak lompat ke atas," ucap Atherio sambil menyiapkan tangannya sebagai papan lompatan.


Jika aku melompat duluan, dia bisa melihat celana dalamku, batin Atherina sambil merapatkan pahanya.


Atherina punya ide yang lebih bagus, "Kau lompat duluan, nanti tarik aku."


Atherio memutar bola matanya, dia mundur beberapa langkah kemudian berlari kearah tembok dan melompat, kedua tangannya meraih ujung tembok.


"Hati-hati," bisik Atherina di bawah. Atherio mengayunkan tubuhnya dan berhasil duduk di atas tembok itu. Atherio mengulurkan tangannya pada Atherina yang masih berada di bawah.


Atherina melompat dan meraih kedua tangan adiknya. Dia berhasil naik dan duduk di samping Atherio.


"Aku lompat duluan, nanti aku akan menangkap Kakak," ujar Atherio. Atherina menganggukkan kepalanya. Atherio melompat ke bawah lalu menengadah memandang kakaknya.


"Ayo, lompat." Atherio mengangkat kedua tangannya dengan aba-aba seperti mau menggendong bayi.


Atherina berpikir, Rio pasti bisa melihat celana dalamku jika aku melompat.


"Cepatlah, Kak."


"Emm.. Rio, bisakah kau menutup matamu?" Tanya Atherina.


Atherio mengernyit bingung, "Kenapa aku harus menutup mataku? Bagaimana jika Kakak jatuh?"


"Aku akan lompat padamu, pertahankan saja posisi seperti itu."


Atherio menutup matanya. Atherina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Setelah memastikan tidak ada siapa pun, dia melompat. Seperti dugaannya, rok yang dia kenakan menyingkap. Atherina berhasil mendarat di pelukan Atherio. Atherio membuka matanya karena Atherina menepuk-nepuk bahu adiknya. Atherio menurunkan tubuh ramping kakaknya.


"Kita pasti terlambat masuk kelas, ayo!" Atherio menarik tangan kakaknya, tapi Atherina tidak bergeming.


Atherio kembali menatap kakaknya, "Kenapa?"


Atherina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Kemarin aku melihatmu ketika melewati kelasku, kau memperlihatkan ekspresi seperti itu.. aku rasa kau berlebihan. Ekspresi itu terlalu dewasa untukmu."


Atherio tertawa, "Memangnya kenapa? Aku memang sudah besar."


"Kau tidak menyadari tatapan semua murid? Mereka bisa mati melihat ekspresi seperti itu." Atherina menggerutu kesal.


Atherio tersenyum, "Iya, baiklah."


Mereka pun meninggalkan halaman belakang sekolah. Tanpa mereka sadari, ada CCTV terpasang di sudut halaman melihat apa yang mereka lakukan.


Di kelas, So Yeon terlihat cemas karena Atherio belum kunjung datang ke sekolah. Sementara guru sudah beberapa menit di dalam kelas sedang menjelaskan materi.


Apa dia sakit? Atau terlambat datang?


Terdengar suara ketukan pelan pada kaca jendela di samping bangku So Yeon. Gadis itu menoleh, kedua matanya membulat melihat keberadaan Atherio di luar kelas. Atherio menggerakkan tangannya memberikan kode agar So Yeon mendekat. Gadis itu mengangguk kemudian menghampiri jendela. Kedua mata Atherio menatap ke dalam kelas, memastikan tidak ada siswa di kelasnya yang melihat keberadaannya.


"Bawa tasku dan simpan di meja," bisik Atherio. So Yeon menganggukkan kepalanya dan segera mengambil tas Atherio.


So Yeon menyimpan tas itu ke bangku Atherio kemudian kembali duduk di bangkunya.

__ADS_1


Sekarang apa yang dia lakukan?


Terdengar pintu kelas di ketuk, semua mata di ruangan itu tertuju pada Atherio yang berdiri di pintu.


"Atherio, kenapa datang terlambat?" Tanya guru.


Atherio membungkukkan badannya, "Sebenarnya saya sudah datang sedari pagi, tapi tadi saya di panggil ke ruang guru jadi saya terlambat masuk kelas."


Guru mengangguk, "Begitu, ya, masuklah."


So Yeon tersenyum pada Atherio, tanpa diduga, Atherio juga tersenyum padanya. Kedua mata So Yeon membulat, kedua pipinya merona.


Mata pelajaran pertama telah berakhir, berganti dengan pelajaran selanjutnya.


Setelah guru keluar dari dalam kelas, Atherio berbalik melihat pada So Yeon, "Terima kasih telah membantuku."


So Yeon tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apakah soal matematika yang kemarin sudah selesai?" Tanya So Yeon. Atherio tampak berpikir dan mengingatnya.


Tiba-tiba Atherio terhenyak, "Astaga, aku lupa."


"Ah? Ta.. tapi.. sekarang ada jadwal pelajaran matematika."


"Kapan?"


"Sekarang."


◆◇◆


Atherio, So Yeon, dan kedua anak laki-laki yang satu kelompok dalam pelajaran matematika terkena hukuman karena tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan. Mereka berempat harus membersihkan kamar mandi sekolah. Semua siswi yang mengidolakan Atherio menonton dengan ekspresi sedih menyayangkan laki-laki tampan itu harus membersihkan tempat terjorok di sekolah itu.


Guru matematika membubarkan semua murid yang menonton, "Kalian kembali ke kelas masing-masing, bukankah ini masih jam pembelajaran?"


Semuanya pun bubar, ada Atherina berdiri memperhatikan adiknya yang sedang membersihkan kamar mandi. Dia merasa bersalah karena telah mengajak adiknya ke markas Fredo semalam.


Atherina pun berlalu pergi.


"Lain kali kerjakan tugas yang Ibu berikan. Setelah bel istirahat berbunyi, kalian boleh istirahat." Guru berlalu meninggalkan mereka berempat.


Kedua anak laki-laki yang satu kelompok dengan Atherio malah bercanda dan saling mengejar seperti kemarin di perpustakaan.


Ada apa dengan mereka! Atherio berteriak dalam hati.


So Yeon dan Atherio dengan telaten membersihkan kamar mandi tersebut. Diam-diam So Yeon melihat Atherio, dia merasa senang ketika menjalani hukuman asalkan bersama Atherio.


Di ruang guru, Jong Hun melihat komputer yang terhubung dengan CCTV halaman belakang sekolah. Dia terkejut melihat dua orang murid yang melompati tembok yang membentengi bagian belakang sekolah.


Jong Hun menyipitkan matanya melihat siapa kedua murid itu.


Sebentar lagi jam istirahat.


Hye In menghampiri Atherina, "Hai! Kau sedang apa?" Hye In menyapa Atherina seolah mereka sangat dekat.


"Aku menunggu jam istirahat," jawab Atherina.


"Ooohh.. Erina, aku lihat tadi Atherio membersihkan kamar mandi, apa kau tidak kasihan?" Tanya Hye In. Atherina mendengarkan Hye In yang terus menerus berbicara.


"Tapi meskipun dia membersihkan kamar mandi, dia tetap terlihat tampan.." Hye In menangkup wajahnya sendiri sambil membayangkan wajah Atherio.


".. oh ya, si So Yeon itu siapanya Atherio?" Tanya Hye In. Atherina menggeleng merespon pertanyaan Hye In.


"Kenapa dia selalu dekat dengan Atherio? Adikmu itu tidak mungkin menyukai gadis idiot dan culun seperti So Yeon, kan?"


"Aku tidak tahu."


"Jika aku jadi kau, aku akan menyuruh Atherio menjauhi gadis seperti So Yeon, kepolosannya itu hanya untuk menutupi otak kotornya."


Lalu, aku harus membiarkannya dekat dengan gadis sepertimu? Atherina membatin.


Hye In menatap Atherina membuat Atherina agak risih. Gadis itu semakin mendekatkan wajahnya, Atherina menahan bahu Hye In.


"Kau kenapa?" Tanya Atherina setengah menggerutu.


"Kau dan Atherio itu saudara kandung, tapi kenapa aku tidak melihat ada kemiripan diantara kalian, ya?"


Atherina menelan salivanya, untuk apa dia memikirkan wajahku?


"Tentu saja, Atherio mirip ibu dan aku mirip ayah." Atherina menjawab dengan asal.


"Aku rasa kau juga tidak mirip Tuan Park."


Atherina mengepalkan tangannya mendengar celotehan gadis di depannya. Hye In membuka mulutnya untuk kembali bicara, tapi bel istirahat berbunyi membuat niatnya urung.


Atherina mengalihkan pandangannya sambil bernapas lega.


◆◇◆


Atherio menyandarkan punggungnya ke kursi di kantin, dia benar-benar kesal karena harus membersihkan kamar mandi sekolah. Atherio duduk tegak ketika mendengar suara kursi berderit karena bergesekan dengan lantai. Ternyata Hye In, gadis itu memberikan kotak berisi makanan kepada Atherio. Atherio mengerutkan keningnya, dia melihat makanan tersebut yang tampaknya masih hangat tampaknya baru di beli. Terbukti ada asap lembut di atas makanan tersebut.


Hye In tersenyum kecil, "Itu dari Erina."


Atherio terkejut kemudian tersenyum, "Terima kasih.."


Hye In menganggukkan kepalanya, "Aku hanya mengantarkannya."

__ADS_1


.. *Kak*Nana, sambung Atherio dalam hati.


Tanpa mereka sadari, ada tatapan terluka yang memperhatikan mereka dari jauh. So Yeon, di tangannya ada dua mangkuk mie. Christian yang berjalan menunju kantin harus menghentikan langkahnya karena So Yeon menghalangi jalan. Chris memiringkan kepalanya melihat So Yeon yang menatap kosong pada Atherio dan Hye In. Christian memahami perasaan So Yeon yang tampaknya menyukai Atherio. Chris berdehem pelan, namun tidak berhas membuat So Yeon tersadar dari lamunannya.


"Permisi?" Chris mulai menegur. So Yeon terhenyak dan menoleh kearah Chris, namun naas sekali mangkuk yang dia pegang sedikit miring membuat kuah mie-nya tumpah ke tangan Chris.


Chris meringis sambil mengusap tangannya yang terkena kuah mie yang cukup panas.


"Ya ampun, maafkan aku."


Atherio masih berbicara dengan Hye In.


Seorang siswi menghampiri mereka berdua, "Atherio, kau dipanggil Pak Jong Hun."


Hye In mengerutkan keningnya, "Apa kau berbuat kesalahan?"


Atherio tampak berpikir kemudian menggeleng pelan, "Aku rasa tidak, memangnya kenapa?"


"Pak Jong Hun itu guru yang suka memanggil anak nakal atau anak yang bermasalah." Hye In tampak khawatir. Dia mengkhawatirkan Atherio.


"Apa mungkin karena tadi kau di hukum guru matematika?" Tanya Hye In.


Jika iya aku dipanggil karena aku tidak mengerjakan soal matematika, maka seharusnya bukan hanya aku yang dipanggil.. So Yeon dan dua orang itu juga harus dipanggil.


◆◇◆


Atherio menghentikan langkahnya di depan ruangan pribadi milik Jong Hun. Dia mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk," jawab orang dari dalam sana.


Atherio menarik knop pintu dan masuk. Atherio mengerutkan keningnya ketika melihat Atherina sudah berada di sana duduk berhadapan dengan Jong Hun.


"Atherio Park, kemarilah duduk di samping kakakmu." Jong Hun tersenyum ramah layaknya seorang guru.


Atherio membungkukan badannya kemudian duduk di samping Atherina. Dia melirik kakaknya yang terdiam seperti patung.


"Kalian berdua sudah ada di sini. Aku ingin bertanya, apakah pagi ini kalian datang tepat waktu?" Tanya Jong Hun tanpa basa-basi.


Atherio membuka mulutnya akan menjawab, namun Atherina menepuk paha Atherio. Terpaksa Atherio tidak mengeluarkan suaranya.


"Kami kesiangan," jawab Atherina tanpa ragu. Ekspresinya terlihat datar tanpa emosi sama sekali. Atherio menatap kakaknya tidak percaya. Melompati dinding tidak ada gunanya jika pada akhirnya Atherina menjawab jujur pertanyaan Jong Hun.


Jong Hun tersenyum karena Atherina menjawab jujur. "Kalian masuk lewat mana?" Tanyanya lagi.


"Kami lewat belakang." Atherina menjawab jujur dengan ekspresi masih datar. Atherio merutuki kejujuran kakaknya.


Jong Hun menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana bisa? Tembok itu tingginya sekitar dua meter lebih."


Atherina menunjukkan senyuman terbaiknya, "Ketika orang merasa takut, dia bisa melakukan apa saja, termasuk memberanikan diri."


Jong Hun mencerna ucapan Atherina. Atherio juga kurang paham dengan apa yang di katakan kakaknya.


"Kalian boleh kembali," kata Jong Hun mengakhiri introgasi siang itu. Atherio dan Atherina bangkit dari tempat duduk kemudian membungkukkan badan dan berlalu.


Langkah Atherina terhenti di depan pintu, dia menolehkan kepalanya pada Jong Hun.


"Saya harap Pak Guru mau menghilangkan rekaman CCTV itu." Atherina melanjutkan langkahnya.


Atherio dan Atherina berjalan berdampingan dengan langkah gontai menuju kelas.


"CCTV, kenapa tidak terpikir olehku?" Gumam Atherio pelan. Atherina menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana bisa pak Jong Hun melepaskan kita begitu saja?" Tanya Atherio yang penasaran.


"Pak Jong Hun mengenal ayah kita, aku menunjukkan senyum yang sama ketika kami pertama bertemu untuk transaksi."


Mendengar jawaban kakaknya, Atherio tentu terkejut. "Apakah pak Jong Hun itu seorang gangster?"


"Tidak, pak Jong Hun bukan seorang gangster. Waktu itu pak Jong Hun membeli sebuah pistol dari ayah, mungkin untuk berjaga-jaga mengingat statusnya sebagai seorang guru yang suka menegur anak-anak nakal. Selain itu, pak Jong Hun sering menghukum murid dengan berat. Pasti ada murid atau bahkan orang tua murid yang membencinya."


Atherio mengangguk mengerti, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Terima kasih makanannya," ucap Atherio.


Atherina menoleh menatap adiknya kemudian tersenyum, "Seharusnya aku meminta maaf karena semalam aku mengajakmu ke markas Fredo, kau melupakan tugas matematika dan hari ini kau dihukum karena aku."


Atherio tertawa kecil, "Bukan salahmu, Kak.. tentang semalam, bukankah itu tugasku sebagai pemimpin juga sepertimu?"


Atherina mengangguk, "Aku juga lupa mau mengumumkan sesuatu kepada anggota kita, seharusnya semalam aku umumkan."


Atherio mengusap punggung kakaknya, "Tenang, masih ada waktu nanti."


Atherina menganggukkan kepalanya.


◆◇◆


20 Juli 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow ig dan wattpad aku yaaaaa.... @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga, yaaa...



__ADS_1


__ADS_2