![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Kemampuan seseorang tidak terletak pada senjatanya. Tapi, terletak pada tangan orang itu sendiri."
_Gangster_
Cahaya matahari pagi menerangi rumah besar milik Park. Azura terlihat begitu semangat menaiki tangga menuju kamar Atherina. Dia menarik knop pintu. Azura terbelalak kaget melihat Atherina yang sedang memakai seragamnya. Atherina juga terkejut, tapi tidak berlangsung lama.
"Ma.. maaf," ucap Azura sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
Atherina mengangguk, "Tidak masalah, kau boleh masuk." Azura memasuki kamar Atherina sembari menutup pintu.
"Ada apa, Azura?" Tanya Atherina sambil mengancing seragamnya.
"Erina, kau begitu cantik." Atherina mengerutkan keningnya karena bingung dengan ucapan Azura. Tidak biasanya dia bicara seperti itu. Atherina melihat Azura yang tengah menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Terima kasih," ucap Atherina. Tiba-tiba Atherina merasakan pelukan hangat dari belakang. Azura memeluknya dengan lembut. Dia meletakkan dagunya di ceruk leher Atherina.
Atherina melepaskan diri dari Azura, "Azura, lepaskan aku. Aku tidak nyaman diperlakukan seperti ini." Atherina berbalik menatap Azura dengan penuh rasa heran.
"Kenapa?" Tanya Azura sambil memeluk Atherina dari depan. Atherina mendorong Azura.
"Karena kita perempuan," jawab Atherina sambil berlalu menuju pintu. Dia memutar knop, namun terkunci.
"Apa kau yakin, kalau aku adalah perempuan?" Pertanyaan Azura membuat Atherina membeku dalam hitungan detik.
Azura tersenyum sambil melangkah mendekati Atherina. Gadis itu berbalik melihat Azura yang tengah menatap dirinya sambil menyeringai. Dia menarik lengan Atherina dengan kasar, sementara Atherina berontak tanpa berniat memukul Azura.
"Aku menyukaimu, Erina."
"Dasar tidak waras!"
Atherina melayangkan pukulannya, terjadi perkelahian. Azura melepaskan hoodie-nya. Dia mengusap rambutnya yang pendek berwarna hitam kecoklatan. Atherina menggeleng tidak percaya melihat bentuk tubuh Azura yang sempurna seperti seorang laki-laki sejati. Jadi, selama ini Azura menyembunyikan tubuh dan rambutnya di balik jaket musim dingin.
"See? I'm not a girl, I'm a boy." suara Azura berubah menjadi berat dan serak. Atherina masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengingat semua yang telah terjadi belakangan ini.
Suara bariton itu mengejutkan Atherina, "Terima kasih telah mau menjadi temanku, tapi aku lebih senang jika kau mau menjadi milikku."
"Pembohong! Beraninya kau bicara seperti itu setelah kau membohongiku! Membohongi kelompokku!" Teriak Atherina. Azura tertawa, "Aku memang ingin menjadi perempuan, tapi itu dulu. Setelah aku bertemu denganmu, aku merasa beruntung karena aku terlahir sebagai seorang laki-laki yang bisa memilikimu."
"Bullshit! Kau benar-benar gila. Aku akan mengurus pembatalan kerja sama kelompok kita!" Atherina menendang pintu kamarnya sampai retak.
Sialan, bagaimana bisa si banci ini mengunci pintu dan kemana dia menyembunyikan kuncinya! Atherina merutuki nasibnya.
Azura memeluk Atherina dari belakang dengan penuh kelembutan, "Aku ingin kau menerimaku, jangan pergi jauh dariku. Jika kau mau pergi, aku akan bersamamu," bisik Azura ditelinga Atherina, membuat gadis itu merinding.
"Lepaskan aku, atau aku akan menghabisimu." Mendengar ancaman Atherina, Azura tertawa.
"Bagaimana caramu menghabisiku? Seperti ini?" Azura mencium leher Atherina. Gadis itu menendang lutut Azura dengan tumitnya.
"Beraninya kau menolakku!" Teriak Azura
Perkelahian tidak dapat terelakan lagi. Meskipun usia Atherina masih muda, namun dia bisa mengimbangi kekuatan Azura. Kamar Atherina menjadi berantakan, banyak barang-barang rusak berjatuhan ke lantai karena perkelahian itu.
Atherina menerjang dada Azura membuat wanita itu.. ralat.. pria itu tersungkur sambil meringis kesakitan. Atherina akan memukul wajah Azura, namun melihat kesakitan di wajahnya membuat Atherina tidak tega. Gadis itu berbalik untuk pergi, namun dalam sekejap, Azura meringkusnya dari belakang. Terlihat seperti Azura sedang memeluk Atherina, nyatanya Azura mengeratkan kedua tangannya.
"Seharusnya kau tidak membelakangi lawan yang masih hidup," bisik Azura. Atherina berusaha berontak, namun kali ini tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Seperti mangsa yang sudah berada dalam cengkraman predator.
"Rio!!!" Atherina berteriak.
"Kau tahu, kenapa kelompok kami disebut kelompok ular?" Tanya Azura. Kedua mata Atherina membelalak, saat ini dia merasa jika tubuhnya seakan dililit ular. Tulang dalam tubuh Atherina bergeser terdengar bunyi krek.
"Atherio!!!" Gadis itu berteriak memanggil adiknya. "Ini akibatnya jika kau menolakku, kau akan mati karena tulangmu akan aku remukkan."
Mendengar suara sang kakak, Atherio yang sedang mandi terkejut. Dia segera memakai jubah mandi dan keluar. Chris menoleh, "Aku pikir hanya aku yang mendengar suara kak Erina."
Mereka berdua segera berlari menuju kamar Atherina. Chris memutar knop pintu, tapi tak kunjung terbuka. Dia melihat retakan pada pintu.
"Chris, minggir." Atherio mundur beberapa langkah lalu bergerak mendobrak pintu kamar tersebut beberapa kali sampai roboh. Chris dan Atherio terkejut melihat Atherina di dalam pelukan Azura.
"Dia.. dia.. laki-laki?" Chris bergumam.
Atherio tidak terima melihat itu. Dia mendekat sembari melayangkan tangannya memukul Azura. Atherina berhasil lolos dari Azura. Chris mengambil sapu.
"Seandainya dari dulu aku mengetahui kalau kau laki-laki, aku tidak akan ragu menghajarmu, sialan!" Atherio terus menerus memukulnya tanpa ampun.
Christian mengangkat sapu di tangannya untuk memukul Azura, tapi..
Dor!!
Chris dan Atherio terkejut. Azura tersungkur sambil memegangi lututnya yang berdarah. Dia meringis kesakitan.
Kedua laki-laki itu menoleh kearah Atherina yang menodongkan pistol dengan tangan gemetar. Atherio menghampiri kakaknya.
Atherina beringsut menjauh, "Jangan mendekati." Atherio berhenti. Chris terlihat bingung, perkiraannya tentang keluarga Park memang benar.
◆◇◆
Atherina duduk di sofa. Kedua kakinya dilipat. Selimut hangat berwarna biru gelap menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian kepala. Atherio dan Chris yang duduk berhadapan dengannya tampak cemas dalam diam.
Sementara beberapa bodyguard sedang berdiri mengelilingi mereka bertiga. Jangan lupakan keberadaan Ji Hoo, Carlos, Gun Seok, Min Hyuk, Victor, Joon Ki, dan Esteban.
Selama ini.. aku memiliki seorang teman.. yang juga merupakan.. seorang penjahat? Batin Chris bertanya-tanya.
__ADS_1
Atherio mendelik Chris diam-diam, Chris akan curiga, bahkan mungkin dia sudah mengetahui semuanya melalui apa yang dia lihat.
"Nona, apa yang harus kami lakukan dengan Azura?" Tanya Esteban. "Bunuh dia," kata Atherio dengan nada geram. Chris sedikit terhenyak mendengar jawaban Atherio.
"Tidak, jangan bunuh dia. Kelompok ular akan menyerang kita," Atherina segera angkat bicara walaupun suaranya bergetar karena masih syok. Chris menunduk rasa bingung dan takut bercampur jadi satu.
Atherio tidak terima dengan keputusan kakaknya, "Kenapa, Kak? Dia sudah berbuat buruk kepadamu."
"Paman Joon Ki, tolong hubungi bibi Ha Yeon," ucap Atherina tidak memperdulikan adiknya yang protes. Joon Ki mengangguk, dia berlalu ke ruangannya. Atherio mendecih sambil membuang muka.
"Seharusnya kalian berdua berangkat ke sekolah," ucap Atherina sambil melihat pada Atherio dan Chris bergantian.
Atherina menatap Chris yang sedari tadi menunduk. Dia memahami rasa takut yang mendera laki-laki itu.
"Christian," panggil Atherina. Refleks Chris mendongkak menatap Atherina. Gadis itu tersenyum sendu.
"Kau tidak akan bilang pada siapa pun tentang ini, kan?" Tanya Atherina lembut. Gun Seok dan Esteban yang berdiri di belakang Chris, menodongkan pistol ke kepala laki-laki itu. Chris tidak menyadarinya, berbanding terbalik dengan Atherio yang tampak tegang. Di sisi lain, dia tidak ingin temannya terluka, di sisi lain, dia harus melindungi kelompoknya.
Christian melihat bayangan Esteban dan Gun Seok dari kaca bingkai foto Park yang terpasang di dinding. Dia terkejut karena kedua pria itu menodongkan pistol ke kepalanya. Atherina menunggu jawaban Chris.
"Aku tidak akan mengatakannya," jawab Chris. Esteban dan Gun Seok saling pandang kemudian menyimpan kembali pitol mereka.
Chris melanjutkan kalimatnya sambil menunduk, "Kak Erina sudah baik membiarkanku menginap di sini, Kakak juga berbuat baik kepadaku. Apa yang Kak Erina lakukan, tidak pernah aku dapatkan dari kakakku.. terima kasih, Kak." Atherio menatap temannya. Sementara Atherina tersenyum sekaligus merasa tersentuh dengan ucapan Chris.
Gadis itu mengusap kepala Chris dengan lembut. Chris sedikit terkejut dan kembali menatap Atherina.
Atherina menghela napas panjang, "Anak baik, tapi maaf.. mulai sekarang kau tidak bisa datang lagi ke sini." Chris membeku, tapi dia mengerti dengan keadaan Atherina. Atherio menepuk bahu Chris sambil beranjak dari tempat duduknya, "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
Chris mengangguk.
◆◇◆
Di rumah Chris yang sepi,
mobil hitam memasuki pelataran rumah tersebut. Remaja laki-laki itu turun dari mobil. Tak lain dia adalah Chris. Atherio menganggukkan kepalanya sambil melihat temannya itu. Di balas dengan hal yang sama oleh Chris. Mobil hitam tersebut berbalik meninggalkan Chris sendirian di rumahnya.
"Teman.."
Di perjalanan,
Ji Hoo melirik spion untuk melihat keadaan Atherio. "Maaf, Tuan, apakah aman membiarkan anak itu hidup?"
"Aku mempercayainya."
Ji Hoo tidak berani berbicara lagi setelah mendapatkan jawaban dari Atherio.
Keesokan harinya, kelompok ular mendatangi rumah Park. Mereka tampak marah, terutama Azokka sang pemimpin sekaligus kakaknya Azura. Anggota kelompok ular yang bertubuh kekar memperlihatkan tato *king cobr*a yang memenuhi tubuh mereka.
".. jadi, ini yang kami dapatkan setelah beberapa tahun bekerja sama dengan kalian? Bagaimana jika adikku cacat!" Azokka sedang di Puncak amarahnya. Kali ini Atherio yang duduk berhadapan dengan Azokka. Atherina sedang tidak ada di rumah. Tampaknya Atherio tidak ingin menjawab pertanyaan Azokka.
"Behenti bicara.." potong Atherio. Azokka menautkan alisnya geram.
".. pagi-pagi datang kemari dengan kemarahan, tanpa tahu hal sebenarnya." Azokka membuang muka seraya mendecih tidak suka.
"Adikmu melukai kakakku, melukai harga dirinya sebagai seorang gadis. Dengan cara tidak sopan, Azura memasuki kamar kakakku dan melakukan hal buruk padanya. Jika aku tidak ada, mungkin kakakku sudah tiada." Ucapan Atherio membuat Azokka terkejut.
"Dan lagi, seharusnya kami yang menyesal telah bekerja sama dengan kelompok ular. Azura, si pembohong itu telah menipu kami semua dengan menyamar sebagai perempuan!" Atherio berbicara setengah teriak.
"Apa yang kau bicarakan! Apakah selama bersama kalian dia pernah mengatakan bahwa dirinya perempuan?" Tanya Azokka yang tidak mau menerima penghinaan tersebut.
Atherio terdiam, pertanyaan Azokka ada benarnya. "Dia bersikap seperti perempuan, dia juga menyamarkan suaranya. Bagaimana bisa kami mengira dia laki-laki?" Gerutu Atherio.
Hening.
"Sekarang di mana Azura?" Tanya Azokka. Atherio menjawab, "Dokter kami sedang merawatnya. Bagaimana pun juga, kami harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi."
Azokka berceloteh, "Setelah dia sembuh, aku akan memukulnya dengan tanganku sendiri." Dia beranjak dari tempat duduknya, "Aku akan bertemu dengan Nona Atherina setelah semua ini selesai." Sesudah berkata demikian, kelompok ular pergi meninggalkan kediaman Park.
Atherio menghela napas berat sambil menyentuh dahinya. Ji Hoo dan Esteban saling pandang.
Joon Ki memberikan ponsel pada Atherio, "Telepon dari Nona Atherina." Atherio mengangguk, dia meletakkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Rio?"
Atherio menggerakkan tangannya, semua orang meninggalkan ruangan. "Iya, Kak?"
"Kenapa tidak pergi sekolah?"
Atherio mendecih pelan, "Bagaimana bisa aku belajar, sementara aku mencemaskanmu."
"Aku baik-baik saja, besok kau harus sekolah."
"Keadaan Kakak bagaimana?"
"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja. Hanya ada beberapa tulang yang sedikit bergeser dari tempat semula."
"Apakah tulang-tulang itu sudah kembali ke tempatnya?"
Terdengar suara Atherina yang tertawa di seberang sana. Atherio tersenyum mendengar kakaknya tertawa. "Bicaramu lucu, adikku."
Atherio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Semoga cepat sembuh, aku mencintaimu."
Hening.
Telepon masih tersambung, namun tidak ada respon dari Atherina. Atherio menunggu jawaban dari kakaknya.
__ADS_1
"Terima kasih, aku akan mengakhiri panggilannya."
Atherio menganggukkan kepalanya seolah-olah Atherina bisa melihat dia mengangguk.
Tut tut tut tut tut...
Di rumah sakit,
Gadis itu meletakkan ponselnya ke meja. Tiba-tiba, tirai putih di sampingnya terbuka. Ternyata Azura juga di rawat di sana. Dia menatap kesal pada Atherina.
"Kau harus menerimaku, kemarin kau menembakku dan aku terima.. artinya kita sudah berpacaran, hahaha."
Atherina menendang tiang infus sehingga menimpa lutut Azura. Pria itu menjerit kesakitan. Atherina menutup kembali tirainya. Tubuh ramping itu membaringkan diri, ringisan kecil terdengar dari mulutnya. Atherina menutup telinga karena suara Azura yang masih terdengar.
"Dokter! Kapan aku dipindahkan ke ruang VIP!" Atherina berteriak kencang karena sudah kehabisan kesabaran.
◆◇◆
Di kelas,
So Yeon menatap bangku Atherio yang kosong. Padahal kegiatan pembelajaran di kelas itu sedang berlangsung.
Semakin hari, perasaan So Yeon terhadap Atherio semakin bertambah. Tidak hanya mengagumi, menyukai, dan mencintai. Ada rasa ingin memiliki yang muncul dalam benaknya.
Setelah jam pembelajaran selesai, So Yeon pergi ke kantin sendirian. Mie yang dia pesan hanya di aduk-aduk dengan sumpit.
Gadis itu terhenyak ketika ada seseorang duduk di depannya. Dia mendongkak menatap siapa yang datang. Hye In membuang muka ketika So Yeon melihat padanya.
"Jangan merasa paling cantik karena Atherio sedikit peduli padamu," kata Hye In. Ketiga temannya berdiri di belakang gadis itu.
So Yeon mengerutkan keningnya, "Dia teman sekelasku."
"Jangan berpikir seolah aku ini tidak tahu dengan isi kepala kotormu. Kau pasti menyukai Atherio. Aku tahu, kau selalu mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan dia. Awas saja jika kau tidak mau berhenti." Hye In berlalu pergi diikuti teman-temannya.
So Yeon mendengus pelan, "Kakaknya saja tidak protes, apa hak dia?" Tiba-tiba, So Yeon teringat Chris.
Sepulang dari sekolah, So Yeon menelepon Chris.
"Christian, apa kau tahu, di mana Atherio?"
"Emm.. mungkin dia ada di rumahnya."
"Bolehkah aku meminta alamatnya?"
Hening, tidak ada suara dari seberang sana. "Christian?" So Yeon memastikan apakah teleponnya masih tersambung.
"Maaf, aku tidak bisa, Atherio tidak pernah membiarkan siapa pun datang ke rumahnya."
Kening So Yeon berkerut, "Kenapa? Apa dia menyembunyikan sesuatu?"
"Ahaha, tidak.. tidak. Kau tahu, sebagai anak dari seorang Park J. A., keamanan di rumahnya sangat di perhatikan."
"Aku datang berkunjung sebagai teman, buka sebagai pencuri."
"Aku sarankan agar kau tidak ke sana."
So Yeon semakin penasaran, "Emm, terimakasih telah menjawab teleponku." Gadis itu menutup panggilannya.
"Atherio,"
Dengan memberanikan diri, So Yeon mendatangi rumah Atherio. Entah bagaimana caranya gadis itu bisa mengetahui alamat Atherio. Dia melihat rumah kokoh itu menjulang tinggi di depannya. Ada banyak penjaga di depan. Salah satu dari mereka menghampiri So Yeon.
"Sedang apa di sini?"
"Ma-maaf.. aku ingin menemui Atherio, apa dia ada di rumah?"
"Tidak boleh ada orang asing yang datang ke rumah ini. Lebih baik kembali," kata penjaga itu sambil berlalu.
So Yeon terlihat sedih.
Sementara itu, Esteban sedang duduk lemas di markas bawah tanah. Ada Joon Ki di sampingnya. Tampaknya mereka sedang santai tidak memiliki kesibukan apa pun.
Esteban meregangkan tubuhnya, "Sayang sekali, Azura itu pria. Aku pikir, dia seorang wanita."
Joon Ki mendelik rekannya, "Kau sempat menyukai dia?"
"Iya, dia terlihat seperti wanita cantik yang normal. Tapi, setelah aku tahu yang sebenarnya, itu mengerikan." Esteban bergidik ngeri. Joon Ki memegang dahinya seolah merasakan hal yang sama dengan Esteban.
◆◇◆
26 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow Instagram dan Wattpad aku\, yaaaaa.... @ucu_irna_marhamah
Beli Ebook aku juga, yaaaa.....
__ADS_1