![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Ketika kesetiaan tidak dianggap, maka akan datang pengkhianatan."
_Ucu Irna Marhamah_
◆◇◆
Atherina melihat persediaan senjata di markas. Dia terlihat sangat serius dan teliti. Hwan menghampirinya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
"Erina," sapa Hwan. Gadis itu menoleh sebentar lalu kembali ke kegiatan semula, "Ada apa?"
Hwan memperhatikan Atherina, "Malam ini ada misi, aku sangat membutuhkan pengarahan darimu."
"Kau bisa menanyakannya pada Han Jin atau Han Gun." Setelah menjawab pertanyaan Hwan, gadis itu berlalu. Hwan tidak menyerah, dia mengikuti Atherina.
"Mereka sangat sibuk," kata Hwan. Atherina memberikan dua pistol. Pria itu menerimanya. "Kau pikir aku tidak sibuk?" Tanya Atherina sambil mengambil lagi dua pistol itu dari tangan Hwan.
Aleena memasuki ruangan. Semua orang segera berbalik dan membungkuk menyambut kehadirannya. Atherina dan Hwan melalukan hal yang serupa.
Wanita itu duduk di kursi kebesarannya. Semua anggota juga duduk rapi.
Aleena membicarakan tentang misi yang akan diberikan kepada beberapa tim. Begitupun dengan tim Han Gun. Tapi, Aleena tidak menyuruh Atherina ikut dalam misi itu.
"Sebagai ganti Erina, Hwan yang akan melakukan misi dengan Han Gun."
Atherina tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Dia tetap diam, walaupun dalam hati dia merasa bingung. Han Gun dan Hwan berangkat untuk misi. Ibu petir menepuk bahu Atherina, "Ikut aku ke ruangan."
Di ruangan ibu petir, Atherina duduk berhadapan dengan wanita itu. Seperti biasa, ada dua gelas anggur di meja.
"Aku terkesan dengan tindakanmu. Apa pun yang kau lakukan itu membuatku terkejut. Terkadang aku marah dengan sikapmu, tapi terkadang aku juga suka dengan cara berpikirmu." Aleena bangkit sambil mengambil gelas anggur dan meminumnya.
Wanita itu berjalan ke belakang Atherina dan menyentuh bahunya, "Aku merasa menemukan orang yang istimewa. Apalagi kau sama sepertiku, seorang wanita."
Atherina tidak berniat menanggapi perkataan Aleena. Dia tetap diam dan mendengarkan.
Aleena mendekatkan wajahnya ke telinga Atherina dan berbisik lirih, "Aku akan memberikanmu posisi khusus sebagai ketua kelompok petir di sini." Atherina terkejut mendengar itu.
"Tapi, misi 6 tahun masih berjalan seperti seharusnya. Selain memimpin kelompok, kau juga harus menjalani misi pengabdian."
Aleena kembali duduk, "Bagaimana?"
Atherina masih berpikir tentang misi sebelumnya. Apakah dia akan terus melakukan misi ganda?
Aleena melelapkan kepalanya ke punggung kursi, "Jangan terlalu lama berpikir, aku akan memberikan Hwan Jang sebagai orang kepercayaanmu."
"Kenapa Ibu petir memberikan posisi besar seperti itu kepadaku?" Tanya Atherina.
"Karena.. aku mau."
Atherina mengetuk-ngetuk lantai dengan sepatunya, "Aku tidak akan lebih baik dari Han Jin dan Han Gun."
"Han Jin dan Han Gun memimpin dengan baik. Kenapa kau tidak bisa lebih baik?" Tanya Aleena.
Atherina menatap Aleena, "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus, aku suka jawabanmu."
Hening.
"Oh iya, malam itu aku mabuk dan tidak terlalu mengingat apa yang aku katakan. Aku harap kau melupakannya," kata Aleena sambil menyembunyikan ekspresi cemas.
Atherina mengangguk, "Sepertinya aku juga mabuk. Aku tidak terlalu mengingat apa yang terjadi."
Aleena mengangguk lega.
Atherina menjadi pemimpin sub kelompok petir di wilayah Aleena di Jepang. Hwan menjadi orang kepercayaan Atherina. Pria itu selalu mengikuti kemana pun Atherina pergi. Otomatis, dia mulai mengetahui banyak tentang Atherina. Walaupun prediksinya sedikit meleset. Tapi, dia bisa mengerti jika menjadi Atherina adalah hal yang sangat sulit.
Atherina menjalankan banyak kegiatan. Dia melakukan semuanya dengan baik, termasuk belajar di sekolah.
Hwan yang sedang menyetir sedikit menoleh ke spion. Dia berkata, "Nona Erina, ibu petir mengundangmu untuk makan malam."
Atherina mengangguk, "Putar balik, kita harus ke markas."
Setelah memakan jamuan makan malam, Atherina pulang ke apartemen. Gadis itu menuangkan air panas. Ketika dia berbalik, seseorang berpenutup wajah menyerangnya dengan pisau. Beruntung gadis itu bergerak cepat meskipun orang itu berhasil melukai lehernya. Atherina menyentuh lehernya yang berdarah. Gadis itu menyiram wajah si penyusup. Beberapa barang berjatuhan ke lantai dan pecah.
Atherina menendang perut orang itu hingga tersungkur. Tanpa menunggu perlawanan, Atherina menarik kepala pria itu dan memutarnya hingga leher pria itu patah. Gadis itu membuka penutup wajahnya, ternyata seseorang yang dia kenal. Atherina sering melihat orang itu di markas petir.
Ada seseorang di belakang Atherina yang siap menancapkan pisau. Atherina berbalik..
DOR!
DOR!
Orang itu tersungkur jatuh dengan darah menggenang di lantai. Atherina melihat ke jendela. Ternyata kedua anggota pasukan khususnya yang telah tiba membantu.
"Nona, apa lukamu parah? Kau harus ke rumah sakit," kata salah satu dari mereka. Pria yang satunya lagi melihat ada beberapa orang di depan pintu apartemen Atherina.
"Jumlah mereka banyak, Nona. Anda harus pergi lewat jendela."
"Kami akan mengatasi mereka."
Darah tiada hentinya mengalir membasahi kaos putih yang dikenakan Atherina. Gadis itu mengangguk lalu keluar lewat jendela. Dia sedikit terkejut dengan ketinggian gedung apartemennya. Atherina turun dengan hati-hati. Dia mendarat dengan selamat. Atherina menutupi luka itu dengan tangannya agar dia tidak kehabisan darah.
Dor!
Atherina menutup telinganya ketika mendengar tembakan. Dia berbalik. Ada beberapa orang mengejarnya. Atherina segera berlari.
"Atherina! Berhenti!"
__ADS_1
Gadis itu terkejut dan membatin, sial, aku harus bagaimana?
Seseorang menariknya di kegelapan. Atherina berontak ketika tangan itu membekap mulutnya.
"Suuttsss, kau aman."
Atherina mengenali suara itu. Dia mendongkak menatap pria yang tidak lain adalah Hwan. Sinar rembulan menerangi wajahnya.
Ketika keadaan terasa lebih aman, mereka berdua keluar dari persembunyian. Hwan membawa Atherina ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.
Ketika dokter keluar dari ruangan itu, Hwan menghampirinya. "Dokter, apa dia tidak kehabisan darah?" Tanya Hwan cemas.
Dokter menjawab sambil menepuk bahunya, "Sungguh anda membawanya tepat waktu, Tuan."
Hwan bisa bernapas lega. Dia menemui Atherina yang menyentuh perban dilehernya.
"Kenapa mereka mengejarku? Apa mereka polisi Korea?" Pertanyaan itu timbul ketika Hwan duduk di kursi.
"Mereka bukan polisi," sanggah Hwan. Seketika Atherina menatap Hwan, "Kenapa kau berpikir begitu?"
Hwan memasang ekspresi berpikir, "Jika mereka polisi, kenapa orang yang menyusup ke apartemenmu malah melukai lehermu? Bukankah orang yang masuk ke apartemenmu itu berpakaian sama dengan orang-orang yang mengejarmu di jalan? Polisi Korea tidak pernah menembak penjahat, kecuali penjahat itu menyerang polisi terlebih dahulu."
Atherina menyipitkan matanya sambil menatap curiga kepada Hwan. Pria itu merasa gugup dengan tatapan tajam Atherina.
"Kau tahu dari mana ada orang yang menyusup ke apartemen? Lalu, kenapa kau bisa tahu jika mereka bukan polisi? Dan, kenapa kau bisa berada di tempat gelap itu?" Atherina memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Hwan.
Pria itu menelan saliva, "Aku.. sebenarnya.."
"Apa kau memata-mataiku?" Atherina memotong perkataan Hwan. Dia mendekatkan wajahnya menatap Hwan dengan penuh intimidasi. Pria itu seketika menggeleng, "Aku hanya mengkhawatirkanmu. Selain itu, ibu petir menyuruhku untuk selalu mengikutimu dan menjagamu."
Atherina menyandarkan punggungnya kembali. Hwan menghela napas lega.
"Mereka sangat lancar berbahasa Korea. Menurutmu mereka siapa?" Tanya Atherina. Hwan mengedikkan bahunya, "Aku tidak tahu, mungkin seseorang yang tidak suka padamu karena kau menduduki posisi terbaik."
"Seseorang yang tidak suka padaku? Aku rasa kau benar. Aku mengenali pria yang menyusup ke apartemenku. Dia adalah orang yang sering berada di markas petir."
Atherina pulang ke apartemen bersama Hwan. Apartemen Atherina terlihat rapi seolah tidak pernah terjadi perkelahian. Keduanya saling pandang.
"Apa ada orang lain di apartemenmu?" Tanya Hwan. Atherina mengangguk, "Orang kepercayaanku."
Atherina membuka salah satu pintu ruangan. Hwan terkejut dan seketika menutup hidungnya ketika tercium bau darah dari ruangan tersebut. Di ruangan itu ada dua orang yang sedang berdiri mengawasi beberapa orang yang terikat dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Kalian siapa? Siapa yang menyuruh kalian?" Atherina bertanya sambil menggertak. Tidak ada jawaban, hanya suara rintihan kesakitan yang terdengar di ruangan itu. Atherina membawa kursi. Hwan berpikir jika Atherina akan melemparkan kursi itu kepada mereka. Namun, ternyata Atherina hanya duduk di kursi itu.
"Tidak mau menjawab? Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri." Setelah mengatakan itu, Atherina berlalu diikuti Hwan.
"Kalian berdua boleh kembali," ucap Atherina di ambang pintu. Kedua orang itu membungkuk lalu keluar lewat jendela. Hwan bergidik melihat itu.
"Apa mereka ninja?" Tanya Hwan.
"Aku tidak tahu."
◆◇◆
Keesokan harinya,
Atherina menceritakan kejadian yang menimpanya semalam kepada Han Gun. Laki-laki itu sangat terkejut, "Pantas saja ada luka di lehermu, aku pikir ada seseorang yang menggigitnya."
"Kau pikir aku ini perempuan apa!" Bentak Atherina sembari memukul lengan Han Gun. "Eh! Jangan memukulku! Aku sedang menyetir!"
Sesampainya di markas, Aleena mengumpulkan semua anggotanya di ruang rapat. Atherina dan Han Gun berdiri di belakangnya. Hwan, Han Jin, dan yang lainnya berdiri di depannya.
"Aku merasa telah mencium aroma pengkhianatan disini. Aku tidak tahu siapa yang berani berkhianat padaku."
Keringat dingin menetes dari dahi Hwan. Semoga dia tidak berpikir aku yang sedang menjalankan misi penyusupan, batin Hwan. Sementara Han Jin terlihat biasa saja.
"Ada yang melukai Atherina. Siapa saja yang melukai anggotaku, berarti melukaiku juga."
Atherina menatap punggung Aleena. Dia tidak menyangka jika Aleena sedikit lebih peduli padanya.
"Aku akan menembak mati pengkhianat itu sebagai hukuman. Tapi, aku akan meringankan hukumannya jika pengkhianat itu mengakui perbuatannya."
Hening.
Tidak ada yang berani bergerak dalam kondisi tegang seperti itu. Hwan mengusap keringatnya. Otomatis, semua mata tertuju padanya. Aleena menghampiri Hwan, "Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
Hwan mengibaskan tangannya, "Ruangan ini terasa panas, aku berkeringat."
Aleena kembali ke posisi. Hwan menghela napas lega.
Dor!
Hwan berteriak keras ketika seseorang di sampingnya terkena tembakan. Dia menoleh, pria itu meninggal seketika karena tembakan Aleena. Darah menggenang di lantai. Atherina menutup mulutnya dan menoleh pada Han Gun yang juga menoleh padanya.
"Siapa lagi yang mau mati? Aku tahu, ada lebih dari satu orang." Aleena memainkan pistolnya.
Dor!
Seseorang di belakang jatuh karena tembakan ibu petir. Hwan menelan saliva karena gugup.
"Dalam hitungan ketiga, atau markas ini dipenuhi darah!" Teriak Aleena.
"Satu!"
Tidak ada yang berani mengubah posisi.
"Dua!"
__ADS_1
Beberapa orang mulai bertekuk mengakui kesalahan mereka.
"Tiga!"
Ada sekitar 10 orang yang bertekuk. Atherina tidak mengira akan ada banyak orang yang tidak menyukainya di kelompok tersebut.
"Kenapa kalian begini?" Tanya Aleena.
Salah satu dari mereka menjawab, "Aku merasa sakit hati ketika ibu petir mengangkat orang baru itu menjadi pemimpin di wilayahmu. Kami lebih lama mengabdi padamu, tapi kau selalu memilih orang sesuka hatimu. Lalu, kau anggap kami apa?"
Dor!
Peluru dari pistol Aleena menembus paha pria itu. Pria itu berteriak keras.
"Kau tidak berhak mempertanyakan diriku!" Teriak Aleena.
"Nona, kami sudah lelah dengan kepemimpinanmu. Kepemimpinanmu berbeda dengan tuan Park, suamimu."
"Kami tidak bisa terus menerus mengikuti kemauanmu."
"Kami lelah."
"Kau memilih Atherina karena dia perempuan sepertimu."
"Kau tidak pernah bertindak adil."
Aleena menutup telinganya, "Diaaaaam!!"
Hening.
"Yang tidak bertekuk, segera keluar! Cepat!" Teriak Aleena.
Semua berhamburan keluar dari ruangan tersebut. Han Gun menutup pintu markas. Terdengar suara tembakan dan teriakan dari dalam ruangan.
Atherina yang bersandar pada dinding jatuh merosot sambil menutup telinganya. Hwan melihat sisi lain dari Atherina. Gadis itu terkadang sangat kasar dan kejam, tapi juga sering memperlihatkan sisi kewanitaannya.
Han Gun menenangkan Atherina. Han Jin menyentuh dahinya merasa keadaan semakin memburuk.
◆◇◆
Atherina duduk berhadapan dengan Aleena. Atherina menunduk dalam, "Aku tidak mau menjadi pemimpin lagi. Aku tidak bisa melukai hati orang-orangmu yang setia."
Aleena mendecih kesal, "Aku berhak menentukan siapa yang pantas untuk posisi terbaik. Mereka tidak bisa mempertanyakan diriku. Aku mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Kau pikir, kenapa aku menempatkanmu di posisi ini?"
Atherina menggeleng.
"Karena kau memang pantas mendapatkan posisi itu. Kau memiliki cara yang bagus ketika mengendalikan situasi. Han Jin yang menyarankanku untuk menjadikanmu pemimpin disini."
Atherina terkejut. Dia tidak mengira ternyata Han Jin yang telah merekomendasikan dirinya menjadi pemimpin.
"Han Jin?" Atherina bergumam pelan.
Aleena mengangguk, "Apa kau tidak menyadari jika dia memperhatikanmu? Jangan menganggapnya lemah hanya karena dia tidak bisa melihat. Kau tidak tahu kemampuan yang sesungguhnya ketika berkelahi."
Atherina terdiam.
"Kau boleh kembali dan beristirahat. Kau membutuhkan banyak tenaga untuk misi selanjutnya."
Atherina bangkit lalu membungkuk dan berlalu meninggalkan Aleena.
Sementara itu, Hwan sedang menatap lautan luas di depannya. Kedua tangannya menggenggam pagar pembatas. Dia merindukan Korea. Merindukan adiknya.
Banyak hal yang terbesit di dalam kepalanya, Atherina bilang, dia akan berada di sini selama 6 tahun. Jadi, aku akan kembali setelah 6 tahun? Ah, kenapa juga aku malah menyamar menjadi anggota penjahat jika ujung-ujungnya hanya menyulitkan diriku sendiri.
Atherina melihat Hwan yang melamun terus. Gadis itu mendekat dan menepuk lengan Hwan. Pria itu terhenyak lalu menoleh, "Nona Erina? Kau sudah selesai?"
Atherina mengangguk. Hwan berlalu untuk membawa mobil. Tapi, Atherina menarik tangannya, "Aku ingin di sini sebentar."
Hwan mengangguk dan berdiri bersebelahan dengan Atherina. Rambut mereka berdua bergerak karena angin yang menerpa.
"Kau merindukan Korea?" Tanya Atherina. "Iya," Hwan menjawab dengan pelan.
"Jika kau memang berniat menjadi orang kepercayaanku, kita akan kembali 6 tahun lagi."
"Emm, iya. Aku tahu dari ibu petir."
"Semuanya pasti berubah ketika aku kembali," gumam Atherina.
Hwan membatin, "Iya, kau akan terkejut ketika kembali. Penjara adalah tujuanmu ketika pulang nanti."
"Adikku pasti bisa mengendalikan situasi dengan baik, aku percaya padanya."
Hwan menatap Atherina, iya.. dia hampir membunuhku sebanyak dua kali.
"Ayo, antar aku ke apartemen."
◆◇◆





__ADS_1
02 September 2019
By Ucu Irna Marhamah